Halo!

Naga Beracun Chapter 82

Memuat...

Nenek berusia enampuluh enam tahun itu nampak seperti berusia empat puluh tahun saja,dan kepalanya yang gundul itu nampak kulitnya putih bersih dan mengkilap

Dahulu, ketika ia masih muda dan bernama Phang Bi Cu berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), selain tubuhnya beracun dan ia memiliki banyak macam pukulan beracun, juga ia selalu membawa kipas dan kebutan yang menyembunyikan pedang

Akan te tapi sekarang, semenjak menjadi nikouw, ia tidak pernah lagi membawa senjata apapun

De ngan jantung berdebar tegang, Thian Ki cepat menyelinap ke depan dan dia mengintai dari balik je ndela depan

Dia melihat neneknya keluar dengan langkah tenang dan wajah berseri, dan dengan hati khawatir dia melihat bahwa di luar telah berdiri sepuluh orang laki-laki yang rata-rata nampak gagah dan marah

Mereka te rdiri dari orang-orang yang usianya empatpuluh tahun ke atas, ada yang berpakaian seperti seorang tosu ada pula hwes io dan ada yang berpakaian seperti orang dari dunia persilatan

Rata-rata mereka membawa senjata

Ketika Lo Nikouw keluar dan berte mu dengan sepuluh orang itu, mereka nampak terkejut dan juga meragu

Akan te tapi hwesio yang bermuka merah dan usianya kurang le bih limapuluh tahun, sudah melintangkan sebatang toya hitam di depan dada lalu memutar toya dan menancapkan toya di depan kakinya

Omitohud, biar engkau sudah menyamar sebagai nikouw sekalipun tidak ada gunanya

Bantok Mo-li

Kami akhirnya dapat menemukan te mpat persembunyianmu dan dapat menuntut balas atas kejahatanmu.!

Siancai.....! Ban-tok Mo-li sudah menumpuk dosa terlampau banyak

Biar menjadi nikouw sampai seribu kali, bagaimana mungkin dapat mencuci bersih dosa-dosanya?

kata tosu yang usianya juga sekitar limapuluh tahun

Ada dua orang hwes io dan dua orang tosu di situ, mereka ini sudah siap menyerang dan sinar mata mereka memandang penuh kebencian kepada Lo Nikouw

Adapun enam orang yang lain, yang berpakaian sebagai orang-orang kang-ouw, juga tidak kalah galaknya

Mereka te rbagi menjadi dua golongan, masing-masing tiga orang

Yang tiga orang berpakaian serba hijau, sedangkan tiga orang yang lain, yang mengenakan baju putih dengan celana bermacam warna, mempunyai gambar seekor naga melingkar di dada mereka

Ban-tok Mo-li, kami dari Pulau Hiu datang untuk mencabut nyawamu!

kata seorang dari mereka yang berpakaian hijau

Ban-tok Mo-li, le bih baik engkau menyerah kepada kami untuk kami seret ke hadapan majikan kami di Bukit Naga!

kata seorang di antara mereka yang memakai tanda gambar naga di dada

Menghadapi sepuluh orang yang kelihatan marah dan penuh kebencian itu, Lo Nikouw te rsenyum ramah dan sikapnya masih tetap te nang

Hal ini membuat Thian Ki yang mengintai dari dalam merasa heran

Kalau neneknya bekas seorang datuk yang amat jahat, bagaimana mungkin dapat bersikap se sabar dan setenang itu

Dia sendiri yang sejak kecil digembleng orang tuanya agar tidak suka akan kekerasan, kini hampir tidak dapat menahan kemarahannya melihat dan mendengar sikap sepuluh orang itu yang memaki-maki neneknya dan mengancam hendak membunuhnya

Omitohud, kalau kalian berenam haus darah, pin-ni masih dapat mengerti

Akan tetapi mengapa dua orang hwes io dan dua orang tosu juga dapat haus darah seperti kalian berempat?

tanyanya sambil memandang kepada empat orang pendeta itu

Ban-tok Mo-li, ketahuilah bahwa pin-to berdua adalah tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai yang datang untuk membasmimu,

kata seorang tosu

Omitohud, biarpun kepalamu gundul dan engkau mengenakan jubah nikouw, tidak akan dapat mengelabui pin-ceng berdua

Pinceng adalah murid Siauw-lim-pai dari daerah selatan

Mendengar akan kejahatanmu, pin-ceng merasa berkewajiban untuk ikut membasmi.

Lo Nikouw tersenyum

Hemm, kalian berempat bukanlah pendeta-pendeta yang baik.! Kalian hanya budak-budak nafsu amarah dan dendam kebencian seperti yang lain, sehingga percuma saja kalian mengenakan jubah pendeta

Ketahuilah oleh kalian bersama bahwa Ban-tok Mo-li sudah tidak ada lagi, s udah mati

Pin-ni adalah Lo Nikouw.

Ha-ha-ha

Ban-tok Mo-li, engkau seperti seekor harimau yang mengenakan bulu domba.! Kami sudah menyelidiki dan yakin bahwa engkau adalah Ban-tok Mo-li

Apakah engkau yang dahulu te rkenal jahat dan keji, sekarang te lah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya?

Omitohud....

Lo Nikouw merangkap kedua le ngan di depan dada, memejamkan kedua matanya

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sudah lama mati

Pin-ni adalah Lo Nikouw dan kalau kematian pin-ni dapat meringankan dosa Ban tok Mo-li, pinni siap untuk berkorban,

setelah berkata demikian, Nikouw tua itu lalu duduk bersila di atas tanah pekarangan kuil itu dengan kedua tangan masih dirangkap di depan dada, tubuh te gak dan mata terpejam seperti sebuah arca

Sepuluh orang itu kini mengepung dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing

Thian Ki yang mengintai di dalam, te rbelalak dan mukanya berubah pucat

Apa yang harus dia lakukan

Membela neneknya

Bukankah neneknya te lah menceritakan bahwa neneknya dahulu seorang yang te ramat jahat, yang te lah membunuh banyak orang tak berdosa, yang te lah melakukan kejahatan apapun saja

Dan kalau sepuluh orang itu datang membalas dendam atau menghukum kejahatannya, perlukah neneknya dibela

Ibunya berulang kali mengatakan bahwa membela orang jahat sama saja dengan membela kejahatannya dan menjadi penjahat pula! Dan tanpa menggunakan hawa beracun di tubuhnya, diapun belum tentu akan mampu melawan dan menandingi orang itu

Menggunakan hawa beracun berarti membunuh mereka! Tidak, dia tidak mau menjadi pembunuh, apalagi sepuluh orang yang memusuhi neneknya itu tentu saja orang-orang dari golongan bersih yang menentang neneknya sebagai sumber kejahatan

Tidak, dia tidak boleh membela

Akan tetapi, neneknya seorang sakti, tidak mungkin dapat dibunuh begitu saja! Biarpun kelihatan duduk bersila dan memejamkan mata, dia tahu benar bahwa sekali neneknya bergerak, te ntu akan ada lawan yang roboh dan te was keracunan! De mikianlah pula pendapat sepuluh orang itu

Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi

Di antara mereka ada yang pernah mengenal Ban-tok Mo-li dan tahu benar akan kelihaian iblis betina itu, dan yang belum pernah bertemu juga sudah banyak mendengar akan kelihaian Iblis Betina Selaksa Racun ini

Maka, mereka tidak berani turun tangan dengan lancang

Hati-hati, kalau ia menyebar racun, kita dapat celaka semua.

kata seorang di antara mereka

Sampai lama, sepuluh orang itu hanya melangkah dengan hati-hati, mengelilingi Lo Nikouw yang masih duduk bersila tak bergerak sedikitpun

Wajahnya masih cerah dihias senyum dan ia nampak sabar dan te nang, sedikitpun tidak nampak bayangan rasa takut di wajahnya

Setelah belasan kali mengelilingi nikouw itu dan tidak ada reaksi apapun, timbul keberanian di hati seorang di antara anak buah Pulau Hiu

Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat, di tangannya nampak sebatang tombak pengait yang biasa dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan besar

Biar kucoba dulu dengan ini, baru kita semua turun tangan,

katanya sambil mengangkat tombaknya ke atas kepala

Semua orang memandang dan mengangguk, yang berada di bagian belakang Lo Nikouw segera lari ke samping agar tidak menjadi sasaran tombak berkait

Anak buah Pulau Hiu itu lalu mengerahkan tenaganya dan dari jarak tidak le bih dari enam meter dia melontarkan tombaknya ke arah dada Lo N ikouw.! Bias anya, kalau dia menombak ikan besar, jarak antara dia dan sasarannya sampai belasan meter, dan tombak itu gagangnya diikat dengan tali pula

Sekarang, jaraknya hanya enam meter dan tidak ada tali, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya luncuran tombak yang dilontarkannya

Singgg........cappppp......!

Tombak itu menancap dan mene mbus dada Lo Nikouw.!

Omitohud........!

Dari mulut Lo Nikouw keluar seruan le mah dan tubuhnya yang bersila te rjengkang, akan te tapi tidak te rus telentang karena tubuh itu te rtahan ujung tombak yang sompai menembus punggungnya! Melihat ini, sembilan orang yang lain tercengang, akan te tapi juga timbul keberanian di hati mereka dan sembilan macam senjata turun bagaikan hujan menimpa tubuh yang sudah sekarat itu

Dalam sekejap mata, tubuh Lo Nikouw yang sama sekali tidak melawan itu telah menjadi onggokan daging dan tulang yang berle potan darah.! Lehernya putus dan kepalanya menggelinding tak jauh dari onggokan daging itu

Lo Nikouw te was te rcincang tanpa melakukan perlawanan sedikitpun juga

Thian Ki terbelalak dan tak dapat bertahan lagi

Dia mengeluh dan te rkulai pingsan di belakang je ndela

Dia tidak tahu betapa sepuluh orang kangouw itu memasuki kuil, mencari-cari dan melihat dia te rkulai pingsan, mereka tidak mengganggunya

Juga kuil itu tidak dirusak

Agaknya mereka mencari kalau-kalau te rdapat te man atau anak buah Ban-tok Mo-li yang kini menjadi Lo Nikouw itu

Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun kecuali seorang anak lakilaki yang pingsan

Mereka lalu pergi dengan hati bertanya-tanya dan mulai merasa ragu dan menyesal

Benarkah yang mereka bunuh tadi Bantok Mo-li

Bagaimana kalau nikouw itu bukan Ban-tok Mo-li melainkan seorang pendeta wanita yang le mah dan suci

Meremang bulu tengkuk mereka kalau mereka membayangkan kemungkinan ini.! Senja telah lewat dan malam mulai tiba ketika Thian Ki siuman dari pingsannya

Begitu siuman, dia te ringat akan peristiwa tadi

Bukan mimpi, pikirnya dan dia tidak sedang tidur

Dia menggeletak di atas lantai di balik jendela.! Dia cepat melompat berdiri dan melihat keluar remangremang di luar, hampir gelap, akan tetapi ia masih dapat melihat onggokan daging dan kepala neneknya tak jauh dari situ!

Nenek.......!

Dia berteriak dan melompat keluar dari je ndela, lari ke pekarangan

Nenek.......!

Dia berteriak lagi dan menubruk kepala itu, kepala neneknya yang matanya masih te rpejam dan mulutnya masih tersenyum! Dia mengambll kepala itu memegang dengan kedua tangan, dilihatnya baik-baik

Kepala neneknya! De ngan leher putus dan berlepotan darah

Neneknya.!

Nenek.........!

Dia mendekap kepala itu dan menangis, membawa kepala itu ke depan onggokan daging bekas tubuh neneknya, mendekap kepala sambil berlutut dan menangis terisak-isak

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment