Dia adalah adik kaisar , dan ia bercita-cita kelak akan menggantikan kakaknya menjadi kaisar
Karena itu, dia tidak mau mengambil aku, seorang wanita biasa, bahkan seorang wanita kangouw menjadi isterinya yang sah! Dia harus menjaga nama, dan dia bahkan akan menikah dengan seorang pute ri
Aku hanya akan dijadikan selir..
Hemm, lalu bagaimana, subo?
Tentu saja aku tidak sudi! Kami sudah saling bersumpah dan aku........aku telah menyerahkan diri
Dia sudah berjanji akan mengambilku sebagai isterinya, tidak tahunya hanya akan dijadikan selir
Aku tidak mau dan aku meninggalkan dia!
Wajah yang masih cantik itu nampak berduka sekali dan ia memejamkan mata
Cin Cin mengerutkan alisnya
Betapa besar cinta kasih subonya kepada pangeran itu, pikirnya
Buktinya, sampai sekarang, subonya sama sekali tidak mau berjalan lagi dengan pria lain!
Subo, apakah subo mendendam sakit hati kepada pangeran ini
Apakah aku harus mencari dia dan membalaskan sakit hati subo?
Tung-hai Mo-li membuka mata dan mengangguk
Puluhan tahun aku memperdalam ilmu dengan harapan pada suatu hari, murid yang kuwaris i ilmu-ilmuku akan dapat mewakili aku untuk membalas sakit hati yang kuderita selama puluhan tahun ini, dan engkaulah orangnya yang kuharapkan akan dapat membuat aku mati dengan mata terpejam, Cin Cin.
Akan te tapi, subo dengan kepandaian yang subo miliki, apa sukarnya bagi subo untuk membunuh orang itu
Kenapa subo menanti sampai puluhan tahun dan membiarkan hati menderita dendam selama itu?
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang
Biarpun dia juga bukan orang le mah, bahkan ketika kami saling berpibu dia lebih tangguh dariku, akan tetapi aku te rus dengan giat memperdalam ilmuku dan mungkin sekarang aku dapat menandingi dan mengalahkannya
Akan te tapi, aku sudah tua dan..........aku kuatir, kalau aku berhadapan dengan dia, hatiku akan menjadi lemah dan usaha membalas dendamku tidak akan te rlaksana
Oleh karena itulah aku menggemble ngmu mati-matian, Cin Cin.
Aku akan mencari pangeran itu dan membunuhnya, subo
Siapa namanya dan dimana aku dapat mencarinya?
Namanya Pangeran Cian Bu Ong, dahulu dia adik kaisar Kerjaan Sui
Akan tetapi kerajaan Sui telah jatuh dan diganti kerajaan Tang
Setelah kerajaan Sui jatuh, aku mendengar dia beberapa kali mengusahakan pemberontakan untuk mendirikan kembali kerajaan Sui, akan tetapi semua usahanya gagal
Aku te lah menyelidiki dan bertanya-tanya, dan mendengar bahwa dia suka kelihatan di sepanjang lembah sungai Kuning
Ke le mbah itulah engkau dapat mencarinya
Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, gagah sekali, mukanya kemerahan
Dia sekarang kalau masih hidup te ntu sudah tua pula, karena dia le bih tua setahun dariku
Sekarang usianya tentu sudah enampuluh lima tahun le bih.
Aku akan mencarinya, subo
Dan siapakah orang kedua yang harus kucari ?
Dia bukan musuh pribadiku
Akan te tapi, hatiku sakit karena dia telah membunuh suhengku, padahal dia itu adalah putera suhengku sendiri
Anak durhaka itu harus dihukum dan dibunuh
Suhengku itu amat sayang kepadaku, bahkan dialah yang le bih banyak membimbingku dahulu dan dia menganggap aku seperti adik kandungnya sendiri
Suhengku itu bernama Can Siok dan dahulu berjuluk Cui-beng Sai-kong dan seperti telah kuceritakan tadi, sejak dewasa kami saling berpisah mengambil jalan sendiri-sendiri
Hanya se waktu-waktu saja kami saling jumpa, aku mengunjunginya atau dia mencariku
Dia menemukan agama baru, yaitu menyembah Thiante Kwi-ong dan dia memiliki ilmu sihir yang hebat
Suhengku mempunyai seorang pute ra yang bernama Can Hong San, dari isterinya yang berasal dari pute ri Nepal
Dan anak durhaka itu pada suatu hari membunuh ayah kandungnya sendiri
Aku merasa sedih sekali mendengar nasib suheng dna kuminta engkau kelak mencari Can Hong San dan membunuhnya!
Di mana aku dapat mencari Can Hong San itu, subo?
Entahlah, aku sendiri tidak tahu dimana dia berada
Akan tetapi kau ingat saja namanya dan karena dia seorang tokoh sesat, kukira namanya dikenal oleh dunia kangouw dan engkau kelak dapat melakukan penyelidikan.
Tung-hai Mo-li berhenti sebentar, lalu mengeluarkan seuntai kalung mutiara yang amat indahnya
Kau bawa ini dan kalau engkau berte mu dengan Pangeran Cian Bu Ong, berikan ini kepadanya dengan pesan dariku, bahwa dia harus menukar kalung ini dengan nyawanya, seperti yang pernah dia janjikan kepadaku dahulu
Mutiara-mutiara ini kudapatkan sendiri dengan menyelam di lautan yang paling dalam, memilih yang te rbaik dan menguntainya menjadi kalung untuk kuserahkan kepada pria yang kucinta itu
Dia menerima dengan gembira dan berjanji bahwa kalung itu akan disimpannya dan disayangnya seperti nyawanya sendiri
Akan tetapi, ketika dia hendak meninggalkan aku, dia mengembalikan kalung ini kepadaku................
Kedua mata Tung-hai Mo-li menjadi merah dan basah dengan air mata
Ia membalikkan tubuh dan membelakangi Cin Cin yang menerima kalung mutiara itu, agaknya ia tidak ingin dilihat menangis dan ketika membalikkan tubuh itu, ia menghapus air matanya
Nah, itulah pesanku kepadamu, Cin Cin
Maukah engkau berjanji bahwa engkau akan menunaikan tugas-tugas itu?
Tanya Tung-hai Moli yang sudah menghadapi lagi muridnya
Cin Cin mengalungkan kalung mutiara itu di le hernya
Subo, aku berjanji akan mencari dan membunuh Pangeran Cian Bu Ong dan Can Hong San!
katanya dengan penuh semangat
Tung-hai Mo-li bangkit berdiri, wajahnya nampak le ga dan berseri
Ia lalu melepaskan tali pengikat sarung pedangnya dari punggungnya, menyerahkan pedang dan sarungnya itu kepada Cin Cin
Nah, kau te rimalah Koai-liong-kiam ini, Cin Cin
Aku ingin engkau membunuh mereka dengan pedang ini
Akan te tapi jangan sekali-kali mengurangi kewaspadaan, Cin Cin
Dua orang itu bukan merupakan lawan yang ringan
Akan te tapi aku yakin bahwa kalau engkau menggunakan pedang ini dan mengerahkan seluruh te naga dan kepandaianmu, engkau akan berhasil.
Baiklah subo
Aku akan melaksanakan perintah subo dan mudah-mudahan saja aku akan berhasil dan tidak mengecewakan subo.
Aku percaya padamu, Cin Cin, dan berhatihatilah
Engkau tentu masih ingat akan nama para tokoh di dunia persilatan yang pernah kuceritakan kepadamu
Jangan memandang rendah lawan, dan jangan mencari perkara
Bersikaplah seperti murid te rkasih seorang datuk, tidak seperti perempuan petualang yang mengandalkan kepandaian lalu bersikap congkak dan menyebar bibit permusuhan dimana-mana.
Cin Cin merangkul gurunya,
Aku mengerti subo
Dan kapan aku harus berangkat?
Hari ini juga
Mari kita pulang, engkau cepat berkemas dan hari ini juga meninggalkan rumah kita.
Mereka lalu bergandengan tangan menuju ke sebuah rumah yang berdiri te rpencil di luar dusun nelayan, tak jauh dari pantai
Mereka jalan bergandengan tangan seperti kakak beradik saja, tidak seperti guru dan murid dan melihat dari belakang, takkan ada yang menduga bahwa seorang di antara mereka adalah seorang wanita yang usianya sudah enampuluh tahun lebih!
Berhasil atau tidak, dalam waktu setahun engkau sudah harus kembali ke sini,
demikian pesan Tung-hai Mo-li ketika mengantar muridnya pergi sampai ke luar daerah perbukitan di sepanjang pantai itu
Ketika gadis itu dengan pedang di pinggang dan buntalan pakaian di pundak meninggalkannya, Tung-hai Mo-li te rmenung, betapa semangatnya seperti terbawa pergi, ia mencintai gadis itu seperti anaknya sendiri
Cin Cin yang melangkah dengan cepat juga tidak ingin terlihat menangis oleh gurunya
Ketika ia meninggalkan gurunya, ia merasa begitu sedih dan kasihan kepada gurunya yang amat disayangnya itu
Biarpun gurunya seorang datuk, namun te rhadap dirinya, Tung-hai Mo-li amat baik dan menyayangnya, maka dianggapnya gurunya seperti pengganti orang tuanya
Bagaimanapun ju ga, ia masih ingat bahwa ia adalah puteri ketua Hekhouw-pang, perkumpulan orang-orang gagah, maka te ntu saja ia tidak boleh menjadi seorang yang jahat
Gadis itu melangkah tanpa menoleh lagi, menuju ke utara, ke sungai Huang-ho (Sungai Kuning)
Untuk mencari Pangeran Cian Bu Ong, subonya hanya memberitahu bahwa bekas pangeran itu tinggal di lembah Sungai Kuning
oo-ooo0dw0ooo-o Dusun Ta-bun-cung sekarang nampak ramai dan makmur
Hal ini adalah berkat perkumpulan He k-houw-pang yang kini te lah berdiri kembali setelah dihancurkan oleh para penyerbu utusan Pangeran Cian Bu Ong kurang le bih empatbelas tahun yang lalu
Ketika malam itu terjadi penyerbuan, banyak tokoh Hek-houw-pang yang te was
Ketika itu ketuanya, Kam Seng Hin, tewas
Juga sutenya yang bernama The Ci Kok, disamping banyak lagi anggota He k-houw-pang
Bahkan kakek Coa Song, sesepuh Hek-houw-pang, meninggal dunia karena kaget dan berduka melihat hancurnya Hek-houw-pang
Cucunya yang sudah lama meninggalkan He khouw-pang, yaitu Coa Siang Lee, yang kebetulan berada di situ ketika perkumpulan itu diserbu, juga te was pula ketika membela Hek-houw-pang
Lebih hebat lagi, isteri ketua Kam Seng Hin, yaitu Coa Liu Hwa diculik penjahat, demikian pula isteri Coa Siang Lee, yaitu Sim Lan Ci, lenyap bersama pute ranya Coa Thian Ki
Keluarga Hek-houw-pang cerai berai tidak keruan, bahkan sejak terjadi penyerbuan malam itu sampai matinya kakek Coa Song, He k-houw-pang boleh dibilang telah mati
Para anggotanya tidak berani lagi bergerak, apalagi karena sudah tidak ada yang memimpin
Akan te tapi, beberapa bulan kemudian, muncullah Lai Kun, seorang di antara para sute dari mendiang ketua He k-houw-pang
Lai Kun adalah sute termuda dari Kam Se ng Hin dan dialah yang mendapat tugas untuk mengantar Kam Cin, pute ri ketua itu ke Hong-cun, agar pute ri ketua itu menjadi murid Pendekar Naga Sakti Sungai Kuning