"Dia justru telah mencuri barangku!" ejeknya. Supu memegang gagang golok di pinggangnya.
"Siapa namamu?" dia tanya. "Aku lihat kau bukan orang Kazakh! Mungkin kaulah si penyamun bangsa Han!"
Orang itu tidak menyahuti, dia hanya bertindak ke pintu, lalu mementangnya, hingga angin dingin menghembus masuk, membawa sekalian banyak lempengan salju. Di luar, salju melulahan di mana-mana orang dan binatang pasti tidak dapat berlalu-lintas lagi di sana Dia pikir: "Di waktu begini tentulah tidak bakal ada orang datang kemari! Di sini ada dua nona yang lemah, seorang tua yang lemah juga dan si gagu itu yang bercacad, asal aku menggeraki tanganku, dia tentu roboh! Tinggal ini satu pemuda, yang romannya kekar, dia mungkin memerlukan beberapa jurus untuk merobohkannya." Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan.
"Benar aku orang Han!" katanya, menantang. "Habis kau mau apa? Aku she Tan, namaku Tat Hian, orang kangouw menyebutnya Cheebong Kiam, si Pedang Ular Naga Hijau! Binatang cilik, kau dengar tidak?"
Supu tidak mengetahui tentang kaum kangouw ia menggeleng kepala.
"Aku belum pernah mendengar," sahutnya. "Kau jadinya penyamun bangsa Han?"
"Tuan besarmu satu piauwsu, hidupnya justru membasmi perampokan!" kata Tat Hian pula "Mengapa kau bilang aku penyamun?"
Mendengar orang bukannya penyamun dan keterangan itu ia mau percaya, sikapnya pemuda Kazakh ini menjadi sabar. Ia kata: "Bagus kalau kau bukan penyamun bangsa Han! Aku memang tahu banyak orang Han orang baik-baik, tetapi banyak bangsaku yang tidak mempercayainya. Untuk kau, baiklah kau jangan menyebut-nyebut pula bahwa Nona Lie itu telah mengambil milikmu!"
Tapi Tan Tat Hian tertawa dingin.
"Perempuan itu sudah mati, untuk apa kau masih mengingati dia?" katanya.
"Semasa hidupnya, kita adalah sahabat-sahabat baik," berkata Supu, "maka itu setelah dia menutup mata, dia tetap sahabatku. Aku melarang orang omong jelek tentangnya!"
Tat Hian tidak ingin berebut mulut, maka ia menoleh kepada Kee Loojin. "Mana barang-barangnya si nona?" tanyanya.
Sementara itu Bun Siu bersyukur yang Supu masih ingat ia dan membelanya. "Dia tidak melupai aku, dia tidak melupai aku," katanya dalam hatinya "Dia tetap baik terhadapku..." Tapi ia heran untuk sikapnya Tat Hian itu. Pikirnya: "Tidak pernah aku mengambil barang dia, kenapa dia menuduh aku mencurinya?" Ia tak sadar akan kelicikan orang.
"Kau kehilangan barang apa, tuan?" tanya si empee Kee. "Nona kecil itu polos dan jujur, inilah aku ketahui, maka itu tidak dapat dia mengambil barang lain orang."
"Itulah sehelai peta!" menyahut Tat Hian setelah berdiam sejenak. "Untuk lain orang, peta itu tidak ada artinya, sebab... Itulah gambar lukisan yang dibuat almarhum ayahku, maka perlu aku mendapatkannya pulang. Nona Lie tinggal di rumahmu ini kau tentunya pernah melihat itu."
"Bagaimana sebenarnya lukisan itu? Apakah gambar sansui atau orang?" Kee Loojin menanya pula.
"Ya, gambar sansui..." sahut Tat Hian.
"Hm!" Supu tertawa dingin. "Gambar atau peta apa masih tidak tahu tetapi berani sembarang menuduh orang!"
Gusar Tat Hian, maka ia menghunus pedang kecilnya. "Bangsat kecil, apakah kau sudah bosan hidup?" dia
menegur. "Tuan besarmu biasa membunuh orang tanpa menutup matanya!"
Supu pun menghunus golok pendeknya.
"Tidak gampang untuk membunuh seorang Kazakh!" katanya menantang, suaranya dingin.
"Supu, jangan ladeni dia!" berkata Aman.
Supu mendengar kata, dengan ayal-ayalan ia masuki goloknya ke dalam sarungnya. Telah bulat tekadnya Tan Tat Hian mendapatkan peta dari Istana Rahasia Kobu, untuk itu sudah belasan tahun dia dan kawan-kawannya hidup di wilayah Hweekiang ini di mana mereka merantau ke banyak tempat, sekarang dia mendapat endusan tentang si Nona Lie, turunannya Pekma Lie Sam, mana dia mau melepaskannya dengan gampang? Dia memang bangsa kasar, tetapi dia bisa berpikir. Dia mengerti, tak sabar artinya gagal. Maka dia cuma mendelik kepada Supu, lalu dia berpaling pula kepada tuan rumah yang tua itu.
"Peta itu ialah sebuah gambar," katanya. "Itulah lukisan dari pemandangan alam di suatu tempat di gurun pasir, ada gunungnya, ada kalinya..."
Hati si empee terkesiap, sedang tubuh si gagu menggigil. "Kenapa kau ketahui peta atau gambar itu ada di
tangannya si Nona Lie?" empee Kee tanya pula kemudian.
"Apa yang aku bilang ini ada hal yang benar," menyahut Tat Hian. "Jikalau kau serahkan peta itu padaku, suka aku memberi hadiah besar padamu." Ia lantas merogoh keluar dua potong goanpoo emas, yang ia terus letaki di atas meja. Uang emas itu mengeluarkan sinar berkeredepan yang menggiurkan. Empee Kee berdiam berpikir. "Sebenarnya aku belum pernah melihat barang itu," katanya.
"Aku hendak melihat semua barang peninggalannya nona kecil itu!" kata Tat Hian.
"Ini... ini..." empee itu bersangsi. Tangan kirinya Tat Hian bergerak, maka sebatang pedang kecilnya nancap di meja.
"Ini... ini...apa?" bentaknya. "Nanti aku lihat sendiri!" la menyulut sebatang lilin, dengan bengis ia menolak pintu dalam, untuk masuk ke kamar. Paling dulu ia masuki kamarnya si empee. Ia membalik-balik tempat pakaian. Kemudian ia masuk ke kamarnya Bun Siu. Di sini ia mendapatkan baju si nona, yang tadi dia loloskan, untuk menyalin pakaian sebagai nona Kazakh. "Ha dia mati sesudah besar!" katanya si piauwsu penyamun. Ia lantas memeriksa dengan terliti.
Di situ ada pakaiannya Nona Lie semenjak dia masih kecil, benar pakaian itu sudah tidak dapat dipakai tetapi sebab itu buatan ibunya sendiri, dia menyimpannya terus. Melihat pakaian itu, Tat Hian samar-samar mengingat roman dan potongan tubuh Bun Siu semasa kecilnya itu, ketika mereka mengejar-ngejarnya di gurun pasir.
"Benar! Benar!" katanya girang. "Benar dia!" Hanya setelah mencari sekian lama, ia tidak mendapatkan barang yang ia cari.
Supu gusar bukan main menyaksikan orang mengaduk- aduk pakaian Bun Siu, beberapa kali sudah ia memegang goloknya, untuk dicabut, saban-saban Aman mencegahnya.
Kee Loojin sendiri saban-saban melirik kepada Bun Siu, sinar mata siapa menyala bagaikan api, hanya nona itu, mengenai sepak terjangnya Tat Hian, seperti tidak melihatnya. Maka masgullah orang tua ini. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana kalau penyamun ini mengenali si nona?
Bun Siu memperhatikan sikapnya Supu. Ia berduka, ia pun merasa puas.
"Benar-benar dia masih ingat aku," pikirnya. "Agaknya dia bersedia bertempur untuk membelai barang-barangku." Di lain pihak, ia tetap heran atas sikapnya si orang jahat. Pikirnya: "Mengapa dia berkeras menuduh aku mencuri barangnya? Peta apakah itu?"
Memang duluhari Bun Siu disesapkan peta oleh ibunya hanya ia belum tahu apa-apa, ibunya pun tidak sempat lagi memberi keterangan padanya, la juga tidak tahu yang kawanan piauwsu dari Chin Wie Piauwkiok, yang berubah menjadi penyamun, telah mencari itu selama sepuluh tahun lebih. Sia-sia Tat Hian menggeledah sekian lama, ia nampak masgul dan putus asa. Tapi tidak lama, mendadak dia menanya bengis: "Di manakah kuburannya?"
Kee Loojin melengak. Itulah pertanyaan yang ia tidak sangka.
“Dia dikubur jauh, jauh sekali..." sahutnya gugup. Tat Hian menurunkan pacul dari dinding.
"Mari antar aku!" katanya. Supu berbangkit.
"Kau hendak bikin apa?" ia tanya.
"Perlu apa kau campur urusanku?" bentak Tat Hian. "Aku hendak membongkar kuburannya, untuk memeriksa. Mungkin dia membawanya peta itu ke liang kubur!"
Supu menghunus goloknya, ia menghalang di pintu. "Aku larang kau menggali kuburannya!" ia kata nyaring.
"Minggir!" bentak Tat Hian. la mengayun paculnya, menyerang.
Supu berkelit ke kiri, terus ia menyerang.
Tat Hian melemparkan paculnya, ia mencabut pedangnya.
Maka "Trang!" kedua senjata mereka beradu keras. Atas itu keduanya sama-sama lompat mundur setelah mana, mereka maju pula, untuk bertempur di dalam ruang yang tak lebar itu.
Kee Loojin lantas menyingkir ke pinggiran, juga si gagu dan Aman. Cuma Bun Siu yang berdiri diam di dekat jendela.
Kemudian Aman mencabut pedang pendeknya Tat Hian, yang nancap di meja, dia berniat membantu Supu akan tetapi dia tidak memperoleh kesempatan guna menyelak di antara mereka Supu telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, ia berkelahi bengis sekali.
Tat Hian heran hingga ia berpikir: "Aku tidak menyangka bocah Kazakh ini gagah sebagai erang gagah dari Tionggoan..."
Tengah ia berpikir itu, ia kaget akan mendengar suara angin di belakangnya, dari datangnya senjata tajam. Sebab Aman, yang tidak bisa maju, lantas menimpuk dengan pedang pendek. Ia berkelit ke kanan. Justeru ia berkelit, justeru tiba serangannya Supu, maka lengannya kena tergores golok, sia- sia ia mencoba berkelit lebih jauh. Ia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang. Tiga kali beruntun ia menikam dengan jurus-jurus dari ilmu silat pedangnya, "Cheebong Kiamhoat" atau Ilmu Pedang Ular Naga Hijau.
Supu kaget melihat datangnya serangan saling susul, sedang sinar pedang membuat matanya silau. Tahu-tahu lehernya telah kena dimampirkan pedang lawan itu hingga darahnya mengalir keluar.
Tat Hian memperoleh hati, ia mendesak terus. Di lain saat, lengan Supu kena kelanggar pedang, sampai dia merasakan sakit, goloknya terlepas dari cekalannya dan jatuh.
Di saat tikaman yang ketiga mengancam dan Supu agaknya mati daya, Bun Siu maju satu tindak, untuk menolongi. la hendak menggunai ilmu Tay Kimna Ciu, guna menangkap tangannya Tat Hian. Akan tetapi mendahului ia, Aman telah berlompat ke depan Supu sambil berseru: "Jangan melukakan dia!"
Melihat nona Kazakh yang elok itu, tapi yang romannya ketakutan, batal Tat Hian menikam terus. Dengan mengancam sama ujung pedangnya, ia tertawa dan tanya nona itu: "Kau begini memperhatikan dia! Adakah dia kekasihmu?"
Muka Aman merah tetapi ia mengangguk. "Kau menyayangi dia, baik!" kata Tat Hian pula. "Aku nanti memberi ampun padanya asal besok badai berhenti, kau turut aku!"
Supu menjadi sangat mendongkol, sambil berseru, ia maju ke depan Aman, hendak ia menerjang musuhnya itu.
Tat Hian berlaku awas dan sebat, dengan ujung pedangnya masih mengancam, ia menggeraki kaki kirinya ke kaki orang, maka tanpa ampun lagi, robohlah pemuda Kazakh itu. Coba pedang ditusukkan terus, akan tertumblaslah tenggorokannya si anak muda