" tanya Siau Jit.
Suma Tang-shia mengangguk.
"Nama besarnya waktu itu cukup membuat para jago persilatan berubah wajah, gabungan tenaga delapan jago paling lihay dari Kanglam pun harus berakhir begitu tragis, bisa dibayangkan betapa lihaynya ilmu silat orang itu" "Aku dengar Kelelawar tanpa sayap gemar sekali main perempuan, waktu itu ada banyak gadis yang dia culik dan perkosa" ujar Siau Jit.
"Benar, apa yang kau dengar memang kenyataan" Suma Tang-shia membenarkan.
"Untung saja dia sudah mamus dikerubuti delapan jagoan dari Kanglam" seru Lui Sin sambil mengusap jidatnya, "kalau tidak, sekarang aku benar benar merasa kuatir" Sambil menghela napas ujar Han Seng pula: "Justru karena siaute merasa bahwa sepak terjang orang itu mirip sekali dengan tingkah laku si Kelelawar dimasa silam, maka aku jadi teringat kembali akan dirinya" ~n "Tadi pun aku sempat teringat akan orang ini ujar Suma Tang-shia, "tapi setelah yakin kalau mustahil dilakukan orang ini, maka nama tersebut tak sampai kusinggung" "Karena orang ini sudah mati?
" tanya Lui Sin, "dia hidup sebagai orang bejad, setelah mati pun akan menjadi setan bejad, tapi kalau toh sudah menjadi setan, biar akan melakukan kejahatan lagi pun mustahil akan dilakukan ditengah hari bolong" "Aaah, masa toako percaya juga dengan segala cerita tahayul dan mistik?
" tanya Han Seng keheranan.
"Tidak percaya" Lui Sin menggeleng, "tapi selain Kelelawar tanpa sayap, apakah terpikir ole hmu orang lain?
" "Tidak" Han Seng tertawa getir.
Lui Sin menghela napas panjang.
"Aaai, sejujurnya aku berharap peristiwa ini merupakan hasil karya Kelelawar tanpa sayap, sebab dengan begitu Hong-ji masih punya harapan hidup" "Sekalipun tak ada sangkut pautnya dengan Kelelawar tanpa sayap, aku rasa seharusnya putrimu tetap selamat" hibur Suma Tang-shia.
"Betul" Han Seng membenarkan, "jika bajingan ini berniat mencelakai Hong-ji, bisa saja dia lakukan disegala tempat, kenapa musti memancingnya untuk datang ke kuil kuno Thian-liong- ku-sat?
" Berkilat sepasang mata Suma Tang-shia, tiba tiba katanya: "Sekarang juga kita harus berkunjung ke kuil Thian-liong-ku-sat" "Kuil Thian-liong-ku-sat terletak di mulut hutan murbei, sejenak lagi kita akan sampai disana!
" Han Seng menerangkan, cepat dia melompat naik ke punggung kudanya.
Waktu itu Lui Sin sudah tak dapat mengendalikan sabarnya lagi, dia melompat naik keatas kudanya lalu dilarikan kencang.
Suma Tang-shia melompat masuk pula ke dalam keretanya, tanpa diperintah lagi, kereta itu ikut meluncur ke depan.
Buru buru Siau Jit ikut melomat naik keatas punggung kudanya.
Suara roda kereta pun kembali bergema membelah keheningan malam.
Oo0oo
Angin malam berhembus kencang, menimbulkan perasaan gundah dalam hati setiap orang.
Walaupun malam sudah kelam hingga tak nampak daun murbei yang merah disepanjang jalan, namun mereka dapat merasakan suasana sendu ditengah puncak musim gugur ini.
Tak lama kemudian kereta kuda sudah keluar dari jalur jalan raya.
Bagi Siau Jit, walaupun sudah berapa kali dia melewati kota Lok-yang, namun tidak terlalu hapal dengan situasi diluar kota, karena itu sepanjang jalan dia hanya mengintil terus dibelakang Lui Sin maupun Han Seng.
Sebaliknya bagi Lui Sin dan Han Seng, biarpun sudah banyak tahun tidak mengawal barang, namun mereka sangat hapal dan menguasahi sekali dengan situasi diseputar Lokyang.
Tentu saja kuil kuno Thian-liong-ku-sat tak mungkin lenyap dengan begitu saja dari tempatnya semula.
Dibawah cahaya rembulan, kuil kuno itu tampak lebih menyeramkan.
Sambil menghentikan kudanya didepan gerbang kuil, gumam Lui Sin dengan kening berkerut: "Kenapa bangunannya jadi begini bobrok dan terbengkalai?
" Sementara Siau Jit telah menghentikan pula kudanya sambil tertanya: "Apakah bangunan ini adalah kuil kuno Thian-liong-ku-sat?
" Lui Sin manggut-manggut.
"Ditempat ini hanya ada sebuah bangunan kuil, yakni Thian-liong-ku-sat" Lalu kepada Han Seng katanya: "Jite, ketika kita lewat disini tempo hari, bukankah bangunan kuil ini masih tampak bagus?
" "Toako, mungkin kau sudah lupa, terakhir kali kita melewati tempat ini sudah berlangsung banyak tahun berselang" sahut Han Seng sambil tertawa getir.
Lui Sin berpikir sejenak, kemudian manggut-manggut.
"Ehmm, memang sudah lima-enam tahun berselang, aaaai, waktu berlalu begitu cepat" Sampai disini, tak tahan dia menghela napas panjang.
"Yaa, kuil kuno yang tak pernah diperbaiki dan dibiarkan terbengkalai terus, lama kelamaan -n juga bakal roboh sendiri Han Seng menimali.
Sementara pembicaraan berlangsung, Suma Tang-shia sudah turun dari keretanya, sambil berjalan tegurnya: "Kenapa kalian masih berdiam diri disana?
" "Tampaknya aku memang sudah semakin tua" dengan kening berkerut Lui Sin melompat turun dari kudanya, "reaksi ku terasa semakin lamban saja" Dengan langkah lebar dia berjalan masuk terlebih dulu ke dalam ruang kuil.
Kuatir terjadi hal yang tak diinginkan, buru buru Han Seng mengintil dari belakang, sedang empat orang piausu dengan membawa lampion bertindak paling depan.
"Siau kecil" bisik Suma Tang-shia kemudian sambil berpegangan bahu Siau Jit, "mari kita pun masuk ke dalam" "Hati hati langkahmu!
" sahut Siau Jit sambil mengangguk.
Suma Tang-shia tertawa geli.
"Memang kau anggap aku sudah setua nenek nenek berusia enam, tujuh puluh tahunan?
" "Bukan begitu, banyak semak dan onak liar dalam kuil itu, hati hati kalau sampai tertusuk" "Bagaimana pun kau memang saudaraku yang paling baik, jangan takuti aku dengan ular" Suma Tang-shia tertawa merdu.
Belum habis ia berkata, Lui Sin yang berada didepan telah menghardik keras: "Hati hati, dibalik semak terdapat ular berbisa!
" Seekor ular yang merambat kakinya seketika kena ditendang hingga mencelat ke udara, berbarengan itu golok emasnya dicabut keluar.
Tampak cahaya tajam melintas lewat, ular itu terbabat jadi dua bagian dan mencelat ke samping.
Menyaksikan hal itu Suma Tang-shia menjerit kaget, kemudian menyusupkan badannya ke dalam pelukan Siau Jit.
Baru pertama kali ini Siau Jit berdiri begitu dekat dengan Suma Tang-shia, ia dapat merasakan tubuhnya yang lembut, halus tapi padat berisi serta bau harum seorang dara perawan .
Dalam waktu sekejap perasaan hatinya gejolak keras, jantung terasa berdebar debar.
Padahal ia sudah kenal Suma Tang-shia banyak tahun, namun baru kali ini timbul perasaan semacam itu.
Selama ini dia menaruh perasaan hormat terhadap Suma Tang-shia selain perasaan persaudaraan, rasa hormat dan sayangnya antara seorang kakak dengan adik.
Bahkan boleh dibilang selama ini dia tak pernah menganggap Suma Tang-shia sebagai seorang wanita.
Tapi sekarang, pada hakekatnya ia dapat merasakan suatu perasaan aneh, merasa bahwa Suma Tang-shia adalah seorang wanita tulen.
Begitu kuat perasaan tersebut mencekam hatinya.
Disamping keheranan diapun merasa sedikit bergidik, ngeri, sesudah berhasil menenangkan diri, ujarnya: "Dibalik semak memang benar-benar ada ular berbisa" "Kalau begitu kau harus hati-hati melindungiku" bisik S uma Tang-shia sambil menghela napas.
Dia melanjutkan kembali perjalanannya dengan masih bersandar dalam rangkulan Siau Jit.
Kini perasaan tegang yang mencekam Siau Jit sudah teratasi, ia menjadi tenang kembali, dengan tangan kiri merangkul bahu Suma Tang-shia, tangan kanan menggenggam pedang, selangkah demi selangkah dia melanjutkan perjalanan dengan sangat hati hati.
Angin berhembus kencang menggoyangkan rerumputan, suara gemerisik yang aneh menimbulkan suasana yang makin menyeramkan.
Siau Jit dapat merasakan tubuh Suma Tang-shia sedang gemetar, bisiknya kemudian: "Toaci, bagaimana kalau kau tinggal diluar kuil saja?
" "Kau sangka toaci takut?
" Suma Tang-shia balik bertanya.
Sebelum Siau Jit sempat menjawab, Suma Tang-shia telah melanjutkan kembali perkataannya: "Selama kau berada disisiku, kenapa toaci musti takut?
" Dia menempel semakin rapat ke tubuh Siau Jit.
Perkataan semacam ini bukan untuk pertama kali didengar Siau Jit, tapi hanya kali ini dia merasakan jantungnya berdebar sangat keras.
Dalam nada bicaranya kali ini seolah telah ketambahan sesuatu, sesuatu yang aneh.
Terdengar perempuan itu berkata lebih lanjut: "Berada disampingmu, paling tidak bisa mendatangkan perasaan aman, tenteram bagiku, sebaliknya kalau suruh aku menunggu diluar kuil, rasanya , , , , ,,
rasanya,,,
bertambah menyeramkan" Baru selesai dia berbicara, mendadak dari arah depan berkumandang suara kebasan yang sangat aneh, disusul munculnya berapa gerombolan benda hitam yang terbang keluar dari semak belukar.
Sambil membentak nyaring Lui Sin mengayunkan golok emasnya, "Ciiiit!
" gumpalan hitam itu seketika terbelah jadi dua bagian.
"Benn,,,,benda apa itu?
" bisik Suma Tang-shia dengan nada gemetaran.
"Kelelawar!
" nada jawaban Lui Sin pun kedengaran sedikit gemetar.
"Betul betul seekor Kelelawar yang sangat besar" sambung Han Seng, "selama hidup baru pertama kali ini aku menyaksikannya" Waktu itu dia telah meloloskan pedangnya dan secepat kilat melepaskan sebuah tusukan.
Tusukan itu dengan tepat menembusi tubuh seekor Kelelawar yang berada ditengah, kelelawar itu masih berusaha meronta, berusaha mengebaskan sayap dengan sekuat tenaga.
Darah mulai meleleh keluar, menetes lewat sisi mata pedang yang tajam.
Kembali Han Seng menggetarkan pedang peraknya, "Ngunggg!
" seekor Kelelawar dengan bercucuran darah meloloskan diri dari kurungan cahaya pedang dan terbang tinggi ke angkasa.
Melihat itu sambil menghela napas katanya lagi: "Seandainya Kelelawar tanpa sayap bukan dikabarkan telah mati, pada hakekatnya aku merasa yakin kalau kesemuanya ini merupakan hasil karyanya" Lui Sin segera tertawa terbahak-bahak.
"Lumrah kalau banyak Kelelawar hidup dalam kuil yang terbengkalai, apa yang musti diherankan?
" "Benar juga perkataan itu" Maka mereka berdua pun kembali beranjak, melanjutkan langkahnya menuju ke ruang utama kuil 1 Maka mereka berdua pun kembali beranjak, melanjutkan langkahnya menuju ke ruang utama kuil kuno.
Dibawah cahaya obor, tampak sarang laba laba memenuhi setiap sudut ruangan, tak nampak sesosok bayangan manusia pun disana.
Tanpa sadar Han Seng mendongakkan kepalanya, tapi ia segera menjerit kaget: "Kelelawarl" Puluhan ekor Kelelawar bergelantungan disepanjang tiang penglari gedung, ada berapa ekor diantaranya yang beterbangan dan kabur menuju ke luar ruangan.