"Hi-hi-hik"
Inikah murid Suling Emas? Bagus, kau wakili Gurumu mampus di tanganku"
Berkata demikian, kepala wanita ini bergerak dan dari kanan kiri pundaknya menyambar bayangan hitam.
"Siuuuuttt"
Dahsyat sekali gulungan dua, sinar hitam ini menyambar ke arah leher dan pusar Kiang Liong. Pemuda ini sudah menyaksikan kelihaian Po Leng In menggunakan rambut sebagai senjata, namun dibandingkan dengan gerakan ini, Po Leng In bukan apa-apa. Dua gumpal rambut panjang ini menyambar seperti dua ekor naga, mengeluarkan bunyi mengerikan dan mendatangkan bau harum yang mencekik leher. Pemuda ini maklum bahwa terkena hantaman ujung rambut ini akibatnya hebat, apalagi kalau sampai terbelit. Karena itu, cepat ia sudah menggerakkan sepasang pensilnya, menggetarkan sepasang senjata itu dengan tenaga sin-kang.
"Plak-plak.. aiihhh.."
Siang-mou Sin-ni terkejut bukan main sampai mengeluarkan suara kaget ketika sepasang gumpalan rambutnya itu terpukul membalik. Getaran pensil itu tidak memungkinkan rambutnya untuk melibat. Rasa kaget ini berbalik menjadi kemarahan.
Kembali kepalanya bergerak dan kini dua gumpalan rambut bergabung menjadi satu dan menyambar ke depan, gerakannya seperti sebatang toya baja menghantam kepala Kiang Liong. Karena bergabung menjadi satu, maka tenaganya menjadi lipat dua kali. Menyusul serangan rambut ini, kedua tangan Siang-mou Sin-ni juga bergerak melakukan pukulan dengan jari-jari tangan terbuka. Hebatnya, dari kedua telapak tangan itu keluarlah bau yang amis sekali, amis busuk dan tampak telapak tangannya merah seperti mengeluarkan darah. Kiang Liong yang tahu bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, bekas musuh besar gurunya, tidak mau bersikap sembrono. Ia sudah siap dan kini ia menggerakkan kedua pensilnya seperti orang mencorat-coret di udara, menuliskan huruf-huruf indah dengan gerakan indah pula.
Dalam sekejap mata, sepasang pensilnya sudah membuat gerakan menyilang dan seperti menggunting rambut, Siang-mou Sin-ni terkejut dan menarik kembali rambutnya melanjutkan pukulan telapak tangan merah ke arah dada dan lambung pemuda itu. Namun gerakan corat-coret selanjutnya itu secara otomatis membuat sepasang pensil sudah maju menyambut pergelangan kedua tangan Siang-mou Sinni dengan totokan-totokan pada jalan darah. Kalau pukulan dilanjutkan, sebelum telapak tangan menyentuh baju Kiang Liong, tentu saja ujung pena akan lebih dulu bertemu dengan pergelangan tangan menotok jalan darah. Gerakan ini dilakukan seperti orang menulis huruf sehingga tak tersangka dan membingungkan lawan. Kembali Siang-mou Sin-ni berseru keras dan menarik kedua tangannya sambil menggeser kaki mundur selangkah sehingga ia pun berhasil membebaskan diri daripada totokan kedua pensil.
"Kiang Liong, kau masih tidak mau menyerah? Lihat siapa mereka ini"
Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu yang tadi memberi tanda kepada anak buahnya, menudingkan telunjuknya kepada dua orang gadis di sampingnya. Kiang Liong memandang dan matanya terbelalak, wajahnya pucat karena dua orang gadis itu adalah Siang Kui dan Siang Hui, tampak lemas dan kakinya tangannya terbelenggu, memandang kepadanya dengan mata duka namun sedikit pun tidak takut.
"Liong-twako, maaf, kami tertangkap kembali."
Kata Siang Kui, sedih melihat kekagetan dan kekecewaan yang membayang di mata Kiang Liong.
"Liong-twako, jangan hiraukan kami"
Kata Siang Hui dengan suara lantang.
"Ha-ha-ha-ha, Kiang-kongcu. Dua orang cucu Ketua Beng-kauw ini sungguh gagah dan manis. Sayang kalau mereka mati. Menyerahlah, dan mereka akan kubebaskan"
"Liong-twako, kami tidak takut mati teriak Siang Hui.
"Benar Twako, jangan hiraukan kami. Jangan menyerah, lawanlah dan kalau dapat larilah"
Teriak pula Siang Kui.
Kiang Liong berdiri tegak ragu-ragu, wajahnya pucat. Melihat Bouw Lek Couwsu memalangkan tongkatnya, mengancam di atas kepala dua orang gadis itu, maklumlah ia bahwa sekali ia bergerak, dua orang gadis itu tentu akan tewas. Dan dia seorang diri belum tentu akan dapat mengalahkan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, apalagi dibantu banyak sekali pendeta jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia. Baru Siang-mou Sin-ni seorang saja tadi ia sudah merasakan kelihaiannya. Kiang Liong seorang pemuda yang cerdik dan tenang, maka sebentar saja ia sudah dapat mengambil keputusan.
"Bouw Lek Couwsu, jangan seperti anak kecil. Bebaskan gadis-gadis itu dan adik mereka, kemudian kalau kau dan Siang-mou Sin-ni ada kepandaian, cobalah untuk mengalahkan dan membunuhku"
Sikapnya tenang, suaranya berpengaruh sehingga kembali Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara kagum.
"Seperti Suling Emas benar.., Beginilah Suling Emas di waktu mudanya"
Akan tetapi Bouw Lek Couwsu tertawa bergelak.
"Orang muda sombong. Gurumu sendiri Si Suling Emas belum tentu dapat menandingi pinceng, apalagi engkau muridnya. Kau lepaskan senjatamu dan menyerahlah, pinceng ingin bicara denganmu dan pinceng memerlukan bantuanmu. Pinceng berjanji akan membebaskan dua orang gadis ini. Tentang anak laki-laki itu, dia adalah hak Siang-mou Sin-ni."
"Bagaimana aku dapat percaya omonganmu, Bouw Lek Couwsu?"
Pendeta jubah merah itu marah sekali.
"Kiang Liong, kau benar-benar memandang rendah kepada pinceng. Tak tahukah engkau dengan siapa kau bicara? Pinceng adalah ketua yang terhormat dari para pendeta jubah merah. Sebagai pendeta kepala, sekali pinceng mengeluarkan kata-kata, pasti tak ditarik kembali"
Kiang Liong tersenyum mengejek. Ia sengaja hendak memanaskan hati pendeta ini. Makin panas hatinya, kelak ia akan makin malu untuk menarik kembali kata-katanya.
"Hemm, siapa tidak tahu bahwa engkau menjadikan jubah merah dan kepala gundul sebagai kedok belaka, Bouw Lek Couwsu? Engkau berpakaian pendeta akan tetapi tidak hidup sebagai pendeta, bagaimana aku bisa percaya omongan seorang pendeta palsu? Akan tetapi aku akan lebih percaya kalau engkau bicara sebagai pimpinan barisan Hsi-hsia yang terkenal jujur dan perkasa"
Suara Kiang Liong diucapkan nyaring dan lantang sekali sehingga terdengar oleh semua orang yang hadir di situ, termasuk orang-orang Hsi-hsia.
Diam-diam Bouw Lek Couwsu mengutuk di dalam hatinya. Ia merasa benar-benar dilucuti oleh pemuda ini. Sebagai seorang pimpinan suku bangsa Hsi-hsia yang mengharapkan kedudukan besar, tentu saja ia tidak akan berani menarik kembali kata-kata dan merendahkan diri dan martabat dalam pandangan bangsa Hsi-hsia. Akan tetapi di samping ini, ia pun amat membutuhkan bantuan Kiang Liong. Pemuda ini adalah putera pangeran di Kerajaan Sung yang sudah terkenal. Kalau ia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutu. Alangkah akan baiknya, akan memudahkan rencananya menyerbu Sung.
"Baiklah, aku berjanji sebagai pimpinan Hsi-hsia untuk membebaskan dua orang gadis ini setelah kau melepaskan senjata dan menyerah."
Kiang Liong tersenyum lalu memandang sepasang pensilnya.
"Twako, jangan menyerah"
"Twako, mari kita berontak, lawan dan adu nyawa dengan mereka"
Namun Kiang Liong menggelengkan kepala dan memandang dua orang gadis itu sambil berkata.
"Kalian harus menurut kepadaku. Setelah dibebaskan, lekas turun gunung dan jangan hiraukan aku lagi"
Di dalam suara ini terkandung wibawa besar, dan sepasang mata itu menatap dengan begitu pasti sehingga dua orang gadis itu menunduk sambil terisak menangis. Kiang Liong mendongak ke atas, melihat tiang bendera yang amat tinggi berdiri di situ. Bendera pasukan Hsi-hsia berkibar di puncak tiang. Ia lalu berkata.
"Biarlah sepasang pensilku kusimpan di atas sana"
Kedua tangannya bergerak, terdengar suara berdesing nyaring sekali dan dua sinar menyambar ke atas. Ketika semua orang memandang, ternyata dua buah pensil itu telah manancap berjajar di puncak tiang bendera. Semua orang terbelalak memandang penuh keheranan dan kekaguman. Bahkan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni sendiri menjadi kagum.
"Ha-ha-ha, engkau benar seorang muda gagah perkasa."
Kata Bouw Lek Couwsu yang kemudian menoleh dan memberi perintah kepada anak buahnya.
"Bebaskan dua orang nona ini dan jangan halangi mereka turun gunung"
Belenggu kedua orang nona ini dilepaskan. Mereka sejenak meragu, memandang ke arah Kiang Liong dengan sepasang mata basah, akan tetapi Kiang Liong menggerakkan mukanya dan berkata.
"Pergilah, Ji-wi Siauw-moi dan berhati-hatilah."
Dua orang nona itu sedih sekali. Tadi pun ketika mereka dipaksa oleh Kiang Liong setelah mereka ditolong, dipaksa pergi dan tidak diperbolehkan ikut pemuda itu mencari Han Ki, mereka menangis kecewa. Sekarang tahulah mereka bahwa pemuda itu ternyata benar ketika menyuruh mereka melarikan diri. Musuh terlampau banyak dan sakti.
Baru saja mereka tiba di lereng bukit, mereka itu bertemu dengan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni yang berlari cepat naik ke puncak sehingga tanpa dapat melakukan perlawanan berarti mereka telah ditangkap kembali. Dan sekarang karena mereka berdua, Kiang Liong menjadi tawanan tanpa dapat melawan. Tentu saja mereka berduka sekali. Kali ini mereka tidak berani membantah dan sambil menangis mereka pergi meninggalkan tempat itu, di dalam hati berjanji akan cepat-cepat mencari adik mendiang kakek mereka yang bertapa di puncak Tai-liang-san, minta pertolongannya kemudian kembali ke tempat ini untuk menolong Kiang Liong dan Han Ki. Kalau terlambat dan dua orang itu sudah terbunuh, mereka akan mengamuk dan mengadu nyawa. Setelah dua orang gadis itu pergi, Bouw Lek Couwsu berkata.
"Orang muda, pinceng sudah berjanji membebaskan mereka dan sekarang mereka sudah bebas. Engkau menjadi tawananku, dan pinceng juga tidak bermaksud membunuhmu, kalau saja engkau tidak menolak tawaranku. Sebagai seorang tawanan, kau harus dibelenggu dan harap saja kau tidak melawan agar kami tidak perlu membunuhmu sebelum berunding"
Kiang Liong bukan seorang bodoh. Kalau sepasang pensilnya masih berada di kedua tangannya sekalipun, belum tentu akan dapat membebaskan diri dari dua orang sakti ini bersama seratus orang lebih anak buah mereka yang sudah mengurung tempat itu. Kini sepasang senjata sudah ia simpan di atas tiang bendera, dan ia sudah berjanji pula untuk menyerah. Seorang pendekar harus memegang janjinya dan ia menyerah, kecuali tentu saja kalau ia akan dibunuh, ia akan melawan sedapat mungkin. Maka mendengar ucapan ini ia tersenyum dan menjawab.
"Silakan Bouw Lek Ciouwsu."
Ia memasang kedua tangan dengan merangkap pergelangan tangannya.