Pemuda itu menundukkan muka, tidak berani menentang pandang mata sumoinya dengan langsung! Bagaimanapun juga, masih tertinggal kesan lama, dan dia merasa canggung dan salah tingkah, walaupun di dalam hatinya dia membenarkan tindakannya ini.
"Sumoi, tidak ada pilihan lagi bagi kita. Kita harus membantu perjuangan mereka menentang penjajah Mancu. Tidak percuma kita sejak kecil mempelajari ilmu silat kalau kita pergunakan untuk membela negara dan bangsa."
Sian Li membelalakkan matanya.
Kini totokan itu sudah pulih, jalan, darahnya telah normal kembali. Akan tetapi tentu saja ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya yang terbelenggu. Dicobanya mengerahkan tenaga untuk membikin putus belenggu pergelangan kaki tangan itu, namun sia-sia. Sian Lun maklum bagaimana harus membuat sumoinya tidak berdaya. Tali sutera itu lentur, tidak mudah dibikin putus. Andaikata belenggu itu dari rantai baja yang tidak terlalu kuat saja, mungkin Sian Li dapat mematahkannya. Akan tetapi tali sutera yang lentur? Tidak mungkin dibikin putus, kecuali dengan senjata tajam. Dan senjatanya juga sudah dilucuti suhengnya. Pada saat itu, terdengar langkah kaki dan masuklah tiga orang wanita yang bukan lain adalah Pek-lian Sam-li, yaitu tiga kakak beradik tokoh Pek-lian-kauw. Ji Kui yang hitam manis, yang paling tua, tersenyum dan menepuk pundak Sian Lun.
"Bagus, engkau telah berhasil baik, Sian Lun."
"Tentu saja berhasil, kalau tidak, percuma dia menjadi kekasihku,"
Kata pula Ji Hwa yang putih mulus, orang ke dua, dan dengan mesra ia lalu merangkul Sian Lun dan mencium pipi pemuda itu penuh gairah dan dengan sikap genit.
"Nih upah untuk kekasih yang gagah!"
Kata pula Ji Kim yang termuda, cantik jelita dan ia pun dengan sikap genit mencium Sian Lun pada bibirnya. Sian Li terbelalak, akan tetapi gadis yang cerdik ini sekarang tahu atau dapat menduga apa yang kiranya telah terjadi. Suhengnya telah jatuh ke tangan tiga orang wanita genit mesum ini. Suhengnya yang selama ini sebagai murid paman kakeknya bagaikan seekor srigala berbulu domba, kini meninggalkan kulit domba dan nampaklah keasliannya! Ia pun memandang kepada Sian Lun dengan mata melotot.
"Jahanam busuk! Liem Sian Lun, kiranya engkau hanyalah seorang murid murtad, seorang keparat berhati busuk yang selama ini berpura-pura menjadi pendekar! Phuh, muak aku melihat mukamu!"
Dan Sian Li membuang muka, tidak sudi lagi memandang wajah suhengnya yang merupakan pria pertama yang hampir menjatuhkan hatinya.
"Sian Lun, sudah jangan pedulikan bocah ingusan ini!"
Kata Ji Kui sambil menggandeng tangan Sian Lun,
"Biarkan saja Pangeran Gulam Sing yang menjinakkannya."
Tiga orang wanita itu terkekeh genit dan mereka bertiga menggandeng Sian Lun, diajak meninggalkan kamar. Ketika Sian Li melirik ke arah pintu, ternyata kini nampak beberapa orang bertubuh tinggi hitam, orang-orang Nepal, berjaga di luar pintu kamar. Sian Li berusaha sekuatnya untuk melepaskan ikatan pada pergelengan tangan dan kakinya, namun hasilnya sia-sia belaka. Akhirnya, ia maklum bahwa usahanya itu hanya akan menghabiskan tenaga, maka ia pun diam saja, bahkan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan tenaga dan ia termenung. Hal yang amat menyakitkan hatinya adalah kalau ia teringat kepada Sian Lun. Suhengnya telah menyeleweng! Kalau paman kakeknya mendengar, tentu dia dan isterinya akan marah sekali. Akan tetapi bagaimana mereka akan dapat mendengar akan hal ini?
Hanya ia seorang yang tahu dan dapat melaporkan, dan untuk itu ia harus dapat membebaskan diri. Akan tetapi bagaimana? Sian Li tidak merasa gentar, tidak merasa putus asa. Sebagai seorang gadis yang cerdik, ia pun tahu bahwa gerombolan itu tidak ingin membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu ia sudah sejak tadi dibunuh. Tidak, mereka tidak akan membunuhnya, dan yang jelas, mereka akan membujuknya agar ia suka membantu mereka, bekerja sama dan menjadi sekutu mereka. Seperti Sian Lun! Akan tetapi ia tidak sudi! Hanya ada satu hal yang membuat hatinya terasa cemas dan ngeri juga, yaitu ucapan tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi bahwa ia akan diserahkan kepada Pangeran Gulam Sing untuk dijinakkan! Bergidik juga ia kalau teringat kepada pangeran Nepal itu. Memang seorang pria yang tinggi besar, brewok dan gagah, nampak jantan.
Akan tetapi matanya sungguh menyeramkan, seperti mata seekor harimau kelaparan melihat domba! Sian Li menghela napas panjang. Ia tidak perlu membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Membayangkan hal-hal mengerikan yang belum datang hanya akan menimbulkan rasa cemas saja. Ia masih memiliki kemampuan untuk membela diri, dan di sana masih ada Yo Han! Yo Han dibantu oleh Nyonya Gak dan juga Gak Ciang Hun. Mereka bertiga adalah orang-orang sakti, tidak mungkin kalau sampai tertawan musuh. Bukankah Bibi Gak telah meng-atur pelarian untuk mereka kalau bahaya mengancam? Pula, ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han! Dobhin Lama sendiri yang demikian sakti masih tidak mampu menandinginya! Sungguh mangherankan sekali kenyataan itu.
Yo Han, yang dahulu tidak pernah mau belajat silat, yang membenci kekerasan, kini tiba-tiba saja muncul sebagai Sin-ciang Tai-hiap yang demikian saktinya. Terdengar suara laki-laki di depan pintu bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengertinya dan beberapa orang Nepal itu mening-galkan pintu kamar. Jantungnya berdebar tegang. Apakah pangeran itu yang muncul? Ketika orang itu berdiri di ambang pintu, ternyata bukan pangeran Nepal yang datang melainkan Cu Ki Bok, pemuda peranakan Han Tibet, murid Lulung Lama. Pemuda yang tinggi tegap dan tampan itu berdiri di situ memandang kepadanya. Sian Li yang menghadap ke arah pintu juga memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian. Pemuda itu tersenyum, melirik ke kanan kiri lalu melang-kah memasuki kamar dengan ringan dan cepat. Dia duduk di tepi pembaringan lalu berbisik.
"Nona, dengarkan baik-baik dan jangan membantah. Dengar, engkau telah tertawan dan aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu. Akan tetapi, engkau harus bersikap damai, tidak memberontak karena percuma saja kalau engkau hendak melarikan diri. Di sini terjaga kuat dan kami berjumlah banyak. Engkau tidak akan diganggu, dan aku bertugas mengawasimu. Nah, kalau engkau berjanji tidak akan memberontak atau lari, aku akan melepaskan ikatanmu. Maukah engkau berjanji?"
Sian Li mengerutkan alisnya. Ia tahu akan benarnya ucapan pemuda itu, walaupun ia tidak dapat percaya sepenuhnya karena menduga bahwa sikap dan ucapan ini tentu sebuah tipu muslihat. Ia harus berhati-hati. Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau kaki tangannya tidak terikat. Setidaknya ia dapat leluasa dan dapat membela diri lebih baik kalau terancam bahaya. Melihat keraguan gadis itu, Cu Ki Bok melanjutkan bisikannya.
"Nona tentu mencurigaiku. Akan tetapi ingatlah, kalau Nona dalam keadaan terbelenggu, bagaimana engkau akan dapat membela diri kalau Pangeran Gulam Sing datang dan mengganggumu? Pula, dalam keadaan terbelenggu, bagaimana mungkin engkau akan membebaskan diri? Berjanjilah bahwa engkau tidak akan memberontak atau lari, dan aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu dan kau akan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat."
Sian Li mengangguk.
"Aku berjanji, akan tetapi janjiku ini bukan berarti bahwa aku tidak akan membebaskan diri dan lari dari sini kalau ada kesempatan."
Cu Ki Bok memandang kagum. Gadis ini terlalu gagah untuk berbohong, maka berjanji pun dengan terus terang karena tidak ingin melanggar janjinya sendiri. Bukan main!
"Tentu saja, Nona. Dan aku sendiri akan membantumu kalau kesempatan itu tiba. Untuk itu engkau harus memperlihatkan sikap lunak agar para pimpinan percaya bahwa kau tidak akan memberontak dan lari."
Pemuda itu lalu melepaskan ikatan tali sutera dari kaki dan tangan gadis itu. Sian Li bangkit duduk, mengurut-urut pergelangan tangan dan kakinya untuk memperlancar jalan darah sambil mengamati wajah Cu Ki Bok dengan tajam dan penuh selidik. Karena merasa tidak enak bicara dengan pemuda itu selagi ia duduk di atas pembaringan, gadis itu lalu berpindah duduk di atas kursi yang terdapat di kamar itu.
"Cu Ki Bok, apa artinya ini?, Katakan terus terang, mengapa engkau menolongku? Dengan pamrih apakah? Kalau ini merupakan siasat busukmu, lebih baik aku mengamuk sekarang dan tewas di tangan kalian!"
"Sabar dan tenanglah, Nona. Percayalah, sekali ini aku tidak bersiasat. Apa perlunya bersiasat dan membebaskanmu dari belenggu kalau tadi engkau sudah tidak berdaya?"
"Lalu, kenapa engkau membebaskan aku dari ikatan kaki tanganku?"
Tentu saja Cu Ki Bok tidak berani menyatakan secara terang bahwa sejak pertama kali berjumpa, dia sudah jatuh hati kepada gadis muda perkasa ini. Tak mungkin dia mengaku cinta begitu saja, karena selain hal itu mentertawakan, juga sudah pasti gadis itu tidak akan percaya dan menganggap dia merayu atau bersiasat.
"Ada dua hal yang memaksa aku tidak dapat membiarkan engkau tertawan dalam keadaan tersiksa dalam belenggu, Nona. Pertama, engkau seorang pendekar gagah perkasa, bukan penjahat, bahkan tenagamu dibutuhkan oleh rakyat untuk membebaskannya dari belenggu penjajahan. Kalau pun menjadi tawanan, engkau patut diperlakukan dengan hormat dan tidak dibelenggu seperti itu. Dan ke dua, terus terang saja aku merasa muak dan tidak suka melihat cara engkau ditawan oleh Liem Sian Lun."
Bagaimanapun juga, hati Sian Li masih merasa curiga dan ia tetap waspada terhadap pemuda tampan murid Lulung Ma itu.
"Apa yang terjadi dengan Liem Sian Lun? Kenapa dia bersikap seperti itu, berpihak kepada kalian dan mengkhianatiku?"
Cu Ki Bok menghela napas panjang.
"Ia bukan seorang jantan. Dia lemah dan bertekuk lutut terhadap rayuan Pek-lian Sam-li yang bekerja sama dengan Pangeran Gulam Sing. Berjuang menentang penjajah Mancu memang tugas seorang gagah dan boleh saja dia bergabung dengan kami untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu. Akan tetapi dia bukan orang gagah, dia menakluk karena terbujuk rayuan tiga orang wanita itu." "Hemmm, kau sendiri, orang baik-baikkah? Kenapa engkau menjadi antek para Lama dan juga bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal?"
"Aku murid Suhu Lulung Lama, tentu saja aku membantu Suhu. Kami memang pejuang, akan tetapi bukan penjahat. Kerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal hanya kerja sama di bidang menghadapi musuh, bukan untuk urusan lain. Aku tidak suka cara-cara pengecut dan curang."
Sian Li mengamati wajah pemuda itu dengan tajam penuh selidik, Ada benarnya pula ucapan pemuda itu. Jujurkah dia dalam usahanya menolongnya? Memang benar juga bahwa tidak ada gunanya mempergunakan muslihat. Ia tadi sudah tidak berdaya. Andaikata terdapat muslihat di balik pertolongan pemuda ini tentu hanya untuk menyenagkan hatinya agar ia mau bekerja sama, membantu mereka dalam perjuangan melawan penjajah Mancu. Dan seperti juga Yo Han, ia tidak melihat sesuatu yang buruk dalam urusan membantu menentag pemerintah Mancu.
"Hemm, kalau begitu, sekarang aku menjadi tawanan, dan tidak boleh keluar dari tempat ini? Apakah aku boleh keluar dari kamar ini dan dengan bebas melihat-lihat keadaan di dalam sarang kalian ini?"
"Nona, akulah yang bertugas menjaga dan mengamatimu, dan aku sudah memberitahu kepada semua anggauta Hek I Lama agar engkau dibiarkan tinggal di sini dengan bebas, asal engkau tidak membikin ribut, tidak pula berusaha melarikan diri. Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu, maka kalau Nona melarikan diri, berarti membikin susah padaku. Aku sudah berusaha menghindarkan dirimu dari keadaan yang tidak enak, maka kuharap engkau juga suka menjaga agar aku tidak sampai mendapat kesusahan karena engkau lari."
Sian Li mengangguk-angguk.
"Baiklah, Cu Ki Bok. Akan tetapi aku ingin bertemu dengan Liem Sian Lun, jahanam itu. Aku harus membuat perhitungan dengan dia!"