Halo!

Naga Beracun Chapter 101

Memuat...

Segala macam pria yang berkedudukan tinggi itu tidak ada artinya baginya

Ia harus mencapai puncaknya! Orang ke dua setelah Kaisar Tang Tai Cung yang dianggapnya akan mampu mengangkatnya ke te mpat tertinggi, adalah Pangeran Li Hong, putera mahkota! Pangeran ini berusia duapuluh tahun, tentu saja jauh lebih menarik daripada ayahnya, Kaisar Tang Tai Cung yang sudah berusia empatpuluh tahun

Kembali Bu Couw Hwa mengatur siasat

Sebagai seorang dayang yang dipercaya membersihkan kamar-kamar, te ntu saja banyak kesempatan baginya untu k menyambar barang-barang berharga yang berserakan dan tidak pernah diteliti oleh para permais uri dan selir

Mudah saja bagi Bu Couw Hwa untuk mencuri barang-barang perhiasan berharga dan benda-benda ini ia pergunakan untuk mendekati para thai-kam

De ngan menyogok sana sini akhirnya para thaikam dapat mengatur suatu pertemuan yang seolah-olah tidak disengaja antara ia dan Pangeran Mahkota Li Hong di dalam taman

Pada suatu malam te rang bulan, ketika Pangeran Mahkota Li Hong sedang berjalan-jalan seorang diri di taman besar istana, hanya ditemani dua orang thai-kam kepercayaan, tiba-tiba ia mendengar suara yang-kim (s iter) yang nyaring

Lalu suara itu disusul kemerduan suara seorang wanita yang bernyanyi

Mendengar ini, Pangeran Li Hong menghentikan langkahnya dan mendengarkan

Nyanyian itu amat terkenal, nyanyian rakyat yang menceritakan tentang seekor burung merak yang merindukan seekor burung dewata, betapa sang merak merasa rendah diri dan buruk dibandingkan sang burung dewata, namun betapa rindunya untuk berdekatan dengan raja burung itu

Entah karena is i nyanyian itu atau merdunya suara dan yang-kim atau karena malam te rang bulan di taman mendengar nyanyian itu merupakan perpaduan yang amat indah, namun pangeran yang masih muda itu merasa tertarik dan kagum se kali

Siapa yang bernyanyi itu?

tanyanya sambil memandang ke arah sebuah pondok kecil mungil yang berada di dalam taman, darimana suara itu te rdengar

Tentu saja dua orang thai-kam itu tahu siapa pemilik suara itu, karena merekalah yang mengatur perte muan ini, akan tetapi mereka tidak mau mengaku dan mengatakan bahwa mungkin seorang dua oran g dayang yang sedang bertugas di situ membersihkan pondok yang menjadi te mpat peristirahatan para puteri

Akan te tapi itu hanya dugaan hamba saja pangeran,

kata pula orang kedua,

s etahu kami tidak ada dayang is tana yang memiliki suara semerdu itu dan keahlian memainkan yang-kim seindah itu.

Tentu saja hati sang pangeran menjadi semakin te rtarik, maka ketika dua orang thai-kam itu mengajak dia untuk mengintai melalui belakang pondok, diapun tersenyum dan mengikuti mereka

Semua ini memang sudah diatur oleh Bu Couw Hwa dan dua orang thai-kam itu

Ketika sang pangeran bersama dua orang thai-kam mengintai melalui pondok belakang, mereka melihat seorang gadis cantik jelita sedang duduk seorang diri memainkan yang-kim karena nyanyian itu telah selesai

Gadis itu cantik manis dan jari-jari tangannya yang le ntik bergerak menari-nari dengan indahnya di atas yang-kim, mukanya agak diangkat seolah gadis itu sedang memandang bulan di langit dengan mata yang redup sayu, dengan mulut yang setengah terbuka

Bukan main indahnya penglihatan itu

Melihat seorang gadis cantik jelita bermain yang-kim, di taman bunga dalam te rang bulan, sungguh suatu keindahan seperti yang te rkandung dalam sajak yang indah

Hati sang pangeran seketika terpikat

Suasana itu mendatangkan ketentraman dan kelembutan yang penuh damai, menimbulkan gairah romantika yang syahdu dan darah mudanya bergejolak

Melihat bahwa gadis itu mengenakan pakaian seperti seorang dayang, maka keberanian sang pangeran meningkat

Kalau wanita itu seorang selir ayahnya, te ntu saja dia tidak akan berani menggodanya

Akan te tapi seorang dayang hanyalah seorang pelayan, walaupun banyak selir berasal dari dayang

Bersama dua orang thai-kam yang di percayanya itu, diapun memasuki pondok itu dari pintu belakang dan menghampiri gadis yang masih memainkan yang-kim lirih-lirih sambil melamun

Nona, suaramu indah sekali.

Pangeran Li Hong memuji setelah berada dekat di belakang gadis itu

De ngan permainan sandiwara yang baik sekali, gadis itu mele paskan yang-kimnya saking kaget, memutar tubuhnya, te rbelalak dan membuka mulut secara manis sekali, mengangkat kedua tangan ke atas, lupa bahwa baju depannya setengah terbuka sehingga nampak sebagian dadanya yang mulus dan putih, lalu menjatuhkan diri berlutut

Yang mulia Pangeran......, hamba...

hamba mohon maaf......hamba tidak tahu akan kehadiran paduka...

hamba siap menerima hukuman mati..

katanya dengan suara yang merdu dan seperti orang yang ketakutan, suaranya berdesah dan berbisik

Pangeran Li Hong tertawa, semakin kagum karena setelah berada dekat, dia melihat bahwa gadis ini memang cantik sekali dan keharuman khas keluar dari tubuhnya

Padahal gadis ini baru selesai bekerja agaknya, setelah membersihkan pondok itu dan beris tirahat, tentu tidak mempersiapkan diri, tidak mempersolek diri

Bajunyapun setengah te rbuka dan rambutnya kusut

Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa kekusutan pada diri Bu Couw Hwa itu adalah kekusutan

teratur

Ha-ha-ha, nona, jangan takut

Engkau tidak bersalah apa-apa, aku tadi hanya te rtarik oleh suaramu yang merdu dan permainan yang-kimmu yang indah

Aku ingin mendengar le bih banyak

Mainkanlah yang-kim itu dan bernyanyilah untukku.

Aiih, ampunkan hamba, pangeran

Bagaima hamba berani memperdengarkan suara hamba yang parau dan permainan yang-kim hamba yang ngawur

Hamba hanya seorang dayang.......

Jangan merendahkan dirimu, eh, siapa namamu?

Bukan main girangnya rasa hati Bu Couw Hwa

Perhatian dari pangeran itu menunjukkan bahwa siasatnya mulai berhasil

Umpannya mulai disambar kakap!

Nama hamba Bu Couw Hwa, pangeran.

Bagus, Couw Hwa, atau kusebut saja engkau Hwa Hwa!

Pangeran itu tertawa lagi, girang karena wajah gadis itu demikian cerah dan ramah sehingga menimbulkan suasana yang gembira

Dia lalu memerintahkan kedua orang thai-kam

Cepat ambilkan arak dan makanan, aku ingin makan malam di sini

Hwa Hwa, maukah engkau melayaniku makan malam di s ini?

Mau

Aiiih, pangeran

Hamba merasa seperti kejatuhan bintang, mendapat kehormatan besar sekali

Tentu saja hamba suka sekali

Biar hamba bersihkan dulu meja dan dan hamba ganti dengan kain penutup yang baru!

Dengan gerakan lincah, le nggang yang membuat pinggulnya yang bulat besar seperti menari-nari, gadis itu mengerjakan persiapan untuk makan malam sang pangeran

Setiap gerak geriknya diikuti pandang mata pangeran muda itu yang menjadi semakin te rpesona

Aku harus dapat menaikkan harga diriku,

demikian sambil membersihkan dan merapikan meja, gadis itu berpikir

Kalau kujual murah, te ntu akhirnya sebentar saja dia akan lupa padaku.

Bu Couw Hwa memang cerdik luar biasa

Ia mempergunakan siasat memikat pangeran mahkota bukan sekedar merupakan petualangan cinta belaka

Sama sekali tidak! Ia memiliki tujuan yang le bih inggi lagi, mempunyai cita-cita yang muluk

Usahanya te rhadap Kaisar gagal setengah jalan, maka kini ia menempuh jalan lain, melalui Pangeran Mahkota! Tak lama kemudian, pangeran itu makan minum di dalam kamar, dilayani Bu Couw Hwa, kemudian gadis itupun beberapa kali memainkan yang-kim dan bernyanyi, bahkan mengajak pangeran itu bercakap-cakap tentang seni suara dan seni sastra, karena iapun pandai membuat sajak atau syair berpasangan yang mengandung makna dalam

Mendengar bahwa usia gadis itu baru menjelang tujuhbelas tahun, sang pangeran menjadi semakin kagum

Akan te tapi ketika dia mulai memperlihatkan gejolak berahinya, dengan le mbut Bu Couw Hwa menolaknya

Dengan halus dan le mbut.! Tentu saja sang pangeran menjadi penas aran bukan main

Penolakan yang halus itu sama sekali tidak membuatnya marah, bahkan membuat berahinya semakin berkobar seperti api disiram minyak

Wanita muda itu tetap bersikap manis, bersikap amat menyayang dan hormat sehingga sang pangeran merasa dimanja

De ngan sikapnya, Bu Couw Hwa jelas menyatakan perasaan hatinya yang jatuh cinta kepada junjungan itu

Kerling matanya, senyumnya, gerakan tubuhnya, suaranya, semua jelas membayangkan bahwa ia mencinta sang pangeran

Akan tetapi kalau pangeran itu hendak menyentuhnya, ia dengan halus dan sopan menjauhkan diri dan pandang matanya nampak sayu dan sedih.! Ia seperti jinakjinak merpati yang membuat pangeran menjadi semakin terpikat

Akhirnya setelah jelas bahwa wanita itu tidak bersedia melayaninya bercinta, sang pangeran meninggalkan te mpat itu, diantar senyum dan kerling penuh kasih ole h Bu Couw Hwa

Dalam perjalanan kembali ke tempat tinggalnya sendiri itulah sang pangeran menyatakan keheranannya

I a begitu dekat, akan te tapi begitu jauh,

ratap pangeran itu kepada dua orang kepercayaannya

I a seperti menantang, akan tetapi selalu menghindar

Ia jelas mencintaku, akan te tapi tak ingin kujamah

Mengapa begitu, seolah ia menyiksaku?

Dua orang thai-kam itu saling lirik dan te rsenyum, diam-diam kagum sekali kepada gadis itu

Seorang wanita muda yang luar biasa, seperti minuman arak yang amat baik, le mbut memabokkan, akan te tapi tidak te rasa oleh yang mabok

Tepat seperti yang telah diatur oleh Bu Couw Hwa yang te lah menyogok mereka dengan banyak benda berharga, mereka lalu berkata bahwa dayang itu pernah menjadi dayang kesayangan Kaisar, bahkan telah beberapa kali mendapat kehormatan melayani kaisar

Mungkin karena ia tidak ingin membuat paduka melakukan kesalahan, maka ia sengaja menahan diri dan menghindar, yany mulia,

kata mereka

Ahh......begitukah

Sungguh ia seorang wanita yang baik dan le mbut hati, setia dan juga tidak ingin melihat aku melakukan kesalahan

Akan tetapi ia hanya seorang dayang, belum diangkat menjadi selir ayahanda kaisar, bukan?

Demikianlah, yang mulia

Ia masih belum menjadi selir yang sah.

Kalau begitu, ia masih seorang dayang, dan bukan suatu pelanggaran dosa kalau terjadi hubungan antara kami,

pangeran yang sudah te rgila-gila itu membela diri

Me mang sesungguhnya demikian, pangeran

Apa lagi yang mulia Sribaginda te rlalu sibuk sehingga hampir melupakannya, karena itulah maka ia tadi menyanyikan lagu kerinduan

Paduka dapat menduga, siapa yang disebut sebagai burung Hong yang dirindukannya?

Siapa lagi kalau bukan Sribaginda?

Dua orang thai-kam itu tersenyum

Yang mulia Pangeran, ia menjadi kekasih Sribaginda hanya selama beberapa kali saja dan menurut keterangannya hal itupun te rjadi selagi Sribaginda dalam keadaan te rlalu banyak minum anggur, sehingga pertama kalinya terjadi di kamar mandi di mana Bu Couw Hwa bertugas membersihkan kamar mandi

Tidak, bukan Yang Mulia Sribaginda Kaisar yang dimaksudkan sebagai burung Hong yang dirindukannya dalam nyanyian tadi, melainkan paduka.

Ehh

Bagaimana engkau bisa tahu?

pangeran itu bertanya, curiga

Yang Mulia, pernah ketika bertemu dengan hamba, ia mengatakan bahwa betapa bahagianya hamba menjadi pelayan paduka, selalu dekat dengan paduka

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment