Halo!

Naga Beracun Chapter 78

Memuat...

Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke te mpat itu

Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu pene rangan berupa le nte ra beraneka warna yang menerangi tempat itu, te rdapat pula bulan yang hampir purnama

Kui Eng berte riak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari

Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan pute ri mereka itu bergembira

Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan te tapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng

Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga te ratai dan ikan-ikan emas

Ditimpa sinar bulan dan sinar le ntera yang dipasang di te pi kolam, memang bunga te ratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali

Wah, ikan-ikan beraneka warna

Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah.......indah sekali!

Kui Eng berte riak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya

-ooo0dw0ooo-

Me mang indah dan cantik sekali, nona kecil

Seperti engkau........

Kui Eng menengok dan alisnya berkerut

Ia masih belum tahu bahwa ucapan itu mengandung kekurang-ajaran, akan te tapi ia tidak suka le ngannya disentuh jari-jari tangan yang panjang itu

Kalau dalam keadaan biasa, tentu ia sudah mendamprat orang itu, akan te tapi ia teringat akan pesan ayahnya dan iapun menarik lengannya yang te rpegang

Aku tidak bicara denganmu,

katanya ketus dan iapun menjauhkan diri beberapa langkah

Si muka kuda menyeringai

Aih, galaknya, akan te tapi bertambah manis

Jangan marah, anak manis.

Kini tangan itu bergerak mengusap ke arah dagu dan pipi Kui Eng

Tentu saja Kui Eng marah sekali, akan tetapi ia masih menahan sabar

Ia miringkan kepalanya sehingga hanya dagunya saja tersentuh dan ia melangkah mundur lagi

Jangan sentuh aku.!

katanya, masih menahan sabar

Si muka kuda itu mengira bahwa Kui Eng ketakutan, maka iapun menjulurkan kedua tangannya lagi

Jangan takut, sayang, aku tidak akan menyakitimu

Marilah ikut dengan kami.

Dan tiba-tiba saja si muka kuda itu sudah menangkap le ngan kiri Kui Eng

Anak yang tidak menyangka-nyangka ini, dan pula tidak ingin menggunakan kekerasan, tiba-tiba sudah ditarik dan berada dalam pondongan si muka kuda.! Kui Eng memiliki dasar watak yang keras, galak dan tak mengenal takut

Kalau sejak tadi ia hanya bersabar saja hal itu adalah karena ia mengingat pesan ayahnya

Akan tetapi, kesabarannya te rbatas sekali

Begitu merasa dirinya dipondong dan pemondongnya menggerakkan kaki hendak lari, ia menjadi marah bukan main!

Heii, jangan larikan adikku!

Thian Ki berte riak, akan te tapi diapun ragu untuk turun tangan, mengingat pesan ayahnya

Jahanam kau.! Anjing kau.!

Kui Eng memaki dan tangan kirinya menjambak rambut si muka kuda, tangan kanannya menampar

Plakk! Aduuuhh........!

Si muka kuda merasa kepalanya seperti dihantam palu godam sehingga pondongannya te rlepas

Kui Eng sudah meloncat turun

Si Muka kuda marah bukan main

Pipi kirinya bengkak oleh tamparan tadi dan dia kini menghampiri Kui Eng dengan mata berapi

Juga kawannya yang tinggi besar bermuka bopeng menghampiri dari lain jurusan

Bocah setan binal!

si muka kuda menubruk

Akan te tapi sekarang Kui Eng sudah naik pitam

De ngan gesit ia mengelak, menggeser tubuh ke kiri dan begitu si muka kuda menerkam luput, kakinya menendang dua kali beruntun dengan cepat sekali dan tubuh si muka kuda te rlempar ke dalam air kolam!

Byuuuuuurr....!

Si tinggi besar terbelalak, lalu menerkam dengan marah

Kui Eng mengelak lagi

Akan tetapi si tinggi besar ini rupanya menyadari bahwa anak perempuan remaja itu bukan anak biasa, melainkan memiliki gerakan silat yang cepat, iapun membalik dan kakinya yang besar dan panjang itu mencuat, melakukan te ndangan

Sungguh keji sekali, seorang laki-laki tinggi besar seperti itu menendang seorang anak perempuan berusia sebelas tahun

Kalau tendangan itu mengenai sasaran, tentu tubuh Kui Eng akan terlempar jauh dan mungkin akan te was seketika

Namun, sejak kecil Kui Eng te lah menerima gemblengan seorang sakti seperti ayahnya sendiri, juga ia dilatih oleh ibunya yang lihai pula

Tendangan yang amat kuat dan cepat itu dengan mudah dapat ia elakkan, kemudian ia membalik dan kakinya menendang belakang lutut kanan lawan

Plakk?

dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar yang belakang lututnya dite ndang itu te rpaksa jatuh berlutut dengan kaki kanannya

Pada saat itu, kaki kanan Kui Eng menggantikan kaki kiri, menyambar dan te pat mengenai pelipis kiri si tinggi besar bermuka bopeng

Plaak........!

si tinggi besar mengeluh dan tubuhnya te rpelanting

Kui Eng tidak berhenti sampai di situ saja

Ia mengejar dan kembali kakinya menendang, dua kali te ndangan dan tubuh si tinggi besar juga terlempar ke dalam kolam menyusul te mannya! Pada saat itu, Cian Bu dan Sim Lan Ci sudah tiba pula di situ, demikian pula mereka yang sedang berada di dalam taman, datang berlarilarian ketika mendengar ada perkelahian di dekat kolam ikan

Cian Bu sudah menangkap tangan pute rinya dan ditariknya dari situ, diajak pergi diikuti oleh Sim Lan Ci dan Thian Ki

Mereka berempat tidak berkata sesuatu, dan semua orang yang tiba di tepi kolam, memandang ke arah dua orang yang masih berada di dalam kolam itu

Kemudian orang jadi geger ketika dua orang itu tidak keluar dari dalam kolam dan ketika diperiksa, te rnyata mereka telah te was.! Ada luka sebesar kuku ibu jari tangan di dahi mereka dan darah mengucur dari luka itu

Agaknya mereka tewas seketika! Tidak ada seorangpun di antara mereka tahu apa yang te lah terjadi

Yang tadi berada di dekat situ hanya melihat betapa dua orang yang tewas di kolam itu tadi menyerang seorang anak perempuan yang kini telah le nyap entah ke mana

Mereka yang tadi kebetulan dekat melihat betapa anak perempuan itu hanya mengelak ke sana sini kemudian menendang-nendang dan dua orang itu te rlempar ke dalam kolam

Akan tetapi, mustahil kalau te ndangan anak perempuan itu dapat menimbulkan luka di dahi yang menewaskan kedua orang yang nampaknya kuat dan jagoan itu

Cian Bu dan keluarganya tiba kembali di rumah penginapan dan mereka berempat berkumpul di kamar yang dite mpati Sim Lan Ci dan Kui Eng

Setelah tiba di dalam kamar itu, barulah mereka saling pandang dan Thian Ki yang sejak tadi menahan-nahan perasaannya, segera berkata kepada ayahnya sambil menatap tajam wajah orang tua itu

Ayah, kenapa ayah membunuh mereka?

Mendengar ini, Kui Eng te rkejut dan anak perempuan itupun memutar tubuh memandang ayahnya

Benarkah ayah te lah membunuh mereka

Bagus! Mereka memang layak dibunuh

Mereka dua orang yang jahat sekali.!

Wajah anak perempuan itu kelihatan girang bukan main

Kui Eng, jangan sekejam itu.! Thian Ki menegur adiknya

Mereka itu memang jahat karena hendak mengganggumu, akan te tapi kalau kita bunuh mereka bukankah itu lebih jahat lagi namanya?

Thian Ki, engkau melihatnya?

Cian Bu bertanya dan pandang matanya kagum

Tak disangkanya sama sekali bahwa anak itu akan melihat perbuatannya tadi, padahal dia hampir yakin bahwa yang tahu hanyalah dia dan isterinya saja

Tempat itu gelap dan gerakannya amat cepat, juga benda yang dipergunakan untuk membunuh itu terlalu kecil untuk dapat dilihat orang ketika meluncur cepat ke arah dua orang di kolam itu

Akan te tapi Thian Ki mengetahuinya! Ini saja membuktikan bahwa anaknya yang juga muridnya ini memang berbakat sekali dan telah memiliki ketajaman pandang mata yang melebihi ahli silat biasa

Bahkan Kui Eng saja yang tingkat kepandaiannya tidak berbeda jauh dibandingkan Thian Ki, tidak dapat melihatnya

Aku hanya melihat berkelebatnya dua sinar hitam kecil ke arah mereka, dan melihat mereka te was, akan tetapi aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka dengan sambitan itu, tidak tahu pula benda apa yang membunuh mereka

Akan tetapi setelah aku melihat baju ayah, tahulah aku bahwa ayah yang te lah membunuh mereka

Ada dua buah kancing baju ayah yang hilang.

Cian Bu menunduk dan melihat kancing bajunya, demikian pula isterinya dan Kui Eng

Aih, kiranya ayah membunuh mereka dengan dua buah kancing baju ayah

He mm, sayang kancingnya, ayah

Penjahat seperti mereka lebih pantas dibunuh memakai batu saja!

kata Kui Eng

Akan tetapi, demikian besarkah dosa mereka sehingga mereka itu harus dibunuh?

Thian Ki bertanya lagi, penuh rasa penasaran

Selama tujuh tahun ini, dia tahu benar bahwa ayahnya adalah seorang gagah perkasa dan tidak pernah membunuh orang lain

Akan te tapi kenapa sekarang begitu ringan tangan membunuh dua orang yang walaupun bersalah, namun kesalahannya belum cukup hebat untuk dihukum mati

Thian Ki, masihkah engkau belum mengerti

Ayahmu te rpaksa membunuh mereka agar mereka tidak akan menyiarkan berita te ntang keluarga kita,

kata Sim Lan Ci

Tapi......tapi mengapa.....

Thian Ki, engkau tadi melihat sendiri betapa adikmu te lah mengalahkan dua orang itu melempar mereka ke kolam

Hal ini merupakan peristiwa luar biasa bagi mereka dan mereka tentu akan menyiarkan berita tentang Kui Eng kepada mum dan hal ini tentu akan menarik perhatian orang

Orang-orang akan te rtarik dan ingin tahu siapa anak perempuan yang mampu mengalahkan dua orang jagoan itu dan siapa pula orang tuanya, gurunya

Dan kalau sudah begitu, perjalanan kita tidak akan menyenangkan lagi, bahkan penuh bahaya dan kehidupan kita tidak dapat tenang lagi.

Ah, lagi-lagi akulah yang bersalah!

Kui Eng berkata dengan alis berkerut

Kalau saja aku tidak melempar mereka ke dalam kolam! Ayah sudah memesan agar aku bersabar dan mengalah, akan tetapi bagaimana aku dapat mengalah kalau mereka hendak menculikku?

Sim Lan Ci merangkul pute rinya

Engkau tidak bersalah, Kui Eng

Perlawananmu tadi memang sudah tepat

Kesabaran te ntu ada batasnya

Memang agaknya sudah seharusnya begini

Thian Ki, ayahmu membunuh mereka bukan karena perbuatan mereka tadi, melainkan untuk menyelamatkan keluarga kita dari ancaman bahaya

Kuharap engkau dapat mengerti.

Thian Ki menundukkan mukanya

Aku mengerti, ibu

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment