Demikianlah, Giok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun alam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya. Pengalaman- pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu subonya, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi pria!
Kalau saja ia belum menjadi murid Hek-bin Hwesio dan tidak memiliki kesabaran besar, dan masih menjadi murid Ban tok Mo-li, tentu tadi sudah dihajarnya dua orang pemuda itu. Akan tetap setelah menjadi murid Hek-bin Hwesio ia menjadi seorang gadis yang penyabar dan tidak mudah turun tangan menggunakan kekerasan. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa ia diam saja kalau ada yang berani mengganggunya. Hanya ia tidaklah sekeras dan segalak sebelum men¬jadi murid hwesio hitam itu. Bahkan ia mewarisi kejenakaan kakek gendut itu, suka tertawa dan bergurau.
"Nona, Cukong (Majikan) kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong- cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Cukong kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya."
Giok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan, maka ia hanya menjawab, "Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri."
"Boleh, boleh, Nona Manis," kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti raksasa tadi, "A-lok, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri, bukan?"
A-lek, Si Raksasa itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Giok Cu. Gadis itu diam-diam mendongkol sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja. Ketika A-lok hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan sin-kang yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja. A-lok menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat. Akan tetapi, dia terkejut bukan main! Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya. Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai. Di menjadi penasaran. Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya! Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.
“ALOK, pindahkan meja itu ke sini!" teriak lagi cukongnya karena seperti orang lain, dia belum tahu akan peristiwa aneh itu. Hanya Alok sendiri yang merasakan keanehan itu. Dia, yang dengan mudahnya mengangkat dua orang pemuda tadi dan melemparkan mereka, kini tidak kuat mengangkat sebuah meja kecil yang ringan! Siapa yang akan dapat percaya?
“Hei, kerbau gila! Jangan ganggu Nona itu!" Ucapan ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang duduk bersama dua orang pria lain di meja sebelah kanan Giok Cu.
Mendengar dia dimaki kerbau gila, tentu saja Alok menjadi marah bukan main. Dia adalah tukang pukul nomor itu dari hartawan Teng dari kota Siong-cu, dan di kota itu dia terkenal ditakuti orang, bahkan nama besarnya sudah banyak didengar orang di Siong-an. Bagaikan seekor kerbau gila benar, dia membalikkan tubuh meninggalkan meja depan Giok Cu dan memandang ke arah tiga orang yang duduk makan minum di meja itu. Mereka adalah tiga orang pria yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Wajah dan bentuk badan mereka biasa saja, tidak mengesankan, akan tetapi warna pakaian mereka yang menarik perhatian karena mereka bertiga memakai pakaian yang berwarna kuning, seperti pakaian seragam saja.
Melihat bahwa orang yang memakinya hanya orang "biasa", kemarahan Alok memuncak. "Siapa di antara kalian bertiga yang telah berani memaki aku tadi?"
"Memaki engkau apa?" Serentak tiga orang berpakaian kuning itu bertanya.
"Memaki aku kerbau gila!" kata Alok dan tiga orang itu pun tertawa bergelak, juga beberapa orang tamu yang mendengarkan ikut tertawa. Tadinya Alok tidak menyadari, akan tetapi kemudian ia teringat bahwa jawabannya tadi menjadi pengakuan bahwa dia kerbau gila! Dia telah dipancing dan dipermainkan tiga orang berpakaian kuning itu.
"Keparat, kalau kalian memang laki-lakidan bukan pengecut, hayo maju kesini!" tantang Alok dengan marah sekali.
Orang termuda dari tiga orang pria berpakaian kuning itu bangkit berdiri. Hemmm, kau ini kerbau gila hendak jual lagak di sini, ya?" Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan nampaklah sebuah cambuk berwarna kuning emas.
"Tar-tarrr-tarrrrr. !" Cambuk itu mengeluarkan suara
meledak-ledak dan sinar kuning emas menyambar-nyambar ke arah tubuh Alok. Raksasa itu terkejut dan mencoba mengelak, akan tetapi te¬tap saja ujung cambuk itu mematuk- matuk dan pakaiannya robek di sana-sini ditambah kulit tubuhnya nyeri seperti disengat lebah! Dia pun bergulingan ke tas lantai dan ketika dia sudah meloncat bangun, dia sudah mencabut golok besarnya. Dengan marah dia lalu menerjang ke arah orang yang memegang cambuk dan yang berdiri sambil tertaw tawa itu. Akan tetapi, sebelum tubuhnya mendekat, Si Baju Kuning itu sudah menggerakkan cambuknya lagi.
"Tar-tarr-tarrr. !" Golok yang berada di tangan
Alok terbang dan terlepas dari pegangannya, dan kembali dia menjadi bulan-bulanan lecutan cambuk itu
yang bertubi-tubi. Pakaian Alok kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.
"Kim-bwe Sam-houw (Tiga Harimau Ekor Emas)!”
Terdengar seorang di diantara lima tukang pukul hartawan Teng dari Siong-Cu itu berseru dan barulah Alok sadar bahwa yang dihadapinya adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal lihai dan ditakuti semua orang kang-ouw di daerah itu! "Bagus, kalian sudah mengenal kami! kata Si Baju Kuning yang menghajar Alok tadi. "Hayo cepat kalian pergi!" Dan cambuknya kembali menyambar-menyanbar, kali ini ke arah hartawan Teng dari empat orang tukang pukulnya yang lain. Mereka mengaduh-ngaduh dan setelah cambuk itu berhenti menari-nari, lima orang itu masing-masing mendapat tanda guratan melintang pada muka mereka, guratan yang cukup dalam sehingga nampak merah dan ada pula yang berdarah! Tanpa banyak cakap lagi hartawan Teng dan lima orang tukang pukulnya meninggalkan restoran itu dan membayar uang makanan di luar. Yang paling parah adalah Alok sehingga dia harus dipapah oleh seorang rekannya.
Tadi, banyak diantara para tamu yang ketakutan. Akan tetapi setelah enam orang itu pergi dan suasana kembali tenang, mereka melanjutkan makan dengan tergesa-gesa dan ada pula yang segera meninggalkan tempat itu. Akan tapi, makanan yang dipesan Giok Cu baru tiba dan gadis itu pun makan minum dengan tenangnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di dekatnya. Hanya diam-diam ia memperhatikan tiga orang berpakaian kuning yang disebut Kim-bwe Sam-houw itu, dan merasa penasaran karena tidak suka melihat kekejaman mereka ketika menghajar enam orang tadi. Si raksasa tadi memang pantas dihajar, akan tetapi lima orang lainnya tidak melakukan sesuatu yang pantas membuat mereka menjadi korban cambuk. Juga ia melihat kesombongai membayang di wajah tiga orang berpakaian kuning itu, apalagi ketika mereka itu memandang kepadanya dengan senyum yang angkuh namun tetap saja mengandung kegenitan.
"Hemmm, cantik dan manisnya memang mengagumkan. Akan tetapi sayani sekali, orangnya begitu cantik namun tidak mengenal budi orang!" Suara ini lirih akan tetapi terdengar jelas oleh Giok Cu dan ia tahu bahwa yang bicara adalah seorang di antara tiga pria berpakaian kuning itu, dan ia merasa bahwa ialah yang dimaksudkan oleh orang yang bicara itu. "Memang ia tidak sopan, padahal baru saja kami membebaskannya dari cengkeraman sekelompok serigala." suara kedua.
"Aihhhhh, mungkin ia malu. Sebaiknya malam nanti kita berkunjung ke kamarnya." suara ke tiga menyusul dan ucapan terakhir ira membuat muka Giok Cu menjadi agak kemerahan karena ia tersinggung sekali.
"Memang sebaiknya begitu, akan tetapi sekarang juga kita dapat memberinya peringatan agar malam nanti ia tidak sombong dan tidak banyak rewel lagi, bersikap ramah kepada kita," kata pula suara pertama.
Giok Cu semakin mendongkol, akan tetapi ia sudah banyak menerima gemblengan batin dari Hek-bin Hwesio maka ia mampu membiarkan kemarahannya lewat tanpa mempengaruhinya. Ia tetap makan walaupun kini ia waspada sekali terhadap tiga orang pria berpakaian kuning itu.
Tiga orang pria itu masing-masing menjumput sebutir kacang goreng di atas meja mereka, kemudian mereka mempergunakan telunjuk menyentil kacang itu ke arah Giok Cu. Tentu saja mereka membidik sasaran bagian tubuh yang tidak akan membahayakan, dan mengatur tenaga sentilan mereka karena mereka hanya ingin memperingatkan gadis itu bukan hendak menyerangnya. Begitu tiga butir kacang itu meluncur, Giok Cu yang sudah mengetahuinya lalu menggerakkan tangan kirinya, gerakan seperti orang mengusir lalat dan mengomel, "Ihh begini banyak lalat di sini!"
Tiga orang yang terkenal dengan julukan Kim-bwe Sam- houw itu terkejut bukan main ketika melihat betapa tiga butir kacang yang mereka sentil ke arah gadis itu tiba-tiba meluncur kembali ke arah mereka dengan cepat sekali. Mereka terpaksa merendahkan tubuh sehingga tiga butir kacang itu lewat di atas kepala! Giok Cu melihat hal ini dan ia terkejut bukan main melihat betapa tiga butir kacang itu kini meluncur ke arah seorang pemuda yang mengenakan sebuah caping lebar dan yang kebetulan duduk di meja sebelah tiga orang berpakaian ku¬ning itu!
Lebih kaget dan kagum hatinya melihat betapa pemuda itu, yang mukanya tersembunyi di balik caping lebar, tanpa menggerakkan kepala sehingga tentu dia tidak melihat datangnya tiga butir kacang yang menyambar, menjulurkan tangan kirinya dan sekali tangan kiri itu menggapai, tiga butir kacang itu telah ditangkapnya! Kini, caping itu merosot turun ke punggung dan nampaklah wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dengan sepasang mata yang lincah jenaka dan tajam sinarnya. Hidungnya besar mancung dan bibirnya merah penuh gairah. Pakaian pemuda itu menunjukkan bahwa dia seorang pelajar atau pakaian yang biasa dipakai para sastrawan dan terpelajar. Pemuda itu memandang kearah Giok Cu dan senyumnya amat menarik sehingga Giok Cu memandang dengan kagum. Hanya sebentar saja pemuda itu memandang Giok Cu. Lalu ia memandang kepada tiga orang pria berpakaian kuning itu dan ia tersenyum lebar.
"Aha, memang banyak lalat, terutama tiga ekor lalat kuning yang amat menjemukan harus diusir agar tidak mengurangi selera makan!" berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tiga butir kacang itu sudah meluncur dengan kecepatan kilat kearah Kim bwe Sam-houw. Tiga orang ini sama sekali tidak menduganya. Mereka tadi tidak melihat betapa pemuda bercaping itu menangkap tiga butir kacang, maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, mereka menengok pada saat tiga butir kacang itu meluncur. Mereka tidak mungkin mengelak lagi dan tiga butir kacang itu dengan tepat mengenai muka mereka! Seorang terkena hidungnya, seorang terkena pipinya dan orang ke tiga terkena dahinya. Mereka menahan teriakan karena biarpun hanya kacang goreng, akan tetapi karena dilepas dengan kekuatan yang hebat, maka muka yang terkena kacang itu terasa cukup nyeri, terutama dia yang terkena hidungnya. Ada tanda merah pada hidung, dahi dan pipi itu. Serentak mereka bangkit berdiri dan memandang kepada pemuda bercaping itu dengan marah.
"Jahanam! Apakah telingamu tuli matamu buta?" bentak orang pertama dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan karang pada hidungnya "Andaikata engkau tuli, tentu engkau tidak buta dan dapat melihat dengan siapa engkau berhadapan. Kami adalah Kim-bwe Sam-houw, dan berani engkau mengganggu kami?"
Pemuda itu menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya, agaknya tidak tergesal gesa menjawab walaupun dia sudah memandang kepada mereka bertiga. Setelah daging itu hancur lembut dan ditelannya, barulah dia menjawab, "Tidak ada yang mengganggu tiga ekor lalat kuning! Biasanya, lalat kuning yang suka mengganggui orang!"
Jawaban itu membuat Giok Cu tersenyum. Pemuda itu sungguh berani dan jenaka, dan melihat cara dia tadi melempar tiga butir kacang, mudah diduga bahwa tentu pemuda bercaping yang tampan itu memiliki ilmu kepaindaiain yang lumayan. Betapapun juga, ia pun tahu betapa lihainya cambuk emas dari tiga orang pria berpakaian kuning itu, maka diam-diam Giok Cu mengambil keputusan untuk melindungi pemuda bercaping kalau-kalau dia terancam bahaya.
Tiga orang Kim-bwe Sam-houw semakin marah. Mereka ketiganya menjadi korban lemparan kacang, maka kini ketiganya mengeluarkan cambuk emas mereka yang tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya ketika seorang di antara mereka menghajar hartawan dari Siong-cu tadi bersama lima orang tukang pukulnya. Melihat ini, para tamu yang masih berada di situ, menjadi ketakutan dan mereka yang mejanya berdekatan, segera meninggalkan meja walaupun makanan mereka belum habis. Kini yang nampak di bagian ruangan itu hanyalah Si Pemuda bercaping, Giok Cu, dan tiga orang pria berpakaian kuning itu. Giok Cu masih tenang-tenang saja makan nasi dan bakminya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu di depannya.