Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke te mpat itu
Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu pene rangan berupa le nte ra beraneka warna yang menerangi tempat itu, te rdapat pula bulan yang hampir purnama
Kui Eng berte riak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari
Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan pute ri mereka itu bergembira
Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan te tapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng
Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga te ratai dan ikan-ikan emas
Ditimpa sinar bulan dan sinar le ntera yang dipasang di te pi kolam, memang bunga te ratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali
Wah, ikan-ikan beraneka warna
Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah.......indah sekali!
Kui Eng berte riak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya
-ooo0dw0ooo-
Me mang indah dan cantik sekali, nona kecil
Seperti engkau........
Kui Eng menengok dan alisnya berkerut
Ia masih belum tahu bahwa ucapan itu mengandung kekurang-ajaran, akan te tapi ia tidak suka le ngannya disentuh jari-jari tangan yang panjang itu
Kalau dalam keadaan biasa, tentu ia sudah mendamprat orang itu, akan te tapi ia teringat akan pesan ayahnya dan iapun menarik lengannya yang te rpegang
Aku tidak bicara denganmu,
katanya ketus dan iapun menjauhkan diri beberapa langkah
Si muka kuda menyeringai
Aih, galaknya, akan te tapi bertambah manis
Jangan marah, anak manis.
Kini tangan itu bergerak mengusap ke arah dagu dan pipi Kui Eng
Tentu saja Kui Eng marah sekali, akan tetapi ia masih menahan sabar
Ia miringkan kepalanya sehingga hanya dagunya saja tersentuh dan ia melangkah mundur lagi
Jangan sentuh aku.!
katanya, masih menahan sabar
Si muka kuda itu mengira bahwa Kui Eng ketakutan, maka iapun menjulurkan kedua tangannya lagi
Jangan takut, sayang, aku tidak akan menyakitimu
Marilah ikut dengan kami.
Dan tiba-tiba saja si muka kuda itu sudah menangkap le ngan kiri Kui Eng
Anak yang tidak menyangka-nyangka ini, dan pula tidak ingin menggunakan kekerasan, tiba-tiba sudah ditarik dan berada dalam pondongan si muka kuda.! Kui Eng memiliki dasar watak yang keras, galak dan tak mengenal takut
Kalau sejak tadi ia hanya bersabar saja hal itu adalah karena ia mengingat pesan ayahnya
Akan tetapi, kesabarannya te rbatas sekali
Begitu merasa dirinya dipondong dan pemondongnya menggerakkan kaki hendak lari, ia menjadi marah bukan main!
Heii, jangan larikan adikku!
Thian Ki berte riak, akan te tapi diapun ragu untuk turun tangan, mengingat pesan ayahnya
Jahanam kau.! Anjing kau.!
Kui Eng memaki dan tangan kirinya menjambak rambut si muka kuda, tangan kanannya menampar
Plakk! Aduuuhh........!
Si muka kuda merasa kepalanya seperti dihantam palu godam sehingga pondongannya te rlepas
Kui Eng sudah meloncat turun
Si Muka kuda marah bukan main
Pipi kirinya bengkak oleh tamparan tadi dan dia kini menghampiri Kui Eng dengan mata berapi
Juga kawannya yang tinggi besar bermuka bopeng menghampiri dari lain jurusan
Bocah setan binal!
si muka kuda menubruk
Akan te tapi sekarang Kui Eng sudah naik pitam
De ngan gesit ia mengelak, menggeser tubuh ke kiri dan begitu si muka kuda menerkam luput, kakinya menendang dua kali beruntun dengan cepat sekali dan tubuh si muka kuda te rlempar ke dalam air kolam!
Byuuuuuurr....!
Si tinggi besar terbelalak, lalu menerkam dengan marah
Kui Eng mengelak lagi
Akan tetapi si tinggi besar ini rupanya menyadari bahwa anak perempuan remaja itu bukan anak biasa, melainkan memiliki gerakan silat yang cepat, iapun membalik dan kakinya yang besar dan panjang itu mencuat, melakukan te ndangan
Sungguh keji sekali, seorang laki-laki tinggi besar seperti itu menendang seorang anak perempuan berusia sebelas tahun
Kalau tendangan itu mengenai sasaran, tentu tubuh Kui Eng akan terlempar jauh dan mungkin akan te was seketika
Namun, sejak kecil Kui Eng te lah menerima gemblengan seorang sakti seperti ayahnya sendiri, juga ia dilatih oleh ibunya yang lihai pula
Tendangan yang amat kuat dan cepat itu dengan mudah dapat ia elakkan, kemudian ia membalik dan kakinya menendang belakang lutut kanan lawan
Plakk?
dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar yang belakang lututnya dite ndang itu te rpaksa jatuh berlutut dengan kaki kanannya
Pada saat itu, kaki kanan Kui Eng menggantikan kaki kiri, menyambar dan te pat mengenai pelipis kiri si tinggi besar bermuka bopeng
Plaak........!
si tinggi besar mengeluh dan tubuhnya te rpelanting
Kui Eng tidak berhenti sampai di situ saja
Ia mengejar dan kembali kakinya menendang, dua kali te ndangan dan tubuh si tinggi besar juga terlempar ke dalam kolam menyusul te mannya! Pada saat itu, Cian Bu dan Sim Lan Ci sudah tiba pula di situ, demikian pula mereka yang sedang berada di dalam taman, datang berlarilarian ketika mendengar ada perkelahian di dekat kolam ikan
Cian Bu sudah menangkap tangan pute rinya dan ditariknya dari situ, diajak pergi diikuti oleh Sim Lan Ci dan Thian Ki
Mereka berempat tidak berkata sesuatu, dan semua orang yang tiba di tepi kolam, memandang ke arah dua orang yang masih berada di dalam kolam itu
Kemudian orang jadi geger ketika dua orang itu tidak keluar dari dalam kolam dan ketika diperiksa, te rnyata mereka telah te was.! Ada luka sebesar kuku ibu jari tangan di dahi mereka dan darah mengucur dari luka itu
Agaknya mereka tewas seketika! Tidak ada seorangpun di antara mereka tahu apa yang te lah terjadi
Yang tadi berada di dekat situ hanya melihat betapa dua orang yang tewas di kolam itu tadi menyerang seorang anak perempuan yang kini telah le nyap entah ke mana
Mereka yang tadi kebetulan dekat melihat betapa anak perempuan itu hanya mengelak ke sana sini kemudian menendang-nendang dan dua orang itu te rlempar ke dalam kolam
Akan tetapi, mustahil kalau te ndangan anak perempuan itu dapat menimbulkan luka di dahi yang menewaskan kedua orang yang nampaknya kuat dan jagoan itu
Cian Bu dan keluarganya tiba kembali di rumah penginapan dan mereka berempat berkumpul di kamar yang dite mpati Sim Lan Ci dan Kui Eng
Setelah tiba di dalam kamar itu, barulah mereka saling pandang dan Thian Ki yang sejak tadi menahan-nahan perasaannya, segera berkata kepada ayahnya sambil menatap tajam wajah orang tua itu
Ayah, kenapa ayah membunuh mereka?
Mendengar ini, Kui Eng te rkejut dan anak perempuan itupun memutar tubuh memandang ayahnya
Benarkah ayah te lah membunuh mereka
Bagus! Mereka memang layak dibunuh
Mereka dua orang yang jahat sekali.!
Wajah anak perempuan itu kelihatan girang bukan main
Kui Eng, jangan sekejam itu.! Thian Ki menegur adiknya
Mereka itu memang jahat karena hendak mengganggumu, akan te tapi kalau kita bunuh mereka bukankah itu lebih jahat lagi namanya?
Thian Ki, engkau melihatnya?
Cian Bu bertanya dan pandang matanya kagum
Tak disangkanya sama sekali bahwa anak itu akan melihat perbuatannya tadi, padahal dia hampir yakin bahwa yang tahu hanyalah dia dan isterinya saja
Tempat itu gelap dan gerakannya amat cepat, juga benda yang dipergunakan untuk membunuh itu terlalu kecil untuk dapat dilihat orang ketika meluncur cepat ke arah dua orang di kolam itu
Akan te tapi Thian Ki mengetahuinya! Ini saja membuktikan bahwa anaknya yang juga muridnya ini memang berbakat sekali dan telah memiliki ketajaman pandang mata yang melebihi ahli silat biasa
Bahkan Kui Eng saja yang tingkat kepandaiannya tidak berbeda jauh dibandingkan Thian Ki, tidak dapat melihatnya
Aku hanya melihat berkelebatnya dua sinar hitam kecil ke arah mereka, dan melihat mereka te was, akan tetapi aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka dengan sambitan itu, tidak tahu pula benda apa yang membunuh mereka
Akan tetapi setelah aku melihat baju ayah, tahulah aku bahwa ayah yang te lah membunuh mereka
Ada dua buah kancing baju ayah yang hilang.
Cian Bu menunduk dan melihat kancing bajunya, demikian pula isterinya dan Kui Eng
Aih, kiranya ayah membunuh mereka dengan dua buah kancing baju ayah
He mm, sayang kancingnya, ayah
Penjahat seperti mereka lebih pantas dibunuh memakai batu saja!
kata Kui Eng
Akan tetapi, demikian besarkah dosa mereka sehingga mereka itu harus dibunuh?
Thian Ki bertanya lagi, penuh rasa penasaran
Selama tujuh tahun ini, dia tahu benar bahwa ayahnya adalah seorang gagah perkasa dan tidak pernah membunuh orang lain
Akan te tapi kenapa sekarang begitu ringan tangan membunuh dua orang yang walaupun bersalah, namun kesalahannya belum cukup hebat untuk dihukum mati
Thian Ki, masihkah engkau belum mengerti
Ayahmu te rpaksa membunuh mereka agar mereka tidak akan menyiarkan berita te ntang keluarga kita,
kata Sim Lan Ci
Tapi......tapi mengapa.....
Thian Ki, engkau tadi melihat sendiri betapa adikmu te lah mengalahkan dua orang itu melempar mereka ke kolam
Hal ini merupakan peristiwa luar biasa bagi mereka dan mereka tentu akan menyiarkan berita tentang Kui Eng kepada mum dan hal ini tentu akan menarik perhatian orang
Orang-orang akan te rtarik dan ingin tahu siapa anak perempuan yang mampu mengalahkan dua orang jagoan itu dan siapa pula orang tuanya, gurunya
Dan kalau sudah begitu, perjalanan kita tidak akan menyenangkan lagi, bahkan penuh bahaya dan kehidupan kita tidak dapat tenang lagi.
Ah, lagi-lagi akulah yang bersalah!
Kui Eng berkata dengan alis berkerut
Kalau saja aku tidak melempar mereka ke dalam kolam! Ayah sudah memesan agar aku bersabar dan mengalah, akan tetapi bagaimana aku dapat mengalah kalau mereka hendak menculikku?
Sim Lan Ci merangkul pute rinya
Engkau tidak bersalah, Kui Eng
Perlawananmu tadi memang sudah tepat
Kesabaran te ntu ada batasnya
Memang agaknya sudah seharusnya begini
Thian Ki, ayahmu membunuh mereka bukan karena perbuatan mereka tadi, melainkan untuk menyelamatkan keluarga kita dari ancaman bahaya
Kuharap engkau dapat mengerti.
Thian Ki menundukkan mukanya
Aku mengerti, ibu