Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 93

Memuat...

"Pemberontak hina, hendak lari ke mana kau?"

Tangannya bergerak, jarum merah itu menyambar dan Lo-thong memekik nyaring, roboh dan berkelojotan karena jarumnya sendiri telah menembus ke dalam kepalanya melalui tengkuk!

"Paman....!"

Syanti Dewi menghampiri Bun Beng dan berlutut, mukanya masih pucat akan tetapi bibirnya tersenyum tanda girang. Bun Beng membuka kedua matanya, tersenyum kepada Syanti Dewi, kemudian berdiri dan menengok. Alisnya berkerut ketika dia melihat Lo-thong berkelojotan dalam sekarat.

"Yok-kwi, kenapa engkau membunuhnya?"

"Dia layak dibunuh dua kali!"

Jawab kakek itu.

"Kenapa?"

"Pertama, dia tadi hendak membunuh kita berdua. Kedua kalinya, dia adalah seorang anggauta pemberontak laknat, kaki tangan Pek-lian-kauw."

"Hemm....!"

Gak Bun Beng tidak berkata apa-apa lagi melainkan memandang kepada tubuh kecil yang sudah tidak bergerak lagi itu sambil menarik napas panjang. Yok-kwi menghampirinya dan menjura.

"Gak-taihiap, selain amat berterima kasih bahwa engkau telah dapat menyembuhkanku, juga aku merasa amat kagum akan kesaktian Taihiap. Kalau sekiranya kakimu buntung sebelah, tentu engkau inilah yang patut menjadi Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es yang terkenal."

Gak Bun Beng tersenyum.

"Beliau adalah guruku."

Kakek itu terbelalak, lalu tertawa dan kembali menjura dengan hormat.

"Ha-ha-ha, kiranya begitu? Ah, maafkan aku yang tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Sungguh beruntung sekali aku dapat berjumpa dan bersahabat dengan seorang murid Pendekar Super Sakti. Gak-taihiap, namaku adalah Kwan Siok, nama yang puluhan tahun kusembunyikan sehingga orang menyebutku Yok-kwi. Dan aku datang ke sini bukan hanya untuk mengasingkan diri dan menguji kepandaian dengan mendekati dua perkumpulan yang saling bermusuhan, akan tetapi juga diam-diam aku memperhatikan keadaan para pemberontak yang mulai meluaskan pengaruhnya di perbatasan ini. Diam-diam aku membantu untuk membalas budi kepada Puteri Mi-lana...."

Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya ketika melihat Bun Beng memandangnya dengan mata bersinar-sinar kaget. Akan tetapi ketika Bun Beng merasa betapa jari-jari tangan Syanti Dewi mencengkeram lengannya, dia dapat menenangkan hatinya sambll tersenyum dia berkata,

"Budi apakah yang kau terima dari puteri yang gagah perkasa dan terkenal itu?"

Yok-kwi menjura lagi.

"Maaf, tentu Taihiap mengenal baik Puteri Milana. Bukankah dia itu puteri dari Pendekar Super Sakti? Sebagai murid pendekar itu maka kau...."

"Tentu saja, dia terhitung sumoiku sendiri. Nah, katakanlah, budi apa yang kau terima darinya?"

"Ketika aku dikepung oleh musuh-musuhku, para tokoh Pek-lian-kauw yang sudah puluhan tahun menjadi musuhku, dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya maut Puteri Milana lewat dan menolongku. Kini, kota raja sedang ribut dengan adanya pertentangan antara para pengeran, dan ada usaha-usaha pemberontakan. Melihat Sang Puteri itu sibuk menangani sendiri untuk mengaman-kan kota raja, diam-diam aku membantu dengan mengamat-amati keadaan di sini."

Gak Bun Beng mengangguk-angguk.

"Aihh, kiranya engkau seorang yang berjiwa patriot, Kwan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah she Kwa)."

"Gak-taihiap, jangan menyebutku enghiong. Karena orang sudah memberiku nama Yok-kwi, biarlah kupakai terus nama itu. Kalau aku boleh mengetahui, mengapa Taihiap dan Nona ini sampai tiba di tempat sejauh ini?"

"Kami hendak pergi menjumpai Jenderal Kao Liang, untuk menceritakan keadaan di kota raja. Dan Nona ini...."

Gak Bun Beng ragu-ragu. Yok-kwi tertawa.

"Ha-ha, dia tentu saja adalah Sang Puteri dari Bhutan!"

Syanti Dewi mengeluarkan seruan tertahan dan Bun Beng memandang tajam penuh kecurigaan kepada kakek itu.

"Yok-kwi, bagaimana kau bisa tahu?"

"Mudah saja, Taihiap. Aku sudah mendengar akan Puteri Bhutan yang lenyap di tengah perjalanan dan kabar terakhir bahwa mungkin puteri itu tertolong oleh seorang sakti ketika hanyut di sungai. Sekarang, melihat Taihiap muncul di sini hendak menjumpai Jenderal Kao yang setia, bersama seorang dara yang sikap dan wibawanya seperti puteri, juga yang jelas adalah seorang dara berkebangsaan tanah barat, mudah saja menduga-duga."

"Kau memang cerdik sekali, Yok-kwi. Memang benar, dia adalah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan."

Yok-kwi menjura kepada Syanti Dewi.

"Harap Paduka sudi memaafkan segala kekurangajaran saya."

Syanti Dewi menghampiri Yok-kwi dan memegang tangan kakek itu.

"Aih, Locianpwe terlalu merendah. Sayalah yang minta maaf karena telah berani mempermainkan Locianpwe."

Yok-kwi tertawa bergelak sambil meraba jenggotnya,

Post a Comment