Kwi Lan sendiri memandang dengan mata terbelalak. Semua orang memandang kepada Siang Ki dan keadaan di situ hening oleh ketegangan menanti jawaban Siang Ki yang ditanya secara terus terang oleh wanita berkerudung yang menyeramkan itu.
"Benar. Saya mencinta Kwi Lan dan siap mati untuknya"
Jawab Siang Ki kemudian dengan suara tenang. Kembali Song Goat terisak, kini menangis tersedu-sedu dan meronta dari rangkulan ayahnya, terus melarikan, diri sambil menangis.
"Goat-ji (Anak Goat).."
Song Hai kakek ahli obat itu lalu lari mengejar puterinya setelah ia memandang ke arah Yu Siang Ki dengan sinar mata mengandung penyesalan.
"Bibi, apakah Bibi masih berkeras hendak membunuh kami? Silakan"
Kwi Lan berkata, nada suaranya marah dan ia menantang dengan nekat sedangkan Yu Siang Ki memandang dengan sikap tenang. Kam Sian Eng ragu-ragu,
"Hemm, kau mencinta Kwi Lan? Eh, Kwi Lan, apakah kau juga mencinta pemuda jembel ini?"
Orang yang dicinta Kam Sian Eng dahulu adalah seorang putera pangeran, maka tentu saja ia memandang rendah kepada Yu Siang Ki yang biarpun tampan namun berpakaian jembel.
"Cinta..?"
Kwi Lan menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu.., aku tidak mencinta siapa-siapa, akan tetapi Siang Ki amat baik kepadaku dan pernah menolongku. Yang sudah jelas, dia adalah sahabat baikku, Bibi."
Sinar mata kemarahan di balik kerudung itu berseri sebentar. Di sudut benaknya, wanita aneh ini tentu saja tidak ingin mendengar Kwi Lan mencinta laki-laki lain karena sudah ia harapkan untuk menjadi isteri puteranya.
"Bagus, biarlah kuampunkan nyawa jembel muda ini. Akan tetapi kau harus segera menyusul Suhengmu."
Biarpun sejak kecil sering cekcok dengan Suma Kiat putera tunggal gurunya, akan tetapi karena sejak kecil menjadi teman bermain, Kwi Lan gembira mendengar ini.
"Di mana adanya Suma-suheng?"
"Di kota raja Kerajaan Sung. Kau lekaslah menyusul ke sana. Awas kalau kau tidak berada di sana dalam waktu dua bulan."
Setelah berkata demikian tubuh wanita berkerudung ini berkelebat dan lenyap dari situ. Kwi Lan dan Siang Ki saling pandang. Baru saja mereka terlepas dari bahaya maut yang sudah mengancam hebat. Siang Ki yang tadinya amat tegang, kini menarik napas panjang.
"Hebat.. Gurumu hebat.. katanya dan terasalah kini oleh pemuda itu betapa tubuhnya masih amat lemah, biarpun rasa nyeri sudah hilang.
"Ah, ke mana perginya Enci Goat tadi? Siang Ki, kau mengasolah di pondok, biar aku mengejar mereka"
Tanpa menanti jawaban Siang Ki, Kwi Lan lalu melompat jauh dan mengerahkan ginkang dan berlari secepat larinya kijang memasuki hutan di mana tadi ia melihat Song Goat melarikan diri kemudian dikejar ayahnya. Jauh di dalam hutan, Kwi Lan mendapatkan kakek Song itu berdiri seperti arca, mukanya pucat dan diliputi awan kedukaan, bahkan ada bintik-bintik air mata di kedua pipinya.
"Song-lopek, Ada apakah? Mana Enci Goat?"
Kakek itu tidak menjawab, hanya menudingkan telunjuk kanannya ke batang pohon di depannya. Kwi Lan memandang dan ternyata di pohon itu terdapat sehelai saputangan sutera putih yang tertusuk jarum keempat ujungnya dan saputangan itu ada tulisannya, agaknya ditulis dengan ranting pohon dengan tinta getah pohon.
"Ayah, biarkan anak merantau melupakan duka. Sampai jumpa."
"Eh, apa artinya semua ini, Lopek? Adakah ini saputangan Enci Goat? Tulisannya?"
Tanya Kwi Lan yang masih belum mengerti. Song Hai mengangguk dan menarik napas panjang.
"Kalau aku mau, tentu saja aku akan dapat mengejarnya sampai tersusul. Akan tetapi apa gunanya? Sejak kecil dia berkeras hati. Dan dia tulis sampai jumpa, berarti kelak ia akan kembali kepada ayahnya.."
Muka yang tua itu kelihatan berduka sekali.
"Biarlah aku menunggu., menunggu dan mengharap.. dan berdoa semoga Thian Yang Maha Adil akan memberi jalan kepada Anakku.."
"Akan tetapi.. mengapa Enci Goat melarikan diri? Mengapa kalian berduka?"
Tiba-tiba kakek itu membalikkan tubuh memandangnya dengan tajam sambil bertanya, suaranya tegas,
"Nona apakah.. maaf, apakah kau mencinta. Yu Siang Ki?"
Kwi Lan melongo dan wajahnya menjadi merah. Untung ia teringat bahwa kakek ini telah menolong dia dan Siang Ki, kalau tidak, tentu pertanyaan itu akan dianggapnya kurang ajar. Ia hanya terheran mengapa kakek ini bertanya, demikian, lebih heran lagi karena baru saja gurunya pun bertanya demikian.
"Aku tidak tahu, Lopek. Aku suka kepadanya tentu saja karena dia seorang yang baik, dia seorang sahabatku. Akan tetapi cinta..? Ah, aku sendiri tidak tahu apakah itu cinta, kurasa aku tidak mencinta siapa-siapa."
Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira dan ia memegang tangan Kwi Lan.
"Ah, alangkah lega dan girang hatiku, Nona. Tapi.. tapi.. ah, apa bedanya? Dia tetap saja mencintamu."
"Kalau begitu mengapa, Lopek? Mengapa pernyataan cinta Siang Ki kepadaku begini mendukakan hati Enci Goat dan kau?"
Kembali kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya.
"Dahulu, ayah pemuda itu adalah sahabat baikku. Yu Kang Tianglo pernah melihat Goat-ji di waktu anakku berusia satu tahun dan puteranya juga berusia satu tahun. Dan pada waktu itu, Yu Kang Tianglo mengikat jodoh antara kami, Goat-ji dan Siang Ki. Sudah bertahun-tahun aku membawa anakku merantau, mencari tunangannya. Akhirnya kami mendengar bahwa Yu Siang Ki telah menjadi Ketua Khong-sim Kai-pang. Kami menyusul ke sana akan tetapi dia sudah pergi. Kami mengikuti jejaknya terus sampai dapat berjumpa, bahkan menolongnya. Akan tetapi tadi pemuda itu menyatakan bahwa dia mencintamu dan tentu saja kau mengerti betapa hancur dan malu rasa hati Goat-ji.."
"Ahhh.."
Kwi Lan berseru kaget.
"Kasihan sekali Enci Goat. Kenapa Siang Ki begitu tidak tahu aturan dan tidak mengenal budi?"
Melihat gadis itu kelihatan marah-marah, Song Hai memegang tangannya. Jangan kau persalahkan sahabatmu itu, Nona. Yu-pangcu sama sekali tidak tahu agaknya akan tali perjodohan yang ditentukan mendiang ayahnya itu. Karena melihat sikapnya yang berbudi, kurasa kalau dia tahu tentu dia tidak akan melakukan hal yang begitu menyakitkan hati Goat-ji. Sudahlah, urusan ini tidak perlu dipersoalkan, soal jodoh berada di tangan Thian. Manusia tidak berkuasa memaksakan. Selamat berpisah, Nona."
Kakek itu membalikkan diri meninggalkan Kwi Lan. Akan tetapi baru saja berjalan beberapa langkah, ia membalik dan berkata.
"Aaah, tolong kau sampaikan Gurumu. Kepadanya aku tadi tidak berani bicara karena khawatir menyinggungnya, akan tetapi mengingat engkau, Nona, maka wajib kuberitahukan agar kau sampaikan kepada Gurumu. Agar dia cepat-cepat menghilangkan semua tenaga sin-kang, menghentikan latihan dan tidak mengerahkan tenaga lagi agar nyawanya dapat tertolong."
"Heee? Kenapa, Lopek?"
"Dia.. telah salah berlatih. Aku melihat cahaya maut di wajahnya, tanda bahwa hawa sakti yang terhimpun secara keliru di dalam tubuh meracuni darah dan merusak bagian dalam tubuhnya. Dan.. dan kau sendiri, Nona, karena kau masih muda dan kau kuat maka belum tampak tanda-tanda itu. Hanya mengingat keadaan Gurumu, bukan tidak mungkin engkau kelak akan terancam oleh bahaya yang sama. Maka lekas kau mencari guru yang sakti dan minta petunjuknya. Dalam hal ini, aku sendiri tak dapat memberi petunjuk. Ilmu silatku belum setinggi itu."
Setelah berkata demikian, kakek itu membalikkan tubuh dan kali ini ia tidak menengok lagi sampai lenyap di balik pohon-pohon besar. Kwi Lan tergesa-gesa kembali ke pondok. Ia melihat Yu Siang Ki telah berdiri di luar pondok, agaknya menanti-nanti kedatangannya. Begitu melihat munculnya gadis itu, Siang Ki tersenyum gembira dan berkata,
"Kwi Lan, kita harus cepat-cepat pergi dari sini, siapa tahu kalau-kalau iblis itu kembali lagi dan.."
Pemuda itu menghentikan kata-katanya karena melihat wajah gadis itu merah sekali dan sinar matanya seakan-akan dua batang pedang ditodongkan ke ulu hatinya.
"Eh.. eh.., ada apakah..?"
Kwi Lan berdiri di depan pemuda itu, tangan kiri bertolak pinggang, lengan kanan diulur ke depan dengan telunjuk ditudingkan hampir menyentuh hidung Yu Siang Ki, suaranya ketus ketika kata-katanya keluar menghambur dari bibir yang merah.
"Kau ini seorang yang sangat boceng-li"
"Hah..?"
Siang Ki memandang bengong, benar-benar kaget, heran dan tidak mengerti mengapa tiada hujan tiada angin gadis ini marah-marah seperti kilat menyambar-nyambar, mengatakan ia bo-ceng-li (tak tahu aturan).
"Kau tidak setia, tidak mengenal budi, dan berhati kejam"
Kembali Kwi Lan menyerang dengan hardikannya tanpa mempedulikan keheranan dan kebingungan pemuda itu.
"Aahhh..?"
"Semenjak berusia setahun, kau telah ditunangkan dengan Enci Goat oleh mendiang Ayahmu"
"Ehhh..?"
"Enci Goat dan Ayahnya bertahun-tahun mencarimu, setelah bertemu mereka telah menyelamatkan nyawamu. Akan tetapi, apa yang kau lakukan kepadanya? Di depan Enci Goat, kau secara bo-ceng-li sekali menyatakan bahwa kau mencintaku"