Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 100

Memuat...

Akan tetapi Suma Hui menjadi semakin penasaran. Tidak mungkin adiknya salah. Ia mengenal benar watak adiknya yang halus budi dan tidak mau melakukan hal-hal yang tidak betul. Maka iapun menoleh kepada pemuda tampan tadi dan bertanya.

"Coba ceritakan, apa kesalahan adikku maka kalian bertiga secara tak tahu malu mengeroyoknya.! Bagaimanapun juga, suara Suma Hui agak lunak melihat bahwa tiga orang itu sebenarnya mempunyai pedang yang tergantung di punggung masing-masing. Tadi ketika mereka mengeroyok Ciang Bun, mereka hanya menggunakan tangan kosong, hal ini saja membuktikan bahwa biarpun mereka marah-marah kepada Ciang Bun, akan tetapi mereka tidak berniat untuk membunuh.

Pemuda itu lalu bercerita. Akan tetapi bagaimanapun juga jujurnya, tentu saja ceritanya mengandung dasar memenangkan diri sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita mengikuti sendiri pengalaman Suma Ciang Bun sampai dia bertemu dengan mereka dan mengapa dia sampai dikeroyok oleh tiga orang muda itu.

Seperti kita ketahui, sepeninggal encinya, Ciang Bun merasa tidak betah di rumah dan tak lama kemudian diapun pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari encinya. Dia merasa gelisah memikirkan encinya, dan juga dia merasa sakit hati mendengar bahwa ayahnya akan mewariskan semua ilmu keluarga mereka kepada Tek Ciang yang tidak disenanginya.

Akan tetapi, tidaklah mudah mencari jejak seorang gadis seperti Suma Hui yang melakukan perjalanan diam-diam dan cepat pula. Dengan susah payah Ciang Bun mencari encinya, sampai berbulan-bulan tanpa hasil. Bahkan diapun sudah pergi ke kota raja, karena dia menduga bahwa encinya yang pergi mencari Cin Liong tentu menyusul ke kota raja. Akan tetapi, di kota raja dia tidak dapat menemukan encinya. Dia mendengar bahwa Cin Liong juga tidak berada di kota raja karena jenderal muda itu memimpin pasukan untuk mengusir Bangsa Nepal yang menduduki Tibet. Pemuda yang cerdik ini berpendapat bahwa encinya seorang mencari Cin Liong. Kalau jenderal itu kini pergi ke Tibet, encinya yang keras hati itu besar kemungkinannya pergi menyusul ke Tibet pula. Dengan pikiran ini, diapun mengambil keputusan untuk pergi menyusul ke barat, akan tetapi kesempatan itu hendak dipergunakannya untuk menikmati keramaian kota raja.

Tidak mudah bagi Ciang Bun untuk mendapatkan sebuah kamar di rumah-rumah penginapan di kota raja. Pada waktu itu, kota raja dibanjiri pemuda-pemuda dari berbagai penjuru yang datang ke kota raja untuk mengikuti ujian dan mereka ini memenuhi rumah-rumah penginapan. Ujian itu berjalan selama kurang lebih satu bulan karena pengikutnya amat banyak sehingga perlu dilakukan giliran. Dan walau ujian sudah berjalan satu minggu lebih maka kota raja masih penuh dengan para pemuda itu. Di jalan-jalan raya banyak pemuda-pemuda berpakaian sasterawan hilir-mudik sehingga kota raja menjadi semakin ramai.

Karena tidak berhasil mendapatkan kamar di rumah-rumah penginapan yang penuh sesak, terpaksa Ciang Bun lalu mondok di sebuah kuil. Ternyata di sinipun penuh dengan para pemuda pelajar. Mereka terdiri dari para pelajar kurang mampu yang memilih tempat bermalam yang tidak usah bayar atau kalau mengeluarkan uangpun tidak banyak karena biasanya yang menginap di kuil-kuil hanya memberi sekedar sokongan saja kepada kuil itu.

Ketika memasuki ruangan belakang kuil di mana berkumpul belasan orang pemuda pelajar yang datang dari berbagai kota itu, Ciang Bun merasa gembira sekali. Dia merasa kagum kepada mereka yang bersikap lembut dan sopan, wajah-wajah tampan halus yang membayangkan kecerdasan. Dia sendiri merasa seperti seekor burung gagak masuk di antara kelompok burung merpati. Dibandingkan dengan mereka, pengetahuannya tentang sastera amatlah dangkalnya, dan makin terasa olehnya bahwa dia adalah seorang kasar yang sejak kecil lebih banyak belajar ilmu silat yang kasar!

Ketika Ciang Bun memasuki ruangan, para pemuda itu tengah asyik bercakap-cakap tentang sastera dan tentang mata ujian yang diadakan di kota raja. Mereka hanya menengok sebentar kepada Ciang Bun, lalu melanjutkan percakapan mereka. Dia lalu mencari tempat di sudut yang masih kosong, menurunkan buntalan pakaiannya lalu duduk bersandar dinding ruangan itu.

Seorang pemuda jangkung yang tampan mengangkat mukanya dari buku yang dibacanya dan memandang kepada Ciang Bun, wajahnya membayangkan keramahan dan mulutnya tersenyum. Wajah yang tampan dan menarik, pikir Ciang Bun. Seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Diapun balas tersenyum dan mengangguk. !Maaf,! kata pemuda itu.

"Saudara baru datang? Dari kota manakah dan kapan mulai mengikuti ujian?!

Melihat keramahan orang yang mengajukan pertanyaan bertubi itu, Ciang Bun tersenyum. Dia sendiri seorang pemuda yang tidak bisa banyak cakap, termasuk serius dan pendiam walaupun dia dapat pula bersikap ramah.

"Ya, aku baru datang, tempat tinggalku di Thian-cin dan aku tidak mengikuti ujian, melainkan hanya melancong saja ingin melihat-lihat kota raja.!

Pemuda itu menutup bukunya dan menyimpannya dalam buntalan, kemudian menggeser duduknya mendekati Ciang Bun. Matanya bersinar-sinar dan wajahnya berseri ketika dia berkata.

"Ah, betapa senangnya engkau! Kalau saja aku bisa sepertimu, bebas dan tidak harus banyak menghafal dan mengikuti ujian yang amat sukar ini!!

Ciang Bun memandang dengan mata terbelalak.

"Aih, mengapa demikian? Justeru aku yang merasa kagum dan iri kepada kalian yang memperoleh kesempatan menguji ilmu sastera dan mengikuti ujian kota raja untuk meraih gelar siucai!!

Tiba-tiba pemuda itu tertawa dan wajahnya nampak semakin tampan ketika dia tertawa.

"Ha-ha-ha, memang demikianlah kita ini, saudara yang baik! Saling pandang, saling mengiri dan mengira bahwa keadaan orang lebih baik dan menyenangkan daripada keadaan kita. Aku jadi teringat akan dongeng perumpamaan tentang dua ekor burung. Yang terbang bebas merasa iri hati terhadap seekor burung lain yang hidup dalam kurungan dan siang malam di situ tersedia makanan dan minuman tanpa susah payah mencari dan bebas dari gangguan dan ancaman, dianggapnya kehidupan burung dalam kurungan lebih nikmat dan aman daripada kehidupannya di luar kurungan. Sebaliknya, burung dalam kurungan merasa iri melihat betapa burung yang lain itu dapat terbang bebas ke manapun ia suka, tidak seperti dia yang gerakannya terbatas dalam kurungan.!

"Akan tetapi kita bukan burung....!

"Ha-ha, apa bedanya? Engkau yaug bebas ingin seperti aku, sebaliknya aku yang terikat oleh segala macam buku pelajaran dan aturan ujian tentu saja ingin bebas seperti engkau. Sudahlah, keadaan tidak mungkin dapat dirobah semau kita. Saudara yang baik, perkenalkan, aku she Tan bernama Hok Sim. Bolehkah aku mengetahui namamu?!

"Namaku Suma Ciang Bun,! jawab Ciang Bun sederhana, dalam hatinya khawatir kalau-kalau she-nya itu akan memancing banyak pertanyaan. Akan tetapi, Tan Hok Sim adalah seorang pemuda pelajar, bukan seorang kang-ouw maka she yang akan menarik perhatian kalangan kang-ouw ini, baginya tidak terlalu istimewa.

Perkenalan itu sebentar saja membuat mereka menjadi sahabat yang akrab karena Tan Hok Sim pandai bergaul, ramah-tamah dan agaknya suka kepada Ciang Bun. Ketika mereka bicara tentang ujian, Hok Sim lalu mengajak Ciang Bun untuk keluar dari ruangan itu menuju ke pelataran belakang kuil yang sunyi.

"Tidak enak bicara di sana,! kata Tan Hok Sim.

"Yang akan kuceritakan kepadamu ini adalah suatu rahasia. Tentu saja sebagian dari mereka ada yang sudah tahu, akan tetapi kalau sampai terdengar orang luar dapat mengakibatkan hal yang tidak enak pula.!

"Rahasia apakah, twako?! tanya Ciang Bun yang menyebut kakak kepada Tan Hok Sim yang tiga empat tahun lebih tua darinya.

"Tentang ujian. Tahukah engkau bahwa ujian itu dikendalikan oleh pembesar yang memperkaya diri secara berlebihan setiap kali diadakan ujian?!

"Tukang korupsi?!

Hok Sim mengangguk.

"Betapapun pandainya engkau, tanpa ada uang sogokan yang amat besar, takkan mungkin dapat lulus! Kecuali kalau di kota raja ini engkau mempunyai keluarga yang berpengaruh, karena kedudukannya atau hartanya, jangan harap akan dapat lulus.!

"Eh, mengapa begitu?! tanya Ciang Bun heran dan penasaran.

"Kalau yang pandai tidak diluluskan sedangkan yang bodoh asal bisa nyogok diluluskan, itu bukan ujian namanya.!

"Memang bukan kepandaian yang diuji, melainkan isi kantongnya.! Tan Hok Sim menjawab marah.

"Lalu bagaimana dengan engkau, twako?!

"Hemm, aku tidak mempunyai harapan lagi walaupun besok masih akan kulanjutkan mengikuti ujian. Aku yakin akan dapat lulus, walanpun tidak mencapai angka terbaik, kalau saja para penguji tidak hijau matanya oleh uang. Kalau disuruh menyogok, mana aku mampu? Aku belum bekerja, sedangkan ayahku hanyalah seorang guru silat....!

"Ayahmu seorang guru silat!! Ciang Bun berseru kaget dan gembira.

"Ah, kalau begitu engkau tentu pandai ilmu silat!!

"Ah, pandai sih tidak. Keluarga kami tinggal di Ceng-tao, jauh di barat dan di daerah kami, ilmu silat amat diperlukan untuk berjaga diri. Ayahku seorang guru silat bayaran dan engkau tahu, berapa hasil seorang guru silat. Karena itu maka ayahku setengah memaksa aku dan adik perempuanku untuk lebih tekun mempelajari bun (sastera) dari pada bu (silat). Engkau sendiri, karena tidak banyak mempelajari bun, tentu mahir sekali ilmu silat, bukan?!

"Aku suka merantau dan banyak menghadapi kesukaran di perjalanan, memang pernah mempelajari silat, akan tetapi tidak terlalu tinggi. Twako, sebetulnya, siapakah yang berhak memutuskan lulus tidaknya ujian kota raja itu?!

"Di sana terdapat pengawas-pengawas dan mereka inilah yang harus disogok. Akan tetapi, tentu saja para pengawas itupun harus menyogok atasan mereka dan orang yang paling berwenang dalam hal ujian itu tentu saja menteri.!

"Hemm, tentu menteri bagian kebudayaan atau pendidikan.!

"Kurasa begitulah. Akan tetapi mengapa engkau menanyakan hal itu?!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment