"Nah, terlepas sekarang! Engkau seorang pendekar!!
Ceng Liong merasa telah terlanjur bicara, maka dengan tersipu-sipu berkata.
"Ah, aku hanya murid Phang-sinshe, hanya bisa mempelajari pengobatan, itupun masih dangkal, paling-paling aku hanya bisa mengobati orang menderita penyakit kudis, dan tentang ilmu sulap, wah, ada beberapa macam yang kupelajari.!
"Bohong! Engkau tentu pandai silat. Buktinya engkau mampu melakukan perjalanan sampai ke Bhutan, begitu jauhnya....!
"Ah, engkau hanya menduga saja, nona.!
"Ceng Liong, aku bernama Hong Bwee, atau Gangga Dewi, jangan panggil nona-nola segala macam!!
"Habis, nona adalah seorang puteri istana, bagaimana aku berani....!
"Nah, itu malah sudah berani membantah. Aku memerintahkan engkau mulai sekarang menyebut namaku saja, tanpa embel-embel nona.!
"Baik, non.... eh Hong Bwee.!
Nona kecil itu tersenyum geli.
"Sekarang dendanya atas dosamu tadi. Engkau harus memperlihatkan kepandaianmu kepadaku!!
"Nona.... eh, engkau tidak berpenyakit kudis. Hong Bwee, bagaimana aku dapat membuktikan kepandaianku mengobati?!
"Bukan itu, yang satunya lagi.!
"Main sulap? Baiklah, kau lihat batu kecil ini, kugenggam di tangan kanan! Nah, sekarang batu di tangan kanan itu akan kusulap agar pindah ke tangan kiri. Hip-hup-hah!! Ceng Liong membuat gerakan dengan kedua lengannya, diputar-putar sehingga mengaburkan pandang mata Hong Bwee. Tentu saja dia tidak pandai sulap, karena ilmu sulap gurunya adalah ilmu sihir dan dia belum pernah mempelajarinya.
Akan tetapi dengan kecepatan gerak tangannya, dia dapat memindahkan batu itu dari tangan kanan ke tangan kiri tanpa dapat terlihat oleh Hong Bwee.!Lihat batu ini!! Dan ketika dia membuka tangan kiri, di situ nampak batu yang tadi tergenggam di tangan kanan. Dan ketika dia membuka tangan kanan, ternyata di situ terdapat sehelai daun hijau.
"Ah, tidak aneh! Biarpun aku tidak dapat mengikuti gerakanmu, aku tahu bahwa engkau tadi memindahkan batu dan menyambar sehelai daun. Itu hanya dapat dipakai menipu kanak-kanak saja! Bukan kepandaian itu yang kumaksudkan.!
"Habis, yang mana lagi? Aku tidak bisa apa-apa.!
"Jangan engkau membantah hukuman. Aku menghukummu agar engkau mempertunjukkan ilmu silatmu.!
"Aku tidak bisa....!
"Bohong, nah aku akan mengujimu!! Tiba-tiba gadis cilik itu sudah meloncat dan memukulkan tinjunya ke arah dada Ceng Liong. Tentu saja, sebagai anak yang sejak kecil digembleng ilmu silat tinggi, dengan otomatis tubuh Ceng Liong bergerak mengelak. Hong Bwee menyerang terus dengan pukulan, tendangan, tamparan bahkan ia mempergunakan pula cengkeraman-cengkeraman kedua tangannya. Gerakannya cepat dan teratur baik sekali berkat ilmu silat yang dipelajarinya dari Wan Tek Hoat.
Melihat gerakan gadis ini mainkan Pat-mo Sin-kun yang dikenalnya, Ceng Liong menjadi kagum. Diapun tahu bahwa ayah gadis ini, seperti yang pernah dituturkan oleh ayahnya kepadanya, masih terhitung cucu keponakan dari ayahnya sendiri, keponakan tiri, masih agak jauh huhungan darah antara dia dengan Wan Tek Hoat, bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah. Dia mendengar bahwa Wan Tek Hoat adalah anak kandung dari seorang yang menjadi anak kandung nenek Lulu, dengan demikian, Wan Tek Hoat adalah keponakan ayahnya dan gadis cilik ini masih terhitung keponakannya sendiri, atau keponakan tiri dari Suma Ciang Bun dan Suma Hui. Gadis cilik ini adalah cucu buyut nenek Lulu.
Agaknya Hong Bwee memang sungguh-sungguh ingin menguji ilmu silat pemuda itu dan ia mendesak terus, mengirim serangan bertubi-tubi.
Diam-diam Ceng Liong harus mengakui bahwa anak perempuan ini memiliki tenaga yang kuat dan terutama sekali amat cekatan dan gerakannya cepat. Maka diapun tidak berani main-main lagi karena kalau dia lengah, tentu dia akan kena pukul dan dia tidak mau hal ini sampai terjadi. Harga dirinya sebagai laki-laki akan turun kalau sampai dia terkena pukulan atau tendangan yang bertubi-tubi itu. Maka diapun segera mainkan Sin-coa-kun, satu-satunya ilmu keluarga Pulau Es yang sudah dilatihnya dengan matang. Ilmu-ilmu lain hanya baru dipelajari teorinya saja dan dia kurang latihan.
Akan tetapi, Sin-coa-kun yang telah dilatihnya dengan matang itu cukup hebat. Kini keadaannya terbalik. Begitu Ceng Liong menangkis dan balas menyerang, repotlah Hong Bwee. Ia terdesak terus sampai terpaksa mempergunakan langkah-langkah mundur. Hal ini membuatnya penasaran. Sejak kecil Hong Bwee memang memiliki watak keras dan tidak mau kalah kalau berlatih silat. Ceng Liong hanya sebaya dengannya, paling-paling setahun lebih tua dan hanya seorang tukang obat perantau. Tidak mungkin kalau ia harus kalah dalam ilmu silat oleh anak laki-laki ini.
"Heiiiiittt....!! Tiba-tiba saja gadis cilik itu menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang dikuncir hitam tebal panjang yang tadi tergantung di belakang tengkuk, kini menyambar ke depan, ujungnya yang seperti moncong ular mematuk ke arah hidung Ceng Liong.
"Ehhh....!! Ceng Liong terkejut sekali dan biarpun dia sudah menarik tubuh atasnya ke belakang, tetap saja ujung kuncir itu masih menampar pipinya.
"Plakk!! Ceng Liong melompat mundur dan mengusap pipinya yang terasa panas.
"Sudahlah, engkau yang menang,! katanya.
Wajah Hong Bwee menjadi kemerahan.
"Tidak.... sebetulnya aku yang kalah. Kaumaafkan aku, Ceng Liong.!
Pada saat itu muacullah enam orang, kesemuanya memakai topeng yang menutupi muka mereka dari hidung ke bawah sehingga sukar untuk mengenal wajah mereka. Mereka mengurung dua orang anak itu dengan sikap menyeramkan. Melihat keadaan mereka yang bertopeng dan bersikap galak, tahulah Ceng Liong bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai niat buruk maka diapun sudah siap siaga untuk melawan, menyelamatkan diri sendiri dan juga Hong Bwee. Biarpun masih kecil, Ceng Liong sudah memiliki kecerdikan dan pandai menarik kesimpulan, maka diapun menduga bahwa mereka ini datang untuk mengganggu Hong Bwee sebagai puteri istana, bukan dia yang hanya seorang anak asing di situ dan tidak mempunyai harga untuk diganggu.
Dugaannya memang tepat karena seorang di antara mereka menghampiri Hong Bwee dan berkata dalam bahasa Bhutan.
"Anak baik, engkau ikutlah kami baik-baik agar kami tidak usah mempergunakan kekerasan terhadap anak kecil.! Tanpa menanti jawaban, orang yang bertubuh jangkung kurus ini langsung menggerakkan lengannya hendak menangkap pundak Hong Bwee.
"Siapa kau, manusia jahat?! Hong Bwee membentak marah sambil mengelak. Gerakan gadis cilik ini memang lincah, maka terkaman itupun luput. Orang bertopeng itu mengerutkan alisnya dan sepasang matanya membayangkan kemarahan. Diapun lalu menubruk lagi, sekali ini dengan kasar dan lebih cepat.
"Plakk!! Hong Bwee menangkis sambil mengelak lagi dan untuk kedua kalinya tubrukan itu tidak berhasil. Orang tadi kini marah sekali dan menyerang dengan tamparan dan tendangan, akan tetapi Hong Bwee melawan dengan gagah. Melihat kawannya sukar menangkap anak perempuan itu, orang ke dua membantu. Akan tetapi baru saja dia menubruk ke depan, dari samping datang sambaran angin. Orang ke dua itu terkejut dan berusaha membalik sambil memutar lengan, akan tetapi dia terlambat.
"Desss....!! Lambungnya kena ditendang Ceng Liong, tendangan Soan-hong-twi yang keras sekali karena tanpa disadarinya, sumber tenaga saktinya bergerak dan tersalur ke arah kakinya yang menendang. Orang itu terlempar sampai tiga meter jauhnya dan terbanting roboh!