Nenek berusia enampuluh enam tahun itu nampak seperti berusia empat puluh tahun saja,dan kepalanya yang gundul itu nampak kulitnya putih bersih dan mengkilap
Dahulu, ketika ia masih muda dan bernama Phang Bi Cu berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), selain tubuhnya beracun dan ia memiliki banyak macam pukulan beracun, juga ia selalu membawa kipas dan kebutan yang menyembunyikan pedang
Akan te tapi sekarang, semenjak menjadi nikouw, ia tidak pernah lagi membawa senjata apapun
De ngan jantung berdebar tegang, Thian Ki cepat menyelinap ke depan dan dia mengintai dari balik je ndela depan
Dia melihat neneknya keluar dengan langkah tenang dan wajah berseri, dan dengan hati khawatir dia melihat bahwa di luar telah berdiri sepuluh orang laki-laki yang rata-rata nampak gagah dan marah
Mereka te rdiri dari orang-orang yang usianya empatpuluh tahun ke atas, ada yang berpakaian seperti seorang tosu ada pula hwes io dan ada yang berpakaian seperti orang dari dunia persilatan
Rata-rata mereka membawa senjata
Ketika Lo Nikouw keluar dan berte mu dengan sepuluh orang itu, mereka nampak terkejut dan juga meragu
Akan te tapi hwesio yang bermuka merah dan usianya kurang le bih limapuluh tahun, sudah melintangkan sebatang toya hitam di depan dada lalu memutar toya dan menancapkan toya di depan kakinya
Omitohud, biar engkau sudah menyamar sebagai nikouw sekalipun tidak ada gunanya
Bantok Mo-li
Kami akhirnya dapat menemukan te mpat persembunyianmu dan dapat menuntut balas atas kejahatanmu.!
Siancai.....! Ban-tok Mo-li sudah menumpuk dosa terlampau banyak
Biar menjadi nikouw sampai seribu kali, bagaimana mungkin dapat mencuci bersih dosa-dosanya?
kata tosu yang usianya juga sekitar limapuluh tahun
Ada dua orang hwes io dan dua orang tosu di situ, mereka ini sudah siap menyerang dan sinar mata mereka memandang penuh kebencian kepada Lo Nikouw
Adapun enam orang yang lain, yang berpakaian sebagai orang-orang kang-ouw, juga tidak kalah galaknya
Mereka te rbagi menjadi dua golongan, masing-masing tiga orang
Yang tiga orang berpakaian serba hijau, sedangkan tiga orang yang lain, yang mengenakan baju putih dengan celana bermacam warna, mempunyai gambar seekor naga melingkar di dada mereka
Ban-tok Mo-li, kami dari Pulau Hiu datang untuk mencabut nyawamu!
kata seorang dari mereka yang berpakaian hijau
Ban-tok Mo-li, le bih baik engkau menyerah kepada kami untuk kami seret ke hadapan majikan kami di Bukit Naga!
kata seorang di antara mereka yang memakai tanda gambar naga di dada
Menghadapi sepuluh orang yang kelihatan marah dan penuh kebencian itu, Lo Nikouw te rsenyum ramah dan sikapnya masih tetap te nang
Hal ini membuat Thian Ki yang mengintai dari dalam merasa heran
Kalau neneknya bekas seorang datuk yang amat jahat, bagaimana mungkin dapat bersikap se sabar dan setenang itu
Dia sendiri yang sejak kecil digembleng orang tuanya agar tidak suka akan kekerasan, kini hampir tidak dapat menahan kemarahannya melihat dan mendengar sikap sepuluh orang itu yang memaki-maki neneknya dan mengancam hendak membunuhnya
Omitohud, kalau kalian berenam haus darah, pin-ni masih dapat mengerti
Akan tetapi mengapa dua orang hwes io dan dua orang tosu juga dapat haus darah seperti kalian berempat?
tanyanya sambil memandang kepada empat orang pendeta itu
Ban-tok Mo-li, ketahuilah bahwa pin-to berdua adalah tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai yang datang untuk membasmimu,
kata seorang tosu
Omitohud, biarpun kepalamu gundul dan engkau mengenakan jubah nikouw, tidak akan dapat mengelabui pin-ceng berdua
Pinceng adalah murid Siauw-lim-pai dari daerah selatan
Mendengar akan kejahatanmu, pin-ceng merasa berkewajiban untuk ikut membasmi.
Lo Nikouw tersenyum
Hemm, kalian berempat bukanlah pendeta-pendeta yang baik.! Kalian hanya budak-budak nafsu amarah dan dendam kebencian seperti yang lain, sehingga percuma saja kalian mengenakan jubah pendeta
Ketahuilah oleh kalian bersama bahwa Ban-tok Mo-li sudah tidak ada lagi, s udah mati
Pin-ni adalah Lo Nikouw.
Ha-ha-ha
Ban-tok Mo-li, engkau seperti seekor harimau yang mengenakan bulu domba.! Kami sudah menyelidiki dan yakin bahwa engkau adalah Ban-tok Mo-li
Apakah engkau yang dahulu te rkenal jahat dan keji, sekarang te lah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya?
Omitohud....
Lo Nikouw merangkap kedua le ngan di depan dada, memejamkan kedua matanya
Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sudah lama mati
Pin-ni adalah Lo Nikouw dan kalau kematian pin-ni dapat meringankan dosa Ban tok Mo-li, pinni siap untuk berkorban,
setelah berkata demikian, Nikouw tua itu lalu duduk bersila di atas tanah pekarangan kuil itu dengan kedua tangan masih dirangkap di depan dada, tubuh te gak dan mata terpejam seperti sebuah arca
Sepuluh orang itu kini mengepung dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing
Thian Ki yang mengintai di dalam, te rbelalak dan mukanya berubah pucat
Apa yang harus dia lakukan
Membela neneknya
Bukankah neneknya te lah menceritakan bahwa neneknya dahulu seorang yang te ramat jahat, yang te lah membunuh banyak orang tak berdosa, yang te lah melakukan kejahatan apapun saja
Dan kalau sepuluh orang itu datang membalas dendam atau menghukum kejahatannya, perlukah neneknya dibela
Ibunya berulang kali mengatakan bahwa membela orang jahat sama saja dengan membela kejahatannya dan menjadi penjahat pula! Dan tanpa menggunakan hawa beracun di tubuhnya, diapun belum tentu akan mampu melawan dan menandingi orang itu
Menggunakan hawa beracun berarti membunuh mereka! Tidak, dia tidak mau menjadi pembunuh, apalagi sepuluh orang yang memusuhi neneknya itu tentu saja orang-orang dari golongan bersih yang menentang neneknya sebagai sumber kejahatan
Tidak, dia tidak boleh membela
Akan tetapi, neneknya seorang sakti, tidak mungkin dapat dibunuh begitu saja! Biarpun kelihatan duduk bersila dan memejamkan mata, dia tahu benar bahwa sekali neneknya bergerak, te ntu akan ada lawan yang roboh dan te was keracunan! De mikianlah pula pendapat sepuluh orang itu
Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi
Di antara mereka ada yang pernah mengenal Ban-tok Mo-li dan tahu benar akan kelihaian iblis betina itu, dan yang belum pernah bertemu juga sudah banyak mendengar akan kelihaian Iblis Betina Selaksa Racun ini
Maka, mereka tidak berani turun tangan dengan lancang
Hati-hati, kalau ia menyebar racun, kita dapat celaka semua.
kata seorang di antara mereka
Sampai lama, sepuluh orang itu hanya melangkah dengan hati-hati, mengelilingi Lo Nikouw yang masih duduk bersila tak bergerak sedikitpun
Wajahnya masih cerah dihias senyum dan ia nampak sabar dan te nang, sedikitpun tidak nampak bayangan rasa takut di wajahnya
Setelah belasan kali mengelilingi nikouw itu dan tidak ada reaksi apapun, timbul keberanian di hati seorang di antara anak buah Pulau Hiu
Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat, di tangannya nampak sebatang tombak pengait yang biasa dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan besar
Biar kucoba dulu dengan ini, baru kita semua turun tangan,
katanya sambil mengangkat tombaknya ke atas kepala
Semua orang memandang dan mengangguk, yang berada di bagian belakang Lo Nikouw segera lari ke samping agar tidak menjadi sasaran tombak berkait
Anak buah Pulau Hiu itu lalu mengerahkan tenaganya dan dari jarak tidak le bih dari enam meter dia melontarkan tombaknya ke arah dada Lo N ikouw.! Bias anya, kalau dia menombak ikan besar, jarak antara dia dan sasarannya sampai belasan meter, dan tombak itu gagangnya diikat dengan tali pula
Sekarang, jaraknya hanya enam meter dan tidak ada tali, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya luncuran tombak yang dilontarkannya
Singgg........cappppp......!
Tombak itu menancap dan mene mbus dada Lo Nikouw.!
Omitohud........!
Dari mulut Lo Nikouw keluar seruan le mah dan tubuhnya yang bersila te rjengkang, akan te tapi tidak te rus telentang karena tubuh itu te rtahan ujung tombak yang sompai menembus punggungnya! Melihat ini, sembilan orang yang lain tercengang, akan te tapi juga timbul keberanian di hati mereka dan sembilan macam senjata turun bagaikan hujan menimpa tubuh yang sudah sekarat itu
Dalam sekejap mata, tubuh Lo Nikouw yang sama sekali tidak melawan itu telah menjadi onggokan daging dan tulang yang berle potan darah.! Lehernya putus dan kepalanya menggelinding tak jauh dari onggokan daging itu
Lo Nikouw te was te rcincang tanpa melakukan perlawanan sedikitpun juga
Thian Ki terbelalak dan tak dapat bertahan lagi
Dia mengeluh dan te rkulai pingsan di belakang je ndela
Dia tidak tahu betapa sepuluh orang kangouw itu memasuki kuil, mencari-cari dan melihat dia te rkulai pingsan, mereka tidak mengganggunya
Juga kuil itu tidak dirusak
Agaknya mereka mencari kalau-kalau te rdapat te man atau anak buah Ban-tok Mo-li yang kini menjadi Lo Nikouw itu
Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun kecuali seorang anak lakilaki yang pingsan
Mereka lalu pergi dengan hati bertanya-tanya dan mulai merasa ragu dan menyesal
Benarkah yang mereka bunuh tadi Bantok Mo-li
Bagaimana kalau nikouw itu bukan Ban-tok Mo-li melainkan seorang pendeta wanita yang le mah dan suci
Meremang bulu tengkuk mereka kalau mereka membayangkan kemungkinan ini.! Senja telah lewat dan malam mulai tiba ketika Thian Ki siuman dari pingsannya
Begitu siuman, dia te ringat akan peristiwa tadi
Bukan mimpi, pikirnya dan dia tidak sedang tidur
Dia menggeletak di atas lantai di balik jendela.! Dia cepat melompat berdiri dan melihat keluar remangremang di luar, hampir gelap, akan tetapi ia masih dapat melihat onggokan daging dan kepala neneknya tak jauh dari situ!
Nenek.......!
Dia berteriak dan melompat keluar dari je ndela, lari ke pekarangan
Nenek.......!
Dia berteriak lagi dan menubruk kepala itu, kepala neneknya yang matanya masih te rpejam dan mulutnya masih tersenyum! Dia mengambll kepala itu memegang dengan kedua tangan, dilihatnya baik-baik
Kepala neneknya! De ngan leher putus dan berlepotan darah
Neneknya.!
Nenek.........!
Dia mendekap kepala itu dan menangis, membawa kepala itu ke depan onggokan daging bekas tubuh neneknya, mendekap kepala sambil berlutut dan menangis terisak-isak