Rambutnya te rurai le pas di belakang punggung, sampai ke pinggul
Sungguh, pantasnya ia seorang dewi kahyangan atau seorang pute ri ratu lautan! Sebenarnya ia manusia biasa, seorang dara yang memang memiliki bentuk tubuh yang indah
Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, usianya sekitar sembilanbelas tahun
Ia berpakaian lengkap walaupun dari sutera tipis, dan karena pakaian itu basah, maka pakaian itu menempel ketat di tubuhnya
Wajahnya manis, dan ia berlari-lari di sepanjang pantai, membiarkan ombak menjilat tubuhnya sampai ke paha
Ia tertawa-tawa seorang diri, dan suara tawanya le nyap dite lan gemuruh ombak
Wajahnya manis, kulitnya putih mulus dan kemerahan karena sinar matahari, matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan
Ketika ombak yang besar, yang datang setiap lima enam kali sekali, diseling ombak-ombak yang kecil, dara itu berteriak gembira dan iapun menyongsong datangnya ombak yang tingginya tidak kurang dari lima mete r itu dan begitu ombak datang menggulung dirinya, iapun meloncat dan menerjang ombak bagaikan seekor ikan lumbalumba! Tubuhnya le nyap dite lan ombak dan sampai ombak itu memecah dan menipis di pantai, agak jauh ke darat sampai mendekati perahuperahu yang diikat di darat, dara itu tidak nampak lagi! Kalau ada yang melihat peristiwa itu terjadi, te ntu akan menahan napas dan khawatir sekali, mengira bahwa dara itu te ntu tenggelam, terseret ombak ke te ngah atau mungkin juga dite rkam ikan hiu! Semua orang tentu akan menduga demikian, mengingat bahwa lama sekali dara itu tidak muncul lagi
Manusia biasa saja tidak mungkin dapat menyelam sampai selama itu
Kalau gadis itu manusia biasa, tentu ia dite rkam hiu atau te nggelam atau mati, atau kalau ia masih hidup, berarti ia bukan manusia, melainkan dewi laut! Kemudian, dari arah tengah, seperti seekor ikan saja, dara itu nampak berenang ke te pi
Cepat sekali renangnya, meluncur tanpa mengeluarkan bunyi, seperti ikan lumba-lumba asli
Dan nampak riang gembira, te rtawa-tawa dan bermain dengan air
Ombak besar datang dari belakangnya, mendorongnya sehingga renangnya semakin cepat
Akhirnya, ombak menerkamnya ke atas pasir, di air yang hanya sedalam lutut
Iapun akhirnya meninggalkan air, tiba di pasir yang kering, agak te rengah dan sambil tertawa iapun menjatuhkan diri ke atas pasir dan te rlentang
Kedua kakinya te rpentang, kedua le ngannya te rkembang di atas kepala, wajahnya segar, rambutnya riap-riapan, sebagian menutup dada dan sebagian menutup muka membelit leher
Bukan main cantiknya
Manis , jelita menggairahkan! Sinar matahari yang mulai menguning cahayanya itu mendatangkan rasa hangat yang amat nyaman
Dan angin semilir, angin yang juga hangat, membuat dara itu terlena oleh kantuk dan tak lama kemudian iapun sudah tertidur
Mulutnya masih setengah terbuka seperti orang te rsenyum, napasnya le mbut dan panjang, dada yang membusung itu turun naik
Dara yang tidur pulas di bawah sinar matahari pagi itu sama sekali tidak tahu betapa ada sebuah perahu hijau datang bersama ombak dari te ngah, menuju ke pantai itu
Jelas bukan perahu nelayan, karena semua nelayan sudah pulang pagi-pagi tadi seperti biasanya, dan dara itupun tahu akan kebiasaan itu
Ia tahu bahwa saat itu tidak akan ada nelayan di pantai, maka ia dapat berenang dengan bebas tanpa dilihat siapapun
Dan model perahu hijau itupun berbeda dengan perahu nelayan yang mempunyai bentuk agak le bar, karena para nelayan membutuhkan ruangan untuk te mpat hasil tangkapan mereka
Perahu hijau itu sempit dan panjang meruncing, dibantu kayu atau bambu runcing di kanan kirinya, dan mempunyai tiang layar
Layarnya yang ju ga berwarna hijau telah digulung, dan kini enam orang penumpang perahu mendayung perahu mereka dengan gerakan te ratur, berirama dan kuat sekali, membuat perahu mereka meluncur cepat ke pantai
Dara itu masih enak tidur terlentang ketika enam orang itu menyeret perahu mereka ke darat, bahkan ketika mereka menahan seruan kaget , heran dan kagum, kemudian mereka berenam berdiri mengepung dara yang masih tidur te rlentang dengan pandang mata seperti singa kehausan melahap seluruh tubuh yang terlentang itu, ia masih tetap tidur dengan napas yang le mbut
Bukan main cantiknya...................!
Manis sekali !
Tubuhnya....................amboiiiii........!
Tak kusangka di dusun pantai ini terdapat gadis sejelita ini.
Wah, kalau semua perempuan di pantai ini secantik dia, untung kita!
Mari kita undi, siapa yang berhak menjadi orang pertama!
Orang pertama dari mereka, yang bertubuh tinggi kurus seperti cicak kering, akan tetapi kumisnya melintang panjang dengan kedua ujung berjuntai ke bawah, segera berkata,
Hushh, apakah kalian mencari penyakit
Siapa orangnya yang tidak mengilar melihatnya, akan te tapi kita tidak boleh mencari penyakit
Kalau ada yang melihat kita lalu semua penduduk keluar, kita akan celaka, bahkan mungkin akan pergi dengan tangan hampa.
Habis bagaimana
Bukankah kita datang ke sini untuk menyelidiki keadaan
Dan ini.......si jelita ini, adalah hadiah untuk kita!
Tolol!
bentak si cicak kering
Kita hanya menyelidik dan ternyata melihat perahu-perahu para nelayan itu, dusun ini cukup makmur untuk menjadi mangsa kita
Dan agaknya banyak pula te rdapat perempuan cantik
Yang ini kita tangkap dan kita bawa pulang untuk oleh-oleh
Tentu majikan kita akan senang sekali, apalagi majikan muda kita
Kita perlu membawa teman-teman yang cukup banyak untuk menyerbu
Lihat, perahu mereka lebih dari duapuluh buah banyaknya, te ntu sedikitnya ada seratus orang laki-laki muda di sini
Terlampau berat bagi kita berenam untuk menghadapi mereka
Nah, mari kita tangkap dan bawa anak ayam ini ke perahu!
Bagaikan menerima komando, enam orang ini seperti berubah menjadi enam ekor anjing pemburu menghadapi domba betina muda yang gemuk! Mereka berenam seperti berlomba, menubruk ke arah gadis yang te lentang tidur itu, ingin lebih dahulu mendekap dan meringkusnya, merasakan kehangatan tubuh yang molek
Bress....!
Enam orang itu berteriak-teriak kaget karena dara yang mereka tubruk itu tiba-tiba saja menghilang! Mereka tadi melihat jelas betapa gadis itu masih tidur te rlentang, dan ketika mereka menubruk dari semua jurusan tampak bayangan berkelebat dan mereka saling tubruk, saling beradu kepala dan tangan dan gadis itu telah le nyap! Selagi mereka kaget dan heran, te rdengar suara tawa renyah dan mereka cepat berloncatan berdiri, memutar tubuh menghadapi orang tertawa
Kiranya gadis itu telah berdiri sambil bertolak pinggang dan te rtawa bebas
Tidak seperti gadis dusun atau kota biasa yang kalau te rtawa tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani kelihatan giginya, gadis ini tertawa te rkekeh membuka mulut dengan bebas sehingga nampak sepasang bibirnya merekah, memperlihatkan rongga mulut yang merah tua dan gusi merah muda di te ngah deretan gigi yang putih rapih seperti mutiara diatur
Heh-heh-heh, lucu sekali! Kalian ini siapakah
Pakaian kalian serba hijau, kalian bukan orang sini
Mau apa kalian datang ke sini dan mengganggu aku yang sedang tidur lelap?
Enam orang itu saling pandang
Sedang tidur lelap kenapa ketika ditubruk dapat le nyap
Manusiakah gadis ini
Atau dewi penjaga lautan
Akan te tapi si cicak kering yang merasa dia bersama lima rekannya dan merasa bahwa dia menjadi pemimpin rombongan itu, mengusir keraguan hatinya
Dia melangkah maju ke depan
Nona, kami memang bukan orang sini
Kami datang karena melihat nona yang demikian cantik seperti bidadari
Kami ingin nona ikut bersama kami!
Si cicak kering sudah memberi is yarat kepada te man-temannya untuk mengepung
Akan tetapi gadis itu s ama sekali tidak kelihatan gentar, seolah-olah keenam orang laki-laki yang sikapnya seperti serigala itu dianggapnya sebagai anjinganjing yang jinak saja
Dara itu tersenyum dan mengangguk-angguk,
Aih, begitukah
Kalian hendak mengajak aku kemana
Siapakah kalian
Perkenalkan diri dulu agar aku dapat mempertimbangkan apakah aku akan memenuhi undangan kalian atau tidak.
Melihat sikap gadis itu yang ramah dan tidak marah, enam orang laki-laki itu merasa senang sekali
Si cicak kering yang merasa dirinya paling unggul di antara te man-temannya karena memang dia yang bertugas sebagai pimpinan, membusungkan dadanya
Akan te tapi karena dada itu memang kerempeng dan tipis, dibusungkan bukan nampak besar, melainkan melengkung seperti batang kangkung
Nona yang cantik, ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang gagah penghuni Pulau Hiu! Nona kami undang untuk berkunjung ke pulau kami dan berkenalan dengan majikan kami
Majikan muda kami, Siangkoan Kongcu (Tuan muda Siangkoan) adalah seorang pemuda yang gagah, ganteng, tampan dan kaya raya, tentu akan dapat menghargai seorang cantik jelita seperti nona.
Sepasang mata yang je li itu nampak bersinarsinar
Pulau Hiu
Baru sekarang aku mendengarnya! Majikannya she Siangkoan
Dimana sih letaknya pulau itu?
Kini gadis itu menerawang ke arah lautan seperti hendak mencari di mana letaknya pulau itu
Tidak jauh dari sini, nona
Hanya pelayaran setengah hari menuju ke utara
Pulau Hiu kami te rletak di seberang pantai Shantung.
Setengah hari
Kalau begitu pulang pergi hanya sehari dan sore nanti aku dapat pulang kesini?
Gadis itu dalam bicarapun demikian polosnya seperti juga ketika te rtawa, dan juga tanpa malumalu di depan enam orang pria itu, walaupun pakaiannya yang tipis dan ketat itu kini berkibar te rtiup angin laut sehingga bentuk tubuhnya te rcetak jelas
Enam orang itu saling pandang dan tertawa
Dalam hati mereka menertawakan gadis yang mereka anggap dusun dan tolol itu
Tentu saja kalau gadis itu sudah mereka bawa, ia tidak akan kembali ke te mpat ini, pikir mereka
Tentu saja, sore nanti engkau dapat pulang nona manis,
kata pula si cicak kering, lalu ia mengerling ke arah lima orang te man-te mannya yang tersenyum-senyum
Kalau begitu, aku mau ikut!
gadis itu berkata dan suaranya seperti bersorak gembira
Aku ingin melihat Pulau Hiu
Apakah disana banyak ikan hiunya?
Banyak, nona!
jawab seorang di antara mereka
Ada hiu berkaki dua......
Hiu berkaki dua?
gadis itu terbelalak dan semua orang tertawa
Aih, temanku ini hanya berkelakar, nona,
kata si cicak kering
Yang dia maksudkan adalah hiu yang mempunyai sirip besar-besar dan gemuk.
Gadis itu berte puk tangan
Aku suka sekali sirip hiu! Enak sekali, apalagi kalau dimasak dengan jahe!
Ia menjulurkan lidahnya yang merah segar, menjilati bibir bawah
Enam orang itu menelan ludah dan kalamenjing mereka naik turun
Saking te rpesona penuh gairah, mereka sampai tidak merasa aneh bahwa gadis pantai ini pernah makan makanan sirip hiu yang hanya menjadi makanan para hartawan kaya karena mahalnya
Mari kita berangkat nona
Jangan sampai engkau nanti kemalaman kalau pulang.
kata si cicak kering sambil menggandeng tangan gadis itu
Gadis jelita itu tidak menolak,dan ia te rsenyumsenyum melihat enam orang itu mendorong perahu ke air