Halo!

Naga Beracun Chapter 81

Memuat...

Hampir aku tidak percaya bahwa engkau dahulu adalah seorang datuk sesat yang berjuluk Ban-tok Mo-li! Jahat sekalikah engkau ketika muda, ne k?

Omitohud, semoga Tuhan mengampuniku

Bukan jahat lagi, cucuku

Lebih daripada yang jahat

Tidak ada kejahatan yang tidak pernah kulakukan! Thian Ki menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya

Tentu saja sukar baginya membayangkan neneknya yang kini demikian penuh kelembutan dan keramahan, pernah menjadi seorang iblis betina yang kejam

Bukankah ayah dan ibunya dahulu juga mendidiknya menjadi orang yang baik dan menjauhi kekerasan

Baru setelah ibunya menikah dengan ayah tirinya yang sekarang ini dia mengenal ilmu silat di bawah gemblengan ayah tirinya

Nek, kalau nenek dahulu menjadi tokoh sesat, kalau begitu.......tentu musuh nenek terdiri dari para pendekar dan tokoh persilatan yang baik

Begitukah?

Omitohud........tentu saja.......

tentu saja begitu

Kalau pin-ni dulu jahat, tentu saja musuh-musuh pin-ni adalah tokoh tokoh yang baik

Itu sudah sewajarnya, bukan

Akan te tapi pin-ni dulu, tidak mengenal apa itu baik atau buruk

Pendeknya siapa saja yang tidak sependapat dengan pin-ni, te ntu menjadi musuh pin-ni tidak perduli dia itu pendekar budiman ataukah perampok jahat! Musuh pin-ni sudah tak te rhitung banyaknya

Terima kasih Tuhan bahwa pin-ni sekarang telah menjadi nikouw, sehingga tidak ada bekas musuh yang masih ingat dan mengenal pin-ni, sudahlah

Thian Ki

Pendeknya, engkau tidak boleh menjadi orang jahat

Engkau harus menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan, menjadi jagoan nomor satu yang selain menjunjung tinggi nama keluarga, juga dengan perbuatan gagah dan benar akan dapat sedikitnya mengurangi kekotoran yang menempel pada nama nenekmu ini

N ah, sekarang engkau harus bekerja keras, berlatih untuk dapat menguasai hawa beracun yang berada di dalam tubuhmu.

Akan tetapi, nek

Kalau mungkin, aku ingin sekali agar aku tidak lagi menjadi tok-tong, agar darahku tidak beracun, agar hawa beracun yang berada dalam tubuhku le nyap, karena aku tidak ingin orang lain menjadi korban karena racun yang berada dalam tubuhku.

Nenek itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala

Omitohud, dengan susah payah pin-ni membuat engkau menjadi tok-tong dengan maksud agar engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia, menjadi seorang pendekar tak te rkalahkan, dan engkau minta agar engkau pulih kembali menjadi anak biasa

Tidak mungkin, Thian Ki, kecuali kalau ada sedikitnya sepuluh orang yang menyedot racun itu dari tubuhmu

Akan tetapi itu berarti bahwa engkau akan mengorbankan nyawa sepuluh orang.

Aku tidak mau kalau begitu, nek! Lebih baik racun itu membunuhku dari pada harus membunuh sepuluh orang!

Akupun tidak menghendaki demikian, cucuku

Oleh karena itu, aku akan mengajarkan cara agar engkau menguasai racun itu di tubuhmu, sehingga engkau dapat membuat racun itu mengendap dan tidak membahayakan orang lain

Setelah engkau dapat menguasainya, racun itu baru bekerja setelah engkau mengerahkan tenagamu

Akan tetapi engkau tidak boleh menikah, Thian Ki, karena setiap kali engkau menikah, isterimu itu akan mati keracunan dan merupakan orang pertama yang akan menyedot racun dari tubuhmu.

Nek, apakah tidak ada jalan lain untuk membebaskan aku dari racun ini?

Hanya dengan bantuan orang yang sakti, cucuku

Yang memiliki sin-kang yang sudah sempurna bahkan yang le bih kuat daripada ayah tirimu yang tangguh itu

Dan di dunia ini, orang seperti yang kumaksudkan itu jarang dapat dijumpai

Seingatku hanya ada dua orang saja yang mungkin sekali dapat membantumu

Mereka adalah Pek I Tojin, tosu pertapa dari Thaisan dan ke dua adalah Hek Bin Hwesio, hwesio perantau di pegunungan Himalaya

Akan te tapi, siapa yang dapat mencari dua orang sakti seperti itu

Mereka seperti dewa dan andaikata dapat jumpa sekalipun, belum te ntu mereka mau mencampuri urusan dunia.

Wah, susah benar kalau begitu mencari mereka, nek

Akan tetapi kelak aku akan mencari mereka

Apakah mereka tidak mempunyai murid-murid yang sekiranya telah mewarisi ilmu-ilmu mereka, nek?

Setahuku, murid paling baik dan te rkenal dari Pek I Tojin adalah Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng

sedangkan murid te rbaik dari He k Bin Hwesio adalah isteri pendekar itu, yang bernama Bu Giok Cu

Nama suami isteri ini terkenal sekali, terutama di sepanjang le mbah sungai Huang-ho

Dan mereka tinggal pula di te pi sungai Huang-ho, di sebuah dusun yang disebut Hong-cun

Akan tetapi, pin-ni tidak yakin apakah mereka berdua itu akan dapat menolongmu, atau akan mau melakukannya

Pin-ni kira hanya Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio saja yang akan mampu melakukannya.

Diam-diam Thian Ki mencatat nama orang-orang yang disebut oleh neneknya

Mulai hari itu diapun berlatih dengan te kun di bawah bimbingan neneknya, berlatih untuk menguasai hawa beracun yang menguasai tubuhnya

Setelah berlatih yang sebagian besar adalah latihan samadhi dan pernapasan, barulah Thian Ki mengerti mengapa neneknya minta dia tinggal satu dua tahun di situ

Ternyata latihan menguasai hawa beracun itu tidaklah mudah.! Dan salah sedikit saja akan membahayakan dirinya sendiri

Racun di tubuhnya itu akan dapat mendatangkan akibat sampingan yang hebat, seperti rusaknya jantungnya atau bahkan rusaknya is i kepalanya

Dia dapat menjadi gila, lemah atau bahkan tewas

Hawa beracun yang berada di tubuhnya, bahkan yang sudah mengalir di darahnya, yang membuat rambut dan kukunya, bahkan ludahnya, mengandung racun yang dapat mematikan orang lain, bagaikan ular berbisa yang liar dan yang tidak dapat keluar dari tubuhnya

Karena neneknya tidak mampu mengeluarkan racun itu, maka ular liar itu harus dapat ditundukkan dan dijinakkan, sehingga biarpun berada di dalam tubuhnya, namun dia dapat mengatur agar kalau tidak diperlukan, ular liar berupa racun itu dapat

tidur

di dalam pusarnya

Thian Ki yang ingin membuat dirinya tidak

berbahaya

seperti yang sudah, berlatih dengan te kun sekali, sehingga le wat satu setengah tahun dia sudah berhasil dan mampu menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya

Hawa beracun itu sudah jinak dan berdiam di pusarnya

Dalam keadaan hawa itu tertidur, dia dapat melakukan apa saja tanpa mengusik hawa beracun itu, kecuali te ntu saja menggunakan sin-kang

Kalau dia mengerahkan te naga dalam, maka otomatis hawa beracun tidur itu akan bangkit dan menerobos keluar melalui gerakannya yang mengandung te naga dalam, te ntu saja akibatnya akan membahayakan nyawa lawan

Kalau dia mengerahkan tenaga sin-kang untuk menggugah hawa beracun itu, maka hawa beracun itu akan menyebar di seluruh tubuhnya dan jangankan pukulannya, baru rambut, kuku, dan ludahnya saja mengandung racun yang cukup untuk membunuh orang

Sekali gores dengan kukunya saja, kalau kulit orang terluka dan berdarah, maka racun dari kukunya akan membunuh orang itu

Sudah cukup, cucuku,

nenek itu terkekeh gembira

Omitohud......betapa senangnya hatiku

Engkau memang berbakat sekali, Thian Ki

Belum dua tahun engkau telah mampu menguasai hawa beracun di tubuhmu

Engkau sekarang baru te pat berjuluk Tok-liong (Naga Beracun)

Besok kuantar engkau pulang, aku ingin mengunjungi ibumu dan mantuku yang gagah perkasa.

Tentu saja Thian Ki juga girang mendengar ini

Dia sudah merasa rindu kepada ibunya, kepada ayah tirinya dan terutama kepada Cian Kui Eng

Aku juga senang sekali, nek dan te rima kasih atas bimbinganmu

Aku senang sekali bahwa kini aku tidak takut lagi bergaul dengan sumoi, dan tidak takut pula untuk melayaninya berlatih silat.

Nikouw tua itu mengangguk-angguk dan merangkap kedua tangan di depan dada, menarik napas panjang dan matanya dipejamkan, mukanya dite ngeadahkan

Omitohud, semoga Sang Buddha akan memberi bimbingan kepada cucuku sehingga kelak dia akan dapat mencuci bersih nama neneknya.Thian Ki, ingat! Jangan sekali-kali engkau mempergunakan hawa beracun di tubuhmu untuk perbuatan jahat! Biarpun tubuhmu beracun, namun hatimu haruslah bersih dari pada segala kejahatan.

Aku mengerti, nek.

Nenek dan cucunya ini berkemas, siap untuk berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Mo-kincung menuju ke te mpat tinggal Cian Bu Ong atau sekarang sekarang kita kenal dengan nama baru, yaitu Cian Bu yang tinggal sebagai hartawan, dermawan dan kepala dusun Ke -cung di kaki Bukit Emas

Sore hari itu Thian Ki membantu neneknya membersihkan kuil

Nenek itu ingin agar kuil itu bersih sebelum ditinggalkan, karena selama beberapa hari kuil itu akan ditinggalkan dan tidak ada yang akan membersihkannya

Selagi mereka asyik membersihkan kuil, tiba-tiba mereka mendengar suara banyak orang di luar kuil

Omitohud, siapa yang berkunjung ke kuil soresore begini?

kata Lo Nikouw lirih

Ia hampir tidak pernah kedatangan tamu kecuali orang-orang dusun yang datang untuk minta obat atau minta berkah atau mau sembahyang

Akan tetapi, pada saat itu, terdengar teriakan dari luar yang amat mengejutkan hati Thian Ki

I blis betina, keluarlah untuk menerima hukuman.!

De ngan mata terbelalak Thian Ki memandang kepada neneknya

Nikouw tua itupun terkejut, namun sikapnya te nang saja, bahkan bibirnya te rsenyum

Omitohud, agaknya serapat-rapatnya bungkusan barang busuk, akhirnya akan te rcium juga baunya

Thian Ki, engkau tinggallah saja di sini dan jangan keluar, biar pin-ni yang menghadapi mereka

Ingat, apapun yang te rjadi, engkau harus pulang ke rumah orang tuamu

Mengerti?

De ngan jantung masih berdebar te gang Thian Ki mengangguk

Nenek itupun melangkah keluar dan sikapnya sungguh te nang, senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang nampak jauh le bih muda daripada usia sebenarnya

Post a Comment