Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 108

Memuat...

"Eh? Engkau hendak membalas keramahan orang dengan pukulan?"

Bentaknya, kini kurang ramah.

"Keramahanmu hanyalah kekurangajaran, dan aku adalah seorang gadis yang tidak sudi kau permainkan. Pukulanku adalah pukulan untuk menghajar laki-laki kurang sopan macam kalian ini!"

Dan kini Kao Hong Li sudah menerjang ke depan, mengirim tamparan bertubi-tubi. Gerakannya tentu saja cepat dan kuat sekali! Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mengelak dan menangkis dua kali.

"Dukkk! Plak!"

Pertemuan kedua tangan mereka membuat keduanya terkejut. Hong Li juga kaget karena ternyata dalam tangkisan tangan lawan itu terkandung tenaga sin-kang yang kuat, sedangkan Giam San Ek tentu saja kaget karena pertemuan lengan itu membuat tubuhnya hampir terjengkang kalau saja dia tidak dapat meloncat ke belakang. Kini dia memandang gadis itu penuh perhatian, baru tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga dalam yang kuat.

"Ah, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, pantas sikapmu jual mahal!"

Bentak Giam San Ek dan dia pun sudah menerjang lagi dengan cepat dan ganas, menyerang dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar ingin memegang atau mencolek.

Namun, sekali ini dia kecelik dan bukan hanya gadis itu mampu menghindarkan diri dari semua terkamannya, bahkan membalas tak kalah dahsyatnya sehingga membuat Toat-beng Kiam-ong itu terdesak mundur. Kalau dilanjutkan perkelahian tangan kosong itu, tentu dia akan kalah, karena Kao Hong Li adalah cucu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, ahli ilmu silat tangan kosong dengan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat, dan juga isterinya ahli silat tangan kosong Han-tok-ciang (Silat Tangan Selaksa Racun). Kedua ilmu silat ini telah diwarisi Hong Li dari ayahnya, yaitu Kao Cin Liong. Juga dari ibunya, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es gadis bermata lebar ini telah mewarisi ilmu-ilmunya, maka tidaklah mengherankan kalau Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek terdesak hebat setelah mereka berkelahi selama belasan jurus saja.

"Singgg...."

Nampak sinar berkelebat ketika Giam San Ek yang berjuluk Raja Pedang Pencabut Nyawa itu menghunus pedangnya dan mengelebatkan pedang di depan tubuhnya. Melihat ini, Hong Li juga mencabut pedangnya. Giam San Ek yang berwatak tekebur itu tertawa mengejek, memandang rendah.

"Ha-ha-ha, Nona Manis. Dengan tangan kosong memang aku tidak berhasil mengalahkanmu, akan tetapi ketahuilah dengan siapa engkau berhadapan! Aku Giam San Ek terkenal dengan julukan Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa), sungguh sayang bahwa seorang gadis jelita seperti engkau terpaksa harus tercabut nyawanya oleh pedangku!" "Tak perlu banyak cakap, lihat pedangku!"

Bentak Hong Li dan ia pun sudah memutar pedangnya dan menyerang dengan dahsyat-nya.

"Haaaiiitt!"

Dengan lagak mengejek, Giam San Ek menangkis, membuat putaran dengan pedangnya dan membalas dengan tusukan ke arah dada Hong Li. Akan tetapi, gadis itu bukan hanya tangguh dalam ilmu silat tangan kosong, juga ia amat lihai dengan pedangnya. Ia mainkan Ban-tok Kiam-sut dan biarpun ilmu pedang ini paling tepat dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam milik neneknya, namun dengan pedang di tangannya pun yang tidak beracun, ilmu pedang itu tetap hebat. Kalau tadinya Giam San Ek masih mengejek dan memandang rendah, makin lama dia menjadi semakin kaget mendapat kenyataan betapa lihainya gadis itu dengan pedangnya. Apalagi mencari kemenangan dengan mudah, baru mempertahankan dirinya agar tidak sampai terkena pedang lawan saja sudah merupakan hal yang tidak mudah baginya!

Bahkan makin lama, Si Raja Pedang yang sombong ini menjadi semakin terdesak. Selagi Giam San Ek kebingungan, muncullah bantuan baginya yang amat membesarkan hatinya karena yang muncul itu bukan lain adalah kekasihnya, Sin-kiam Mo-li yang lebih lihai darinya dan lima orang anak buahnya, yaitu tiga orang anggauta Ang I Mopang dan dua orang murid Tiat-liong-pang yang kesemuanya memiliki ilmu silat yang sudah boleh diandalkan. Melihat betapa kekasih dan rekannya itu terdesak oleh seorang wanita muda yang lihai sekali, Sin-kiam Mo-li segera mengeluarkan pedang dan kebutannya, lalu terjun ke dalam pertempuran. Lima orang kawannya juga segera mengeluarkan senjata masing-masing dan kini Hong Li harus menghadapi pengeroyokan tujuh orang lawan tangguh!

Namun, gadis perkasa ini tidak menjadi gentar walaupun kini ia terkepung, terhimpit dan terdesak karena fihak para pengeroyoknya memang amat kuat, jauh lebih kuat dari padanya. Namun, dengan putaran pedangnya, dibantu tangan kirinya yang mendorong disertai tenaga Swat-im Sin-kang, satu di antara ilmu dari Pulau Es yang amat hebat karena dorongan tangan itu mengeluarkan hawa dingin yang amat kuat, ia melindungi dirinya. Ketika Suma Ceng Liong melihat dorongan tangan kiri ini, yakinlah dia bahwa gadis itu tentulah keluarga PulauEs, anggauta dari keluarga-nya sendiri. Siapa lagi gadis itu kalau bukan puteri dari encinya, Suma Hui, yang bernama Kao Hong Li? Dia lupa lagi akan wajah keponakannya itu, apalagi karena bertahun-tahun tak pernah berjumpa, akan tetapi pukulan itu bagaimanapun juga akan dikenalnya dengan baik!

"Jangan takut, kami datang membantumu!"

Kata Ceng Liong yang tadi sudah menganjurkan isterinya untuk membantu gadis yang dikeroyok. Kini tubuhnya berkelebat menerjang ke depan dan melihat betapa yang paling lihai di antara para pengeroyok itu adalah wanita yang berpedang dan memegang kebutan, maka dia pun lalu menerjang wanita itu dengan totokan Coan-kut-ci! Coan-kut ci (Jari Penembus Tulang) adalah suatu ilmu yang dahsyat sekali, yang dipelajari Suma Ceng Liong dari Hek I Mo-ong, gurunya yang juga seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal.

Terdengar suara mencicit dibarengi angin yang kuat bukan main menyambar ke arah Sin-kiam Mo-li. Wanita ini terkejut bukan main, cepat menyambut dengan kebutannya. Akan tetapi, begitu bertemu dengan jari tangan Ceng Liong, bulu kebutan itu rontok dan wanita itu merasa betapa lengannya yang memegang kebutan tergetar hebat. Ia membalas dengan tusukan pedang, akan tetapi didahului oleh tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Badai) yang cepat dari Ceng Liong, membuat wanita itu cepat-cepat melempar diri ke belakang. Nyaris perutnya tertendang dan kini Sin-kiam Mo-li benar-benar kaget bukan main, tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sehebat ini! Ia lalu berkemak-kemik dan menudingkan pedangnya ke arah Suma Ceng Liong, mengerahkan kekuatan sihirnya dan membentak.

"Engkau yang berani melawan aku, berlututlah!"

Akan tetapi laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu malah tertawa bergelak. Tentu saja sihir itu tidak dapat mempengaruhi Ceng Liong karena pendekar ini pun telah mempelajari ilmu sihir dari ibunya sendiri, yaitu mendiang nenek Teng Siang In. Sambil tertawa, Ceng Liong juga mengerahkan kekuatan sihirnya dan tiba-tiba saja Sin-kiam Mo-li juga tertawa bergelak, tidak dapat menahan geli hatinya karena terseret oleh suara ketawa Ceng Liong!

Sambil tertawa, Ceng Liong sudah melakukan gerakan-gerakan mendorong dengan kedua tangannya silih berganti, yang kanan mengeluarkan hawa panas dengan Hwiyang Sin-kang, yang kiri mengeluarkan hawa dingin dengan Swat-im Sin-kang. Sin-kiam Mo-li sedang terkejut bukan main melihat dirinya tertawa tanpa dapat dikuasainya, cepat ia mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh tawa itu. Dan pada saat itu, lawannya sudah menyerangnya dengan dua ilmu yang hebat dari Pulau Es. Tentu saja ia menjadi kaget bukan main dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang, lalu bergulingan saja wanita ini dapat terhindar dari pukulan lawan yang dahsyat. Sementara itu, Kam Bi Eng juga sudah mencabut suling emasnya dan kini suling itu mengaung-ngaung ketika ia mainkan ilmu pedang gabungan antara Koai-long Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut!

Ilmu ini pun merupakan satu di antara ilmu-ilmu tertinggi pada waktu itu, dan yang diserang oleh Kam Bi Eng adalah Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Orang ini terkejut, mencoba untuk memutar pedangnya, akan tetapi tangkisannya tidak dapat menahan suling itu yang terus menerobos di antara sinar pedangnya dan mengancam ulu hatinya. Giam San Ek berteriak kaget dan melempar tubuh ke samping, lalu meloncat agak jauh dengan keringat dingin membasahi tubuhnya! Nyaris dia celaka oleh suling wanita cantik dan gagah itu! Biarpun ia pangling dan tidak mengenal suami isteri perkasa yang datang membantunya, tapi begitu menyaksikan gerakan-gerakan mereka, apalagi melihat Kam Bi Eng memainkan suling emas, Kao Hong Li segera dapat menduga siapa adanya mereka.

"Paman Liong dan bibi Eng, terima kasih kalian datang membantuku!"

Teriaknya dan tendangan-tendangannya membuat lima orang pengeroyoknya menjadi kalang kabut. Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong adalah dua orang yang cerdik dan licik. Melihat kehebatan musuh, mereka berdua tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, diikuti oleh lima orang anak buah mereka yang juga menjadi ketakutan! Kao Hong Li meloncat untuk mengejar, akan tetapi Suma Ceng Liong mencegahnya.

"Musuh yang lari jangan dikejar!"

Kata pendekar ini. Dia maklum betapa lihainya lawan, dan tentu licik sekali sehingga mengejar mereka amatlah berbahaya. Siapa tahu mereka itu lari ke tempat kawan-kawan mereka. Kao Hong Li mentaati cegahan pamannya akan tetapi ia mengerutkan alisnya memandang ke arah menghilangnya tujuh bayangan orang itu dan berkata,

"Sayang, seharusnya mereka itu ditumpas, terutama sekali wanita itu!"

Lalu, seperti baru teringat bahwa baru saja ia berjumpa dengan paman dan bibinya, gadis itu memberi hormat dan berkata,

"Saya segera mengenal Paman dari gerakan Paman, dan mengenal Bibi setelah melihat suling emas itu!"

"Kami pun mengenalmu setelah melihat gerakan silatmu, Hong Li,"

Kata Kam Bi Eng sambil mengamati wajah yang cantik manis itu.

"Hong Li, siapakah wanita tadi? Ia kelihatan lihai sekali, dan melihat senjatanya pedang dan kebutan, mengingatkan aku akan seorang iblis betina...."

"Dugaan Paman benar. Ia adalah Sin-kiam Mo-li!"

"Ahhh!"

Suami isteri itu terkejut.

"Agaknya ia tidak mengenal saya lagi, Paman, karena ketika ia menculik saya, ketika itu usia saya baru tiga belas tahun. Akan tetapi, saya tidak akan pernah dapat melupakan iblis itu dan tadi, begitu bertemu, saya segera mengenalnya. Padahal, saya memang sengaja hendak mencari dan membunuhnya!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment