"Yang kalian jumpai tentulah orang lain, Siauw-sicu. Tidak mungkin dia, karena aku melihat dengan mata sendiri betapa dia terjerumus ke dalam sumur maut, bahkan Gak-taihiap yang mencoba untuk menyelidikinya, sudah pingsan ketika baru tiba di tengah sumur."
"Akan tetapi dia tadi...."
Kian Bu mencoba membantah.
"Yang muncul tadi jelas adalah arwahnya. Sungguh gadis yang amat baik.... sampai mati pun masih berusaha menemui dan melindungiku. Dia menghilang bersama asap putih, dia... dia arwah Nona Ceng.... akan terus berkeliaran dan penasaran kalau tidak kusembahyangi."
"Tapi...."
Kian Lee menyentuh tangan adiknya sehingga Kian Bu tidak banyak bicara lagi. Dengan hati tidak karuan rasanya, bingung dan juga penasaran, Kian Lee melihat betapa jenderal itu mengeluarkan sehelai gambar nona yang telah menarik hatinya itu, memasang gambar itu pada meja sembahyang, kemudian dia menyalakan lilin dan berkata kepada isteri dan kedua orang puteranya,
"Kalian lihat baik-baik wajah itu. Dialah yang telah menyelamatkan nyawaku dengan mengorbankan diri dan nyawanya sendiri. Dialah mgndiang Nona Lu Ceng atau Nona Candra Dewi dari Bhutan."
Sebelum jenderal itu mengajak isteri dan dua orang puteranya bersembahyang, tiba-tiba muncul seorang penjaga yang memberi hormat kepada jenderal itu dan melapor bahwa di luar datang seorang tamu yang berkeras menyatakan hendak bertemu dengan keluarga Jenderal Kao Liang. Jenderal Kao mengerutkan alisnya dan sepasang matanya memandang penjaga itu dengan marah,
"Engkau mengatakan bahwa aku berada di sini?"
Penjaga itu cepat memberi hormat dengan berlutut.
"Tentu saja tidak, Taijin. Saya telah menegurnya bahwa malam seperti ini bukan waktunya orang bertemu, dan saya malah mengatakan bahwa tuan rumah, yaitu Jenderal Kao Liang, bertugas di benteng utara. Akan tetapi dia berkeras minta bertemu dengan keluarga jenderal, katanya ada urusan yang amat penting. Sikap orang itu mencurigakan dan andaikata paduka tidak ada di sini, tentu saya akan mengerahkan teman-teman untuk mengusirnya dengan kekerasan. Akan tetapi karena paduka berada di sini, saya tidak berani lancang dan terpaksa melapor...."
Wajah yang tadinya marah itu kini berseri.
"Bagus! Kau melakukan tugasmu dengan baik. Kalau begitu, antarkan dia masuk!"
"Ayah....!"
Kao Kok Tiong berseru khawatir.
"Biarkan aku yang menemuinya."
Ayahnya menggeleng.
"Orang yang datang malam-malam begini tentu hanya mempunyai dua maksud, yaitu kalau baik tentu dia membawa kabar yang amat penting bagiku, sebaliknya kalau buruk tentu dia berbahaya sekali. Maka biar dia langsung ke sini dan kuhadapi sendiri."
Kian Lee dan Kian Bu mengangguk setuju dan menganggap sikap jenderal ini amat bijaksana. Mereka berdua pun merasa curiga sekali karena orang yang datang bertamu malam hari begitu, apalagi dalam keadaan yang penuh ketegangan karena kehadiran Jenderal Kao di sini adalah suatu rahasia, memang merupakan kejadian yang aneh dan amat mencurigakan. Mereka berdua sudah siap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka menduga bahwa orang yang datang itu lebih banyak membawa bahaya daripada membawa kebaikan. Tak lama kemudian terdengar derap langkah dua orang menuju ke kamar itu. Semua orang memandang ke pintu dengan hati tegang. Penjaga itu muncul, memberi hormat dan melapor,
"Tamu telah datang menghadap!"
Jenderal Kao memberi isyarat supaya penjaga itu mundur. Penjaga itu melangkah keluar dan muncullah tamu yang dinanti-nanti itu.
"Aha, kiranya engkau yang datang, orang muda yang gagah?"
Jenderal Kao berseru girang sekali ketika melihat bahwa tamu yang muncul itu bukan lain adalah pemuda tinggi besar yang pernah menolongnya dari tangan penculiknya ketika dia hendak dibakar hidup-hidup di dalam kuil tua. Sambil memegang lengan pemuda tinggi besar itu, Jenderal Kao menoleh kepada kedua orang pemuda Pulau Es dan kepada anak-anak dan isterinya,
"Inilah dia pemuda gagah perkasa yang telah menyelamatkan nyawaku, akan tetapi yang sama sekali tidak mau menyebutkan namanya! Mari masuk, dan duduklah."
Pemuda tinggi besar itu kelihatan canggung dan sungkan. Dia menjura kepada jenderal itu dan semua orang, kemudian berkata kepada Jenderal Kao,
"Harap Tai-ciangkun sudi memaafkan kedatanganku yang mengganggu ini. Sebetulnya, terpaksa sekali aku datang mengganggu...."
"Aihhh! Engkau adalah seorang pemuda perkasa, penolongku yang budiman, bagaimana bisa mengucapkan kata-kata mengganggu?"
"Sungguh, kalau tidak terpaksa saya tidak akan datang ke sini, Tai-ciangkun. Kedatanganku ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang lalu diantara kita. Akan tetapi karena aku mendengar bahwa Tai-ciangkun adalah komandan di utara, maka aku datang untuk minta keterangan tentang diri seorang perwira yang belasan tahun yang lalu bertugas di sana, dan tentu dia adalah anak buah Tai-ciangkun. Aku sedang mencari-cari orang itu, maka harap Tai-ciangkun berbaik hati untuk memberitahu kepadaku di mana adanya orang itu."
Jenderal Kao mengerutkan alisnya dan mengangguk.
"Tentu saja aku akan berusaha sedapat mungkin untuk membantumu, orang muda. Siapakah adanya orang yang kau cari itu?"
"Iiihhh...."
Jerit tertahan dari isteri jenderal ini membuat semua orang memandang kepadanya. Wanita ini sedang memandang pemuda itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Kenapa kau?"
Jenderal itu membentak heran. Isterinya hanya menggeleng kepala lalu menutupi mukanya.
"Nah, orang muda, katakan siapa orang yang kau cari itu?"
"Aku.... aku tidak tahu namanya...."
Pemuda itu menjawab gagap dan kelihatan bingung. Memang dia bingung sekali. Ketika dia masih kecil dan tersesat di gurun pasir, dia mengalami penderitaan yang amat mengerikan, seolah-olah melihat maut mendekati dirinya sedikit demi sedikit sehingga berkali-kali dia pingsan dan siuman kembali, batinnya mengalami tekanan yang amat hebat dan berat. Ketika dia ditemukan oleh suhunya, Si Dewa Bongkok, yang diingat hanyalah namanya sendiri, bahkan she-nya (nama keluarga) nyapun dia sudah lupa, apalagi nama ayahnya. Akan tetapi samar-samar dia masih ingat bahwa ayahnya adalah seorang perwira dan mengingat bahwa dia tersesat di gurun pasir utara, maka tentu ayahnya itu seorang perwira di benteng utara. Kao Liang memandang tajam dengan alis berkerut, penuh iba dan penasaran.
"Orang muda yang baik, bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tidak tahu nama orang yang kaucari itu? Apakah dia musuhmu?"
"Dia.... dia adalah ayahku.... akan tetapi aku tidak tahu namanya.... hanya kuingat bahwa dia adalah seorang perwira...."
Tiba-tiba Nyonya Kao bangkit dari tempat duduknya, wajahnya masih pucat dan dia menghampiri pemuda tinggi besar itu, langsung bertanya dengan bibir gemetar,
"Kau.... kau.... siapa namamu....?"
Tentu saja sikap dan perbuatan nyonya ini mengherankan semua orang. Pemuda tinggi besar itu memandang Nyonya Kao dengan ragu-ragu, kemudian menjawab lirih,
"Nama saya Kok Cu...."
"Kok Cu....?"
Teriakan ini keluar dari mulut empat orang, yaitu Jenderal Kao sendiri, isterinya, dan dua orang puteranya.
"Kok Cu anakku....!"
Nyonya Kao sudah menubruk dan merangkul leher pemuda tinggi besar itu sambil menangis.
"Kok Cu, ya Tuhan.... engkau ini....?"
Jenderal Kao juga sudah mencengkeram pundak pemuda tinggi besar itu, mukanya pucat matanya terbelalak dan bibirnya bergetar menahan keharuan hatinya.
"Twako....!"
Kao Kok Tiong memegang lengan kakak sulungnya.
"Twako...!"
Kok Han juga mendekat. Tentu saja Kok Cu, pemuda tinggi besar yang berambut panjang terurai itu, terkejut setengah mati dan sejenak dia terlalu bingung. Kenyataan yang dihadapinya terlalu mengejutkan dan sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya. Siapa menyangka bahwa pembesar gagah perkasa yang ditolongnya di tengah perjalanan itu, yang kemudian dia ketahui Jenderal Kao yang dijunjung tinggi seluruh rakyat di daerah utara, ternyata adalah ayah kandungnya sendiri! Sukar untuk menerima dan mempercayai kenyataan yang amat mengejutkan ini.
"Ayah dan ibuku....? Ah, bagaimana....?"
Dia dipeluki empat orang yang sudah menangis saking bahagia dan terharu itu. Jenderal Kao melihat kebingungan pemuda itu.
"Mari kita semua duduk. Kok Cu, dengarlah baik-baik. Ketika engkau dan ibumu kubawa ke utara, pada suatu hari engkau lenyap ketika sedang bermain-main di luar benteng. Pada waktu itu terjadi badai yang amat besar, maka kami semua mengira bahwa engkau tentu telah terseret badai dan terkubur di dalam gurun pasir karena berhari-hari kami mengerahkan pasukan mencarimu tanpa hasil. Ketika itu engkau baru berusia sepuluh tahun. Adikmu Kao Kok Tiong ini baru berusia setahun, dan adikmu yang bungsu Kao Kok Han belum terlahir. Memang ketika itu aku belum menjadi jenderal, akan tetapi sudah menjadi komandan dari benteng kecil di utara."
Jenderal itu lalu menuturkan dengan jelas sehingga Kok Cu baru tahu bahwa dia adalah bermarga keluarga Kao.
"Ayah...., Ibu....!"
Akhirnya dia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kedua orang tuanya itu. Ibunya memeluknya dan Jenderal Kao tertawa bergelak, menenggak araknya sambil menoleh kepada Kian Lee dan Kian Bu.
"Ha-ha-ha-ha, susah dan senang memang sudah menjadi pakaian manusia hidup! Suka dan duka bersilih ganti menjadi bumbu manis dan pahit dalam hidup! Ji-wi Siauw-sicu, di dalam keprihatinan yang hebat bertemu dengan anak yang hilang, bukankah ini merupakan hiburan yang amat menggembirakan?"
"Kao-goanswe, kami berdua menghaturkan kionghi (selamat) kepadamu!"
Kian Lee berkata sambil membungkuk bersama adiknya.
"Terima kasih, terima kasih....!"
"Mengapa kalian begitu bodoh?"
Nyonya Kao yang masih merangkul puteranya itu berkata.
"Apakah kalian tidak melihat betapa miripnya dia dengan ayahnya? Lihat saja, bentuk badannya, mulutnya, hidungnya! Begitu melihatnya, aku sudah menduganya.... aihh, Kok Cu, kedatanganmu menambah umur ibumu...."
Wanita itu tertawa dengan air mata bercucuran.
"Ayah...."
Sebutan yang amat asing ini keluar dari bibir pemuda tinggi besar itu dengan kaku.