Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 13

Memuat...

"Suhu, apakah punggungmu masih sakit?" si nona balik menanya. Ia tidak sempat menjawab.

"Sedikit mendingan," sahut guru itu. "Kau membilang hendak pergi pulang, kenapa kau belum pergi?"

"Sebelum suhu sembuh, aku tidak mau pergi," sahut Bun Siu. "Biar aku menanti pula beberapa hari lagi." Di dalam hatinya, ia pikir: "Kee Loojin paling juga memikirkan aku tetapi suhu perlu rawatan."

Senang Hoa Hui mendengar jawaban itu, karenanya ia tidak bergusar terus. Bun Siu pun senang. Ia hanya merasa sulit untuk tabiat aneh guru ini. Ia lantas mencari rumput kering, untuk dijadikan kasur darurat, yang mana ia gelar di ruang depan itu. Ketika ia tidur pulas, beberapa kali ia mendusin dengan mendadak. Ia terganggu impian-impian yang dahsyat, umpamanya penjahat datang membekuk padanya, atau setannya si penjahat, dengan berlepotan darah, datang menagih jiwa terhadapnya...

Besoknya pagi, Bun Siu mendusin dengan hati lega. Ia mendapatkan gurunya segar sekali. Ia lantas masak nasi, untuk mereka dahar. Setelah datangnya waktu senggang, Hoa Hui lantas memberikan pelajaran silat. Dia mulai dengan pokoknya lweekang, atau ilmu dalam.

"Kau telah berusia tinggi, untuk belajar silat, kau memerlukan tempo lebih banyak daripada seharusnya," Hoa Hui memberi keterangan. "Tapi kau jangan kuatir, meski usiamu tinggi, itu dapat ditutup dengan kecerdasanmu serta dengan adanya guru bukan sembarang guru. Didalam lima tahun aku tanggung kau akan jarang tandingannya di dalam Rimba Persilatan."

Bun Siu tidak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima kasih. Ia belajar dengan rajin dan tekun. Didalam tempo delapan hari, ia telah memperoleh kemajuan, sedang lukanya Hoa Hui mulai sembuh. Baru setelah itu ia kasih tahu gurunya ini untuk pulang dulu, guna menemui Kee Loojin. Kali ini Hoa Hui tidak main bentakbentak lagi, dia tidak sampai memaksa muridnya mengangkat sumpah. Begitulah ia pulang dengan menunggang kuda putihnya. Ia menetapi janji, ia tidak mengasih tahu Kee Loojin tentang pertemuannya sama Hoa Hui disebabkan ia terancam bahaya, la mendusta bahwa ia kesasar di Gobi, sampai ia bertemu dan ketolongan serombongan kafilah.

Kee Loojin percaya keterangan itu, maka dia tidak menanya melit-melit, dia hanya merasa girang. Semenjak itu setiap sepuluh hari atau setengah bulan, Bun Siu pergi kepada Hoa Hui, untuk berdiam dengannya beberapa hari. Selama beberapa hari itu, ia belajar dengan rajin sedang gurunya mengajari dengan sungguh-sungguh. Karena ia tidak memikirkan lain, gangguan apa jua tidak ada, ia memperoleh kemajuan pesat. Jadi benar pembilangan gurunya, ialah murid cerdas, dan si guru bukan sembarang guru...

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat.

Satu kali dengan girang Hoa Hui kata pada muridnya: "Dengan kepandaian kau sekarang, kau telah termasuk kaum kangouw kelas satu. Kalau kau pulaug ke Tionggoan, asal kau memperlihatkan kepandaianmu, kau akan menjadi kesohor."

Bun Siu merasa senang tetapi ia tahu ia baru menyangkok kepandaian gurunya dua tiga bagian, maka ia belajar terus dengan tetap rajin. Karena itu selanjutnya lebih sedikit harinya ia berdiam sama Kee Loojin, lebih banyak ia tinggal bersama gurunya itu. Beberapa kali sudah Kee Loojin menanya ia pergi ke mana saja, ia menggunai pelbagai alasan untuk menutup rahasianya, agar ia tidak melanggar pesan gurunya. Selanjutnya, Kee Loojin tidak pernah menanyakan lagi.

Pada suatu hari Bun Siu pulang dari rumah gurunya. Biasanya ia mengambil jalan mutar, tidak mau ia melintasi bukit kecil tempat terbunuhnya serigala, tetapi kali ini, ia terpaksa jalan di situ. Sebabnya ialah mega mendung dan angin utara bertiup keras, tandanya bakal datang badai salju. Ia pun melarikan kudanya keras-keras. Ia melihat kawanan penggembala repot menggiring kambing mereka pulang. Di tengah udara tak nampak seekor jua burung gagak. Justeru itu, untuk herannya, ia mendapatkan satu penunggang kuda tengah mendatangi dengan binatang tunggangannya dikaburkan. Ia menjadi heran.

"Badai salju segera bakal datang, kenapa dia justeru keluar dari rumahnya?" ia pikir. Maka ia mengawasi. Kapan penunggang kuda itu telah datang cukup dekat, Bun Siu melihat seorang nona Kazakh yang mengerobongi tubuh dengan mantel merah. Ia pula lantas mengenali Aman, yang tubuhnya langsing dan romannya cantik. Karena, ia tidak ingin menemui nona itu, ia larikan kudanya ke belakang bukit, untuk mengintai.

Tiba di depan bukit, Aman bersiul nyaring, atas mana, siulannya itu mendapat jawaban yang serupa, disusul munculnya seorang anak muda, yang datang menghampirkan, maka sebentar saja, keduanya sudah saling rangkul. Pula ramai suara mereka tertawa.

"Badai salju bakal lekas datang, kenapa kau keluar juga?" demikian si pemuda tanya.

Bun Siu mengenali suaranya Supu, sahabat kekalnya itu. "Hai, si cilik tolol!" kata Aman, tertawa. "Kau tahu badai

salju bakal turun, kenapa kau juga keluar dan menantikan aku di sini?"

Supu tertawa

"Setiap hari kita bertemu di sini” katanya, gembira. "Pertemuan kita ini lebih penting daripada makan nasi! Biarnya ada ancaman golok atau pedang, pasti aku akan menunggui kau di sini!"

Aman tertawa pula.

Keduanya lantas duduk berendeng di bukit kecil itu, keduanya bicara tak hentinya.

Mereka bicara tentang asmara

Bun Siu mengintai di balik beberapa pohon besar, ia berdiri tercengang. Ia telah mendengar nyata setiap perkataan pemuda dan pemudi itu, kecuali di saat mereka itu seperti berbisik. Kemudian lagi, ia terkejut ketika tidak keruan-keruan pasangan muda-mudi itu tertawa dengan keras. Nona Lie mendengar seperti tidak mendengar. Melihat tingkah laku muda-mudi itu, di depan matanya berbayang peristiwa dari masa ia masih kecil. Di situ pun ada berduduk berendeng dua bocah, yang satu pria, yang lain wanita. Mereka itu erat sekali perhubungannya. Merekalah Supu dan ia sendiri. Di sana mereka biasa saling mendongeng, sampai itu hari mereka diserang serigala yang ganas. Apa yang mereka biasa omongi, ia seperti sudah lupa. Sebab sepuluh tahun telah berselang. Hanya sekarang, melihat Supu bersama Aman itu, ia terkenang akan masa yang lampau itu.

Segera sang salju mulai turun, sedikit demi sedikit, tetapi lama-lama, kuda mereka, pula kepala mereka bertiga, mulai putih ketutupan bunga salju. Juga tubuh mereka mulai ketutupan. Supu dan Aman seperti tidak menghiraukan salju itu. Dan Bun Siu pun tidak mempedulikannya.

Lagi sekian lama, barulah Supu dan Aman dibikin kaget hingga keduanya berlompat bangun. Di pohon kayu di dekat mereka terdengar suara berisik.

"Ha, air batu turun!" seru si pemuda. "Mari lekas pulang!"

Aman menurut, tanpa banyak omong lagi, mereka naik kuda mereka dan melarikannya.

Bun Siu bagaikan tersadar mendengar seman mereka itu. Ia pun lantas merasakan jatuhnya hujan air batu itu, yang mengenakan kepalanya, mukanya dan tangannya, hingga ia merasa sakit. Tanpa ayal lagi, ia lari pulang. Begitu ia tiba di depan rumahnya, ia heran. Di muka rumah ada tertambat dua ekor kuda, satu antaranya ia kenali adalah kudanya Aman.

"Mau apa mereka datang ke rumahku?" pikirnya. Sambil menerka-nerka, ia turun dari kudanya, untuk dituntun ke belakang. Hujan air batu bertambah keras turunnya.

Setelah ia memasuki ruang belakang dari rumahnya, Bun Siu mendapat dengar suaranya Supu, katanya: "Paman, hujan es turun secara besar-besaran, terpaksa kita mesti berdiam lamaan di sini."

"Tetapi ingat, di hari-hari biasa, walaupun aku mengundang, tidak nanti kau datang ke mari," terdengar suaranya Kee Loojin.

"Tunggu, nanti aku mengambil air teh."

Memang juga, sekarang ini sukar untuk Kee Loojin, umpamanya...... hendak mengundang Supu. Semenjak orang- orang Chin Wie Piauwkiok mengganas, orang Kazakh jadi sangat mencurigai orang Han. Benar Kee Loojin sudah tinggal lama di antara mereka itu dan terkenal baik, tetapi orang jadi tidak suka bergaul dengannya. Bagusnya, dia tidak sampai diusir pergi. Sebaliknya, tendanya Supu dan Aman telah dipindah semakin jauh, hingga sukar mereka datang ke rumah Kee Loojin itu. Kali ini kebetulan saja mereka ini ditimpa hujan es.

Kee Loojin pergi ke dapur. Ia heran melihat Bun Siu sudah pulang dan lagi berdiri bengong muka merah.

"Kau... sudah pulang?" katanya. Orang tua itu heran akan tetapi ia mengangguk.

Tidak lama maka Kee Loojin sudah keluar dengan membawa susu kambing, koumiss dan teh merah, untuk menyuguhkan tetamunya.

Bun Siu duduk di dekat dapur, sambil menghangatkan diri, ia memasang kuping. Ia mendengar suaranya Supu dan Aman, yang kadang-kadang tertawa. Hampir ia berbangkit, untuk pergi ke luar, untuk berbicara sama mereka itu.

"Tidak ada halangannya toh?" pikirnya Hanya, dalam sekejap, ia menahan hati. Itulah sebab ia lantas ingat sikapnya ayah Supu, yang galak, mulutnya gampang mendamprat, cambuknya gampang merangket. Ketika Kee Loojin kembali ke dapur, untuk membagi susu dan teh pada si nona, ia heran melihat sinar mata nona itu. Sudah belasan tahun mereka tinggal bersama, mereka mirip kakek dan cucu sejati, tetapi mereka tetap bukan asal sedarah sedaging, si empee sukar menjajaki hati si nona.

Setelah mengawasi, mendadak Bun Siu kata pada si empee: "Aku hendak menyamar sebagai seorang nona Kazakh, aku akan datang untuk numpang berlindung dari hujan es, jangan yaya membuka rahasia." Tanpa menanti jawaban, ia lekas pergi ke kamarnya, untuk dandan, pula ia rubah sanggulnya. Sudah lama ia tinggal di wilayah Hweekiang ini, ia jadi mirip dengan bangsa Kazakh. Habis dandan, ia pergi pula ke dapur, kepada si empee, memberi tanda dengannya. Baru ia pergi ke luar, untuk berlalu dengan kudanya dengan manda ditimpa hujan es. Hanya kabur belum satu lie, ia sudah lari kembali. Di depan rumahnya, ia mengetuk pintu. Ia jeri juga ketika melihat cuaca yang luar biasa. Sudah sepuluh tahun lebih ia tinggal di Hweekiang ini, belum pernah ada hujan es lebat begini, dan awan pun mendung sekali. Sambil mengetuk-ngetuk pintu, ia mengasih dengar suaranya: "Mohon numpang! Mohon numpang!"

Kee Loojin membukai pintu. "Nona ada urusan apa?" ia tanya.

"Hujan es hebat sekali, aku mohon menumpang berlindung," menyahut Bun Siu.

"Boleh, boleh!" menyahut si empee, yang terpaksa main sandiwara. "Di dalam pun ada dua sahabat lagi menumpang berlindung. Mari masuk, nona!"

Post a Comment