Hampir aku tidak percaya bahwa engkau dahulu adalah seorang datuk sesat yang berjuluk Ban-tok Mo-li! Jahat sekalikah engkau ketika muda, ne k?
Omitohud, semoga Tuhan mengampuniku
Bukan jahat lagi, cucuku
Lebih daripada yang jahat
Tidak ada kejahatan yang tidak pernah kulakukan! Thian Ki menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya
Tentu saja sukar baginya membayangkan neneknya yang kini demikian penuh kelembutan dan keramahan, pernah menjadi seorang iblis betina yang kejam
Bukankah ayah dan ibunya dahulu juga mendidiknya menjadi orang yang baik dan menjauhi kekerasan
Baru setelah ibunya menikah dengan ayah tirinya yang sekarang ini dia mengenal ilmu silat di bawah gemblengan ayah tirinya
Nek, kalau nenek dahulu menjadi tokoh sesat, kalau begitu.......tentu musuh nenek terdiri dari para pendekar dan tokoh persilatan yang baik
Begitukah?
Omitohud........tentu saja.......
tentu saja begitu
Kalau pin-ni dulu jahat, tentu saja musuh-musuh pin-ni adalah tokoh tokoh yang baik
Itu sudah sewajarnya, bukan
Akan te tapi pin-ni dulu, tidak mengenal apa itu baik atau buruk
Pendeknya siapa saja yang tidak sependapat dengan pin-ni, te ntu menjadi musuh pin-ni tidak perduli dia itu pendekar budiman ataukah perampok jahat! Musuh pin-ni sudah tak te rhitung banyaknya
Terima kasih Tuhan bahwa pin-ni sekarang telah menjadi nikouw, sehingga tidak ada bekas musuh yang masih ingat dan mengenal pin-ni, sudahlah
Thian Ki
Pendeknya, engkau tidak boleh menjadi orang jahat
Engkau harus menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan, menjadi jagoan nomor satu yang selain menjunjung tinggi nama keluarga, juga dengan perbuatan gagah dan benar akan dapat sedikitnya mengurangi kekotoran yang menempel pada nama nenekmu ini
N ah, sekarang engkau harus bekerja keras, berlatih untuk dapat menguasai hawa beracun yang berada di dalam tubuhmu.
Akan tetapi, nek
Kalau mungkin, aku ingin sekali agar aku tidak lagi menjadi tok-tong, agar darahku tidak beracun, agar hawa beracun yang berada dalam tubuhku le nyap, karena aku tidak ingin orang lain menjadi korban karena racun yang berada dalam tubuhku.
Nenek itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala
Omitohud, dengan susah payah pin-ni membuat engkau menjadi tok-tong dengan maksud agar engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia, menjadi seorang pendekar tak te rkalahkan, dan engkau minta agar engkau pulih kembali menjadi anak biasa
Tidak mungkin, Thian Ki, kecuali kalau ada sedikitnya sepuluh orang yang menyedot racun itu dari tubuhmu
Akan tetapi itu berarti bahwa engkau akan mengorbankan nyawa sepuluh orang.
Aku tidak mau kalau begitu, nek! Lebih baik racun itu membunuhku dari pada harus membunuh sepuluh orang!
Akupun tidak menghendaki demikian, cucuku
Oleh karena itu, aku akan mengajarkan cara agar engkau menguasai racun itu di tubuhmu, sehingga engkau dapat membuat racun itu mengendap dan tidak membahayakan orang lain
Setelah engkau dapat menguasainya, racun itu baru bekerja setelah engkau mengerahkan tenagamu
Akan tetapi engkau tidak boleh menikah, Thian Ki, karena setiap kali engkau menikah, isterimu itu akan mati keracunan dan merupakan orang pertama yang akan menyedot racun dari tubuhmu.
Nek, apakah tidak ada jalan lain untuk membebaskan aku dari racun ini?
Hanya dengan bantuan orang yang sakti, cucuku
Yang memiliki sin-kang yang sudah sempurna bahkan yang le bih kuat daripada ayah tirimu yang tangguh itu
Dan di dunia ini, orang seperti yang kumaksudkan itu jarang dapat dijumpai
Seingatku hanya ada dua orang saja yang mungkin sekali dapat membantumu
Mereka adalah Pek I Tojin, tosu pertapa dari Thaisan dan ke dua adalah Hek Bin Hwesio, hwesio perantau di pegunungan Himalaya
Akan te tapi, siapa yang dapat mencari dua orang sakti seperti itu
Mereka seperti dewa dan andaikata dapat jumpa sekalipun, belum te ntu mereka mau mencampuri urusan dunia.
Wah, susah benar kalau begitu mencari mereka, nek
Akan tetapi kelak aku akan mencari mereka
Apakah mereka tidak mempunyai murid-murid yang sekiranya telah mewarisi ilmu-ilmu mereka, nek?
Setahuku, murid paling baik dan te rkenal dari Pek I Tojin adalah Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng
sedangkan murid te rbaik dari He k Bin Hwesio adalah isteri pendekar itu, yang bernama Bu Giok Cu
Nama suami isteri ini terkenal sekali, terutama di sepanjang le mbah sungai Huang-ho
Dan mereka tinggal pula di te pi sungai Huang-ho, di sebuah dusun yang disebut Hong-cun
Akan tetapi, pin-ni tidak yakin apakah mereka berdua itu akan dapat menolongmu, atau akan mau melakukannya
Pin-ni kira hanya Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio saja yang akan mampu melakukannya.
Diam-diam Thian Ki mencatat nama orang-orang yang disebut oleh neneknya
Mulai hari itu diapun berlatih dengan te kun di bawah bimbingan neneknya, berlatih untuk menguasai hawa beracun yang menguasai tubuhnya
Setelah berlatih yang sebagian besar adalah latihan samadhi dan pernapasan, barulah Thian Ki mengerti mengapa neneknya minta dia tinggal satu dua tahun di situ
Ternyata latihan menguasai hawa beracun itu tidaklah mudah.! Dan salah sedikit saja akan membahayakan dirinya sendiri
Racun di tubuhnya itu akan dapat mendatangkan akibat sampingan yang hebat, seperti rusaknya jantungnya atau bahkan rusaknya is i kepalanya
Dia dapat menjadi gila, lemah atau bahkan tewas
Hawa beracun yang berada di tubuhnya, bahkan yang sudah mengalir di darahnya, yang membuat rambut dan kukunya, bahkan ludahnya, mengandung racun yang dapat mematikan orang lain, bagaikan ular berbisa yang liar dan yang tidak dapat keluar dari tubuhnya
Karena neneknya tidak mampu mengeluarkan racun itu, maka ular liar itu harus dapat ditundukkan dan dijinakkan, sehingga biarpun berada di dalam tubuhnya, namun dia dapat mengatur agar kalau tidak diperlukan, ular liar berupa racun itu dapat
tidur
di dalam pusarnya
Thian Ki yang ingin membuat dirinya tidak
berbahaya
seperti yang sudah, berlatih dengan te kun sekali, sehingga le wat satu setengah tahun dia sudah berhasil dan mampu menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya
Hawa beracun itu sudah jinak dan berdiam di pusarnya
Dalam keadaan hawa itu tertidur, dia dapat melakukan apa saja tanpa mengusik hawa beracun itu, kecuali te ntu saja menggunakan sin-kang
Kalau dia mengerahkan te naga dalam, maka otomatis hawa beracun tidur itu akan bangkit dan menerobos keluar melalui gerakannya yang mengandung te naga dalam, te ntu saja akibatnya akan membahayakan nyawa lawan
Kalau dia mengerahkan tenaga sin-kang untuk menggugah hawa beracun itu, maka hawa beracun itu akan menyebar di seluruh tubuhnya dan jangankan pukulannya, baru rambut, kuku, dan ludahnya saja mengandung racun yang cukup untuk membunuh orang
Sekali gores dengan kukunya saja, kalau kulit orang terluka dan berdarah, maka racun dari kukunya akan membunuh orang itu
Sudah cukup, cucuku,
nenek itu terkekeh gembira
Omitohud......betapa senangnya hatiku
Engkau memang berbakat sekali, Thian Ki
Belum dua tahun engkau telah mampu menguasai hawa beracun di tubuhmu
Engkau sekarang baru te pat berjuluk Tok-liong (Naga Beracun)
Besok kuantar engkau pulang, aku ingin mengunjungi ibumu dan mantuku yang gagah perkasa.
Tentu saja Thian Ki juga girang mendengar ini
Dia sudah merasa rindu kepada ibunya, kepada ayah tirinya dan terutama kepada Cian Kui Eng
Aku juga senang sekali, nek dan te rima kasih atas bimbinganmu
Aku senang sekali bahwa kini aku tidak takut lagi bergaul dengan sumoi, dan tidak takut pula untuk melayaninya berlatih silat.
Nikouw tua itu mengangguk-angguk dan merangkap kedua tangan di depan dada, menarik napas panjang dan matanya dipejamkan, mukanya dite ngeadahkan
Omitohud, semoga Sang Buddha akan memberi bimbingan kepada cucuku sehingga kelak dia akan dapat mencuci bersih nama neneknya.Thian Ki, ingat! Jangan sekali-kali engkau mempergunakan hawa beracun di tubuhmu untuk perbuatan jahat! Biarpun tubuhmu beracun, namun hatimu haruslah bersih dari pada segala kejahatan.
Aku mengerti, nek.
Nenek dan cucunya ini berkemas, siap untuk berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Mo-kincung menuju ke te mpat tinggal Cian Bu Ong atau sekarang sekarang kita kenal dengan nama baru, yaitu Cian Bu yang tinggal sebagai hartawan, dermawan dan kepala dusun Ke -cung di kaki Bukit Emas
Sore hari itu Thian Ki membantu neneknya membersihkan kuil
Nenek itu ingin agar kuil itu bersih sebelum ditinggalkan, karena selama beberapa hari kuil itu akan ditinggalkan dan tidak ada yang akan membersihkannya
Selagi mereka asyik membersihkan kuil, tiba-tiba mereka mendengar suara banyak orang di luar kuil
Omitohud, siapa yang berkunjung ke kuil soresore begini?
kata Lo Nikouw lirih
Ia hampir tidak pernah kedatangan tamu kecuali orang-orang dusun yang datang untuk minta obat atau minta berkah atau mau sembahyang
Akan tetapi, pada saat itu, terdengar teriakan dari luar yang amat mengejutkan hati Thian Ki
I blis betina, keluarlah untuk menerima hukuman.!
De ngan mata terbelalak Thian Ki memandang kepada neneknya
Nikouw tua itupun terkejut, namun sikapnya te nang saja, bahkan bibirnya te rsenyum
Omitohud, agaknya serapat-rapatnya bungkusan barang busuk, akhirnya akan te rcium juga baunya
Thian Ki, engkau tinggallah saja di sini dan jangan keluar, biar pin-ni yang menghadapi mereka
Ingat, apapun yang te rjadi, engkau harus pulang ke rumah orang tuamu
Mengerti?
De ngan jantung masih berdebar te gang Thian Ki mengangguk
Nenek itupun melangkah keluar dan sikapnya sungguh te nang, senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang nampak jauh le bih muda daripada usia sebenarnya