Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 24

Memuat...

"Tentu saja. Aku sering memikirkannya!*' "Kenapa kau tidak pergi menjenguk kuburannya?"

"Aku akan pergi melihatnya nanti setelah aku dapat mencari si orang tua bungkuk itu. Aku hendak mengajak dia bersama.”

"Umpama kata kuburannya itu melekah, dapatkah kau lompat masuk ke dalamnya?" Supu tertawa.

"Cerita itu ialah dongeng, itu bukan kejadian yang benar." "Umpama kata nona itu sangat memikirkan kau dan dia

mengharapi siang dan malam untuk kau senantiasa menemui

dia, karena mana benar-benar terjadi kuburannya melekah, maukah kau melompatnya untuk dapat menemani dia?"

Supu menghela napas. "Tidak," sahurnya, jujur.

"Nona itu melainkan sahabat eratku semasa masih kecil, sedang aku sendiri, selama hidupku ini, aku cuma mengharapi Aman yang senantiasa menemani aku."

Bun Siu menanya terlebih jauh. la telah menemui jawaban yang ia harap-harap. Kalau ia menanya terus, mungkin ia akan jadi sangat bersusah hati.

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba seekor burung malam nilam mengasih dengar suaranya-suara yang menggiurkan tetapi juga menyedihkan.

"Duluhari itu aku suka menangkap burung nilam untuk dibuat main hingga dia mati," berkata Supu, "akan tetapi setelah aku bertemu sama nona itu, aku dapat menyingkirkan kebiasaanku itu. Si nona sangat menyukai burung nilam, waktu aku menangkapnya seekor, ia mengasihkan aku gelang kumala asal aku melepaskan burung itu. Sejak itu aku talak menangkap lagi burung, hanya aku terus mendengari suaranya setiap malam Kau dengar, tidakkah lagunya sangat menarik hati?" Bun Siu agak terkejut "Bagaimana dengan gelang kumala itu?" ia tanya. "Apakah itu masih ada padamu?"

"Itulah kejadian sudah lama. Gelang itu telah pecah, sudah hilang."

"Ya, itu kejadian sudah lama, gelang itu telah pecah, sudah hilang..." katanya, mengulangi Sang burung bernyanyi terus. Supu tidur bermimpi, memimpikan Aman membujuk! ia agar ia jangan masgul. Ketika ia sadar, ia kata pada kawannya: "Nona Kang, aku mimpi bertemu Aman..."

Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Si "Nona Kang" telah tidak ada di dekatnya. Entah kapan perginya dia. Entah ke mana perginya...

Oood~wooO

Supu mengawasi ke tempat tidurnya Bun Siu. Ia merasa si nona aneh kelakuannya. Ia cuma heran, ia tidak memikirkan lama. Lantas ia meraup salju, untuk mencuci mukanya, untuk dimakan juga. Setelah itu ia naik kudanya dan pergi.

Kira-kira tengah hari, pemuda ini mendengar ramainya tindakan kaki kuda. Ia menuntun kudanya mendekati bukit, untuk melihat Ia mengawasi sampai ia melihat nyata. Itulah rombongan orang-orang Tiehyen yang menjadi suku bangsanya. Ia mengenali dari dandanan mereka. Mereka pada membeka! senjata, jumlahnya lebih daripada tiga ratus jiwa. Yang jalan di depan ada Aman serta tiga ketua mereka. Di damping Aman masih ada seorang lain, satu pemuda, ialah Sangszer. Setiap orang itu membawa kantung. Terang mereka itu mau pergi ke istana rahasia untuk mengeduk harta karun.

"Syukur,” pikir Supu, "coba aku tidak mendengar pembicaraan kawanan penyamun itu, yang hendak menggurui akal licin, pasti mereka ini akan terjebak semuanya ke dalam liang perangkap...” Maka ia lantas lompat naik atas kudanya, ia melarikannya untuk memapak! rombongan bangsanya itu. Ia berteriak-teriak: "Aku Supu! Aku hendak bicara! Ada urusan sangat penting!**

Si ketua yang kumisnya ubanan mengenali si anak muda, ia menjadi gusar. "Supu” tegurnya, "apa maumu datang kemari? Tahukah kau aturan kaum kita terhadap orang yang sudah diusir?"

Bangsa Kazakh ini bangsa penggembala yang tidak ketentuan tempat kediamannya, mereka pergi ke mana mereka suka, meski begitu, ke mana juga mereka pergi, seorang bangsanya yang telah diusir tidak dapat menemui mereka pula, dan orang itu juga tidak dapat bicara sama mereka. Maka itu, perbuatan Supu ini melanggar aturan mereka itu.

"Aku hendak membicarakan urusan sangat penting," kata Supu, membelai.

"Kau masih tidak mau lekas pergi?" si ketua menegur. "Asal kau berani bicara lagi satu patah, aku akan menitahkan melepaskan anak panah!" Ia lantas meneruskan kepada Sangszer: "Siapkan panahmu!"

Sangszer menurut, ia laatas bersiap.

Tapi Supu tidak mau pergi, bahkan dia kaburkan kudanya datang mendekati

"Aman!" katanya pada kekasihnya, "jangan kau pergi ke istana rahasia! Berbahaya!"

Matanya si nona berlinang.

"Lekas kau pergi!" bilangnya. "Jangan kau bicara sama aku!"

Sementara itu Supu melihat ancaman anak-anak panah. Tapi ia ingat baik-baik ancaman bahaya dari Hok Goan Liong. Maka ia kata: "Aku mesti bicara denganmu!"

"Panah!".berseru si ketua, murka.

Sangszer lantas melepaskan cekatannya kepada tali panahnya, yang telah ditarik sedari tadi. Supu kaget. Tapi anak panah mengenai leher kuda tanpa melukakan. Anak panah itu telah dibuang tajamnya.

"Supu, dengar!" kata pemuda itu. "Mengingat persahabatan kita duluhari, panahku itu tidak ada kepalanya, tetapi jikalau kau tetap tidak mau mendengar titahnya ketua kita, panahku yang kedua tidak mengenal kasihan lagi!"

Dan ia menyiapkan anak panahnya yang kedua itu. Benar, anak. panah ini berkepala tajam, kepala itu bersinar di cahaya matahari.

"Bapak ketua, istana rahasia berbahaya..." kata Supu. Dia belum menutup mulurnya, atau si ketua telah memerintahkan: "Panah!"

Menyusul itu beberapa batang anak panah menyambar ke arah Supu, suaranya mengaung. Hanya semua itu lewat di samping si anak muda. Inilah tanda, orang masih mengingat sesama suku.

Si ketua lantas menyiapkan panahnya, ketika ia hendak memanah. Aman maju dengan kudanya, menghalang di hadapannya. Nona ini berkata kepada Supu: "Supu, pergi lekas! Kau telah membunuh ayahku, untuk selamanya tidak dapat aku baik kembali denganmu!..."

Justru itu sebatang anak panah menyamber pundaknya anak muda itu!

Supu melihat bahwa ia telah tidak mempunyai harapan pula, dengan terpaksa, ia kaburkan kudanya. Ia menahan sakit, setelah mencabut anak panah di pundaknya itu, ia membalut lukanya. Ia masih melihat tiga ratus lebih orang- orang bangsanya menuju ke arah istana rahasia. Ia pun melihat Aman beberapa kali menoleh kepadanya, sinar matanya menunjuk entah dia mencinta atau membenci, berduka atau menyesal... Sambil menungkuli rasa sakitnya, Supu berpikir. Dapatkah ia membiarkan orang-orang bangsanya itu menempuh bahaya?

Di antara mereka itu banyak kawan-kawan akrabnya. Tidak! Ia mengambil putusan. Maka setelah rasa nyerinya berkurang, ia naik atas kudanya, untuk mengaburkannya, guna menyusul rombongan bangsanya itu.

Hari ini Supu mesti mundar-mandir tetapi ia melupakan letihnya. Sampai sore baru ia dapat singgah, sedikit jauh diluar tendanya rombongan bangsanya itu. Ia tidak berani menemui Aman atau lainnya orang. Demikian pula pada besoknya. Hanya ia melombai mereka, hingga ia sampai terlebih dulu di muka istana rahasia. Ia bersembunyi di antara pepohonan. Dari magrib ia menunggu sampai tengah malam, baru ia melihat rombongan bangsanya tiba. Terus saja, dengan banyak berisik, rombongan itu masuk ke dalam gua. Ia menguntit mereka Karena ia sudah kenal baik istana itu, ia mengambil lain jalan.

Aman yang memimpin rombongannya Ia mengambil jalan yang ia telah kenal. Setibanya di dalam, ia berduka, lenyap kegembiraannya selama di tengah jalan. Di sini ia ingat ayahnya, kebinasaan ayah itu serta ayah Supu, bagaimana karenanya ia menjadi berpisah dari Supu.

"Supu cuma menakut-nakuti kita!" berkata si ketua selagi mereka berjalan terus. "Katanya istana rahasia ini berbahaya, buktinya di sini aman! Makin besar dia jadi makin tidak keruan, sampai dia berani mendustai"

Mereka maju terus. Sesudah melewati beberapa kamar, lantas mata semua orang menjadi silau. Di depan mereka berserakan banyak emas, perak dan mutiara: Semua orang menjadi heran dan kagum. Mereka girang luar biasa. Sesudah tercengang sejenak, lantas semua bekerja, mengisikan kantung bekalan mereka dengan semua barang berharga itu. Tengah mereka itu bekerja, tiba-tiba pintu di samping mereka terpentang, di situ muncul seorang Han dengan tangan memegang golok panjang. Dia lantas membentak: "Kawanan budak tidak tahu mampus! Kenapa kamu berani memasuki istana ini dan mencuri hartaku? Lekas antari jiwamu!"

Orang-orang Kazakh itu menjadi kaget

"Berandal Han! Berandal Han!" mereka berteriak-teriak.

Lalu dua anak muda mendahului maju menyerang.

Berandal itu gagah, setelah beberapa jurus, ia berhasil melukakan pundaknya satu pemuda. Atas itu, lagi dua pemuda maju, untuk membantui kawannya. Si berandal mundur, ia dirangsak. Tiba-tiba ada lagi pintu terbuka, lagi satu orang muncul. Dia memegang tombak, ujung tombaknya tahu-tahu telah nancap di dadanya seorang muda, hingga dia ini lantas roboh, jiwanya melayang!

Semua orang Kazakh terkejut Si ketua menghela napas, ia berkata perlahan: "Semua mengepung dulu berandal! Harta ini kita urus belakangan!” Di dalam hatinya, ia pun pikir: "Kalau begini, Supu tidak mendusta..."

Kedua penjahat Han itu dikejar melintasi beberapa kamar, lantas mereka memisah ke kiri dan kanan.

"Rombongan kesatu dan kedua pergi ke kiri, mengejar berandal itu!” si ketua berseru. "Rombongan ketiga dan keempat turut aku ke kanan!”

Perintah itu diturut. Rombongan Kazakh itu memang telah dipecah empat, masing-masing ada pemimpinnya sendiri.

Ketua ini dan rombongannya maju cepat. Di sebuah pintu pinggiran, yang daun pintunya terpentang secara tiba-tiba, mereka dipegat seorang Han, yang menyerang mereka. Mereka melawan. Hanya sebentar, berandal itu lari balik. "Kejar!” si ketua menitahkan. Berandal itu bertemu sama kawannya, terus mereka lari berpisahan.

"Rombongan ketiga mengejar ke kiri!” si ketua memerintahkan.

"Rombongan keempat turut aku” Dan ia mengubar ke kanan.

"Bapak ketua!” mendadak Aman berkata. "Jangan-jangan berandal menggunai tipu, mereka menghendaki kita berccrai- berai!"

Si ketua mengangguk. "Jangan takut! Orang kita besar jumlahnya!*' katanya kemudian.

Benar saja, di sebelah depan muncul pula lain berandal, dia bergabung sama berandal yang lagi dikejar itu. Hanya sebentar, mereka pun lari berpisahan.

Kali ini si ketua tidak memisah rombongannya, ia hanya menitah mengejar terus berandai yang lari ke kiri.

Penjahat itu berlari bergantian ke kiri dan kanan, lantas dia menolak pintu, untuk masuk ke dalam sebuah kamar besar. Dia baru masuk atau dari belakang pintu berkelebat sebuah sinar mengkilap, terus dia berteriak dan roboh terluka, sebab kakinya kena terbacok dan goloknya terlepas mental.

Segera rombongannya si ketua mengenali, penyerang itu ialah Supu.

Post a Comment