Kakek itu berdiri tegak, tangan kiri tegak lurus dengan jari terbuka menempel miring di depan dahi,
Lengan kanan menjepit tongkat panjangnya di bawah ketiak. Yo Han tidak berani memandang rendah lawan. Pernah dia mendengar dari Kakek Ciu Lam Hok bahwa tokoh-tokoh dari Tibet dapat menjadi lawan yang amat berbahaya karena kekuatan sihir mereka. Dalam hal ilmu silat, tokoh-tokoh Tibet hanya mengandalkan tenaga sakti yang mengandung kekuatan sihir, sedangkan mengenai gerakan silatnya, tidak berapa hebat. Gerakan tokoh Tibet tidaklah selincah ilmu silat dari timur. Akan tetapi karena setiap gerakan mengandalkan sin-kang yang diperkuat oleh ilmu sihir, maka gerakan itu menjadi amat kuat dan berbahaya sekali. Oleh karena itu, diam-diam dia pun menghimpun tenaga sakti yang pernah dipelajarinya dari ilmu Bu-kek-hoat-keng, yaitu ilmu kesaktian yang menjadi andalan mendiang gurunya.
Sesuai dengan wataknya, Yo Han tidak pernah mau mempergunakan senjata dari baja, karena dia tidak mau melukai orang, bahkan dia pantang membunuh orang. Senjata pelindung diri hanya kaki tangan dan ilmu-ilmunya. Namun, dengan menguasai Bu-kek-hoat-keng, memang dia tidak membutuhkan lagi segala macam senjata. Tenaga sin-kang yang ditimbulkan oleh ilmu itu membuat tubuhnya, terutama kedua lengannya, menjadi kebal dan dapat menangkis senjata tajam yang bagaimana ampuh pun. Tentu saja kekebalan ini hanya pada bagian tubuh di mana dia menyalurkan sin-kangnya. Bagian yang tidak dilindungi sin-kang yang dia salurkan, tentu saja tidak kebal. Kekebalannya bukan karena ilmu hitam, melainkan karena lindungan tenaga sakti dari dalam yang dikerahkan ke bagian tubuh itu.
"Locianpwe, saya sudah siap,"
Katanya dan dia pun berdiri dengan sikap tenang, kedua kaki terpentang dan tubuhnya agak miring menghadapi lawan, kedua tangan dirangkap seperti menyembah di depan dada kiri. Inilah jurus yang oleh gurunya dinamakan jurus
"Menyembah Tuhan dengan Hati Tulus".
"Sin-ciang Tai-hiap, pinceng hendak mempergunakan tongkat. Keluarkan senjatamu!"
Yo Han menggeleng kepala.
"Locian-pwe, senjata dibuat hanya untuk membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh siapapun, dan untuk melindungi diri, Tuhan telah melengkapi tubuh saya ini dengan lengkap dan sempurna. Saya sudah siap, silakan Locianpwe."
"Omitohud, engkau seorang pendekar yang hebat, ataukah yang tinggi hati? Nah, pinceng telah mendengar ucapanmu. Sambut serangan pinceng ini!"
Kakek berjubah hitam itu mulai menggerakkan tongkat yang tadinya dijepit di bawah ketiak dan terdengarlah sambaran angin yang terdengung seperti ada ratusan ekor kumbang terbang menyerang! Yo Han sudah menduga bahwa kakek itu tentu mengandalkan tenaga dan kekuatan sihir untuk menyerangnya, maka dia pun sudah siap siaga. Tubuhnya bergerak ke kiri ketika kakinya digeser dan sambaran tongkat itu lewat dan luput, namun angin pukulannya yang menyambar terasa olehnya amat kuat dan mengandung hawa panas. Dia harus menghormati lawannya yang sudah tua, yang pantas menjadi kakeknya Maka, Yo Han membiarkan Dobhin Lama menyerangnya sampai tiga kali tanpa membalas.
Serangan itu datang bertubi, makin lama semakin kuat dan berbahaya sekali. Namun, Yo Han tetap hanya menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak. Sambaran tongkat yang ke tiga kalinya hampir saja membuat dia terpelanting, karena hawa pukulan tongkat itu sedemikian kuatnya, membuat rambutnya yang panjang berkibar dan hampir saja capingnya yang lebar itu diterbangkan! Dengan terhuyung Yo Han masih sempat memegang capingnya sehingga tidak sampai terbuka dan memperlihat-kan mukanya. Setelah tiga kali serangannya dapat dielakkan lawan tanpa membalas, Dobhin Lama mengerutkan alisnya yang putih dan dia merasa penasaran. Apakah pendekar muda ini berani meman-dang rendah kepadanya sehingga hanya mengalah saja, tidak membalas?
"Sin-ciang Tai-hiap, balaslah serangan pinceng! Apakah engkau menganggap pinceng seorang lawan yang terlalu lemah bagimu?"
"Sama sekali tidak, Locianpwe. Kalau saya selama tiga jurus tidak melawan, hal itu saya lakukan untuk menghormati Locianpwe yang merupakan golongan jauh lebih tua dari pada saya. Sekarang saya akan membalas, Locianpwe."
"Bagus! Nah, sambutlah ini!"
Kakek itu kembali menyerang, tongkatnya mem-buat gerakan terputar, ujungnya membentuk lingkaran lebar, makin lama semakin cepat dan mengecil lalu ujung itu meluncur ke arah dada Yo Han! Sekali ini Yo Han tidak mengelak, melainkan menggunakan ilmu Bu-kek-hoat-keng untuk memutar lengan kanan dan menangkis luncuran tongkat ke arah dadanya itu, ilmu ini adalah ilmu kesaktian yang amat hebat. Satu diantara keampuhannya adalah hadirnya tenaga mujijat yang menolak semua hawa kebencian yang datang dari lawan, terkandung dalam sera-ngan lawan. Betapa kuat dan tinggi ilmu lawan, kalau lawan menyerang dengan kandungan hati mem-benci, maka serangannya itu akan membalik dan mungkin mengenai diri sendiri!
"Plakkk!"
Tangkisan yang disertai tenaga sin-kang amat kuat itu ternyata tidak membuat tongkat itu membalik dan menye-rang pemiliknya sendiri dan ini merupakan bukti bahwa tidak ada kebencian terkandung dalam serangan itu! Akan tetapi, akibat benturan kedua tenaga sakti membuat Yo Han terhuyung ke belakang, dan Dobhin Lama juga terdorong ke belakang beberapa langkah!
Keduanya saling pandang dengan kagum. Bagi Dhobin Lama, baru sekarang ada seorang muda yang mampu menangkis tusukan tongkatnya tadi, dan bagi Yo Han, juga pendeta itu merupakan lawan yang paling tangguh yang pernah dilawannya. Tangguh dan tidak ada kebencian di hatinya! Diam-diam dia merasa girang dan diapun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kepandaiannya untuk menandingi lawan yang hebat itu. Pertandingan itu memang hebat bukan main. Kadang berjalan cepat, kadang lambat. Bumi di pekarangan itu tergetar, daun-daun pohon yang berada di dekat situ rontok. Lulung Lama dan muridnya, Cu Ki Bok, menonton dengan mata terbelalak dan penuh kagum. Mereka merasa beruntung bahwa mereka tadi tidak maju melawan Sin-ciang Tai-hiap, karena kalau hal itu terjadi, mereka pasti kalah. Apalagi Cu Ki Bok, bahkan gurunya, Lulung Lama,
Setelah menyaksikan pertandingan itu, maklum bahwa dia takkan menang melawan pendekar aneh yang amat lihai itu. Makin lama, kedua orang yang bertanding itu menjadi semakin kagum kepada lawan. Yo Han juga kagum bukan main. Biarpun lawannya sudah tua sekali, akan tetapi semua serangan balasannya seperti membentur tembok baja yang amat kuat, yang sukar ditembus. Mereka saling serang dan saling desak, namun tidak pernah dapat membobolkan benteng pertahanan lawan sehingga tanpa terasa lagi, seratus jurus lebih telah terlewat! Dan selama itu, keduanya tidak pernah mengendurkan tenaga, karena siapa yang mengendur pasti akan kalah. Karena semua jurus yang mereka mainkan tidak mampu menembus benteng pertahanan lawan, maka mereka kini tidak lagi mengandalkan jurus silat, melainkan lebih mengandalkan kekuatan sin-kang.
Akhirnya, keadaan usia menguntungkan Yo Han. Kalau dia hanya merasa lelah saja, lawannya kini sudah mandi keringat dan napasnya agak terengah saking kehabisan tenaga. Bahkan dari kepala yang tidak berambut itu sudah mengepul uap putih yang agak tebal, tanda bahwa tubuhnya telah menjadi panas sekali. Maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya kalau dilanjutkan, maka Dobhin Lama lalu mengeluarkan jurusnya yang paling hebat, yaitu Jurus Gunung Runtuh! Dia mengeluarkan pekik yang dahsyat, tongkat-nya menyambar dari atas ke arah kepala Yo Han dengan tenaga sepenuhnya yang masih tersisa. Melihat ini, Yo Han juga mengerahkan seluruh tenaganya, menangkis dengan kedua lengannya, mendorong ke atas. Bertemulah tongkat dengan kedua lengan pendekar itu.
"Brakkkk....!"
Yo Han terhuyung, akan tetapi tongkat di tangan Dobhin Lama patah menjadi tiga potong! Kakek itu nampak pucat dan dia menghela napas panjang sambil melempar potongan tongkatnya ke atas tanah.
"Omitohud....pinceng mengaku kalah....!"
Dia lalu duduk bersila di atas tanah, berkata kepada Lulung Lama.
"Sute.... bebaskan pemuda itu...."
Dia mengeluarkan sebuah kalung dari saku jubahnya kalung dengan mainan sebuah mutiara hitam dan melemparkan benda itu kepada Yo Han.
"Nah, terimalah mutiara hitam ini!"
Yo Han menerima sambaran mutiara hitam itu dan dia pun memberi hormat, hatinya merasa terharu dan juga kagum.
"Banyak terima kasih bahwa Locianpwe telah mengalah dan menepati janji."
Lulung Lama bertepuk tangan dan dari lereng bukit itu muncullah Sian Lun yang diiringkan dua orang pendeta Lama jubah hitam. SianLun agaknya dalam keadaan tertotok dan dia dibimbing dua orang pendeta itu. Lulung Lama lalu mendorong tubuh Sian Lun sehingga pemuda ini roboh tertelungkup. Dari dalam pondok, muncul Sian Li yang dengan sekali lompatan berada didekat Yo Han. Melihat munculnya sumoinya, Sian Lun berkata lirih,
"Sumoi, tolonglah aku...."
Sian Li menghampiri Sian Lun, berlutut dan meraba pundak suhengnya itu untuk memulihkan kesehatannya, membebaskannya dari totokan. Akan tetapi pada saat itu, Sian Lun tiba-tiba saja menggerakkan tangan dan menotok jalan darah di punggung sumoinya! Gerakkannya ini sama sekali tidak terduga oleh Sian Li sehingga gadis itu sama sekali tidak dapat menjaga dirinya. Tahu-tahu ia sudah tertotok dan lemas, dan Sian Lun sudah merangkul pinggangnya dan membawanya meloncat ke belakang Lulung Lama dan Cu Ki Bok! Dari dalam pondok, Nyonya Gak dan puteranya, Gak Ciang Hun, sejak tadi mengintai dan begitu melihat Sian Li ditangkap oleh suhengnya sendiri, seperti juga Yo Han, mereka tertegun heran. Akan tetapi Nyonya Gak lalu meloncat keluar, diikuti puteranya.
"Sin-ciang Tai-hiap, mereka bertindak curang!"
Teriak nyonya itu. Yo Han memang tertegun dan bingung melihat betapa Sian Lun tiba-tiba malah menangkap sumoinya. Akan tetapi pada saat itu,muncullah puluhan orang dari depan, kanan dan kiri. Mereka adalah para pendeta Lama Jubah hitam, dibantu oleh para anggauta pengemis tongkat hitam dan beberapa orang Nepal. Bahkan nampak pula Badhu dan Sagha, dua orang Nepal yang kuat itu, bahkan muncul pula tiga orang wanita cantik dari Pek-lian-kauw, yaitu Pek-lian Sam-li yang lihai.
"Lulung Lama, kalian curang! Bebaskan mereka berdua itu!"
Yo Han berseru dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan untuk menolong Sian Li dan Sian Lun, karena dia masih bingung dan mengira bahwa Sian Lun tentu dipaksa oleh mereka. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat Sian Lun membawa Sian Li meloncat ke belakang para penyerbu dan lenyap. Terpaksa dia menyambut pengeroyokan banyak orang itu, dibantu oleh Nyonya Gak dan Gak Ciang Bun yang sudah mengamuk.
"Locianpwe Dobhin Lama, apakah Locianpwe hendak melanggar janji sendiri?"
Teriak Yo Han penasaran. Akan tetapi, Dobhin Lama yang duduk bersila dan memejamkan mata itu tidak menjawab, juga tidak bergerak. Terpaksa Yo Han mengamuk, namun dia tidak membiarkan diri dikuasai dendam dan kemarahan. Dia tetap hanya merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh mereka. Tidak seperti Nyonya Gak dan puteranya yang mengamuk dengan pedang mereka, menewaskan beberapa orang pengeroyok. Akan tetapi, di pihak lawan terdapat banyak orang pandai, dan jumlah mereka semakin bertambah banyak sehingga bagaimanapun juga, tiga orang itu mulai terdesak.
"Mari kita pergi!"
Tiba-tiba Nyonya Gak berseru kepada puteranya dan Yo Han. Yo Han maklum bahwa melanjutkan perkelahian tidak ada gunanya, bahkan amat berbahaya. Padahal, dia harus dalam keadaan sehat dan selamat untuk dapat menolong Sian Li kemudian. Kalau sekarang dia nekat sekalipun, belum tentu dia akan dapat menemukan Sian Li yang telah dilarikan Sian Lun. Pula, dia belum tahu apa yang telah terjadi, dan mengapa Sian Lun bersikap seperti itu. Siapa tahu itu merupakan siasat pemuda itu untuk menolong sumoinya. Yang penting, dia harus menyelamatkan diri.
"Baik, Bibi Gak!"
Katanya dan dia pun membuka jalan dengan berkelebatan diantara para pengeroyok yang roboh satu demi satu. Nyonya Gak dan puteranya juga memutar pedang sedemikian rupa sehingga tidak ada pengeroyok berani mendekati mereka. Mereka berlari ke belakang pondok, dipimpin oleh Nyonya Gak dan benar seperti keterangannya tadi, mereka tiba di tepi jurang yang amat dalam sehingga tidak dapat dilihat dasarnya. Nyonya Gak dan puteranya telah mengambil tangga-tangga tali dari balik semak belukar dan cepat memasang tangga-tangga tali itu, mengikatkan pada akar pohon di belakang semak di tepi jurang.
"Mari, kita lari melalui tangga ini! Yo Han, kau ikutilah aku!"
Kata Nyonya Gak, sedangkan Ciang Hun sudah menuruni tangga tali yang lain.Yo Han tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengikuti Nyonya Gak menuruni tangga tali menuruni tebing jurang yang amat terjal dan dalam itu. Tangga tali itu panjangnya ada dua puluh meter dan ternyata mereka mendarat di sebuah guha besar. Setelah mereka bertiga tiba di guha, ibu dan anak itu segera menarik tangga-tangga tali itu dengan sentakan tiba-tiba yang membuat kaitan di ujung tangga pada akar pohon terlepas.
"Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menuruni tebing ini tanpa tangga tali, kecuali kalau dia mampu terbang seperti burung,"
Kata Nyonya Gak.
"Dari guha ini terdapat jalan setapak melalui tepi tebing menuju ke lereng bukit. Jalan ini kami temukan dan kami buatkan lorong menembus guha sehingga kecuali kami berdua, tidak ada yang mengetahuinya."