Ayah, maafkan aku.
Akan te tapi di dalam hatinya, te tap saja anak ini merasa penas aran dan tidak senang karena dianggapnya perbuatan ayahnya itu te rlalu kejam, mudah saja membunuh orang walaupun dengan dalih demi keselamatan keluarga mereka
Bahaya itu kan belum datang mengancam
Ayahnya amat tidak menghargai nyawa ocang lain! Betapapun juga, te pat seperti dikatakan Cian Bu
Setelah dua orang itu tewas tanpa ada orang lain mengetahui sebabnya, perjalanan mereka tidak mendapat gangguan lagi
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cian Bu dan keluarganya sudah meninggalkan kota Wuhan, melanjutkan perjalanan menuju ke dusun Mo-kim-cung yang merupakan sebuah dusun kecil di kaki Bukit Ular
Sim Lan Ci segera mengajak keluarganya menuju ke rumahnya yang tujuh tahun yang lalu ia tinggalkan dalam pengawasan seorang pembantu wanita yang sudah lama bekerja pada mereka
Tentu saja ia juga memesan kepada ibunya, yaitu Lo Nikouw di kuil Thian-ho-tang di luar dusun agar mengamat-amati rumahnya selama ia dan suaminya pergi
Ketika pada senja hari itu mereka tiba depan rumah Lan Ci, mereka melihat sebuah rumah yang kotor tidak te rawat, jendela dan daun pintunya te rtutup rapat-rapat, bahkan gelangan daun pintu dirantai dari luar, tanda bahwa rumah itu kosong
Lan Ci te rmangu-mangu melihat betapa pekarangan yang dahulu dirawatnya baik-baik dan penuh bunga itu kini menjadi kotor dan buruk
Juga rumah itu kotor dan banyak genteng yang pecah dan te mboknya sudah penuh jamur kehijauan
Seperti rumah hantu!
Thian Ki juga berdiri te rmangu di depan rumah itu
Terbayanglah dalam ingatannya ketika tujuh tahun yang lalu dia hidup di tempat ini
Masih te ringat semua keadaan di luar dan di dalam rumah
Betapa senangnya dia dahulu memanjat pohon di samping rumah itu atau berlari-larian dan bermain dengan teman-teman sedusun
Dia pernah jatuh di sebelah kanan rumah itu, di selokan kecil yang dibuat ayahnya untuk mengalirkan air ke taman bunga
Dan sekarang, keadaan di pekarangan dan taman itu amat menyedihkan
Juga rumah itu nampak demikian tua dan kotor
Semua ini membuat dia teringat kepada ayahnya
Ayahnya demikian le mbut dan baik dan tak te rasa ke dua mata Thian Ki menjadi basah
Sim Lan Ci sudah menghampiri rumah tetangga te rdekat
Suami isteri petani tua itu menyambutnya di depan pintu dan mereka segera mengenal Sim Lan Ci yang bersama suaminya memang amat dikenal di dusun itu sebagai orangorang yang suka menolong
Dari tetangganya ini Lan Ci mendengar betapa pembantu yang diserahi tugas menjaga rumah telah pulang ke dusunnya sendiri karena te rlalu lama majikannya tidak pulang
Rumah beserta isinya oleh pelayan itu diserahkan kepada Lo Nikouw yang menutup rumah itu
Apakah Lo Nikouw masih tinggal di kuil Thianho-tang?
tanya Lan Ci dengan hati terharu
Suami isteri itu mengangguk
Sim Lan Ci lalu mengucapkan te rima kasih dan bersama keluarganya ia lalu pergi ke luar dusun, ke kuil Thian-ho-tang itu
Senja telah lewat dan cuaca sudah remang ketika mereka tiba di luar kuil Thian-ho-tang
Kuil ini kecil saja, berdiri terpencil di te mpat yang sunyi
Akan tetapi dari luar nampak bahwa kuil itu sudah dipasangi lampu-lampu dan bahkan meja sembahyang di ruangan depan juga dipasangi lilin
Namun suasana di kuil itu nampak sunyi sekali seolah tidak ada penghuninya
Agaknya ibu masih juga tinggal menyendiri di kuil ini, pikir Sim Lan Ci dan iapun berjalan paling depan ketika mereka memasuki kuil
Berhenti!
Tiba-tiba terdengar suara lembut dari dalam kuil
Suara itu le mbut namun berwibawa dan Lan Ci menahan langkahnya, diikuti oleh suaminya dan dua orang anak mereka
Mereka berhenti di ruangan depan, di depan meja sembahyang
Siapakah tamu yang memasuki kuil ini
Beritahukan dulu nama kalian dan apa perlunya datang berkunjung.
Suara itu kembali te rdengar lembut berwibawa dan biarpun singkat, tidak terdengar galak
I bu, aku Lan Ci, anakmu datang berkunjung,
kata Sim Lan Ci dan betapapun keras hati wanita ini, tetap saja ia terharu dan suaranya agak gemetar
Hening sejenak di dalam kuil
Kemudian suara itu terdengar lagi, masih lembut berwibawa
Omitohud......semoga hamba dibebaskan daripada keterikatan! Pin-ni (aku) tidak mempunyai anak
Anak tunggal pin-ni sudah bertahun-tahun meninggalkan pin-ni tanpa kabar, pin-ni menganggap ia sudah mati.......
Nenek...........!
Thian Ki berseru
Omitohud......kau......kau........Thian Ki cucuku!?
Dari dalam muncullah seorang nenek
Ia sudah tua, sedikitnya tujuhpuluh lima tahun usianya, dan mukanya sudah te rhias keriput, terutama di kanan kiri kedua matanya dan di s ekitar mulutnya
Akan te tapi tubuhnya masih te gak dan gesit, sinar matanya masih tajam, pakaiannya bersih dan tangan kanannya memegang sebuah kebutan, tangan kiri memegang seuntai tas beh
Sepasang mata itu ditujukan ke arah Thian Ki, lalu ia menyelipkan kebutan di pinggang, mengantungi tas behnya dan mengembangkan kedua lengannya
Thian Ki cucuku............!
Nenek..........!
Thian Ki lari menghampiri dan nenek itu merangkulnya
Biarpun usianya baru duabelas tahun, tubuh Thian Ki sudah hampir sama dengan neneknya
Dan Nikouw yang kepalanya gundul licin itu menangis, lalu berulang-ulang menyebut nama Sang Buddha
Cucuku.......ah
Thian Ki, betapa rinduku kepadamu
Omitohud......
semoga diampuni kelemahanku ini.....
Kemudian ia te ringat dan mengangkat muka, memandang kepada Sim Lan Ci yang berdiri tak jauh di depannya
Sejenak pandang mata nenek itu mengamati Lan Ci, kemudian te rdengar suaranya yang lembut namun kering dan tegas
Betapa kejamnya engkau! Engkau memisahkan Thian Ki dari pin-ni., pergi tanpa memberi kabar lama sekali sampai bertahun-tahun
Engkau menyiksa hati pin-ni
Begitukah cara seorang anak membalas budi orang tua.!
I bu, ibu tidak tahu apa yang te lah terjadi menimpa diri kami
Ibu sendiri amat te ga, membuat Thian Ki menjadi seorang tok-tong
Ibu telah merusak hidupnya, dan ibu masih dapat mencela aku kejam.?
Omitohud.....siapa bilang aku kejam
Pin-ni menggemble ngnya menjadi tok-tong agar kelak tidak ada orang yang berani mengganggunya, agar dia dapat menjadi orang gagah yang tak te rkalahkan kelak, agar dia merajai di dunia persilatan dan mengangkat nama besar orangorang yang menurunkannya
Neneknya pernah menjadi Ban-tok Mo-li, sudah sepantasnya kalau dia menjadi tok-tong.
Tapi, ibu
Biar pun tidak disengaja, dalam usianya yang baru lima enam tahun dia sudah membunuh banyak orang dengan racun yang berada di tubuhnya!
te riak Lan Ci yang kini menjadi marah karena teringat akan keadaan pute ranya
Lihat, dia sampai tidak berani sembarangan menyentuh orang lain, takut kalau sampai membunuhnya
Bukankah ini berarti ibu menyiksanya!?
Omitohud, semua itu salahmu sendiri, Lan Ci
Kenapa engkau memisahkannya dari pin-ni
Pin-ni belum selesai dengan cucuku ini
Akan pin-ni bimbing dia dan latih dia sehingga racun di tubuhnya hanya akan menjadi senjata kalau diperlukan.
Bagus sekali kalau begitu
Sudah kukatakan bahwa hanya yang membuat dia menjadi tok-tong sajalah yang akan mampu membimbing dia menguasai dirinya.
kata Cian Bu dengan girang mendengar ucapan nenek itu
Lo Nikouw mengangkat muka memandang kepada Cian Bu
Sepasang matanya mencorong ketika ia mengamati pria itu penuh selidik, lalu ia bertanya
Siapa orang ini?
Thian Ki yang menjawab cepat
Nenek, dia adalah guruku, juga a yahku!.
Kini pandang mata nenek itu terbelalak dan ketika ia menoleh ke arah puterinya yang tadi merasa canggung untuk menjawab
Ayahmu......
Apa artinya ini?
Kini Lan Ci sudah dapat menenangkan hatinya dan iapun menghampiri ibunya dan berkata dengan suara tenang
Ibu, dengarlah baik-baik
Ketika kami pergi ke Ta-bun-cung tujuh tahun yang lalu dan berada di markas Hek-houw-pang, di sana terjadi penyerbuan.........musuh-musuh Hekhouw-pang
Tentu saja kami membela dan dalam perte mpuran itu, Coa Siang Lee tewas, di samping ketua He k houw-pang dan banyak tokohnya
Pihak musuh amat kuatnya
Aku sendiri bersama Thian Ki te rtawan musuh dan tentu kami berdua akan celaka atau setidaknya akan menderita kesengsaraan kalau saja kami tidak ditolong oleh...........dia yang kemudian menjadi suamiku! Dia sendiri......seluruh keluarganya, is terinya, semua juga tewas di tangan pasukan pemerintah, dia sendirian, dan aku........kemudian kami menikah.
Lo Nikouw mengerutkan alisnya
Yang membuat ia tidak suka bukan karena pute rinya menikah dengan laki-laki tinggi besar bermuka merah ini
Baginya, tidak perduli ia siapa yang menjadi suami Lan Ci
Akan tetapi ia tidak senang mendengar bahwa Thian Ki menjadi murid pria ini!
Tidak perduli dia menjadi suamimu, akan tetapi bagaimana dia berani lancang menjadi guru Thian Ki
Harus pin-ni lihat dulu apakah pantas dia menjadi guru cucuku!
Berkata demikian nenek itu melepaskan Thian Ki dan sekali kakinya bergerak, seperti memakai sepatu roda saja dengan ringan ia telah bergeser ke depan Cian Bu dan tangannya sudah mencabut kebutannya
Sambutlah ini.!
Tangannya bergerak, te rdengar suaara angin menyambar bersiut dan nampak sinar putih bergulung-gulung ketika kebutan berbulu putih itu menyambar ke arah tubuh Cian Bu dan ujungnya telah mematuk-matuk, merupakan totokan totokan yang amat cepat dan kuat sehingga berbahaya sekali bagi yang diserang
Sim Lan Ci te rkejut bukan main, akan te tapi ia percaya sepenuhnya kepada suaminya
Dia tahu bahwa tingkat kepandaian suaminya tidak kalah dibandingkan ibunya, dan ia sudah menceritakan kepada suaminya tentang keadaan ibunya, tentang ilmu-ilmu yang mengandung racun berbahaya sehingga suaminya tentu akan berhati-hati dan mampu menjaga diri
Dan ia percaya pula bahwa suaminya te ntu tidak akan mencelakai ibunya
Sementara itu, Thian Ki dan Kui Eng hanya menonton
Akan tetapi, kalau Thian Ki hanya bingung melihat ayahnya dan neneknya bertanding, Kui Eng berdiri dengan muka berubah pucat dan bukan dua orang yang bertanding itu yang dipandang, melainkan pandang matanya bergantian menatap wajah Sim Lan Ci dan Thian Ki
Ketika ibu kandungnya te was di tangan pasukan yang mengeroyok, ia masih te rlalu kecil untuk mengingatnya
Yang diingatnya adalah bahwa ibunya adalah Sim Lan Ci, ayahnya adalah Cian Bu dan Thian Ki adalah kakaknya
Itu saja
Akan te tapi percakapan tadi membuat ia pusing tujuh keliling! Agaknya ayahnya berte mu dengan ibunya setelah ibunya menjadi janda dan telah mempunyai anak, yaitu Thian Ki
Dan se perti yang didengarnya tadi, ayahnya juga kematian isterinya
Lalu ia sendiri siapa