Halo!

Naga Beracun Chapter 102

Memuat...

Nah, bukankah itu suatu bukti bahwa diam-diam ia memuja paduka

Pula, bukankah nama burung itu sama dengan nama paduka?

Bukan main girangnya hati Pangeran Li Hong mendengar ini

Dan selanjutnya, atas bantuan dua orang thai-kam itu yang mengharapkan banyak hadiah, diaturlah pertemuan-pertemuan selanjutnya antara Pangeran Li Hong dan Bu Couw Hwa

Bu Cou w Hwa cerdik luar biasa

Ia bersikap jatuh cinta dan te rgila-gila kepada sang pangeran

Akan te tapi, ia mohon agar hubungan itu dirahasiakan, katanya untuk menjaga agar jangan sampai kaisar mendengar dan akan menyalahkan mereka

Juga dari kedua thai-kam itu ia menerima ramuan obat untuk mencegah agar dalam hubungannya dengan sang pangeran, ia tidak sampai hamil

Ia memikat dan mengikat cinta kasih sang pangeran, dan untuk itu ia bersikap cerdik sekali

Ia sengaja menjual mahal, sengaja tidak selalu memenuhi permintaan sang pangeran untuk mengadakan perte muan, dengan berbagai alasan yang masuk akal

Hal ini ia lakukan untuk membuat sang pangeran tetap rindu kepadanya

Setelah semalam melayani dengan seluruh kemampuannya untuk membuat sang pangeran mabok kepayang, ia s elalu menjauhkan diri sampai berminggu-minggu

Hal ini membuat Pangeran Li Hong yang masih muda itu benar-benar menjadi te rgila-gila

Bu Couw Hwa mulai membuat ikatan-ikatan, seperti seekor laba-laba menjaring seekor belalang, dengan benang-benang halus lembut namun kokoh kuat sehingga sang belalang tidak merasa bahwa ia masuk ke dalam perangkap! -ooo0dw0ooo-

Sudahlah, Thian Ki

Engkau tidak salah

Gadis itu yang mencari gara-gara sendiri

Kalau ia tidak berniat membunuhmu dan mencengkeram pundakmu, te ntu ia tidak akan keracunan dan kalau engkau membuntungi pergelangan tangannya, hal itu kaulakukan justru untuk menyelamatkan nyawanya dari kematian

Kenapa engkau menyesali diri seperti ini, berhari-hari tidak mau makan minum sampai tubuhmu menjadi kurus kering, wajahmu pucat dan engkau seperti seorang yang kehilangan semangatnya?

tegur ibunya, Sim Lan Ci yang te lah mendengar semua te ntang pertandingan antara suaminya dan Kam Cin, kemudian tentang Kam Cin menyerang pute ranya sehingga gadis itu keracunan dan pergelangan tangannya dibuntungi pute ranya untuk menyelamatkan nyawa gadis itu

Thian Ki tidak menjawab, hanya menundukkan mukanya

Sejak peristiwa itu, dia tidak pernah dapat melupakan bayangan Cin Cin dengan tangan kirinya yang buntung, tak dapat melupakan betapa dia yang membuntungi tangan gadis itu, dan selalu wajah Cin Cin ketika memandang kepadanya untuk yang te rakhir kali membayanginya sampai ke dalam mimpi

Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main

Apalagi kalau dia teringat ketika pernah bersama ayah bundanya menjadi tamu di rumah Cin Cin

Kedukaan ini membuat dia lupa makan lupa tidur

Selain engkau tidak bersalah, Cin Cin itu jahat bukan main, koko! Kenapa orang seperti itu koko ingat terus

Ia telah menghina kita, ia telah berniat membunuh ayah, bahkan membunuhmu

Apakan engkau takut kalau ia mendendam kepadamu karena engkau membuntungi tangannya

Jangan takut, aku akan membantumu membasminya kalau ia berani mencoba untuk membalas dendam!

kata Kui Eng dengan hati panas

Entah bagaimana ia sendiri tidak tahu, setelah ia mengetahui bahwa ia bukan anak kandung Sim Lan Ci, tidak mempunyai hubungan keluarga atau darah dengan Thian Ki, pandangannya te rhadap pemuda itu berubah sama sekali

Sejak kecil ia memang amat sayang kepada kakaknya ini, akan tetapi sekarang, setelah mengetahui bahwa Thian Ki bukan apa-apa melainkan orang lain, kesayangannya sebagai adik te rhadap kakak kandung berubah menjadi cinta kasih seorang wanita terhadap pria! Maka, melihat Thian Ki begitu murung dan berduka karena seorang gadis lain, apa lagi gadis itu musuh besar ayah kandungnya, ia merasa cemburu dan marah

Thian Ki memandang adiknya sejenak, lalu menunduk lagi dan menghela napas panjang, dia tidak menjawab

Dia menyadari bahwa dia tidak bersalah tentang buntungnya tangan Cin Cin, namun betapapun juga, buntungnya tangan itu adalah karena dia

Gadis itu keracunan karena tubuhnya beracun dan biarpun dia menyelamatkan nyawa gadis itu dengan membuntungi tangannya, tetap saja dialah yang membuntungi tangan itu! Dan dia tidak mungkin dapat melupakan sinar mata dan tarikan wajah Cin Cin ketika gadis itu memandang kepada le ngannya yang buntung dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

Thian Ki, aku merasa kecewa dan malu melihat sikapmu ini!

tiba-tiba terdengar suara Cian Bu Ong yang menggele gar dan penuh kewibawaan

Sikapmu ini hanya pantas dimiliki seorang lakilaki yang lemah dan cengeng! Segalanya sudah te rjadi dan sebagai laki-laki yang gagah engkau harus berani menghadapi kenyataan, harus berani bertanggung-jawab atas semua yang te lah kaulakukan! Engkau tidak pantas disebut orang gagah kalau bersikap seperti ini, memalukan saja

Pada hal, sekarang engkau te lah selesai belajar dan sudah tiba saatnya engkau te rjun ke dunia persilatan sebagai seorang pendekar, sebagai seorang gagah agar tidak sia-sia semua pelajaran yang telah kaupelajari selama ini

Agar tidak sia-sia engkau hidup sebagai seorang manusia di dunia ini.

Ucapan Cian Bu Ong itu seperti sengat lebah, seperti siraman air dingin, membuat Thian Ki te rsadar

Dia mengangkat mukanya yang pucat dan memandang kepada ayah tirinya, juga gurunya, dan diapun menjatuhkan diri berlutut di depan ayah tirinya dan ibunya, kedua matanya basah, akan tetapi dia tidak menangis

Ayah, ibu, maafkan aku yang le mah ini

Semua kata-kata ayah, ibu dan adik Kui Eng benar

Sekarang aku menyadari bahwa sikapku ini sungguh sikap seorang pengecut yang hendak melarikan diri dari kenyataan hidup

Maafkan aku.

Ibunya, Sim Lan Ci, memaklumi apa yang te rdapat di hati puteranya, maka iapun merangkul pute ranya dengan hati terharu

Sejak kecil, ia sendiri dan mendiang suaminya, Coa Siang Lee, yang mendidik anak ini agar menjauhkan diri dari segala kekerasan, sengaja tidak mengajarkan ilmu silat bahkan menanamkan dalam hatinya agar menjauhi kekerasan

Akan tetapi ia dijadikan seorang tok tong (anak beracun) oleh mendiang neneknya yang bermaksud agar sang cucu kelak menjadi seorang jagoan tanpa tanding! Karena sudah terlanjur memiliki tubuh beracun, sehingga di luar kehendaknya beberapa orang tokoh dunia persilatan te was ketika mencoba untuk membunuh dan menyerangnya, maka kemudian setelah menjadi putera tiri Cian Bu Ong, Thian Ki belajar ilmu silat tinggi

Namun, ia tahu bahwa di dasar hati Thian Ki masih te rdapat kelembutan itu

Dia tidak ingin melukai orang, apa lagi membunuhnya

Dan kini, secara terpaksa dia membuntungi tangan Cin Cin, seorang gadis yang pernah akrab dengannya ketika masih sama-sama kecil

Sudahlah, anakku

Bangkitlah dan jangan lagi membiarkan dirimu te nggelam dalam penyesalan dan kedukaan

Ayahmu benar

Engkau seorang laki-laki yang seharusnya bersikap gagah dan jantan,

kata ibu ini

Thian Ki bangkit dan duduk kembali

Ketika dia mengangkat muka memandang ayah tirinya, ibunya dan Kui Eng, matanya sudah mengeluarkan sinar, tidak lagi muram dan layu seperti sebelumnya

Yang terpenting adalah pengamatan diri, Thian Ki

Carilah dalam dirimu sendiri dan lihat kenyataan apa yang te lah terjadi

Kalau dalam peristiwa itu engkau merasa bahwa engkau telah melakukan kesalahan, maka engkau harus berte kad untuk mengubah kesalahan itu dan tidak mengulanginya kelak

Sebaliknya, kalau engkau tidak merasa melakukan suatu kesalahan, jangan engkau takut menghadapi segala akibatnya

Dalam peristiwa yang telah terjadi itu, aku tidak melihat kesalahan dalam tindakanmu Akan te tapi andaikata akibatnya tidak menguntungkan, andaikata gadis itu mendendam kepadamu, engkau harus berani menghadapi kenyataan itu dengan modal utama, yaitu keyakinan bahwa engkau tidak melakukan kesalahan

Itu saja!

Thian Ki mengangguk-angguk

Terbayang semua peristiwa itu

Mula-mula dia turun tangan untuk mencegah Cin Cin membunuh ayah tirinya, yang tadinya sudah mengalah terhadap gadis itu

Tentu saja perbuatannya ini tidak salah karena tidak mengandung niat buruk di hatinya ketika dia menyelamatkan ayahnya

Akan tetapi Cin Cin bahkan menyerangnya

Diapun hanya membela diri, sama sekali tidak bermaksud untuk melukai gadis itu

Akan tetapi kenyataannya menjadi lain dari yang dia kehe ndaki

Gadis itu mencengkeram pundaknya, dan di luar kesadarannya, tanpa disengaja karena otomatis hawa beracun di tubuhnya bergerak tak te rkendali untuk melindungi pundak yang dicengkeram, tangan Cin Cin keracunan

Racun itu akan menjalar dan menewaskan Cin Cin, tanpa ada obat yang akan mampu menolongnya

Oleh karena itu, dia cepat membuntungi tangan beracun itu demi keselamatan nyawa Cin Cin

Memang tidak ada kebencian mendorong semua perbuatannya itu

Hanya nasib yang menentukan demikian

Sudah digariskan

Sudah menjadi kehendak Tuhan

Dia harus berani menghadapi segala akibatnya

Dia teringat akan sikap ayah tirinya

Ayah tirinya menghadapi pula akibat dari perbuatannya ketika muda, yaitu mengenai urusan pribadinya dengan Tung-hai Mo-li Bhok Sui lan

Dan kini ayah tirinya menanggung akibatnya

Akan te tapi dengan sikap yang gagah, tidak ingin melibatkan keluarganya

Semua akibat ditanggungnya sendiri, tanpa memperlihatkan penyesalan atau kecengengan

Sesal dan duka hanya mendatangkan kekeruhan pikiran dan hati, sama sekali tidak ada manfaatnya, sama sekali tidak akan dapat mengubah keadaan

Dia bahkan harus bertindak te gas untuk meluruskan yang bengkok, menjernihkan yang keruh

Dia harus dapat menemukan Cin Cin dan memberi penjelasan

Sukur kalau gadis itu dapat melihat kenyataan, kalau tidakpun dia harus berani menghadapi apa saja yang akan menjadi akibat dari peris tiwa itu

Memang segala sesuatu Tuhan yang menentukan akan tetapi dia harus berikhtiar, harus berusaha ke arah kebaikan dan melalui jalan kebenaran

Terima kasih, ayah

Kini aku mengerti benar dan harap ayah suka memberi tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Wajah bekas pangeran itu berseri

Thian Ki memang bukan keturunannya, bukan darah dagingnya, namun dia merasa sayang kepada anak ini, menaruh harapan besar dalam diri anak ini

Engkau sudah selesai belajar, Thian Ki

Pada saat ini, semua ilmuku sudah kuberikan kepadamu

Post a Comment