"Ah....?"
Seruan yang keluar dari mulut Milana agak tergetar, namun dia sudah dapat menguasai hatinya yang berdebar keras, sedangkan suaminya, Panglima Han Wi Kong, diam saja pura-pura tidak melihat keadaan isterinya ketika mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng.
"Sedangkan gadis perkasa yang mengawalnya itu adalah adik angkat Sang Puteri sendiri, yang juga telah mendahului datang ke benteng utara akan tetapi.... dia tewas ketika menyelamatkan saya. Gak-taihiap meninggalkan Puteri Syanti Dewi kepada saya dengan harapan untuk melindunginya dan kalau waktunya tiba mengantarnya ke kota raja atau kembali ke Bhutan. Akan tetapi terpaksa dia saya tinggalkan ketika utusan Kaisar tiba. Saya amat mengkhawatirkan keadaan puteri yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri itu. Nah, sekarang saya harus singgah ke rumah dulu menjenguk keluarga, kemudian saya akan cepat kembali ke utara dan saya bergembira sekali ditemani oleh Ji-wi Siauw-sicu yang lihai ini."
Semua orang mengangguk setuju dan tak lama kemudian, dengan kereta milik Milana sendiri sehingga tidak akan ada yang berani mengganggunya. Jenderal Kao bersembunyi di dalam kereta yang membawanya ke gedung tempat tinggal keluarganya, di ujung kota raja sebelah timur. Kian Lee dan Kian Bu mengawal di belakang kereta dengan menunggang kuda sehingga orang-orang yang telah mendengar bahwa mereka adalah adik-adik dari Puteri Milana, jadi juga masih cucu dari Kaisar, menduga bahwa yang berada di dalam kereta tentulah Puteri Milana yang mereka kagumi. Kereta itu memasuki halaman gedung keluarga Jenderal Kao dan setelah jenderal itu turun dan menyelinap masuk diikuti oleh Kian Lee dan Kian Bu yang disambut dan dipersilakan menunggu di ruangan tamu, kereta itu kembali ke istana Puteri Milana.
Tentu saja terjadi pertemuan yang amat mengharukan dan penuh dengan kegembiraan dan pelepasan rindu antara Jenderal Kao dan keluarganya. Sementara itu Kian Lee dan Kian Bu kembali dulu ke istana kakak mereka untuk membuat persiapan sebagai bekal di perjalanan. Menjelang senja, barulah mereka berdua datang ke gedung keluarga Jenderal Kao dan untuk menanti datangnya malam kedua orang muda ini asyik bermain siang-ki (catur) di ruangan tamu yang luas. Jenderal Kao keluar sebentar menemui mereka dan mengatakan bahwa mereka akan berangkat setelah malam menjadi gelap dan keadaan di luar menjadi sunyi. Dia sudah mengatur dengan kepala penjaga malam itu sehingga mereka akan dapat keluar dari pintu gerbang utara tanpa banyak halangan dan dengan diam-diam.
Dua orang kakak beradik itu menyetujui, kemudian melanjutkan permainan catur mereka. Setelah malam mulai sunyi, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat cepat sekali naik ke atas genteng gedung itu dari arah kiri. Gerakannya lincah, ringan dan cekatan dan dia berindap-indap mengintai ke bawah gedung dari atas genteng. Bayangan hitam ini bukan lain adalah Ceng Ceng! Seperti telah di-ceritakan di bagian depan, dara ini telah berhasil lolos dari kuil setelah dia membikin Tek Hoat tidak berdaya dengan saputangan dan sumpah pemuda itu, kemudian melarikan diri sambil menyebar racun sehingga Tek Hoat tidak mengejarnya. Ceng Ceng lalu menuju ke kota raja dengan hanya satu tujuan, yaitu mencari pemuda laknat itu. Di tengah perjalanan inilah dia melihat Jenderal Kao Liang.
Hatinya girang sekali karena pemuda laknat yang menjadi musuh besarnya itu tentu mempunyai hubungan dengan jenderal ini, bahkan yang terakhir dia melihat pemuda itu menolong Jenderal Kao. Akan tetapi, untuk keluar begitu saja menemui jenderal ini, dia tidak sanggup. Pertama, dia masih teringat akan kebaikan jenderal ini kepadanya, bahkan melihat betapa dalam menghadapi kematian, jenderal ini masih teringat kepadanya dan bersembahyang kepada arwahnya! Kedua, dia kini merasa tidak seperti dulu lagi, selalu timbul rasa rendah diri dan malu bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dahulu sebagai sahabat-sahabat baik. Ke tiga, setelah pemuda itu menolong Jenderal Kao, tentu pemuda itu menjadi sekutu jenderal ini. Bagaimana dia dapat menjumpai jenderal ini dan menanyakan pemuda yang hendak dibunuhnya itu?
Tidak, sebaiknya dia membayangi jenderal ini yang tentu akhirnya akan membawanya bertemu dengan pemuda laknat itu! Demikianlah, dengan hati-hati, Ceng Ceng membayangi Jenderal Kao dari jauh, sampai jenderal itu memasuki kota raja. Ketika jenderal itu memasuki istana Puteri Milana, dia tidak berani ikut masuk karena malam telah terganti pagi dan istana itu dijaga ketat. Apalagi setelah dia memperoleh keterangan bahwa istana itu milik Puteri Milana, dia makin tidak berani masuk! Kakeknya dahulu telah berpesan kepadanya untuk membawa Syanti Dewi kepada Puteri Milana. Sekarang, tanpa Syanti Dewi, bahkan dengan diri yang sudah "kotor", bagaimana dia berani berhadapan dengan Pu-teri Milana yang dipuji-puji dan dijunjung tinggi namanya oleh mendiang kakeknya?
Maka dia menanti sambil bersembunyi di luar dan ketika dia melihat kereta yang dikawal oleh dua orang pemuda tampan yang juga telah dikenalnya, diam-diam dia membayangi pula. Girang hatinya ketika dia dapat melihat Jenderal Kao turun dari kereta itu memasuki gedung. Apalagi ketika dia mencari keterangan dan mendengar bahwa gedung itu adalah tempat tinggal keluarga Jenderal Kao Liang, dia segera menanti dan mengintai sampai datangnya malam. Kini Ceng Ceng sudah meloncat naik ke atas genteng gedung itu. Kini timbul tekad di hatinya bahwa kalau dia tidak bisa menemukan pemuda laknat itu di dalam gedung Jenderal Kao, dia akan menampakkan diri dengan menutupi sebagian mukanya dengan saputangan, kemudian menanyakan kepada jenderal itu tentang si pemuda tinggi besar.
Akan tetapi, Ceng Ceng sama sekali tidak menyangka bahwa gerak-geriknya telah sejak tadi diikuti oleh dua pasang mata yang memandang dengan penuh keheranan, kecurigaan juga kegelian. Yang memandang ini adalah Kian Lee dan Kian Bu. Mereka berdua tadi masih asyik bermain catur di ruangan tamu dan tentu saja pendengaran mereka yang sudah terlatih secara hebat itu segera dapat menangkap suara tidak wajar dari atas genteng. Keduanya saling pandang, mengangguk dan di lain saat mereka telah mengintai dari balik wuwungan, mengawasi gerak-gerik Ceng Ceng dengan heran. Kedua orang pemuda ini tidak turun tangan karena mereka terheran-heran mengenal wajah Ceng Ceng ketika ada sinar lampu dari bawah menyorot ke atas tepat menimpa wajah cantik itu.
"Dia....!"
Kian Lee berbisik dan jantungnya berdebar. Sejak bertemu dengan Ceng Ceng di pasar kuda, hatinya sudah tertarik sekali oleh kecantikan dara ini dan sekarang, gadis yang seringkali dikenangnya itu berada di atas gedung Jenderal Kao dengan gerak-gerik mencurigakan sekali.
"Sssttt...."
Kian Bu menegur.
"Bu-te, jangan.... jangan tergesa-gesa turun tangan.... jangan sampai keliru, kita membayanginya saja...."
Bisik Kian Lee. Kian Bu menahan senyumnya. Rasakanlah, pikirnya. Setiap menghadapi wanita cantik, sikap kakaknya ini selalu dingin.
Baru sekarang kakaknya kelihatan gugup dan tegang melihat seorang gadis cantik! Akan tetapi dia mengangguk setuju karena dia pun tidak ingin salah tangan sebelum tahu apa maksud kedatangan gadis yang aneh itu. Kini Ceng Ceng yang sama sekali tidak pernah mengira bahwa dirinya dibayangi oleh dua orang pemuda yang amat lihai, berlutut di atas genteng dan mengintai ke bawah, lalu melayang turun dengan amat ringannya, berindap-indap menghampiri jendela dan mengintai dari balik jendela dengan melubangi kertas jendela. Dari lubang kecil itu dia melihat Jenderal Kao duduk menghadapi meja bersama seorang wanita setengah tua yang masih cantik dan lemah lembut, dan dua orang anak laki-laki, bercakap-cakap dalam suasana yang mesra.
Ceng Ceng dapat menduga bahwa tentu jenderal itu bercakap-cakap dengan isteri dan putera-puteranya. Dia melirik ke sana-sini, namun tidak tampak pemuda laknat yang dicarinya. Hatinya kecewa sekali. Dia sudah terlanjur masuk, penasaran kalau sampai tidak menemukan orang yang dicarinya. Diambilnya segulung kertas, kertas yang telah direndam obat yang dapat menimbulkan asap beracun yang membius orang. Dia ingin membius mereka yang berada di dalam kamar itu agar tertidur semua baru dia akan menggeledah dan mencari. Kalau tidak berhasil menemukan pemuda itu, baru dia akan memakai topeng dan memaksa Jenderal Kao memberitahukan di mana adanya si laknat itu. Akan tetapi, baru saja dia hendak membakar kertas itu pada lampu yang tergantung di situ, tiba-tiba terdengar bentakan Kian Lee,
"Nona, apa yang hendak kau lakukan itu?"
Melihat menyambarnya dua sosok bayangan orang yang bagaikan sepasang burung rajawali melayang dari luar itu, Ceng Ceng terkejut bukan main. Tidak ada jalan keluar baginya untuk lari karena dua orang pemuda lihai itu melayang dari luar, maka cepat dia mendorong daun jendela dan terpaksa dia meloncat ke dalam di mana Jenderal Kao dan anak isterinya berada! Saking gugupnya, lupalah dia untuk menutupi mukanya dengan saputangan dan baru dia teringat setelah dia telah berada di dalam kamar itu dan Jenderal Kao sudah memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat, tanda bahwa jenderal itu telah mengenalnya! Maka cepat dia mengeluarkan bubukan putih dari sakunya, meremas-remasnya dengan tangan kanan dan tampaklah asap putih tebal mengebul dan menyelimuti dirinya.
"Kau.... kau.... Nona Ceng...."
Jenderal Kao hanya dapat berkata demikian karena hatinya tergoncang hebat. Ceng Ceng cepat menggunakan asap tebal sebagai selimut dan melompat lari melalui jendela di seberang lain dari kamar itu.
"Bangsat, hendak lari ke mana kau?"
Dua orang putera Jenderal Kao yang berada di situ hendak meloncat mengejar.
"Jangan.... mengganggunya....! Biarkan dia pergi....!"
Jenderal Kao membentak dan dua orang pemuda yang usianya belasan tahun itu dengan kaget menahan gerakan mereka. Dari jendela dari mana Ceng Ceng masuk tadi berkelebat dua sosok bayangan dan Kian Lee bersama Kian Bu sudah berada di dalam kamar itu. Lega hati mereka melihat bahwa keluarga Jenderal Kao selamat, maka cepat mereka berlari ke arah jendela di seberang yang sudah terbuka.
"Ji-wi Siauw-sicu (Kedua Orang Gagah Muda), harap jangan mengejar dia....!"
Kembali Jenderal Kao berseru keras kepada dua orang pemuda Pulau Es ini sehingga mereka kaget dan heran, lalu membalik dan memandang kepada jenderal itu.
"Dia.... dia tadi...., dia bukan manusia melainkan arwah! Aihhh, sungguh kasihan Nona Ceng....!"
Jenderal itu lalu menoleh kepada dua orang puteranya.
"Lekas kau suruh pelayan mempersiapkan meja sembahyang. Aku harus menyembahyangi rohnya agar tidak penasaran dan dapat tenang...."
Dua orang putera Jenderal Kao itu, yang bernama Kao Kok Tiong berusia enam belas tahun dan Kao Kok Han berusia tiga belas tahun, mengangguk dan meninggalkan kamar untuk melakukan perintah ayah mereka. Kedua orang pemuda ini, seperti juga ayah mereka, sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu perang, mereka memiliki kepandaian yang lumayan dan amat taat serta tunduk kepada ayah mereka, sikap perajurit-perajurit yang amat baik!
"Kao-goanswe, dia bukan arwah, dia manusia biasa,"
Kian Bu berkata. Jenderal itu menggeleng kepala dan memandang dua orang pemuda itu, wajahnya masih pucat sekali dan pandang matanya sayu.
"Aku belum menceritakan tentang dia secara panjang lebar kepada kalian dan kepada Puteri Milana. Akan tetapi kalau tidak ada Nona Lu Ceng atau Candra Dewi itu, sekarang aku tentu sudah menjadi setan penasaran di dalam sumur maut."
Ketika dua orang puteranya kembali bersama pelayan yang membawa meja dan segala keperluan sembahyang, jenderal itu menceritakan tentang usaha pemberontak menjebaknya di sumur maut dan betapa Lu Ceng telah menyelamatkan nyawanya dengan pengorbanan dirinya.
"Akan tetapi, kami berdua pernah berjumpa dengan dia, Goanswe! Bahkan kami membantu dia menghadapi segerombolan orang liar yang merupakan ahli-ahli tentang racun di Lembah Bunga Hitam!"
Kian Bu kembali membantah.
"Dan memang dia amat berubah dibandingkan dengan dahulu, dia menjadi liar dan ganas, akan tetapi...."
Dia tidak melanjutkan karena di ujung bibirnya sudah terdapat kata-kata pujian terhadap gadis itu.