Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 14

Memuat...

"Aku hendak pergi ke Huangsha Weitze, dari sini perjalanannya masih berapa jauh lagi?" Bun Siu berlagak menanya. Ia menggunai bahasa Kazakh. Ia senang si empee dapat main sandiwara baik sekali. Kee Loojin berlagak kaget. "Nona mau pergi ke sana? Ah, tidak dapat! Dengan cuaca seburuk ini, tidak nanti kau dapat tiba di sana. Lebih baik nona singgah satu malam di sini, besok baru kau melanjuti perjalananmu. Kalau kau tersesat, itulah celaka..."

Bun Siu bertindak masuk, ia menggibriki es dari bajunya. Ia melihat Supu dan Aman duduk berendeng menghadapi api.

Aman melihat yang datang adalah seorang nona, ia lantas berkata manis: "Kakak, kita ketimpa hujan, mari menghangatkan diri di sini!"

"Baiklah, terima kasih!" Bun Siu menyahuti. Ia lantas duduk di samping nona Kazakh itu. Supu mengangguk seraya bersenyum. Ia tidak mengenali nona itu, yang telah berpisah dari ianya selama delapan atau sembilan tahun. Sekarang si nona cilik telah menjadi dewasa, dandanannya pun lain sekali.

Kee Loojin menambah susu dan teh, ia bicara sama tetamunya ini seperti mereka adalah orang-orang asing benar- benar. Bun Siu pun belajar kenal pada pemuda dan pemudi itu. Ia sendiri mengaku bernama Tangsanli, gadisnya pemilik sebuah peternakan di tempat jauhnya dua ratus lie dari situ.

Supu beberapa kali melongok ke jendela, untuk melihat udara, meskipun sebenarnya, dengan mendengar suara hujan, ia sudah dapat tahu hujan tak akan berhenti lekas-lekas.

Aman berkuatir, diam-diam ia tanya Supu kalau-kalau gubuknya si orang tua ini tidak bakal ambruk diserang hujan dan angin keras itu.

"Aku hanya menguatirkan wuwungan tidak dapat menahan beratnya es dan salju," kata Supu. "Nanti aku naik ke atas, untuk menyingkirkannya."

"Awas, nanti kau kena tertiup angin dan terbawa pergi!" kata si pemudi.

Supu tertawa ketika ia menjawab: "Di tanah telah bertumpuk banyak salju, umpama kata benar aku jatuh, toh tidak nanti membahayakan!..." Pikiran Bun Siu kusut. Ketika ia mengangkat cawannya, tangannya bergemetaran. Ia mesti menyaksikan eratnya hubungan muda-mudi itu. Ia sendiri tidak tahu mesti mengatakan apa. Sahabatnya di masa kecil duduk dekatnya tetapi mereka tidak dapat bicara satu dengan lain dengan leluasa seperti duluhari. la pun memikirkan apa benar-benar Supu tidak mengenalinya. Di lain pihak, ia ingin Aman tidak mengetahui tentang persahabatan mereka...

Hari makin gelap. Diam-diam Bun Siu menggeser diri, supaya Aman dan Supu dapat ketika untuk saling menggenggam tangan mereka, untuk bicara tanpa terdengar lain orang. Cahaya api, yang memain, pula memain di antara mukanya muda-mudi itu. Cuma muka Bun Siu tak terlihat, sebab ia berpisah cukup jauh dari unggun itu.

Kembali Kee Loojin menyajikan barang makanan. Hanya mereka bertiga agaknya tidak ada napsu daharnya...

Selagi ruang ada sangat sunyi itu, di luar terdengar suara larinya kuda di atas salju. Bun Siu mendengar, orang lagi mendatangi ke gubuknya itu. Ia pun mengetahui, kuda itu seperti sudah letih sekali.

Kee Loojin dapat mendengar suara kuda setelah datangnya sudah dekat sekali.

"Kembali ada orang berlindung dari angin dan hujan..." katanya

Supu berdua Aman mungkin mendengar dan mungkin tidak, mereka tidak mempedulikan, mereka lebih asyik menggenggam terus tangan mereka satu dengan lain, untuk bicara saling berbisik...

Hanyalah sesaat, seorang penunggang kuda tiba lebih dulu. Lantas terdengar ia menggedor pintu, bukan lagi mengetuk, dan suaranya pun keras dan kaku, tidak miripnya orang yang mau mohon menumpang singgah. Dengan alis berkerut, terpaksa Kee Loojin membukai pintu. Di depannya terlihat seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan baju lapis kulit kambing, sedang di pinggangnya tergantung pedang.

"Angin dan salju besar sekali, kudaku tidak dapat berjalan terus!" dia kata keras. Dia bicara dalam bahasa Kazakh akan tetapi tidak lancar dan suaranya pun tidak wajar. Dengan mata tajam, ia memandangi semua orang yang berada di dalam ruang itu.

"Silahkan masuk," Kee Loojin mengundang. "Silahkan duduk! Mari minum arak!"

Tuan rumah yang tua ini ramah-tamah, ia lantas menuangi arak dan menyuguhkannya.

Tetamu itu meminum araknya sekali cegluk, lantas dia duduk di dekat api. Dia membuka baju luarnya, hingga di kiri kanan pinggangnya terlihat juga sepasang pedang kecil dengan gagang emas yang berkeredepan.

Bun Siu dapat melihat sepasang pedang itu, hatinya bercekat, kerongkongannya seperti tersumbat sesuatu. Yang lebih hebat matanya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing. Tapi ia masih dapat berkata di dalam hatinya: "Inilah pedang ibu!"

Meskipun waktu ibunya terbinasa ia masih berusia belum sepuluh tahun, pedang ibunya itu Bun Siu ingat baik sekali, ia mengenalinya tanpa keliru. Maka ia lantas melirik pada ini tetamu yang kasar. Segera ia ingat orang ini ada satu di antara tiga kepala penyamun yang mengejar-ngejar mereka satu keluarga. Ia sendiri telah berubah banyak tetapi penjahat itu, yang dulu berumur tiga puluh lebih dan sekarang menjadi empat puluh lebih, sedikit perubahannya. Tapi ia kuatir orang nanti mengenali padanya, ia tidak mau mengasih lihat mukanya. Ia pikir pula: "Coba angin dan salju tak sebesar ini tidak nanti aku bertemu sama Supu dan ini manusia jahat." "Tuan dari mana?" Kee Loojin bertanya. "Tentu dari tempat jauh ya?"

"Hm!" jawabnya tetamu itu, yang kembali menenggak secawan arak.

Itu waktu tibalah penunggang kuda yang kedua. Kali ini pintu diketuk dengan perlahan, seperti juga orang itu takut membikin kaget tuan rumah.

Kee Loojin kembali membukai pintu, mengundang tetamunya masuk.

Tubuh orang itu menggigil, mukanya pun ditutupi sabuk bulu kambing dan kopiahnya dibelesaki menutupi seluruh jidatnya, hingga ia terlihat saja kedua matanya. Ia mengasih dengar suara aa-u-u dan kedua tangannya digerak-geraki.

Nyata ia seorang gagu.

Dengan gerakan tangan, Kee Loojin mengundang orang berduduk, terus ia menyuguhkan arak.

Si gagu memberi hormat sambil menjura dalam, kepalanya digoyangi. Ia menolak meminum arak. Dengan itu ia menghaturkan terima kasihnya. Ia kedinginan sangat, meski sudah mendampingi api, ia masih tidak mau membuka baju atau kopiahnya atau sabuknya. Ia bahkan duduk merengkat.

"Kau minum arak, rasa dingin akan berkurang," kata Bun Siu, yang merasa berkasihan.

Kembali si gagu aa-u-u ia seperti tak mengerti omongan orang.

"Siapa gagu, dia pun tuli," kata Kee Loojin. "Dia ini tidak mendengar suara orang." Bun Siu tertawa "Ya, aku lupa!" katanya Di situ berkumpul semuanya enam orang bersama mereka, Supu dan Aman tidak dapat lagi berbisik-bisik. Ketika Supu sudah mengawasi tuan rumah sekian lama, ia berkata: "Empee, kaulah orang Han. Dapatlah aku menanyakan tentang sesuatu orang?"

"Siapa ya?" si empee balik menanya.

"Dialah seorang nona Han dengan siapa aku pernah hidup bersama selagi kita masih kecil, sering kita main-main berdua," menerangkan Supu.

Bun Siu terkejut, ia lekas melengos.

"Dia bernama Lie Bun Siu," Supu menambahkan sebelumnya si orang tua menyahuti. "Sudah selang delapan atau sembilan tahun kita berpisah lantas kita tidak bertemu pula satu dengan lain. Aku ingat dia membilangnya bahwa ia tinggal bersama seorang tua yang bungkuk punggungnya. Bukankah orang tua itu empee adanya?"

Kee Loojin batuk-batuk. Ia ingin memperoleh penghunjukan dari Bun Siu tetapi si nona lagi berpaling ke lain arah. Ia menjadi bingung hingga ia cuma dapat berkata: "Ah, ah..."

"Dialah nona yang nyanyinya paling merdu," berkata pula Supu, "hingga orang mengatakan suaranya lebih merdu daripada nyanyiannya si burung nilam. Selama beberapa tahun ini tidak pernah aku mendengar pula nyanyiannya itu. Empee, apakah dia masih tinggal bersama empee disini?"

"Tidak... tidak..." kata si empee, tak lancar. "Dia tidak..." "Oh, kau maksudkan si nona Han yang dulu tinggal

bersama empee ini..." tiba-tiba Bun Siu campur bicara. "Aku

kenal dia Dia telah meninggal dunia pada enam atau tujuh tahun yang lalu!"

Pemuda Kazakh itu kaget.

"Ah, dia telah meninggal dunia!" serunya. "Kenapa dia mati?" Kee Loojin melirik Bun Siu. "Dia sakit... sakit..." ia menyahuti.

Matanya Supu menjadi merah.

"Ketika kita masih kecil, biasa kita menggembala kambing bersama," ia bilang, suaranya parau. "Dia sering bernyanyi untuk aku mendengari, dia juga gemar mendongeng. Baru beberapa tahun tidak bertemu, aku tidak sangka dia telah menutup mata."

"Ya, kasihan anak itu..." kata Kee Loojin. Supu mendelong mengawasi perapian.

"Dia pernah membilangi aku bahwa ayah dan ibunya telah dibinasakan orang jahat," katanya pula kemudian, "karenanya dia jadi hidup sebatang kara dan menderita di sini..."

"Apakah nona itu cantik?" Aman tanya. Baru sekarang dia turut bicara.

"Ketika itu aku masih kecil, aku tidak ingat jelas," menjawab Supu. "Aku cuma tahu dia pandai bernyanyi, suaranya merdu, serta dia gemar bercerita, dan ceritanya menarik hati..."

Sekonyong-konyong si orang kasar menyeletuk: "Kau maksudkan si bocah Han? Kau bilang dia she Lie? Bahwa ayah dan ibunya terbinasakan orang hingga dia terlantar seorang diri?"

Nyerocos pertanyaannya orang asing ini.

"Benar. Kau juga kenal dia?" Supu menjawab seraya balik bertanya.

Orang itu tidak menjawab, hanya dia menanya pula: "Dia menunggang seekor kuda putih, bukankah?"

"Benar," menyahut Supu. "Jadi kau pun telah mengenal dia." Mendadak orang itu berbangkit.

"Dia mati di sini?" dia tanya Kee Loojin, bengis.

"Ya," menyahut si orang tua, yang terpaksa bersandiwara terus.

"Kau tentunya menyimpan baik-baik segala barang peninggalannya?" tanya orang asing itu.

Kee Loojin heran, ia mengawasi orang sambil melirik.

"Apa hubungannya barang orang itu denganmu?" ia tanya. "Ada serupa barangku telah dicuri nona itu!" menyahut si

tetamu kasar. "Aku telah cari dia di mana-mana kiranya dia sudah mampus..."

Tiba-tiba Supu berbangkit.

"Kau ngoceh tidak keruan!" bentaknya. "Cara bagaimana Nona Lie dapat mencuri barangmu?"

"He, kau tahu apa?" balik tanya orang itu.

"Nona Lie bersama aku hidup bersama-sama semenjak masih kecil," kata Supu.

"Aku tahu dialah satu nona yang baik hatinya, tidak nanti dia mencuri barang orang!"

Orang itu melirik, sikapnya tawar.

Post a Comment