Tiba-tiba Cu Pek In bangkit berdiri dari tempat duduknya dan dengan muka pucat memandang kepada Hong Bu, lalu terdengar suaranya yang bernada marah.
"Suamiku, mengapa engkau bertindak begini lancang?!
Hong Bu mengerutkan alisnya, lalu tersenyum, senyum yang agak masam.
"Isteriku, mengapa kau berkata dcmikian? Urusan Houw-ji adalah urusan pribadi kita berdua, karena dia adalah anak kita, dan sebelum barangkat aku sudah memperoleh persetujuanmu untuk mengikat tali kekeluargaau dengan keluarga Kam!!
"Bukan itu maksudku!! bantah isterinya.
"Akan tetapi tentang ilmu pusaka keluarga Cu itu! Bagaimana engkau berani lancang hendak mengajarkannya kepada orang lain tanpa lebih dulu mendapat perkenan dari ayah?!Hong Bu yang diserang dengan kata-ksta keras itu, menjadi terkejut. Dia menoleh kepada Cu Kang Bu yang sedikit banyak berhak pula bersuara dalam hal ini, akan tetapi pendekar raksasa itu hanya menunduk. Bibinya bahkan memandang kepadanya dengan sikap marah, jelas sekali betapa wanita itu mendukung pendirian Cu Pek In.
"Ini adalah urusan dan tanggung jawabku, biarlah aku akan menghadap ayah mertua untuk mohon perkenan beliau.! Akhirnya dia berkata dan pertemuan itu dibubarkan dalam keadaan yang amat tidak menyenangkan semua pihak. Akan tetapi, biarpun hatinya sendiri diliputi ketegangan melihat betapa suhunya menghadapi sikap menentang keluarganya, sikap Bi Eng sendiri tetap tenang. Hanya ada perasaan tidak suka kepada ibu dari Sim Houw itu yang memiliki pandang mata demikian dingin kepadanya, bahkan seperti orang membenci.
Menghadap atau menemui Kim-kong-sian Cu Han Bu bukanlah merupakan hal yang mudah. Semenjak dikalahkan oleh Kam Hong lalu mengasingkan diri bertapa, Kim-kong-sian Cu Han Bu dan adiknya, Bu-eng-sian Cu Seng Bu, jarang mau diganggu dan kalau tidak ada hal yang amat penting sekali, mereka tidak mau keluar dari tempat mereka bertapa atau membolehkan orang luar datang menghadap.
Dua kakak beradik ini bertapa, bukan hanya untuk memenuhi janjinya terhadap Kam Hong karena kekalahan mereka, akan tetapi juga diam-diam keduanya tekun mempelajari ilmu-ilmu mereka dan memperdalamnya dengan cara menciptakan ilmu-ilmu secara bersama sehingga selama belasan tahun mengasingkan diri itu mereka telah menjadi semakin lihai saja!
Dua hari kemudian barulah Hong Bu diperkenankan untuk menghadap guru atau ayah mertuanya. Karena dia berwatak terbuka dan ingin agar urusan segera beres, dia mengajak Bi Eng menghadap bersama. Dara itupun pergi bersama gurunya dengan sikap tenang dan di dalam hatinya, ingin sekali ia melihat wajah orang-orang yang pernah menjadi musuh ayahnya, dan ingin ia mengetahui bagaimana sikap keluarga Cu itu.
Tempat pertapaan itu sunyi sekali, berada di lereng bukit, di dalam sebuah guha besar ciptaan alam yang disempurnakan oleh tenaga keluarga Cu. Guha itu menerima sinar matahari yang cukup banyak, dibersihkan dan dibagi menjadi tiga ruangan. Dua buah tempat untuk bersamadhi yang terpisah, semacam kamar tidur kecil dan di tengah terdapat sebuah ruangan lebar yang lantainya rata dan tempat ini selain menjadi semacam ruangan duduk, juga menjadi tempat kakak beradik pertapa ini berlatih silat dan menciptakan ilmu baru bersama. Di ruangan inilah Sim Hong Bu diterima oleh ayah mertua dan pamannya.
Dua orang pendekar Cu itu sudah duduk menanti di ruangan tengah yang luas itu. Matahari pagi menyorotkan sinarnya melalui lubang di atas sebelah kiri sehingga ruangan itu terang dan bersih. Cu Han Bu sudah berusia lima puluh enam tahun akan tetapi wajahnya masih nampak segar. Hanya rambutnya yang putih semua itu yang menunjukkan bahwa dia sudah berusia agak lanjut. Pakaiannya bersih sederhana dan longgar seperti pakaian pertapa akan tetapi pinggangnya memakai sabuk emas yang bukan hanya merupakan sabuk biasa, melainkan menjadi senjata andalannya yang ampuh.
Dia duduk bersila di atas dipan panjang bertilam kasur bulu, bersanding dengan Cu Seng Bu. Kakek ke dua yang berjuluk Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan) ini usianya baru lima puluh satu tahun, akan tetapi kelihatan tidak lebih muda dari kakaknya. Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan. Di punggungnya tergantung sebatang pedang tipis. Mereka berdua duduk bersila seperti orang sedang samadhi ketika Sim Hong Bu melangkah memasuki guha itu bersama Bi Eng.
"Suhu, susiok, teecu datang menghadap,! kata Hong Bu sambil berlutut di depan dipan panjang bersama Bi Eng yang diam saja, hanya melirik ke arah dua orang itu.
Hening sejenak. Kedua orang tua itu membuka mata dan beberapa lamanya mereka memandang kepada Bi Eng dengan pandang mata penuh selidik. Melihat betapa dua pasang mata itu mengeluarkan sinar mencorong, Bi Eng merasa tegang dan ia menundukkan mukanya.
"Hong Bu, ada keperluan penting apakah maka engkau berani mengganggu ketenangan kami?! ayah mertua atau gurunya bertanya. Sampai kini, sesuai dengan kehendak para tokoh keluarga Cu, dia menyebut suhu dan susiok kepada mereka. Hal ini menunjukkan kekerasan hati keluarga itu mengenai perguruan mereka. Hong Bu merupakan pewaris ilmu pusaka keluarga mereka, oleh karena itu dipentingkan kenyataan bahwa pendekar itu adalah murid mereka yang berhak mewarisi ilmu keluarga, bukan sekedar mantu!
"Suhu, seperti telah teecu laporkan ketika teecu berpamit kepada suhu, teecu telah mengajak Houw-ji merantau ke timur dan sekarang teecu hendak melaporkan segala peristiwa yang kami alami dalam perjalanan itu.!
"Hong Bu, siapakah anak perempuan yang kau ajak masuk ini?! Cu Seng Bu bertanya, suaranya datar saja akan tetapi pandang matanya mengeras.
"Anak ini bernama Kam Bi Eng....!
"She Kam....?! Cu Seng Bu bertanya, suaranya mengeras.
"Benar, susiok. Bi Eng adalah puteri Kam Hong-taihiap.!
"Ehh? Tindakan apa yang kau ambil ini, Hong Bu?! Cu Seng Bu berseru, matanya terbelalak.
"Biarkan dia menceritakan semua. Bicaralah, Hong Bu, kami siap mendengarkan,! kata Cu Han Bu dengan suara tenang, akan tetapi jelas bahwa diapun menekan perasaan marahnya.
Hong Bu memang sudah siap. Dia tahu bahwa tindakannya itu tentu akan menghadapi tentangan, maka dengan sikap tenang tapi hormat diapun bercerita.
"Teecu bersama Houw-ji pergi ke Puncak Bukit Nelayan dan berkunjung ke tempat kediaman Kam-taihiap. Di sana teecu melihat bahwa Kam-taihiap mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Kam Bi Eng ini dan timbullah niat di dalam hati teecu, yang sebelumnya memang sudah teecu rundingkan dengan isteri teecu, untuk mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga Kam, menjodohkan Houw-ji dengan Bi Eng.!
Sim Hong Bu berhenti sebentar untuk melihat reaksi dua orang tua itu. Akan tetapi Cu Seng Bu diam saja sedangkan Cu Han Bu hanya mengeluarkan suara tidak jelas, dan disusul kata-kata tak acuh.
"Hemm, niat yang ganjil. Teruskan ceritamu.!
"Pinangan teecu diterima, kemudian kami bersepakat untuk menukar anak masing-masing, untuk saling dididik ilmusehingga kedua anak itu kelak akan dapat menggabungkan Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut, maka Houw-ji teecu tinggalkan di sana sedangkan Bi Eng teecu bawa pulang....!
"Sim Hong Bu....! Apa yang kau lakukan ini? Apakah engkau sudah gila?! Cu Han Bu membentak, kini tidak lagi menahan-nahan kemarahannya yang memang sudah didendamnya sejak kemarin ketika dia mendengar pelaporan Pek In yang datang bercerita sambil menangis.
"Suhu, teecu kira tidak ada sesuatu yang ganjil dalam tindakan teecu itu,! Sim Hong Bu berkata dengan sikap masih tetap tenang.
"Tidak ganjil? Engkau hendak berbesan dengan keluarga Kam dan kau katakan tidak ganjil? Sejak dahulu keluarga Kam adalah saingan dan musuh keluarga Cu dan engkau malah hendak mengikat tali perjodohan anakmu, mengikat tali kekeluargaan dengan pihak musuh?!
"Suhu, harap Suhu maafkan. Urusan perjodohan putera teecu adalah urusan teecu sendiri dan Houw-ji adalah she Sim, jadi tidak dapat disangkutkan dengan adanya permusuhan keluarga. Pula, sejak dahulu teecu tidak melihat suatu kesalahan pada Kam-taihiap maka teecu tidak dapat menganggapnya sebagai musuh. Harap suhu maafkan.! Cu Han Bu mengepal tinju dan mengerutkan alis.
"Baiklah, Sim Houw hanyalah cucu luarku, bukan she Cu. Aku tidak akan mencampuri urusanmu itu. Akan tetapi, engkau adalah muridku dan engkau pewaris ilmu pusaka keluarga kami. Bagaimana kini engkau berani hendak menurunkan ilmu keluarga kami kepada seorang murid,dan murid itu orang luar, bahkan anak musuh kami?!
"Suhu, kiranya dalam hal menerima murid, tidak dapat dibatasi dengan keluarga saja. Buktinya, suhu menurunkan ilmu pusaka keluarga kepada teecu yang she Sim. Dan andaikata harus diturunkan kepada keluarga sendiri, Bi Eng ini adalah calon anak mantu teecu, berarti iapun anggauta keluarga sendiri. Maka teecu berani mengangkatnya menjadi murid.!
"Brakkk!! Ujung dipan di depan Cu Han Bu pecah berantakan oleh tangan pendekar ini ketika dia menamparnya untak menyatakan kemarahannya.
"Sim Hong Bu! Bagaimanapun juga, aku tidak rela kalau ilmu keluarga kami diberikan kepada anak si pencuri Kam Hong!!