Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 87

Memuat...

"Lo-cian-pwe. !" Sim Lan Ci kini menangis, tidak dapat

menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.

Liu Bhok Ki kini membungkuk mengangkat Thian Ki dalam pondongannya. Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu dan terdengar suaranya yang merdu. "Kong-kong (Kakek), kenapa engkau menangis?"

Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Liu hok Ki, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu. Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak gelak. Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa orang tua itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.

"Ha-ha-ha. Cucu yang baik, siapakah namamu?" Dia

mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.

"Namaku Coa Thian Ki, Kong-kong." kata anak itu manja. "Bagus! Terima kasih, Thian Ki, terima kasih Cucu yang

baik. !" Dia menurunkan anak itu, kemudian menoleh

kepada Han Beng.

"Han Beng, engkau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu."

"Teecu akan mentaati pesan Suhu."

"Dan kalian, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau engkau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!" Setelah berkati demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang, maklum bahwa tentu kakek itu sejak kemarin membayangi mereka sehingga mendengar pula percakapan mereka tentang maksud mereka untuk tidak memperkenalkan Thian Ki dengan ilmu silat dan kekerasan. Kemudian mereka teringat akan keadaan mereka, lalu mereka berdua menghampiri Han Beng yang juga sudah bangkit berdiri.

"Kami harap Si Siauw-te suka tinggal di sini bersama kami. Kami sunggu berterima kasih sekali, Siauw-te. Ternysta engkau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu." kata Siang Lee, sedangkan Sim Lan Ci juga mengangguk-angguk membenarkan dan memandang kepada pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa sukur, sedangkan Thian Ki berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.

"Sudahlah, Toako. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian."

Siang Lee dan isterinya saling pandang. "Kami tidak akan pindah, Siauw-te.

Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami." Isterinya mengangguk membenarkan. Apa perlunya pindah? Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami. Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati. Han Beng mengangguk-angguk. Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka. Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan sin-kang untuk kalian, karena dengan sin-kang yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua."

Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main. Setelah Thian Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.

Pada keesokan harinya, setelah lewat tengah hari, barulah Han Beng meninggalkan suami isteri yang amat berterima kasih kepadanya itu. Bahkan Coa Siang Lee berhasil membujuk Han Beng mau mengaku sebagai saudara angkat. Upacara sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang. Han Beng menyebut toako dan so-so (kakak ipar perempuan) kepada suami isteri itu dan mereka menyebutnya siauw-te. Thian Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.

Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan. Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.

ooOOoo Kota Siong-an hari itu nampak ramai. Kota yang berada dekat tepi Sunga Huang-ho ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang. Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu mengamuk dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba. Selain itu, juga menjadi penampung barang dagangan yang datang melalui sungai.

Sebagai kota dagang yang banya dikunjungi pedagang dari kota lain, yan terutama sekali membutuhkan baha bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.

Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal. Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan. Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan. Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Huang-ho atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin. Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang. Ada belasan orang pelayan yang sigap dan trampil, seorang kasir yang ramah dan juru- juru masak yang berpengalaman. Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar. Juga di restoran itu dijual arak Hang-couw yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut. Hari itu, sejak pagi kota Siong-an sudah ramai sekali karena hari itu orang orang sibuk mempersiapkan pesta perayaan tahun baru Imlek! Seperti biasa jauh hari sebelumnya, pasar mendadak menjadi lebih ramai, toko-toko juga penuh dengan orang yang berbelanja untuk keperluan sembahyang dan pakaian baru. Dan hari itu merupakan hari terakhir karena besok adalah hari tahun baru.

Restoran Hotin, sejak pagi sudah kebanjiran tamu. Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu. Kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan. wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka. Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna merah muda. Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain kuning. Ujung kain itu diikatkan di dadanya.

Dari sikap, juga dari buntalan kain kuning di punggung, mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wajah yang demikian cantik jelita dan bentuk tubuh yang demikian indahnya? Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu. Namun, gadis berpakaian merah muda itu tidak peduli. Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli. Ia tahu bahwa sekali dilayani atau ditanggapi, kekurangajaran para pria itu akan semakin melonjak. Bukan ia tidak berani menanggung akibatnya, akan tetapi kalau ia harus menghajar setiap orang pria yang bersikap kurang ajar, maka setiap langkah tentu ia akan berurusan dengan seorang pria!

Ketika seorang pelayan restoran it menyambutnya dengan sikap hormat da ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak di pinggir. Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku. Gadis itu menurunkan buntalan kuning, meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya, ia memesan makanan kepada Si Pelayan.

Post a Comment