Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 05

Memuat...

Bun Siu kaget, dia mengawasi, matanya mendelong.

Hanya sejenak, si empee menghela napas. Ia jadi sabar pula.

"Di dalam dunia ini, ada banyak sekali hal yang kau tidak mengerti, anak," katanya kemudian.

Kembali Bun Siu mendengar burung tadi bernyanyi, suaranya semakin menggiurkan hatinya, manis tetapi sedih. Ia sampai melupakan sikap aneh dari si orang tua...

Oood~wooO

Demikian Lie Bun Siu tinggal ili rumah Kee Loojin, si orang tua vang hidup menyendiri di wilayah orang Kazakh itu. Ia membantu menanak nasi dan menggembala kambing. Mereka hidup sebagai kakek dan cucu. Hanya kalau malam, suka-suka si nona mendusin dengan kaget, akan mendengar suara si burung malam dari padang rumput itu, yang nyanyiannya mengagumkan dia, yang membuatnya merasa tergiur dan berduka. Kalau dia bermimpi, maka dia memimpikan keindahan wilayah Kanglam di mana dia berada dalam rangkulan ayah atau ibunya...

Musim rontok lewat, musim dingin pun lewat, selama itu, tenteram hidupnya puteri dari Pekma Lie Sam atau Siangkoan Hong, selama itu, ia telah dapat bicara dalam bahasa Kazakh, ia mulai mengerti banyak perihal segala apa di dataran rumput itu.

Pada suatu malam, kembali Nona Lie mendengar nyanyian si burung malam. Jauh suara burung itu, terbawa sang angin, sebentar terdengar, sebentar lenyap Ia bangun untuk mengenakan bajunya, diam-diam ia pergi keluar di mana ia tuntun kudanya, si kuda putih, ia berlaku hati-hati untuk tidak membikin Kee Loojin kaget dan mendusin. Setelah berada jauh dari rumah, baru ia naik atas kudanya, untuk sambil menunggang kuda mengikuti suara burung itu.

Sang malam di dataran rumput, langit rasanya tinggi sekali, warnanya biru, bintang-bintang terang berkilau. Rumput segar dan bunga-bunga menyiarkan bau yang harum.

Suara nyanyian terdengar tegas sekarang, benar-benar menggiurkan. Di dalam hatinya, Bun Siu mengikuti bernyanyi. Ia menjadi girang sekali. Ia lompat turun dari kudanya, membiarkan kuda itu mencari makan, ia sendiri rebah telentang di atas rumput, matanya memandangi langit. Ia terbenam dalam nyanyian sang burung...

Selang sekian lama, burung itu berpindah tempat, suaranya terdengar jauh. Maka si nona merayap bangun, ia bertindak menyusul, mengikuti, hingga sekarang ia menampak romannya burung itu, yang bulunya kuning muda. Burung itu beterbangan di tanah, mematuk sesuatu, lalu terbang, lalu mematuk pula, saban-saban dia bernyanyi...

Mendadak terdengar satu suara keras, serupa barang hitam menyambar kepada burung malam itu. Si nona kaget hingga ia berseru, bercampur seruannya seorang lain. Kalau Bun Siu kaget maka orang itu kegirangan. Dia muncul dari gegombolan pohon. Nyata dialah seorang anak laki-laki Kazakh, yang berseru: "Kena! Kena!"

Dengan baju luarnya, dia menungkrap burung itu, yang kena ditangkap. Burung itu lantas berbunyi berisik sekali, kaget dan ketakutan.

"He, kau bikin apa?" Bun Siu menegur, gusar.

"Aku menangkap burung ini," menjawab orang yang ditegur. "Apakah kau juga menangkap burung?" "Kenapa kau menangkap dia?" Bun Siu menegur pula. "Bukankah lebih baik membiarkan dia merdeka dan bernyanyi?"

"Dengan ditangkap, dia dapat dibuat main," menyahut anak Kazakh itu. Dengan tangan kanannya merogoh ke dalam bajunya, ia memegang burung kuning dan kecil itu, yang sia- sia saja berontak untuk mencoba terbang pergi.

"Kau lepaslah!" kata Bun Siu kemudian. "Lihat, dia harus dikasihani..."

"Di sepanjang jalan aku menyebar gandum, memancing dia makan hingga di sini," kata anak Kazakh itu. "Siapa suruh dia makani gandumku? Haha!"

Bun Siu terbengong. Inilah yang pertama kali ia mengenal perangkap. Burung itu diberi umpan, dia memakannya, dia mengantarkan diri, lalu tertangkap artinya, dia mencari matinya sendiri. Ia masih terlalu muda dan mendapat tahu bunyinya pepatah: "Jin wie cay su, niauw wie sit bong", ialah "Orang mati karena harta, burung mampus karena makanan."

Bocah Kazakh itu membuat main burungnya, hingga burung ini berbunyi tak hentinya.

"Maukah kau kasihkan burung ini padaku?" akhirnya Bun Siu minta. Ia merasa kasihan.

"Habis kau memberikan apa padaku?" tanya si anak Kazakh. Dia minta penggantian atau penukaran.

Bun Siu meraba sakunya, ia tidak mempunyai apa-apa. Ia menjadi berdiam untuk berpikir. Kemudian ia menyahuti: "Besok aku nanti menjahit, membikin kantung, untuk kau pakai..."

"Aku tidak mau diakali. Besok kau menyangkal..." Mukanya si nona menjadi merah. "Aku telah berjanji, tentu aku akan memberikan," ia mengasih kepastian. "Kenapa aku mesti menyangkal?"

"Ah, aku tidak percaya!" bocah ini menggeleng kepala. Tapi di terangnya rembulan, ia melihat gelang kumala, yang bersinar di lengan kiri orang, maka ia menambahkan: "Kecuali kau berikan gelangmu itu!"

Itulah gelang yang Bun Siu il.ipat dari ibunya, kecuali itu, ia udak punya tanda mata apa jua dari ibunya. Berat ia menyerahkan itu, akan tetapi, kalau ia melihat burung itu, ia berkasihan.

"Baiklah, ini aku kasihkan kau," katanya akhirnya. Ia meloloskan gelangnya dan menyerahkannya.

Bocah itu agaknya heran, ia menyambuti.

"Apakah kau tidak bakal memintanya pulang?" ia menegasi. "Tidak!"

"Baik!" Dan ia menyerahkan burungnya.

Dengan kedua tangannya, Bun Siu menyambuti burung itu.

Ketika tangan mereka beradu, si bocah Kazakh merasakan sebuah tangan yang halus dan hangat, hingga ia seperti merasakan guncangnya hati si nona.

Nona itu mengusap-usap sayap burung dengan tiga buah jari tangannya, perlahan-lahan, kemudian ia melepaskan tangannya seraya ia berkata: "Kau pergilah! Lain kali kau mesti berhati-hati supaya orang tidak kena tangkap pula!"

Burung itu terbang, menghilang di gombolan rumput. Si bocah Kazakh heran.

"Kenapa kau lepas burung itu?" ia tanya. "Bukankah kau telah tukar itu dengan gelang kumala?" Dia memegang erat- erat gelangnya, kuatir si nona meminta pulang. "Dia dapat terbang pula," menyahut Bun Siu, "dia bakal bernyanyi kembali! Tidakkah itu senang untuknya?"

Bocah itu heran dan kagum. Ia mengimplang.

"Kau siapa?" ia tanya kemudian. "Aku Lie Bun Siu. Kau sendiri?"

"Aku Supu." Habis menyahuti, dia berjingkrak dan berseru nyaring.

Supu lebih tua dua tahun, tubuhnya jangkung, kalau dia berdiri, nampaknya dia gagah.

"Tenagamu besar, bukankah?" Bun Siu tanya.

Supu tengah kegirangan, pertanyaan si nona membangkitkan keangkuhannya. Dari

pinggangnya, ia menarik keluar sebuah golok pendek. Ia berkata: "Baru bulan yang sudah aku membunuh seekor serigala!"

"Kau begitu kosen?" tanya Bun Siu heran.

Supu jadi bangga sekali. Ia kata pula: "Sebenarnya dua ekor serigala yang datang menyerbu kambing kami. Ayahku kebetulan tidak ada di rumah, jadi aku yang keluar membawa golok mengejarnya. Serigala yang besaran melihat api, dia kabur, aku bunuh yang satunya."

"Jadi kau membunuh yang kecilan?'"

Supu likat, ia mengangguk, tetapi ia menambahkan: "Jikalau serigala yang besar itu tidak kabur, tentu aku bunuh juga padanya!"

Dari suaranya, ia agak ragu-ragu.

Bun Siu percaya keterangan itu. Ia kata: "Serigala yang jahat makan kambing, dia memang harus dibunuh. Kalau nanti kau membunuh serigala pula, maukah kau memanggil aku untuk aku melihatnya?" Supu girang. "Baik! Lain kali aku akan mengeset kulitnya, untuk dihaturkan padamu!"

"Terima kasih!" Bun Siu pun girang. "Nanti aku membikin alas kulit serigala peranti yaya duduk, kepunyaannya telah diberikan padaku."

"Dengan begitu. Aku berikan itu pada kau, itu artinya untukmu sendiri. Kepunyaan yaya-mu kau kembalikan saja."

"Begitu pun baik," si nona mengangguk.

Kedua bocah ini lantas menjadi sahabat satu dengan lain. Erat pergaulan mereka, meski yang satu ada anak Kazakh yang sikap dedaknya kasar, dan yang lain seorang nona Han yang halus.

Lewat beberapa hari, Lie Bun Siu menganggap bocah itu sahabat, buat sebuah kantung kecil, yang ia isikan kembang gula dan menghadiahkannya kepada Supu. Bocah ini heran. Untuknya sudah cukup burungnya ditukar dengan gelang kumala. Karena dia jujur, dia hendak membalas budi. Maka malamnya, satu malam suntuk dia tidak tidur, dia menunggui burung, hasilnya, dia dapat menjebak dua ekor burung nilam. Besoknya pagi, dia serahkan burungnya itu pada sahabatnya.

Melihat perbuatan Supu, Bun Siu menganggap bocah itu salah mengerti, maka dengan banyak kata-kata ia menjelaskan, ia menyukai burung bukan untuk dipiara, ia hanya menyukai kemerdekaannya burung itu, sedang kalau dipiara, burung itu jadi tersiksa. Supu dapat dikasih mengerti tetapi toh ia tetap heran untuk sikap nona, yang ia kata aneh...

Dengan lewatnya banyak hari, mimpinya Bun Siu, mimpi ayah dan ibunya, menjadi berkurang. Itu berarti, basahnya bantalnya karena air matanya pun jadi berkurang |uga. Di lain pihak, pada parasnya lebih sering tertampak senyuman, ia jadi lebih gemar bernyanyi. Demikian, kalau dia dan Supu menggembala kambing, sering lei dengar nyanyian mereka, nyanyian yang mengandung asmara. Sering mereka bernyanyi saling sahutan. Tapi Bun Siu bernyanyi karena kegemarannya, artinya nyanyian belum masuk di olaknya. Ia bahkan heran kenapa muda-mudi gemar bernyanyi berdua-duaan, mereka tertarik satu kepada lain. Ia tidak mengerti kenapa hatinya memukul kalau ia mendengar tindakannya si bocah Kazakh. Tapi yang benar, suara nyanyiannya memang merdu, siapa yang mendengarnya memuji: "Merdu suaranya bocah itu, mirip dengan suaranya si burung nilam dataran rumput..."

Kapan telah datang musim dingin, burung nilam terbang pindah ke Selatan, yang hawanya hangat, akan tetapi di padang rumput itu, ada pengganti suaranya, sebab ada nyanyiannya Bun Siu yang merdu itu:

"Gembala muda yang manis, Aku tanya kau, tahun ini usiamu berapa? Kalau di tengah malam kau bersendirian di gurun, Maukah kau ditemani olehku? "

Biasanya nyanyian berhenti sampai di situ, sesaat kemudian barulah disambungi:

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment