Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 103

Memuat...

"Biar kukejar dia!"

Kata Suma Lian, gadis yang datang bersama Sin Hong.

"Jangan,"

Kata Sin Hong.

"Gadis ini luka parah, kita harus menyelamatkan dulu keluar dari sini."

Mereka berdua lalu keluar dari dalam kamar.

Sin Hong memondong tubuh Ci Hwa yang berlumuran darah dan gadis itu dalam keadaan pingsan. Karena pada saat itu para tokoh sesat sedang sibuk mengeroyok Hong Beng, Kun Tek, dan Li Sian, maka dua orang muda perkasa ini dapat melarikan diri keluar dari perkampu-ngan Tiat-liong-pang dengan aman. Sementara itu, dengan ketakutan Ciu Hok Kwi meninggalkan kamarnya dan tiba di tempat di mana tiga orang pendekar muda itu dikeroyok. Perkelahian ini tidak seimbang. Tiga orang muda itu memang lihai bukan main, akan tetapi, mereka dikeroyok dan di antara para pengeroyok mereka terdapat orang-orang yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari mereka, seperti Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan terutama sekali Ouwyang Sianseng.

Apalagi tiga orang pendekar ini telah kehilangan senjata mereka, hanya mempergunakan pedang biasa saja, hasil rampasan dari para penjaga tadi. Tentu saja pedang-pedang biasa itu tidak ada artinya bertemu dengan senjata-senjata pusaka di tangan para pengeroyok mereka. Ketika mereka terdesak, kembali dengan gagang kipasnya, Ouwyang Sianseng berhasil menotok roboh mereka satu demi satu. Tiga orang muda itu lalu dibelenggu dan dilempar ke dalam sebuah tahanan yang besar, disatukan dan dirantai pada dinding kamar sehingga mereka bertiga tidak akan mampu berkutik lagi! Ciu Hok Kwi mengajak teman-temannya lari ke kamarnya untuk menghadapi Tan Sin Hong dan wanita cantik itu, akan tetapi ketika mereka tiba di sana, Sin Hong dan Suma Lian telah lenyap, bahkan Ci Hwa yang tadi telah roboh juga tidak nampak di situ.

"Hok Kwi, apa yang telah terjadi?"

Siangkoan Lohan menegur muridnya, suaranya tegas dan keren.

"Bagaimana mereka bisa keluar?"

Wajah Hok Kwi berubah pucat. Dia tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi dia seorang yang cerdik dan dalam waktu beberapa detik itu dia telah dapat mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Harap Suhu sudi memaafkan, teecu mengaku telah melakukan kesalahan, telah lalai."

Siangkoan Lohan amat menyayang muridnya ini, karena muridnya ini selain merupakan murid paling lihai, juga cerdik sekali dan selama ini membuat jasa besar untuk kemajuan gerakan pemberontakannya. Melihat murid-nya berlutut minta maaf dan mengaku salah, kesabarannya telah datang kembali.

"Sudahlah, ceritakan saja apa yang telah terjadi! Engkau memimpin anak buahmu melakukan penjagaan terhadap para tawanan itu, bagaimana mereka dapat keluar dan membuat ribut, bahkan telah membunuh banyak penjaga?"

"Maaf, Suhu. Memang teecu telah bersalah dan teledor, akan tetapi kalau tidak ada keparat Tan Sin Hong, putera Tan Piauwsu dari Ban-goan itu, tentu tidak akan terjadi pelepasan para tawanan. Harap Suhu ketahui bahwa gadis itu, yang bernama Kwee Ci Hwa, adalah puteri Kwee Piauwsu di Ban-goan dan sudah mengenal teecu. Teecu.... teecu tergoda dan membawanya ke kamar teecu, karena teecu merasa yakin bahwa para tawanan takkan mungkin dapat lolos dengan adanya penjagaan ketat. Akan tetapi, tiba-tiba saja terjadi kegaduhan dan tiga orang tawanan itu lolos, ternyata dilepaskan oleh Tan Sin Hong itu bersama seorang temannya. Karena marah, teecu lalu bunuh Kwee Ci Hwa. Tan Sin Hong dan temannya itu datang, dan terpaksa teecu melarikan diri karena tidak dapat menandingi mereka. Dan ternyata dia telah pergi bersama temannya itu, dan agaknya membawa pergi mayat Kwee Ci Hwa."

Cerita ini dapat diterima oleh Siangkoan Lohan.

"Sudahlah, sekarang jaga baik-baik, awas kalau sampai mereka terlepas lagi. Kecerobohanmu membuat kita kehilangan belasan anak buah!"

"Maaf, Suhu. Teecu akan menjaga dengan taruhan nyawa,"

Kata Ciu Hok Kwi. Sementara itu, Sin Hong dan Suma Lian berhasil keluar dari sarang Tiat-liong-pang dan memasuki sebuah hutan di lereng bukit.

Matahari pagi telah mulai mengirim cahayanya mengusir kegelapan malam ketika mereka berhenti di atas padang rumput dalam hutan itu. Dengan hati-hati Sin Hong merebahkan tubuh Ci Hwa ke atas rumput. Tadi, dalam perjalanan, dia telah menghentikan beberapa jalan darah untuk menahan keluarnya terlalu banyak darah. Akan tetapi, keadaan Ci Hwa sudah amat payah dan lemah, disebabkan oleh luka di lambungnya yang dalam, dan juga karena terlampau banyak keluar darah. Ci Hwa membuka matanya dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal wajah Sin Hong yang berlutut di dekatnya.

"Hong-ko.... syukurlah.... aku dapat bertemu denganmu...."

"Ci Hwa, tenanglah, aku akan berusaha mengobatimu...."

Ci Hwa menggeleng kepala. Di dalam hatinya ia berkata bahwa ia tidak ingin hidup lagi, setelah penghinaan yang dideritanya dari Siangkoan Liong, dari Ciu Hok Kwi.

"Hong-ko, dengarlah. Ciu Hok Kwi itu...., dialah yang mengatur semua.... yang membunuh ayahmu, membunuh Tang Piauwsu.... dia pula orang bertopeng yang membunuh orang she Lay itu...."

Sin Hong terkejut bukan main, memandang wajah Ci Hwa dengan sinar mata tidak percaya dan mengira bahwa karena keadaannya yang payah, gadis itu telah bicara tidak karuan.

"Tapi, Hwa-moi, dia.... dia itu pembantu mendiang ayahku...."

Ci Hwa menggeleng kepalanya.

"Dia murid pertama Siangkoan Lohan...., mereka ingin memberontak, mereka menguasai piauw-kiok ayahmu.... agar dapat mengatur hubungan dengan luar Tembok Besar.... dengan orang-orang Mongol. Semua itu siasat belaka untuk menguasai piauw-kiok milik ayahmu.... dia telah mengaku semua ini kepadaku...."

"Keparat....!"

Sin Hong terbelalak, baru dia tahu mengapa ayahnya dibunuh, kiranya ada hubungannya dengan pemberontakan. Pantas saja orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang. Kiranya Tiat-liong-pang yang mengatur, dan Ciu Hok Kwi adalah murid kepala ketuanya. Sikap Ciu Hok Kwi yang marah-marah dan menyerbu rumah Kwee Piauwsu, lalu dia dikalahkan Kwee Piauwsu, semua itu hanya siasat belaka!

"Hong-ko.... engkau telah tahu sekarang siapa musuh besarmu. Aku.... aku...."

Tiba-tiba gadis itu berusaha untuk bangkit duduk, namun tidak kuat dan ia tentu akan rebah kembali kalau saja Sin Hong tidak cepat membantunya. Dan mata gadis itu terbelalak, mukanya membayangkan kemarahan dan kebencian, telunjuk kanannya menuding ke depan, seolah-olah ada orang yang dibencinya berada di situ.

"Siangkoan Liong! Keparat kau....! Engkau telah menodaiku.... engkau.... kubunuh engkau.... ahhhhh....!"

Tubuhnya terkulai dan nyawa gadis yang bernasib malang itu pun melayang pergi meninggalkan tubuhnya. Sin Hong merebahkan gadis itu, menutupkan mulut dan matanya, lalu meletakkan kedua tangan di depan dada. Suma Lian yang melihat semua ini, mengerutkan alisnya. Ia melihat betapa Sin Hong duduk tepekur, seperti tenggelam ke dalam lamunan yang menyedihkan.

"Hong-ko, siapakah adik yang malang ini?"

Suma Lian memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya dan Sin Hong yang sedang melamun sedih itu terkejut dan seolah-olah terseret kembali ke dalam kenyataan. Dia menoleh, memandang wajah Suma Lian dan menarik napas panjang. Hubungannya dengan Suma Lian, semenjak mereka berdua meninggalkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun dan menuju ke sarang Tiat-liong-pang itu, menjadi lebih akrab dan mereka saling menyebut kakak dan adik.

"Namanya Kwee Ci Hwa,"

Katanya menjelaskan.

"Puteri dari Kwee Piauwsu di Ban-goan, kota kelahiranku. Tadinya aku terbujuk oleh Ciu Piauwsu tadi untuk mencurigai Kwee Piauwsu sebagai dalang pembunuhan ayahku. Agaknya, Ci Hwa menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri sampai ke sini ketika ia dan aku memperoleh jejak bahwa Tiat-liong-pang ada hubungannya dengan pembunuh ayahku dan beberapa orang lain. Ternyata sampai di sini, ia mengalami hal-hal yang lebih menghancurkan kehidupannya, walaupun ia telah berjasa untukku, telah mengetahui rahasia pembunuhan ayahku."

"Hemmm, agaknya ia telah diperkosa oleh Siangkoan Liong. Bukankah Siangkoan Liong itu putera Siangkoan Lohan pemimpin pemberontak seperti yang kita dapatkan keterangan di sepanjang perjalanan itu? Sungguh jahat. Kita harus segera masuk ke sana dan menghajar mereka!"

"Harap sabar dan tenang, Lian-moi. Kurasa tidak semudah itu. Di sana berkumpul banyak sekali orang pandai, apalagi karena mereka sedang menyusun kekuatan untuk memberontak. Dari keterangan yang kita peroleh baru anak buah mereka saja sudah tiga ratusan orang, belum lagi anak buah Sin-kiam Mo-li yang merupakan pembantu utama mereka. Ang I Mo-pang yang menjadi anak buah Sin-kiam Mo-li itu tentu lima puluh orang lebih jumlahnya. Dan masih banyak tokoh sesat yang berada di sarang mereka. Apa artinya tenaga kita berdua?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment