Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 119

Memuat...

Kata Nyonya Gak.

"Saya akan minta bantuan beberapa tokoh kang-ouw di perbatasan yang telah sadar dan kini menjadi orang baik-baik. Mereka mempunyai banyak kawan dan saya yakin mereka suka membantu saya,"

Kata Yo Han. Ibu dan anak itu memandang kagum. Mereka sudah mendengarkan sepak terjang Sin-ciang Tai-hiap yang tidak pernah membunuh para penjahat,

Melainkan menaklukkan mereka dan menasehati, dengan kasar maupun halus berhasil membuat banyak penjahat mengambil cara hidup yang sama sekali berubah, dari jalan sesat ke jalan yang benar. Mereka lalu mengatur siasat, membagi tugas sebelum meninggalkan guha itu, melalui sebuah terowongan bawah tanah pendek yang dibuat oleh ibu dan anak itu. Terowongan ini menembus ke lereng bukit melalui pintu rahasia yang dari luar nampak seperti batu besar biasa. Apakah yang terjadi dengan diri Sian Lun? Kenapa dia yang akan ditolong Sian Li, bersikap seperti itu, berbalik menotok dan menawan Sian Li, dan menghilang di antara para anak buah gerombolan? Liem Sian Lun telah terjatuh ke tangan Pek-lian Sam-li! Tiga orang wanita Pek-lian-kauw ini adalah tiga orang tokoh Pek-lian-kauw yang berwatak cabul.\n\n\n\nPek-lian Sam-li sudah terkenal sebagai kakak beradik yang genit, mata keranjang dan mesum. Setiap kali bertemu dengan pria tampan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk merayunya bahkan kalau pria itu menolak, memaksanya. Mereka selain lihai sekali ilmu silatnya, juga mereka pandai ilmu sihir, ahli racun sehingga dengan berbagai cara tidak ada pria yang akhirnya tidak tunduk kepada mereka. Ketika mereka berhasil menawan Liem Sian Lun, tentu saja sudah terbakar gairah mereka untuk menguasai pemuda tampan dan gagah itu, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Pulau Es! Mereka akan mendapat banyak keuntungan kalau berhasil menguasai pemuda ini. Pertama, pemuda ini masih muda, baru berusia dua puluh tahun, seorang perjaka tulen, tampan dan bertubuh kuat. Ke dua, dengan menundukkan pemuda itu,

Berarti mereka dapat membalas semua dendam dan kebencian mereka terhadap musuh besar Pek-lian-kauw, yaitu para pendekar Pulau Es karena pemuda itu merupakan murid Pulau Es. Dan ke tiga, mereka dapat menyenangkan hati sekutu mereka, yaitu para pendeta Lama jubah hitam yang hendak mengumpulkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti pemuda itu, karena setelah menguasai Sian Lun, tentu pemuda itu akan suka menjadi sekutu mereka pula. Sian Lun pada dasarnya bukanlah seorang pemuda yang berhati teguh. Semenjak dewasa, sudah seringkali dia termenung, membayangkan hal-hal yang menimbulkan berahinya. Dia pun sudah seringkali memandang kepada sumoinya, Sian Li, dengan pandang mata penuh gairah berahi. Apalagi setelah dia mendengar percakapan suhu dan subonya, yang ingin menjodohkan dia dengan SianLi,

Seringkali dia membayangkan betapa senangnya kalau dia bermesraan dengan sumoinya yang cantik itu sebagai suami isteri! Dia jatuh cinta kepada Sian Li, dan makin dibayangkan, semakin dalam dia tenggelam dalam cinta. Bahkan sering kali terbawa dalam mimpi. Ketika mereka melakukan perjalanan bersama, kalau saja dia tidak takut kepada sumoinya yang dalam hal ilmu kepandaian silat lebih tangguh darinya, tentu sudah dinyatakan perasaan hatinya itu dengan perbuatan. Rasanya amat menyiksa baginya, seperti seorang kelaparan melihat makanan lezat tanpa boleh memakannya, atau seorang kehausan melihat air jernih tanpa boleh meminumnya. Berkobarnya nafsu berahi yang sering kali menggodanya itu masih dapat dilawan dengan dua keyakinan, yaitu pertama bahwa menuruti nafsunya itu adalah tidak benar,

Dan kedua menuruti nafsunya itu tentu dia akan celaka karena sumoinya yang cantik itu amat galak dan lihai! Nafsu berahi, seperti segala macam nafsu yang dimiliki manusia, adalah sesuatu yang wajar, bahkan yang terbawa lahir, merupakan alat bagi manusia hidup di dunia. Nafsu berahi merupakan sesuatu yang teramat penting, bahkan mutlak se bagai pendorong agar manusia tidak akan musna, agar dapat berkembang biak. Segala macam ciptaan Tuhan yang terdapat di dunia ini, disertai nafsu seperti ini, yaitu nafsu yang mendorong bersatunya dua kelamin yang berlawanan untuk bersatu dan dari persatuan ini terciptalah manusia atau mahluk sejenis yang baru, yang dinamakan anak bagi manusia dan hewan, dinamakan buah bagi tumbuh-tumbuhan. Anak menjadi manusia baru dan buah-buah menjadi calon bibit tumbuhan baru.

Tuhan Maha Kasih! Di dalam nafsu berahi, disertakan rasa nikmat sehingga semua mahluk termasuk manusia terdorong untuk melakukan persatuan itu dengan suka rela. Dan di dalam rasa nikmat inilah setan menyusup! Rasa nikmat ini yang dijadikan alat oleh setan untuk menggoda manusia sehingga manusia menjadi lupa diri. Karena mengejar perasaan nikmat itu maka bukan lagi manusia memperalat nafsu, melainkan terjadi kebalikannya, nafsu yang memperalat manusia! Bukan manusia menjadi majikan daripada nafsu berahi, malah nafsu berahi yang menjadi majikan dan manusia menjadi budak nafsunya sendiri. Dan kalau sudah begini, terjadilah perbuatan sesat atau perbuatan yang sifatnya merusak dan merugikan orang lain atau bahkan yang akibat panjangnya akan merusak dirinya sendiri.

Semua agama dan filsafat yang dicetuskan orang-orang budiman, pelajaran agama yang diwahyukan oleh Tuhan, semua bertujuan untuk mengingatkan manusia agar sadar akan bahayanya pengaruh nafsu sendiri dalam diri. Namun, jarang ada orang yang mampu menguasai nafsunya sendiri, karena hati dan akal pikiran kita pun sudah dicengkeram nafsu sehingga usaha apapun yang klta lakukan, di situ terkandung keinginan nafsu. Kenyataan ini dapat kita lihat buktinya dalam kehidupan ini, kalau kita melihat dan meneliti keadaan dirikita sendiri. Betapa banyaknya kebiasaan-kebiasaan kecil atau besar yang kita lakukan, kita ketahui dan mengerti benar bahwa perbuatan itu tidak benar atau tidak baik, namun kita tidak berdaya untuk mengubahnya! Kita tahu benar bahwa amarah itu tidak benar dan tidak baik, akan tetapi sekali kema-rahan muncul, kita tidak berdaya untuk mengatasinya dan kita terseret oleh kemarahan kita.

Demikian pula dengan permainan nafsu yang lain, keterikatan kita kepada benda, kepada makanan, kepada orang lain. Semua itu menimbulkan kesenangan yang selalu dikejar-kejar nafsu, yang menjadi pemikat bagi kita sehingga sukarlah bagi kita untuk mengubahnya. Nafsu merupakan pembawaan yang diikutsertakan ketika kita lahir, dan nafsu merupakan alat yang teramat penting bagi kehidupan kita. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan dapat hidup seperti manusia yang wajar. Namun, disamping kepentingannya yang mutlak, nafsu juga merupakan bahaya yang akan menyeret kita ke dalam kesesatan, yang akan men-jauhkan kita dari kewajiban utama manusia, yaitu mendekati Tuhan yang menciptakan kita dan seluruh keadaan di alam maya pada ini. Nafsu penting bagi kita, akan tetapi juga berbahaya bagi kita. Lalu bagaimana? Sudah sejak jaman pra sejarah,

Manusia sadar akan bahayanya nafsu, dan sejak itu manusia sudah berusaha untuk menalukkan nafsu, mengekang dan mengendalikan nafsu. Ada yang dengan cara bertapa menjauhkan diri dari dunia ramai, ada yang dengan jalan menyiksa diri, dan seribu satu macam cara lagi. Namun, semua cara itu adalah usaha hati dan akal pikiran, maka terjadilah pertentangan sendiri di dalam batin, tarik menarik antara keinginan, bersenang-senang menuruti gejolak nafsu, dan keinginan menolak gejolak nafsu karena sadar akan akibatnya yang akhirnya tidak menyenangkan. Jelaslah bahwa pada dasarnya, di antara kedua keinginan itu sama, timbul dari hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu, yaitu keinginan mengejar kesenangan, dan keinginan menjauhi kesusahan yang timbul karena pengejaran itu! Dan pertempuran ini tidak ada habisnya selama kita hidup.

Kadang nafsu yang menang dan berkobar membakar, kadang nafsu dapat ditundukkan untuk sementara, seperti api di dalam sekam yang setiap waktu akan berkobar lagi. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak mungkin dapat menundukkan nafsu, karena "kita"

Inilah nafsu itu sendiri. Kita adalah hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu, maka apa pun yang kita usahakan, pada dasarnya hanya untuk mengabdi kepada nafsu, untuk pemuasan nafsu dengan segala cara, ada yang kasar, ada yang halus, bahkan ada cara yang dipulas seolah-olah cara itu bukan buatan nafsu. Setan memang teramat licik dan pandai, penuh tipu muslihat dan memang sudah menjadi tugasnya untuk menggoda kita. Kalau kita manusia hanya mengandalkan hati akal pikiran saja, takkan mungkin kita dapat mengalahkan setan!

Jalan satu-satunya hanyalah berpaling kepada Sang Maha Pencipta! Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat menundukkan segala yang ada yang nampak dan yang tidak nampak oleh mata kita, termasuk setan. Betapa tidak? Setan dan nafsu pun diciptakan oleh Tuhan! Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih! Menyerah tanpa syarat, menyerah dengan total, mutlak, menyerah dengan sabar, tawakal dan ikhlas. Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan seluruh batin kita, hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu mengembalikan nafsu dalam tugas yang sebenarnya, yaitu menjadi abdi jiwa manusia, membantu kehidupan manusia di dunia dan tidak lagi majikan yang kejam, tidak lagi menjadi pemikat dan pembujuk yang menyeret kita ke dalam kesesatan.

Menyerah tanpa syarat, bukan "menyerah demi memperoleh sesuatu"

Karena kalau demikian halnya, maka yang dinamakan penyerahan ini pun hanya tipu muslihat dari nafsu belaka dan kita akan tetap berada dalam lingkaran setan permainan nafsu daya rendah! Menyerah tanpa pamrih, dengan ikhlas dan tawakal saja! Sian Lun yang masih, hijau itu, tidak kuat menghadapi rayuan tiga orang wanita cantik seperti Pek-lian Sam-li. Apalagi tiga orang wanita cabul itu bukan sekedar merayu biasa. Mereka pun mencampurkan racun pembius dan perangsang dalam minuman yang disuguhkan kepada Sian Lun, bahkan ditambah lagi dengan kekuatan sihir mereka! Sian Lun jatuh dalam pelukan mereka. Bahkan Pangeran Gulam Sing yang kini menjadi sahabat baik dan rekan pengumbar nafsu berahi dari tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu,

Juga membantu dengan ilmu sihirnya, membuat Sian Lun menjadi kehilangan kesadaran sama sekali. Pemuda itu benar benar runtuh dan kalau tadinya dia seperti seekor harimau jantan yang ganas, kini di tangan tiga orang wanita itu dia berubah menjadi seperti seekor domba jinak! Dia merasa seolah-olah dia telah mendapatkan kebahagiaan hidup yang selama ini didambakan dan diimpikannya. Dia percaya bahwa tiga orang wanita kakak beradik itu amat mencintanya dan memanjakannya sehingga dia dengan amat mudahnya melupakan Sian Li, gadis yang biarpun pernah membuatnya tergila-gila namun yang tak terjangkau olehnya itu! Dalam waktu satu malam saja, Sian Lun telah berubah sama sekali. Dia kini telah menyerah, dan di dalam pelukan tiga orang wanita itu,

Dia bersumpah untuk bekerja sama dengan mereka, mentaati semua keinginan tiga orang wanita yang dianggapnya amat mencintanya dan yang dapat membuat dia seperti terbuai dalam kemesraan dan kenikmatan yang tanpa batas. Dalam keadaan seperti ini, Pangeran Gulam Sing mendekatinya dan menjanjikan kedudukan tinggi, pangkat yang besar di Nepal kalau perjuangannya kelak berhasil! Dan Sian Lun menganggap ini sebagai suatu cita-cita yang teramat besar dan mulia. Demikianlah, ketika dia dalam keadaan terpengaruh sihir, diperintah oleh Pek-lian Sam-li untuk berpura-pura menjadi tawanan dan agar dia menawan sumoinya sendiri, dia melakukannya dengan rela dan senang hati. Dia ingin membuat jasa untuk menyenangkan hati Pek-lian Sam-li dan juga para pimpinan Hek I Lama dan Pangeran Gulam Sing.

Sian Li tentu saja merasa terkejut bukan main, juga merasa heran ketika tiba-tiba suhengnya menotoknya. Karena sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya yang hendak ditolongnya itu malah menotoknya, gadis itu dapat dirobohkan dengan mudah dan Sian Li hanya dapat merasa heran dan penasaran sekali ketika tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya itu dipondong dan dilarikan Sian Lun. Makin besar keheranan Sian Li ketika ia dibawa oleh suhengnya ke sarang Hek I Lama! Dalam perjalanan tadi, ketika suhengnya melarikannya, ia masih diam saja karena mengira bahwa suhengnya tentu bermaksud menyelamatkannya, mengira bahwa suhengnya akan melarikannya ke tempat yang aman. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Sian Lun membawanya masuk ke pintu gerbang sarang perkumpulan pendeta Lama Jubah hitam itu!

"Suheng, apa yang kau lakukan ini?"

Tanyanya dengan suara lemah karena totokan itu selain melumpuhkan kaki tangannya, juga membuatnya lemah sehingga untuk mengeluarkan suara pun tidak dapat keras.

"Diam sajalah, Sumoi. Semua ini kulakukan demi kebaikan kita,"

Jawab Sian Lun. Anehnya, para pendeta Lama yang berada di situ, ketika melihat Sian Lun masuk memondong tubuh gadis yang lemas itu, hanya menonton saja, bahkan ada di antara mereka yang tersenyum atau menyeringai. Dan agaknya Sian Lun sudah hafal akan tempat di situ. Dia langsung saja membawa sumoinya ke sebuah kamar dan merebahkan tubuh gadis itu ke atas sebuah pembaringan dalam kamar itu. Sian Li membelalakkan matanya ketika melihat suhengnya mengambil sehelai tali sutera dan mulai mengikat pergelangan kaki dan kedua tangannya.

"Suheng, apa yang kau lakukan ini?"

Kembali ia bertanya dan kini suaranya mulai menguat, tanda bahwa pengaruh totokan itu mulai mengendur, juga ia mulai dapat menggerakkan kaki tangan walaupun masih lemah. Namun, ikatan tali sutera itu kuat bukan main dan ia pun tidak mampu melepaskan diri. Sian Lun tidak menjawab, melain-kan melanjutkan pekerjaannya. Setelah dia merasa yakin bahwa ikatan kaki tangan sumoinya itu kuat, barulah dia berkata, suaranya datar saja, seperti tanpa perasaan.

"Sumoi, terpaksa aku mengikat kaki tanganmu agar kalau sudah pulih dari totokan, engkau tidak melakukan kebodohan dan memberontak."

"Suheng, lepaskan aku! Sudah gilakah engkau? Apa artinya semua ini, Suheng?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment