Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 84

Memuat...

aneh dan hidungnya mendengus seperti seekor kuda, napasnya terengah. Lan Ci tidak peduli, menanggalkan pakaian seolah-olah disitu tidak ada seorang pun yang memandangnya, seperti kalau ia sedang hendak mandi saja.

"Sudah, kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku, berikan kepadaku!" kata Sim Lan Ci.

Hong San tertawa. "Ha-ha-ha, aku masih belum selesai denganmu, Manis, Masih belum selesai, bahkan baru mulai. , akan tetapi aku pun bukan orang yang tidak

memegang janji. Nah, ini anakmu sudah kulepaskan, akan tetapi engkau naiklah ke atas pembaringan itu. Engkau harus melayani aku dengan suka rela, dengan mesra ah, aku

sungguh semakin tergila-gila padamu, Manis. !" Hong San benar saja melepas Thian Ki yang tidak mampu bergerak itu ke atas lantai, di mana anak itu menggeletak tak mampu bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Kemudian, dia menghampiri Lan Ci. Wanita ini maklum apa yang akan dilakukan penjahat yang seperti iblis gila Itu. Kalau ia menolak, tetap saja anaknya berada dalam bahaya. Ia harus pura-pura menurut, dan nanti di atas pembaringan, masih ada kesempatan baginya untuk mengadu nyawa! Yang penting, anaknya haruslah benar-benar bebas dari ancaman maut lebih dulu. Maka, ia pun mundur dan duduk di tepi pembaringan, seolah-olah menanti Hong San yang bagaikan seekor harimau menghampiri seekor kelinci gemuk yang sudah menyerah, dan gairah di dalam hati penjahat muda Ini semakin bergelora karena dia pun mengira bahwa sekali ini wanita manis itu telah benar-benar menyerah dan takluk kepadanya.

Sementara itu, sejak tadi Coa Siang Lee menjadi penonton yang tidak berdaya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya. Dia melihat puteranya terancam maut tanpa mampu melindungi, kini dia bahkan disuruh melihat isterinya tercinta akan diperkosa orang dan dia sama sekali tidak mampu bergerak! Ingin dia memaki, ingin dia berteriak, ingin dia menangis, namun dia tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, balkan kalau penjahat itu marah jangan-jangan Thian Ki akan dibunuhnya lebih dulu!

Hong San kini sudah tiba dekat sekali dengan Lan Ci, dan napasnya semakin memburu dan seluruh tubuhnya seolah- olah kebakaran, bahkan Lan Ci dapat merasakan betapa hawa panas keluar dari tubuh pemuda yang seperti iblis gila itu.

"Hemmm, aku tidak ingin menotokmu, aku ingin engkau hidup dalam pelukanku, ingin engkau menyerahkan diri dengan mesra, dengan suka rela. Aku cinta padamu, Manis

...................“ Pada saat pemuda itu masih bicara dan berada dalam keadaan penuh nafsu sehingga seperti sebuah balon akan meledak itu, Lan Ci yang sudah siap si sejak tadi, tiba-tiba saja mengirim pukulan ke arah perut Hong San sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Pukulan Itu adalah pukulan beracun yang amat hebat dan sekali terkena pukulan itu biar seorang yang bagaimanapun lihainyn, jangan harap akan dapat hidup lagi. Isi perutnya tentu akan hangus dan membusuk oleh hawa beracun yang amat hebat.

Namun, Hong San memang seorang yang amat cerdik. Biarpun dia dikuasai nafsu berahi yang memuncak pada saat itu, namun dia tidak pernah lengah dan tetap waspada. Hal ini adalah karena dia pun telah maklum bahwa wanita itu amat lihai. Andaikata dia tidak tahu akan hal ini, mungkin saja dia telah terkena pukulan maut itu.

Dia tahu bahwa wanita itu lihai sekali, memiliki senjata rahasia dan pukulan beracun yang bahkan lebih berbahaya daripada suami wanita itu. Maka, biarpun seluruh tubuhnya dikuasai hawa nafsu, tetap saja dia waspada dan begitu Lan Ci menggerakan.tangan memukul, tubuhnya sudah berkelebat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu tidak mengenai sasaran! Tentu saja Lan Ci kaget bukan nain karena dia mengkhawatirkan putranya. Pada saat itu, tiba-tiba daun jendela diterobos tubuh orang dari luar, dan esosok bayangan berkelebat ke dalam kamar.

"Selamatkan anak itu!" terdengar suara yang tenang dan bayangan itu sudah menerjang kearah Hong San dengan dorongan tangan kanan yang datangkan angin keras.

"Wuuuuuttttt. !" Telapak tangan orang itu mendorong

dan Hong San terkejut sekali, merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat menerjang Dia pun cepat mengerahkan tenaga menangkis. "Desss. !!" Akibat benturan kedua lengan ini, Hong

San terhuyung dan hampir terpelanting! Akan tetapi, penyerang itu, seorang pemuda tinggi besar gagah, juga terhuyung. Hong San jadi gentar. Baru suami isteri itu kalau mengeroyoknya, dia sudah kewalahan. Kalau kini muncul seorang yang agaknya bahkan jauh lebih lihai dari mereka berarti dia akan celaka. Maka, tanpa banyak cakap lagi, tubuhnya sudah berkelebat lenyap. Dia meloncat keluar melalui jendela yang sudah terbuka, tidak seperti ketika masuk ke kamar itu dia tadi membongkar genteng.

"Hemmm, jahanam keparat, hemdak lari ke mana kau?" Pemuda Tinggi Besar melompat pula menerobos jendela dan mengejarnya.

Sementara itu, begitu mendengar suara pemuda tinggi besar tadi, Lan Ci sudah melompat, tidak peduli akan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat, dan menyambar puteranya, cepat membebaskan puteranya dari totokan. Anak itu segera menangis dalam pondongannya. Lan Cl cepat menghampiri suaminya, membebaskan totokan pada tubuh suaminya dan membantunya melepaskan ikatan.

"Kaupondong dulu Thian Ki, aku akan mengenakan pakaian!" kata Lan Ci. Cepat ia mengenakan pakaiannya kembali, kemudian bersama suaminya, sambil menggendong Thian Ki, dan kini masing-masing membawa pedang mereka, suami isteri itu telah berloncatan keluar dan melakukan pengejaran.

Sementara itu, ketika Hong San melihat bahwa pemuda tinggi besar itu mengejar, dia merasa penasaran sekali. Kini dia berada di luar rumah, di tempat yang luas, maka tidak berbahaya sekali kalau dikeroyok. Dia penasaran belum dapat menandingi pemuda tinggi besar yang telah mencampuri urusannya dan telah mengganggu kesenangannya. Bayangkan saja, tadi wanita manis sudah berada di depannya, bagaikan potong daging sudah berada di bibir tinggal menelannya saja dan muncul orang usil itu yang menggagalkan segalanya! Maka, dia pun segera menghentikan larinya dan mempersiapkan pedang di tangan kanan dan suling ditangan kiri. Dia memang suka bermain suling, pandai meniup suling menyanyikan lagu-lagu yang merdu, akan tetapi dia pandai pula mempergunakan musik tiup itu untuk mengimbangi pemainan pedangnya!

Begitu pemuda itu muncul, Hong menyerangnya dengan tusukan pedang diikuti sambaran suling yang mengeluarkan suara melengking nyaring! Pemuda tinggi besar itu kagum melihat gerakan lawan dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang, bergulingan dan ketika dia meloncat bangun, dia sudah memegang sepotong dahan pohon kering yang dipungutnya ketika dia bergulingan tadi. Hong San tersenyum menyeringai melihat lawannya memegang sebatang tongkat sederhana sebagai senjata. Mampus kau, pikirnya. Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang pendekar sembarangan saja. Dia berhadapan dengan Huang-ho Sin-liong! Dan tongkat di tangan pen¬dekar itu dapat menjadi senjata yang amat ampuh, karena dia sudah mewarisi ilmu dari seorang di antara guru-guruya, yaitu Sin-ciang Kai-ong dan ilmu itu adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk! Bukan itu saja, Huang-ho Sin-liong Si Han Beng ini telah menerima gemblengan dari seorang kakek sakti, yaitu Pek I Tojin. Biarpun gemblengan itu tidak lebih dari satu tahun, namun gemblengan tu telah mematangkan ilmu- ilmu yang diperolehnya dari dua orang gurunya, yaitu Sin- tiauw Liu Bhok Ki dan Sin ciang Kai-ong, di samping tenaga saktinya bertambah kuat bukan main.

Seperti kita ketahui, Han Beng telah menemukan rumah Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci. Sore tadi, seperti juga Hong San, dia melihat betapa suami isteri itu bersama anak mereka hidup berbahagia dan sedang bergembira dalam taman. Keadaan suami isteri itu membuat dia menjadi bingung dan ragu-ragu. Dia merasa tidak sanggup memenuhi janjinya kepada gurunya untuk menghancurkan kebahagiaan suami isteri itu, apalagi dengan cara mengusahakan agar isteri muda itu melakukan penyelewengan dengannya! Dalam keadaan ragu-ragu itulah dia meninggalkan rumah itu. Akan tetapi, kalau dia tidak mau melaksanakan pesan dan perintah gurunya, berarti dia telah mengingkari janji. Hal ini amat menggelisahkan hatinya dan membuatnya tidak dapat tidur malam itu. Dia bermalam di rumah seorang petani di luar dusun.

Kemudian muncul pikiran. Siapa tahu kkalu-kalau suami isteri yang menurut gurunya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi itu diam-diam melakukan perbuatan jahat. Kalau benar demikian, berarti ada jalan baginya untuk menentang mereka. Dan sebaiknya kalau malam itu dia melakukan penyelidikan.

Demikianlah, tanpa menyangka bahwa di rumah suami isteri itu terjadi peristiwa yang hebat, dia pergi ke rumah itu, baru setelah dia mengintai ke dalam, dia melihat dan mendengar semuanya! Betapa suami isteri yang tadinya mengeroyok seorang pemuda bercaping lebar yang amat lihai itu menjadi tidak berdaya setelah pemuda bercaping lebar itu menangkap anak mereka. Dari percakapan itu, diam-diam dia merasa kagum. Suami itu adalah seorang yang gagah perkasa, dan isterinya amat setia. Hanya mereka itu terpaksa menyerah karena si penjahat kejam telah menguasai anak mereka! Dan di saat terakhir, Han Beng melihat betapa isteri yang setia itu tidak menyerah begitu saja, melainkan setelah melihat anaknya dilepaskan dengan nekat dan mati-matian ia pun melakukan perlawanan.

Melihat itu. Han Beng tidak dapat tinggal diam lagi. Dia menerobos jendela lalu menyerang si penjahat yang ternyata memang amat lihai, hal itu dibuktikannya dari benturan antara tanngan mereka. Dan kini, ketika dia mengejar, penjahat itu telah menantinya dan menyerangnya dengan pedang suling. Gerakan serangannya juga a cepat dan dahsyat sekali. Jalan satu-satunya bagi Han Beng untuk menyelamatkan diri hanyalah membuang diri bergulingan, sambil menyambar sebatang tongkat di atas tanah.

Kini mereka saling berhadapan. Hong San masih menyeringai, tersenyum mengejek melihat lawan hanya bersenjatakan tongkat butut. Sebaliknya, Han Beng memandang kagum. Pemuda di depannya itu nampak gagah perkasa. Biarpun wajah itu hanya diterangi sinar bulan purnama, juga dibantu penerangan lampu gantung di luar rumah, namun jelas nampak bahwa pemuda di depannya ini orang yang ganteng, gerak-geriknya halus, wajah yang selalu tersenyum dengan tarikan muka yang menarik. Tentu banyak di antara para wanita yang jatuh hati kalau bertemu dengan pemuda itu. Akan tetapi, mengapa wataknya demikian kotor dan kejamnya ketika dia menginginkan Sim Lan Ci, wanita yang sudah bersuami dan berputera itu? Diam-diam dia bergidik membayangkan kekejaman yang diperlihatkan pemuda ini tadi, memaksa seorang ibu untuk menyerahkan diri dengan mengancam anaknya yang masih kecil, dan membiarkan si suami dalam keadaan terikat menjadi menonton pula! Hanya orang yang wataknya seperti iblis saja yang memiliki kekejaman seperti itu.

Setelah saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja Hong san menerjang ke depan lagi, kini pedangnya diputar sangat cepat dan di seling tusukan sulingnya yang melakukan totokan pada jalan darah di tubuh lawan.

"Sing-sing-wuuuuuttttt. !" Serangan bertubi-tubi itu

dielakkan dengan mudah oleh Han Beng. Kemudian, ketika untuk kesekian kalinya pedang itu menyambar ke arah lehernya, dia mengelak dengan menekuk lutut kirinya dalam- dalam saat itu juga, tongkatnya menyambar ke arah lutut kiri lawan. kalau terkena sasaran, tentu sambungan lutut akan terlepas! Namun, Hong San juga sudah mengelak dengan meloncat ke atas dan kembali pedangnya menyambar kini membacok dari atas mengarah kepala Han Beng, disusul tusukan suling ke arah leher. Kembali Han Beng mengelak dengan loncatan ke belakang, lalu dengan gerakan berputar, tongkatnya terayun-ayun hendak memukul lawan.

Melihat gerakan ini, Hong San yang tinggi hati itu tertawa. Gerakan iti sungguh lucu dan buruk, seolah-olah di gerakkan oleh orang sinting atau orang yang mabuk. Akan tetapi, baru saja tertawa, suara ketawanya berubah menjadi seruan tertahan karena kaget.

"Bukkk!" Pinggulnya terkena hantaman tongkat itu! Sungguh aneh dan sukar dipercaya. Gerakan tadi demikian canggung dan kaku, sehingga dia menjadi lengah, mengira bahwa pukulan itu tentu tidak akan mengenai dirinya karena dia sudah menggeser kaki ke kanan dan pedangnya sudah menusuk lagi ke arah lambung lawan. Gerakan yang seperti orang mabuk itu dilanjutkan. Lawannya yang tinggi besar terhuyung, akan tetapi pedangnya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya, tongkat itu tahu-tahu menyeleweng dan menggebuk pinggulnya! Tentu saja Hong San menjadi marah bukan main. Dia tidak tahu bahwa memang yang dimainkan oleh lawan adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk. Justeru dalam gerakan yang terhuyung, lucu dan buruk itulah letak keampuhan ilmu dari Sin-Ciang Kai-ong itu. Gerakan yang seperti orang mabuk itu membuat lawan menjadi lengah dan memandang rendah! Akan tetapi di samping kemarahannya, juga Hong San mulai merasa gentar. Apalagi ketika itu, dia melihat suami isteri tadi sudah berlarian keluar membawa pedang di tangan. Tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan perlawanan, dia akan celaka di tempat itu. Maka, melihat betapa lawan yang telah menggebuk pinggulnya itu tidak mendesak, dia pun lalu meloncat jauh dan melarikan di secepatnya.

"Jahanam busuk, kau hendak lari mana?" Coa Siang Lee berseru dan mengejar.

"Kita kejar dan bunuh iblis itu!" ka pula Sim Lan Ci. "Harap Ji-wi (Kalian) tidak mengejarnya. Hal itu amat berbahaya bagi Ji-wi, terutama bagi putera Ji-wi!" kata Han Beng.

Mendengar itu, suami isteri itu menghentikan langkah mereka dan kini mereka berdua menghampiri Han Beng penuh kagum. Mereka tadi telah meliha betapa pemuda tinggi besar ini telah menyelamatkan mereka dari keadaan yang amat gawat, dari malapetaka yang mengerikan, yang mungkin bagi seorang wanita lebih hebat daripada maut! Bahkan mungkin akan menimbulkan kehancuran kebahagiaan keluarga itu. Dan mereka pun melihat betapa hanya dengan sebatang tongkat saja, pemuda tinggi besar itu mampu membuat penjahat tadi melarikan diri. Padahal, penjahat tadi memiliki ilmu silat yang amat hebat!

Saking terharu mengingat akan hebatnya ancaman bahaya tadi, Coa Siang Lee lalu menuntun tangan isteri dan anaknya, lalu mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng!

"Tai-hiap, kami menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu. !"

Han Beng menjadi sungkan sekali dan cepat dia membangunkan mereka dan berkata, "Harap Ji-wi tidak melakukan sesungkanan seperti ini! Sudah semestinya kita menentang orang-orang jahat. Mari kita bicara di dalam saja, hawa udara terlalu dingin dan dapat membuat anak kalian masuk angin."

Suami isteri itu nampak gembira bukan main karena Han Beng sudi singgah di rumah mereka. Mereka memasuki rumah dan duduklah Han Beng dan Siang Lee di ruangan dalam, sedangkan Sim Lan Ci minta diri untuk menemani Thian Ki tidur kembali. Melihat sikap kedua suami isteri itu demikian sopan dan halus, kembali Han Beng condong merasa suka kepada mereka dan merasa heran bagaimana suhunya yang gagah perkasa menghendaki kehancuran kedua orang yang nampak baik-baik ini.

"Apakah yang telah terjadi di sini dan siapa sebenarnya pemuda bercaping lebar yarg amat lihai tadi itu?" Han Beng segera mengajukan pertanyaan ini begi mereka duduk menghadapi meja.

Post a Comment