Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 94

Memuat...

Tiba-tiba Lie Bouw Tek memandang dengan mata terbelalak melihat betapa wanita yang duduk di seberang api unggun itu tertawa geli sambil menutupi mulut dengan punggung tangannya.

"Eh? Kenapa engkau tertawa geli, Hong-moi?"

"Habis, engkau lucu sih, toako. Bi Sian bukan seorang anak kecil lagi! Dia sudah berusia delapan belas tahun dan ia bukan pula seorang gadis lemah!"

"Ah, tidak mungkin! Aku tidak percaya!"

Kini Lan Hong yang terbelalak dan memandang heran.

"Apa maksudmu, toako? Engkau tidak percaya kepadaku? Apa kau kira aku membobong?"

Dalam suaranya torkandung penasaran. Entah mengapa, hatinya terada nyeri kalau tidak dipercaya oleh pendekar itu.

"Aku tidak mengatakan engkau membohong, Hong-moi, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa engkau mempunyai seorang puteri yang berusia delapan belas tahun? Anakmu sendiri ataukan anak tiri, atau anak angkat?"

"Eh? Kenapa begitu, toako? Tentu saja anakku sendiri!"

"Itulah yang tidak mungkin! Kalau puterimu itu berusia tujuh atau delapan tahun, baru masuk akal. Akan tetapi delapan belas tahun?"

Kini mengertilah Lan Hong dan senyumnya manis sekali, matanya bersinar dan untuk sejenak kedukaan yang membayang di dalamnya menipis.

"Lie-toako, berapa kaukira usiaku sekarang?"

"Paling banyak dua puluh lima tahun."

Kembali Lan Hong tertawa geli dan menutupi mulutnya dengan tangan,

"Hi-hik, engkau lucu, toako. Umurku tahun ini sudah tiga puluh tiga tahun."

"Apa? Tidak mungkin sama sekali! Engkau.... sungguh tidak pantas berusia sebanyak itu!"

Teriak Lie Bouw Tek penasaran sehingga Lan Hong tertawa geli. Wanita mana yang tidak akan senang sekali hatinya melihat orang lain, apalagi kalau orang itu seorang pria, yang dikaguminya pula, mengira ia jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya?

"Lie-toako, aku yang mempunyai usia itu, tentu aku yang lebih tahu dan tidak bohong."

"Aihhh.... maafkan aku. Sungguh mati sukar dipercaya bahwa engkau sudah berusia tiga puluh tiga tahun, Hong-moi."

"Bahkan sudah hampir tiga puluh empat tahun, toako, mungkin malah lebih tua daripadamu."

"Ah, tidak, tidak!"

Jawab Lie Bouw Tek cepat.

"Usiaku sudah tiga puluh enam tahun."

"Tentu engkau sudah mempunyai beberapa orang putera dan puteri, toako, Berapa banyak anakmu dan berapa usia anakmu yang pertama?"

Lie Bouw Tek menggeleng kepalanya.

"Aku tidak mempunyai anak, bahkan aku belum pernah menikah, Hong-moi."

"Ahh....!"

Lan Hong menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi kemerahan dan ia memaki dirinya sendiri mengapa begitu tak tahu malu untuk merasa girang mendengar bahwa pendekar itu belum menikah!

Ingatlah engkau, tak tahu malu, makinya pada diri sendiri, engkau sudah janda dan memiliki anak yang sudah dewasa, sedangkan dia ini masih perjaka, seorang pendekar besar yang budiman. Jangan mengharapkan yang bukan-bukan! Kembali keduanya berdiam diri seperti tenggelam ke dalam lamunan yang lebih dalam lagi. Suasana semakin sunyi karena malam semakin larut. Ketika Lan Hong menambahkan kayu bakar pada api unggun, gerakannya itu seperti menghidupkan lagi suasana yang tadinya seperti mati. Lie Bouw Tek soperti sadar kembali dari lamunan.

"Hong-moi, berapakah usia adikmu yang berjuluk Pendekar Bongkok itu?"

"Dia masih muda, toako, baru dua -puluh tahun lebih, paling banyak dua puluh satu tahun."

"Hemm, sudah demikian lihainya walaupun masih amat muda. Kalau dia melakukan perjalanan seorang diri ke Tibet, hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi puterimu itu siapa namanya tadi?"

"Bi Sian, Yauw Bi Sian."

"Nah, Bi Sian seorang gadis berusia delapan belas tahun, sungguh berba-haya melakukan perjalanan ke daerah ini. Sedangkan untuk engkau sendiri saja sudah amat berbahaya, apalagi untuk puterimu yang berusia delapan belas tahun."

Lan Hong tersenyum, senyum penuh kebanggaan.

"Kurasa tidak, toako. Biarpun usianya baru delapan belas tahun, akan tetapi Bi Sian memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada aku, atau bahkan mendiang ayahnya, bahkan pula, kurasa tidak kalah jauh dibandingkan Sie Liong."

"Apa?"

Kembali Bouw Tek terbelalak. Sudah terlalu sering dia mendengar hal-hal yang amat aneh dan tidak terduga dari janda muda yang manis ini.

"Selihai Pendekar Bongkok? Wah, hebat! Murid siapakah puterimu itu, Hong-moi?"

Di dalam hatinya, sukar untuk dapat mempercayai keterangan Lan Hong tentang puterinya itu.

"Menurut pengakuannya, Bi Sian menjadi murid seorang pertapa sakti yang berjuluk Koay Tojin."

"Benarkah?"

Kembali pandekar itu terkejut.

"Nama besar Koay Tojin amat terkenal di daerah barat dan utara! Dia seorang pertapa sakti yang namanya sejajar dengan nama basar Pek-sim Sian-su."

"Memang benar, toako. Menurut keterangan Bi Sian, gurunya itu memang sute dari Pek-sim Sian-su guru Sie Liong."

Post a Comment