Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 101

Memuat...

"Mengapa engkau tidak mendatangi saja menteri itu dan melaporkan tentang penyelewengan yang dilakukan oleh para pengawas?! tanya Ciang Bun.

Tan Hok Sim membelalakkan matanya.

"Wah, mana aku berani? Kalau aku melakukan perbuatan nekat itu, selain tidak mungkin diluluskan, juga aku tentu akan ditangkap, dipenjara atau mungkin dibunuh. Siapa yang akan dapat melindungiku?!

Ciang Bun menarik napas panjang.

"Tan-twako, dalam hal ujian ini, yang terhimpit dan dirugikan adalah kalian para pemuda pelajar. Kalau kalian sebagai orang-orang yang terkena ketidakberesan itu diam-diam saja, lalu siapa yang akan marnpu memperbaiki keadaan? Kenapa eugkau tidak mengajak semua pelajar itu untuk memprotes kepada menteri dan melaporkan kecurangan para pengawas itu?!

Hok Sim menunduk dan mengerutkan alisnya. Ucapan Ciang Bun menggerakkan hatinya. Dia tahu bahwa di dalam hatinya, dalam hati semua pemuda pelajar yang mengalami nasib yang sama, memang ada api pemberontakan itu untuk menentang kecurangan para pengawas, akan tetapi siapa yang berani? Para pengawas itu dilindungi oleh pasukan dan menterinya sendiri belum tentu jujur. Bagaimana kalau para pembesar itu bersekongkol dan melindungi anak buah mereka?

"Hal itu tidak mungkin dilakukan, adik Bun. Bahkan sebagian besar para pengikut ujian sendiri, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang berada, lebih suka kalau keadaannya seperti sekarang ini. Terus terang saja, aku sendiri kalau mempunyai uang, juga lebih senang mengeluarkan uang dan ujianku lulus, daripada bersusah payah memeras otak akan tetapi hasilnya belum tentu, bahkan harapannya sedikit sekali.!

Ciang Bun diam saja. Dia merasa penasaran akan tetapi diapun maklum bahwa kegetiran membuat semua pemuda berpendapat seperti Hok Sim itu. Kalau dengan uang dapat lulus dengan mudah, perlu apa repot-repot memeras otak yang akhirnya toh tidak akan diluluskan kalau tanpa uang?

"Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengajukan protes itu. Aku tidak ikut ujian maka aku tidak khawatir tidak diluluskan.!

Tan Hok Sim memandang dengan mata terbelalak dan dia memegang lengan sahabat barunya itu.

"Bun-te, apa yang hendak kau lakukan?!

Ciang Bun tersenyum.

"Tenanglah dan tunggu saja hasilnya. Kuharap besok pagi sudah akan ada perobahan. Nah, kau masuklah dulu, twako dan tunggu saja aku di dalam kuil.!

Setelah berkata demikian, Ciang Bun meninggalkan sahabatnya itu yang berdiri melongo mengikutinya dengan pandang mata heran akan tetapi tidak percaya. Apa yang akan dapat dilakukan oleh pemuda itu terhadap pemerintah? Urusan ujian yang kotor dan bergelimang korupsi itu sudah berjalan puluhan tahun, sepanjang pendengarannya, mana mungkin kini akan dirobah hanya oleh tindakan seorang pemuda seperti Suma Ciang Bun? Dia amat mengkhawatirkan pemuda itu.

Bagaimanapun juga, sahabat barunya itu menarik hatinya dan dia akan merasa menyesal sekali kalau karena percakapan mereka, Ciang Bun melakukan tindakan yang mustahil dan akhirnya akan ditangkap dan dihukum! Diapun lalu kembali ke dalam ruangan belakang kuil itu, mendekati teman-temannya dan berbisik-bisik menceritakan tentang pemuda kenalan barunya yang aneh itu.

Teman-temannya tentu saja terkejut, ada yang merasa gembira dan penuh harapan, yaitu mereka yang hendak menghadani ujian dengan pengetahuan mereka saja karena mereka tidak mampu membayar. Ada juga di antara mereka yang tidak senang dan mereka ini adalah pelajar-pelajar yang mengharapkan lulus dengan pengaruh uang atau pengaruh kenalan atau keluarga di kota raja. Apapun tanggapan mereka, berita tentang seorang pemuda bukan pengikut ujian yang hendak melaporkan kecurangan para pengawas itu kepada menteri, menjadi bahan percakapan mereka dan menimbulkan ketegangan.

Siang hari itu di gedung besar Menteri Ciong nampak sunyi. Sang menteri telah pulang dari persidangan di istana dan kini pembesar itu beristirahat. Malam saat seperti itu, dia tidak mau diganggu dan para penjaga di luar gedungpun tidak berani banyak membuat gaduh agar tidak mengganggn sang menteri yang sedang beristirahat di dalam kamarnya.

Oleh karena itu, para penjaga ini menolak dengan keras ketika Suma Ciang Bun datang dan minta kepada mereka untuk melaporkan kepada Ciong-taijin bahwa dia minta diterima menghadap.

"Orang muda! Siapakah engkau dan ada urusan apakah engkau berani minta untuk menghadap taijin?! bentak kepada jaga yang brewok dan bertubuh tinggi besar sambil bertolak pinggang.

"Tidak sembarang orang boleh begitu saja mengganggu waktu taijin!!

"Aku mempunyai urusan pribadi dengan menteri, hendak membicarakan soal ujian para pelajar yang diadakan di kota raja sekarang ini.!

Kepala jaga itu mengerutkan alisnya.

"Huh, kau kira menteri hanya seperti petugas kecil saja yang dapat ditemui setiap saat? Kalau engkau ada urusan, dapat menghadap ke kantor beliau dan melapor kepada petugas-petugas di sana, bukan datang ke rumah beliau dan meugganggu beliau!!

"Akan tetapi, aku ingin menghadap beliau sendiri, urusan penting....!

"Cukup!! Kepala jaga itu menghardik.

"Lekas pergi dari sini atau akan kugunakan kekerasan untuk melemparmu keluar dari sini. Mengerti?!

Wajah Ciang Bun menjadi merah dan matanya berkilat ketika dia mengangkat muka memandang wajah si brewok tinggi besar itu.

"Beginikah sikap seorang petugas keamanan terhadap rakyat? Seperti penjahat saja....!

"Keparat! Setan cilik! Agaknya ayahmu tidak pernah menghajarmu. Panggil ayahmu ke sini, akan kuhajar dia agar dapat mendidik anaknya!!

Ciang Bun tidak dapat menahan dirinya lagi.

"Ucapanmu lancang dan mulutmu busuk, engkau lah yang perlu dihajar!!

Orang-orang yang rendah pangkatnyalah yang biasanya suka tinggi hati. Demikian pula kepala jaga itu. Terhadap atasannya dia menunduk dan merangkak-rangkak menjilat-jilat, dan terhadap bawahannya, yaitu rakyat, dia bersikap seperti kaisar saja. Maka, begitu melihat seorang pemuda biasa berani mengeluarkan ucapan seperti itu kepadanya, kemarahannya memuncak dan sambil mengeluarkan suara gerengan, kepalan tangannya yang hampir sebesar kepala Ciang Bun itu melayang dan menyambar ke arah kepala pemuda itu.

Ciang Bun tenang-tenang saja, tanpa bergerak dari tempatnya dia mengangkat tangan kiri dan secepat kilat tangan kirinya itu melakukan tiga gerakan susul-menyusul, mula-mula menangkis pergelangan lengan tangan yang memukul, disusul totokan pada pundak lengan itu dan diakhiri dengan tamparan pada muka si brewok.

"Dukk! Tukk! Plakkk!!

Tamparan itu cukup keras. Mula-mula tangkisan membuat lengan terpental, lalu totokan membuat si tinggi besar itu merasa lumpuh sebelah badannya dan tamparan itu mengenai pelipis, membuat dia terpelanting dan roboh. Kepalanya terasa tujuh keliling dan matanya menjuling. Dia mengoyang-goyang kepalanya dan setelah bintang-bintang yang berjatuhan dan menari-nari di depan matanya itu mengabur, dia bangkit lagi dengan marah. Agaknya, tamparan itu tidak membuatnya menjadi jera, bahkan seperti minyak bakar disiramkan ke atas api kemarahamaya. Dia kini menubruk dan kedua tangannya membentuk cengkeraman, seperti seekor biruang dia menubruk kepada pemuda itu, penuh geram.

Kembali Ciang Bun menghadapinya dengan tenang. Begitu tubuhnya yang besar itu menubruk dekat, tiba-tiba pemuda ini berjongkok atau setengah berjongkok, membiarkan tubuh atas lewat, lalu secepat kilat dia meraih, menangkap lengan dan mempergunakan tenaga lawan, dia mengangkat dan membanting.

"Desss....!! Debu mengebul dan si tinggi besar mengeluh, menggeliat dan mencoba untuk bangkit, tapi terjatuh kembali dan mengaduh-aduh. Agaknya terjadi salah urat pada punggungnya ketika dia terbanting tadi, yang membuatnya tidak mampu bangun kembali dan hanya mengaduh-aduh dan menggeliat-geliat. Melihat komandan jaga mereka roboh, setelah kehilangan rasa kaget mereka, para penjaga memburu.

"Berani engkau melawan tentara?! bentak seorang di antara mereka sambil menodongkan tombaknya.

"Tahan!! Ciang Bun berseru, suaranya lantang dan berwibawa, tidak seperti seorang pemuda remaja.

"Urusan ini tidak ada hubungannya dengan ketentaraan! Urusan kami adalah urusan pribadi, urusan orang yang dihajar karena bersikap kurang ajar terhadap lain orang, tidak ada sangkut-pautnya dengan ketentaraan.! Setelah berkata demikian, Ciang Bun membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan mereka. Para penjaga itu bengong.

Post a Comment