Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 11

Memuat...

"Empee," katanya pula, "mari kasih aku mencoba. Kau jangan takut, aku tidak nanti mencelakai kau."

Hoa Hui mengawasi, keningnya mengkerut. Ia agaknya berpikir banyak tetapi tetap ia tidak dapat mengambil keputusan.

Bun Siu mencabut jarum beracun dari ujung tongkat, untuk dipulangi.

"Mari kasih aku melihat luka di punggungmu itu," katanya pula. "Jikalau aku mengandung maksud jahat, kau tusuklah aku dengan jarummu ini!"

Hoa Hui mengawasi tajam. "Baiklah!" akhirnya ia kata. Dan ia lantas membuka bajunya, untuk memperlihatkan punggungnya. Mengawasi punggung orang itu, Bun Siu mengeluarkan seruan perlahan, la menampak banyak sekali titik hitam, tanda luka. Entah berapa ratus jumlahnya titik itu.

Hoa Hui rupanya dapat menduga apa yang si nona pikir, ia kata: "Aku telah menggunai segala macam daya, aku tetap tidak dapat mencabut semua jarum itu."

Lukanya Itcie Cin Thianlam ini disebabkan kecuali jarum juga bekas terkena batu tajam, bekas digaruk. Bun Siu tidak mengenali, yang mana ada jarumnya yang berbisa. Ia ngeri, terharu dan bingung.

"Sebenarnya di mana jarum itu nancapnya?" akhirnya ia tanya.

"Semuanya tiga batang," Hoa Hui menjawab. "Yang satu dijalan darah pekhu hiat, satu lagi di jalan darah ciesit hiat, dan yang ketiga ialah di jalan darah ceyang hiat..."

Sembari berkata begitu, ia mengusap ke punggungnya, untuk menjelaskan ketiga jalan darah itu. Benar-benar sulit untuk mengetahui bekas tusukan jarum itu. Bun Siu terkejut. "Semuanya tiga batang?" katanya. "Empee bilang satu..."

Kembali Hoa Hui gusar, ia membentak: "Mulanya kau tidak menyebut hendak mencabut jarum itu! Buat apa aku omong terus terang padamu?"

Bun Siu mengerti kenapa orang mendusta, tiga batang dikatakan satu. Teranglah ia telah dicurigai keras sekali. Rupanya dia terkena tiga batang, karenanya kepandaian silatnya ludas, lalu dia membohong bersumpah tak sudi sembarangan menggunai ilmu silatnya. Ia tidak suka cara orang ini tetapi ia berkasihan, ingin ia memberikan pertolongannya. Maka ia tidak memperdulikan sikap kasar dan aneh itu. Ia sekarang memikirkan daya untuk mencabut ketiga batang jarum itu.

"Apakah kau telah dapat melihatnya?" Hoa Hui tanya. "Aku tidak melihat gagangnya jarum, empee. Bagaimana itu harus dicabutnya?"

"Seharusnya digunai senjata tajam memotong dagingnya, baru jarum itu dapat dilihat. Jarum itu telah masuk beberapa dim, memang sukar untuk melihatnya..."

Kata-kata yang belakangan dikeluarkan dengan sedikit gemetar.

"Sayang aku tidak punya pisau kecil," kata si nona.

"Aku juga tidak punya... Eh, itu golok panjang!" ia menunjuk ke tanah. "Kau pakai itu saja!"

Golok itu tajam dan mengkilap, terletak melintang di samping tubuhnya si penjahat she In. Si penyamun sudah mati, goloknya masih ada, golok itu mendatangkan rasa jeri. Bun Siu pun bersangsi untuk memakai golok itu.

Hoa Hui mengawasi, ia bisa menerka kesangsian si nona, lalu ia kata perlahan dan sabar: "Nona Lie, asal kau menolongi aku mencabut semua jarum itu, akan aku menghadiahkan kau banyak barang permata. Tidak nanti aku memperdayakan kau. Benar-benar aku mempunyai banyak sekali permata!"

"Aku tidak menghendaki barang permata, aku pun tidak ingin ucapan terima kasihmu," menyahut Bun Siu. "Asal kau tidak merasa sakit, itu sudah cukup untukku."

"Baiklah kalau begitu!" kata Hoa Hui. "Sekarang kau boleh mulai!"

Bun Siu mengambil golok itu.

"Empee," katanya, "aku akan perbuat apa yang aku bisa, harap kau menahan sakit."

Lantas nona ini memotong-motong bajunya si penyamun she In, untuk membuat juiran-juiran, guna nanti dipakai menepas darah dan membalut, setelah itu, lebih dulu ia memperhatikan jalan darah pekhu hiat, lalu dia mulai bekerja. Ketika kulit dan daging Hoa Hui dipotong, darahnya lantas mengalir keluar.

Hoa Hui tidak kesakitan, mengeluh pun tidak. "Sudah kelihatan?" bahkan dia menanya.

Bun Siu tidak lantas menyahuti, ia mencabut tusuk kondenya, guna memakai itu untuk mencari jarum. Selang sejenak, ia berhasil. Jarum itu telah nancap ke tulang. Maka ia lantas memakai dua jari tangannya, akan menjepit gagang jarum, buat terus menariknya.

Hoa Hui menjerit, dia pingsan. Bun Siu tidak heran atau kaget, bahkan itu ada baiknya, untuk mengurangi rasa nyeri orang, la menggunai ketika baik ini untuk lekas-lekas membelek lagi dua kali, untuk mencabut dua batang jarum lainnya. Maka tak lama, selesailah ia. Terus ia membalut luka- luka itu.

Selang sekian lama, Hoa Hui tersadar perlahan-lahan. Ia membuka matanya. Lantas ia melihat tiga batang jarum, yang hitam warnanya, la tahu itulah jarum beracun, yang telah menyiksa padanya. Maka ia kata sengit pada jarum itu: "Dua belas tahun lamanya kamu mengeram di dalam dagingku, baru hari ini kamu keluar!" Terus ia menghadapi Bun Siu, akan berkata: "Nona Lie, kau telah menolongku, aku tidak dapat membalas budimu, maka ini tiga batang jarum aku haturkan kepadamu. Jangan kau mencela karena jarum ini telah dua belas tahun terpendam di dalam tubuhku, sebenarnya racunnya tidak menjadi berkurang."

Bun Siu menggeleng kepala. "Aku tidak menghendaki itu," bilangnya.

Hoa Hui heran. "Bukankah kau telah menyaksikannya sendiri lihainya jarum ini?" katanya. "Dengan kau mempunyai sebatang saja dari jarum ini, orang sudah jeri bukan main terhadapmu." "Aku tidak menginginkan lain orang takut padaku," kata si nona perlahan. Di dalam hatinya, ia pikir: "Asal orang menyukai aku, itulah terlebih baik daripada jarum ini..."

Hoa Hui berdiam. Karena ia mengeluarkan banyak darah bekas dibelek dagingnya ia menjadi lemah, akan tetapi sebaliknya, ia merasa lega, semangatnya terbangun. Ia lantas merapatkan matanya, untuk beristirahat, untuk tidur. Kira satu jam kemudian, ia mendusin dengan kaget. Ia mendengar suara berisik, dari cacian dan teriakan berulang-ulang di luar gua. Itulah suaranya si penyamun she Song, yang rupanya telah datang pula.

Ia mengeluarkan kata-kata kotor, untuk alamatnya Bun Siu dan Hoa Hui. Ia tidak berani lancang masuk, ia sengaja memancing agar orang menjadi panas hatinya dan keluar.

Hoa Hui berbangkit dengan hatinya panas.

"Jarum di tubuhku telah dicabut keluar, orang mengira aku takut!" katanya mendongkol. Akan tetapi ketika ia mengerahkan tenaganya, ia gagal. Ia masih terlalu lemah. Ia menghela napas. Ia kata: "Sudah terlalu lama jarum mengeram di dalam tubuhku, agaknya dengan beristirahat tiga empat bulan, belum tentukesehatan dan tenagaku pulih kembali..."

Di luar, si Song masih saja memuntahkan kata-katanya yang kotor. Berulangkali dia mendamprat: "Bangsat tua! Bangsat tua bangka!"

Dalam panasnya, Hoa Hui kata: "Apakah aku mesti menanti kau mencaci aku sampai empat bulan lamanya?" Lantas ia mendapat satu pikiran. Maka ia kata pada Bun Siu: "Nona Lie, mari aku ajarkan kau ilmu silat, lantas kau keluar, kau hajar binatang itu!"

"Berapa lama aku mesti meyakinkannya untuk aku bisa menggunainya?" Bun Siu tanya. "Toh tidak dapat terlalu lekas, bukan?" "Jikalau aku mengajarkan kau ilmu jari tanganku, untuk menotok," menjawab Hoa Hui, "atau lainnya ilmu seperti tangan kosong atau golok, sedikitnya kau membutuhkan tempo setengah tahun, tetapi sekarang temponya mendesak, kau harus belajar dengan cepat. Untuk ini ada jalannya, ialah kau membutuhkan senjata yang istimewa. Cukup kau menggunai satu atau dua jurus. Hanya di dalam gua ini, di mana bisa didapatkan alat senjata yang diperlukan itu?"

Habis berkata begitu, Hoa Hui berdiam, otaknya bekerja. Bun Siu pun berdiam saja, ia tidak tahu apa itu yang dimaksudkan senjata istimewa.

Hanya sejenak Hoa Hui berpikir, segera ia mengasih lihat roman girang.

"Ada!" katanya. "Pergi kau ambil itu dua buah labu dan juga sehelai rotan. Mari kita main bandering liusengtwie!" Ia menunjuk.

Bun Siu melihat buah labu tergantung di mulut gua, semuanya sudah kering. Ia pergi mengambil dua buah, yang ia kutungi, lalu mengambil juga rotan yang diminta. Ia serahkan itu kepada si empee kurus kering.

"Bagus!" kata Hoa Hui girang. "Coba kau membuat sebuah liang kecil pada labu itu, lalu isikan pasir."

Si nona menurut, ia lantas bekerja. Benarlah labu itu, setelah diisi pasir dan beratnya masing-masing tujuh atau delapan kati, dapat merupakan bandering.

"Sekarang aku akan mengajari kau satu jurus Senggoat cenghui," kata Hoa Hui sambil menyambut! buah labu dari tangan si nona. "Aku akan menjalankan jurus itu, kau lihatlah baik-baik dan ingati di luar kepala."

Benar-benar, dengan perlahan, jago Selatan itu memutar banderingnya yang istimewa itu.

Bun Siu mamasang mata, ia mengingat baik-baik. "Senggoat cenghui" itu, yang berarti jurus "Bintang dan rembulan bersaingan kegemilangan", yang kiri untuk menyerang jalan darah siangkiok hiat di antara dada dan perut, yang kanan guna menyerang punggung di mana ada jalan darah lengtay hiat.

"Sekarang kau coba," kata si pelajar kemudian.

Bun Siu menuruti, menelad pelajar itu. Ia telah mempunyai dasar, ia dapat mengingat dengan baik dan cepat. Setelah beberapa kali penghunjukan, ia bisa menjalankannya dengan baik, maka itu, mulai dari perlahan, ia mencepatkan. Sesudah paham benar, ia baru berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah bermandikan keringat setelah berlatih satu jam tanpa salah.

"Aku bebal, belajar sebegini saja aku memakai banyak tempo," katanya seraya menyusuri peluhnya.

"Kau tidak bebal, sebaliknya kau cerdas sekali!" Hoa Hui memuji. "Kau jangan meragukan kefaedahannya jurus ini. Untuk lain orang, dia perlu tempo delapan sampai sepuluh hari untuk dapat belajar lekas seperti kau ini. Untuk melawan seorang ahli, jurus ini tidak berarti, tetapi buat merobohkan dua bangsat di luar, itulah berlebihan. Sekarang kau beristirahat dulu, sebentar kau ke luar dan kau labraklah mereka!"

Bun Siu heran bukan main. "Cukup dengan ini satu jurus?" ia tanya.

Hoa Hui bersenyum. "Ya," sahutnya. "Dengan ini satu jurus, kau telah terhitung sebagai muridku. Muridnya Itcie Cin Thianlam tak memerlukan dua jurus guna menghadapi kedua kurcaci itu! Apakah kau pun tidak kuatir nanti merusak nama gurumu?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment