Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 06

Memuat...

"Ah, kekasihku, jangan gusar. Siapa baik siapa buruk, sukar dibilang, Kalau gurun hendak dijadikan teman. Maka mestilah sepasang orang baik kumpul bersama..."

Supu adalah orang yang paling sering mendengar nyanyian itu. Dia juga tidak memahami artinya nyanyian asmara itu, sampai pada suatu hari di atas salju mereka bersomplokan sama seekor ajag.

Sangat mendadak munculnya binatang alas yang jahat itu. Supu dan Bun Siu tengah duduk berendeng di atas sebuah tanjakan, mata mereka memandang rombongan kambing mereka yang lagi mencari makan di padang rumput. Seperti biasanya, si nona mendongeng, tiga bagian menurut cerita ibunya, tiga bagian menurut cerita Kee Loojin, yang lainnya karangannya sendiri. Supu paling suka mendengar ceritanya Kee Loojin, sebab itu ada mengenai peristiwa-peristiwa hebat. Yang ia paling tidak sukai ialah cerita karangannya si nona sendiri, karena itulah semua cerita kekanak-kanakan. Mendadak Bun Siu menjerit, tubuhnya roboh ke belakang, sebab seekor serigala menerkam dengan tiba-tiba. Binatang jahat itu datang dengan perlahan-lahan dari arah belakang, kedua bocah masing-masing sedang asyik bercerita dan mendengari, mereka tidak mendengar apa-apa sampai terkaman datang. Si nona berkelit, karenanya dia roboh.

Supu kaget. Serigala itu besar sekali. Tapi melihat si nona didalam bahaya, ia menghunus golok pendeknya, terus ia membacok. Binatang itu berkelit, punggungnya tergores kulitnya. Karena itu dia menjadi gusar, sambil mementang mulutnya yang lebar, memperlihatkan giginya yang tajam, dia menubruk bocah itu, dia hendak menggigit muka orang!

Saking kaget, Supu roboh. Ia tentu telah kena digigit kalau tidak Bun Siu lompat maju, untuk menangkap ekor binatang itu, untuk ditarik, hingga si serigala mundur setindak. Tapi binatang ini kuat, dia berontak, dia menerkam pula. Kali ini giginya nempel pada pundak kiri si bocah pria. Dalam kaget dan takut, si nona menarik sekuatnya. Tidak urung, pundak Supu telah mengucurkan darah.

Dalam keadaan seperti itu, Supu melupakan segala apa, ia menikam. Tepat ia menikam perut, di bagian yang berbahaya. Serigala itu berlompat, terus roboh. Supu masih hendak menikam, ketika tubuh binatang itu terus berdiam.

Bun Siu pun jatuh terguling. Ia bertahan, si serigala menarik keras. Meskipun begitu, ia tidak melepaskan cekalannya sampai binatang itu rebah tak berkutik lagi.

"Aku membunuh serigala!" seru Supu kemudian. "Aku membunuh serigala!" Ia lantas mengasih bangun pada si nona, seraya ia berkata: "Lihat, Siu, aku telah bunuh mati seekor serigala!". Ia gembira hingga ia melupakan pundaknya yang borboran darah. "Aku tidak takut sakit!" kata Supu sambil menggeleng kepala, sikapnya gagah.

Sekonyong-konyong terdengar teguran di belakang mereka: "Eh, Pu kau lagi bikin apa?"

Keduanya terkejut, sama-sama mereka berpaling.

Bun Siu melihat seorang yang mukanya berewokan, yang tubuhnya besar bercokol di atas kuda. Supu sendiri segera berkata: "Ayah, lihat! Aku telah bunuh seekor serigala!"

Nampaknya orang itu girang. Ia lompat turun dari kudanya.

Ia memandangi anaknya, Bun Siu dan bangkai serigala. "Kau kena digigit serigala?" ia menanya.

"Ya," si anak mengangguk. "Kita lagi duduk di sini, aku mendengari dia mendongeng mendadak serigala itu muncul dan menerkam dia..."

Si berewokan itu mengawasi pula Bun Siu, mendadak di menegur: "Kau toh si anak perempuan Han yang tidak diberkahi Tuhan?" tegurnya.

Bun Siu terkejut. Ia sekarang mengenali si berewokan ini adalah mang yang telah menendang ia it-lagi ia memeluki mayat ayah dan ibunya. Dialah Suruke yang menurut Kee Loojin, isteri dan anaknya telah dibinasakan penyamun didalam satu malaman. Ia mengangguk, ingin ia mengatakan: "Ayah dan ibuku juga telah dibunuh oleh kawanan penyamun itu..." atau mendadak ia menjadi kaget. Tahu-tahu Supu telah dicambuk ayahnya, hingga mukanya balan, sedang ayah itu berseru: "Aku telah menyuruh kau turun-temurun membenci orang Han, mengapa kau melupai pesanku? Kenapa kau justeru bermain-main sama anak Han ini dan mengadu jiwa untuknya hingga kau mengucurkan darah?" Lalu cambuknya menyambar pula secara membabi buta! Supu berdiam saja, bahkan dia memandang Bun Siu dan bertanya: "Apakah dia si wanita Han yang tidak diberkahi Tuhan?"

"Mustahil bukan?" bentak si ayah, yang tangannya diayun ke samping, maka menjeritlah si nona yang kaget dan kesakitan, sebab cambuk menyambar mukanya!

Justeru itu, Supu roboh, sebab tak tahan ia akan sabatan ayahnya itu. Ia telah terluka diterkam serigala, ia pun dirangket berulang-ulang, selagi ia telah mengeluarkan banyak darah dan lelah, ia pun melihat si nona dicambuk, maka ia sakit, lelah dan menceios hatinya berbareng.

Suruke kaget. Ia lompat kepada anaknya, ia pondong tubuhnya, buat diajak naik ke atas kudanya, kemudian ia kabur dengan mengalak bangkai serigala, maka ketika ia melarikan kudanya itu, bangkai binatang itu terseret-seret pergi. Ia masih menoleh kepada Bun Siu, yang berdiri tercengang, di dalam hatinya ia kata: "Kalau lain kali kau bertemu pula dengan aku, lihat apabila aku tidak menghajar pula padamu!"

Bun Siu tidak takut lagi si berewokan itu, hanya hatinya kosong. Ia merasa bahwa selanjutnya ia bakal tidak bertemu pula sama Supu, kawan satu-satunya dengan siapa ia dapat bermain-main dengan gembira, kawan yang suka mendengari nyanyiannya. Setelah itu, ia merasai mukanya sakit. Tidak lama ia berdiam di situ, dengan tidak keruan rasa ia menggiring kambingnya pulang.

Kee Loojin heran melihat tubuh si nona kecipratan darah dan mukanya balan, bertanda bekas sabatan cambuk.

"Apakah sudah terjadi?" tanyanya lekas.

"Aku terjatuh..." Bun Siu mendusta, suaranya tawar. Orang tua itu tidak mau percaya tetapi setelah ditegasi, si nona tetap sama jawabannya itu, bahkan dia lantas menangis, hingga ia menjadi kewalahan dan bingung.

Malam itu tubuh Bun Siu panas sekali, mukanya menjadi merah, berulangkah dia mengaco: "Serigala! Serigala! Supu! Supu! Tolong! Orang Han yang tidak diberkahi Tuhan!"

Bukan main bingungnya orang tua ini. Maka syukur, mendekati pagi, hawa panasnya si nona berkurang banyak, lantas dia dapat tidur pulas.

Dengan sakitnya ini, satu bulan terus Bun Siu mesti rebah di pembaringan, ketika kemudian ia sembuh, musim dingin sudah lewat, di tanah datar rumput telah mengeluarkan semi baru yang halus...

Lewat beberapa hari, nona Lie merasa tubuhnya sehat betul, maka itu ingin ia pergi menggembala seperti biasa. Ketika ia heran akan mendapatkan ada sehelai kulit serigala terletak di depan pintunya, kulit itu sudah dijadikan alas duduk, lebih heran pula apabila ia periksa, di betulan perut kulit itu ada pecahan bekas tusukan senjata tajam. Ia lantas mengenali itulah serigala yang menerkam ia, yang dibinasakan Supu. Hatinya berdebaran kalau ia ingat Supu tidak menyalahi janji, hanya bocah itu datangnya secara diam-diam. Ia angkat kulit itu, untuk disimpan di dalam kamarnya. Ia tidak mau memberitahukan pada Kee Loojin. Habis itu pergilah ia menggembala kambingnya, di tempat yang biasa.

Sampai magrib, Supu tidak muncul, ada juga kambingnya, yang sekarang diangon oleh seorang muda lain umur tujuh atau delapan belas tahun, la menjadi berpikir.

Mungkinkah lukanya Supu belum sembuh? Kalau begitu, bagaimana dia dapat mengantarkan kulit serigalanya itu? Ingin ia pergi melongok ke tenda kawan itu tetapi ia batal sendirinya kapan ia ingat si berewokan yang bengis. Maka ia sudi bersangsi. Malam itu sampai tengah malam Bun Siu tidak dapat pulas. Akhirnya ia mengambil keputusannya juga. Diam-diam ia pergi ke tendanya Supu, ke sebelah belakangnya. Ia tidak tahu pasti apa perlunya ia menjenguk sahabatnya itu. Untuk hanya menghaturkan terima kasih untuk kulit serigala itu? Untuk menanyakan lukanya bekas digigit serigala? Ia berdiam di belakang tenda, seperti Menyembunyikan diri. Tidak berani ia memanggil-manggil kawannya ini Sampai ia disamperi anjingnya Supu, yang mencium-cium Hibahnya. Anjing itu tidak mengasih dengar suara apa-apa.

Di dalam tenda, lilin dipasang terang-terang. Di situ terdengar suara keras dari Suruke. Kaget Bun Siu, setiap kali mendengar suara orang, hatinya berdenyutan.

Sebab orang Kazakh itu lagi murka.

"Kulit serigalamu kau kasihkan pada perempuan itu?" demikian suara si ayah. "Binatang, kecil-kecil kau sudah mengerti menyerahkan hasil pemburuanmu yang pertama kepada nona kecintaanmu!"

Bun Siu ingat ceritanya Supu hal kebiasaannya bangsa Kazakh, bahwa pemuda bangsa itu paling menghargai hasil pemburuannya yang pertama kali, bahwa itu selalu diberikan kepada kekasihnya, untuk mengutarakan cintanya. Maka mukanya menjadi merah sendirinya. Maka terbangunlah keangkuhannya. Ia, seperti Supu juga, masih terlalu muda, melainkan samar-samar mereka mengenal asmara.

"Bukankah kau memberikannya kepada itu nona Han yang tidak diberkahi Tuhan, itu anak hina-dina?" terdengar pula suaranya Suruke. "Kau tidak mau bicara? Baik! Kau lihat, kau yang tangguh atau cambuk ayahmu!"

Lantas Bun Siu mendengar rangketan beberapa kali, suara cambuk mengenai tubuh.

Seperti kebanyakan orang Kazakh, demikian Suruke. Ia percaya cambuk akan menciptakan orang bangsanya yang gagah. Jadi untuk mendidik anak, tidak dapat kelunakan dipakai. Dulu kakeknya telah menghajar dia, maka sekarang dia menghajar anaknya. Itulah pengajaran, itu tidak melenyapkan kasih sayang orang tua pada anaknya. Terhadap sahabat, kepalan dan cambuk yang dipakai. Menghadapi lawan, ialah golok pendek dan pedang panjang.

Hanyalah, mendengar rangketan itu, Bun Siu merasai ialah yang tersiksa itu...

"Kau masih tidak mau menjawab? Kau masih tidak mau menjawab? Baik! Aku merasa pasti kau menyerahkan kulit serigala itu kepada perempuan Han itu! Kau rasai!"

Lalu hujan cambuk, terdengar nyata. Akhir-akhirnya Supu menangis.

Tak dapat ia menahan sakit hanya dengan mengertak gigi saja.

Post a Comment