Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 24

Memuat...

" teriak Ong Bu-shia nyaring, kepalan demi kepalan dilancarkan semakin gencar Kepalannya keras bagai martil besar, telapak tangannya tajam bagai mata golok, jarinya runcing bagai ujung pedang, nyaris seluruh bagian tang annya merupakan senjata tajam yang mematikan Bahkan bukan hanya sejenis senjata saja, tapi berbagai jenis senjata pembunuh yang mematikan Ditengah pertarungan yang berlangsung sengit, atap rumah tampak beterbangan di udara lalu mencelat hancur Tak selang berapa saat kemudian, hampir semua atap yang berada diseputar arena telah tersapu lenyap Tiba tiba terdengar suara gemuruh yang amat nyaring, rupanya tiang belandar tak kuat menahan tekanan yang timbul hingga patah jadi berapa bagian, tak ampun kedua orang itupun sama-sama terjerumus ke bawah bangunan Asap, debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, suasana jadi sangat kalut Kawanan piausu yang menonton jalannya pertarungan dari jalan raya sama sama terkesima dibuatnya, bukan hanya mereka, bahkan Lui Sin maupun Han Seng ikut berdiri menjublak "Bagaimana kita sekarang?

" bisik Lui Sin kemudian sambil menarik napas dingin

Malam semakin kelam, angin berhembus makin kencang, begitu dingin udara malam itu seakan sayatan dari sebilah golok tajam.

"Siau kecil" terdengar Suma Tang-shia berbisik, "ada satu hal entah kau sempat memperhatikannya atau tidak?

" "Apakah golok pembunuh itu?

" tanya Siau Jit.

"Ada apa dengan golok pembunuh?

" "Ditinjau dari posisi mulut luka, tampaknya jauh lebih t ipis daripada luka bacokan pada umumnya , bahkan posisinya melengkung" "Tepat sekali, lalu?

" "Berbicara soal ketajaman, tak disangkal ketajamannya memang jauh dari ketajaman golok biasa" "Atau dengan perkataan lain, senjata itu pasti sebilah golok mestika!

" ujar Suma Tang-shia.

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya: "Menurut apa yang kuketahui, golok mustika dalam dunia persilatan yang cukup tersohor jumlahnya mencapai sembilan belas bilah, diantaranya sebagian besar berbentuk tipis, bila kita melakukan analisa dan pelacakan dari hal ini, bisa jadi akan diperoleh hasil" "Aku rasa tidak segampang itu" "Tentu saja tidak gamang, apalagi pemilik golok golok tersebut hamir semuanya merupakan jago jago kelas satu dari dunia persilatan" "Yaa, bukan hanya lihay, kebanyakan memiliki perangai dan watak yang sangat aneh, salah salah batok kepala bisa terpisah dari badan" Suma Tang-shia tertawa.

"Padahal tak bisa salahkan mereka seratus persen, siapa pun itu orangnya, bila memperoleh golok mestika yang tak ternilai harganya, watak mereka pasti akan berubah jadi aneh" "Betul, siapa pun pasti akan berusaha untuk menjaga diri, bila setiap saat musti tegang dan hidup dalam kecurigaan, lambat laun watak mereka tentu akan berubah jadi banyak curiga dan gamang marah" ucap Siau Jit.

"Padahal tidak setiap orang yang datang selalu bermaksud mengincar golok mestika miliknya, bicara dari dia pribadi, memangnya dengan mempunyai golok, lantas dia bisa menjagoi kolong langit tanpa tanding?

" "Yaa, tentu saja tidak" Siau Jit menggeleng.

"Anehnya, kenapa hanya segelintir manusia yang bisa memahami teori semacam ini" "Justru karena itulah muncul banyak manusia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sebilah golok mustika atau pedang mustika sebagai senjata andalan" "Kalau begitu kau harus hati hati" "Kenapa harus hati hati?

" tanya Siau Jit keheranan.

"Bukankah pedang pemutus ususmu terhitung sebilah pedang mustika?

" kata Suma Tang-shia.

"Untungnya hingga sekarang masih belum ada orang berani mengincar pedangku ini" Suma Tang-shia segera tertawa.

"Mungkin mereka tahu, biarpun ada pedang pemutus usus ditangan, bila tidak memahami ilmu pedang pemutus usus, senjata itu sama sekali tak ada gunanya" "Semisal benar benar terjadi, berarti aku harus bersikap lebih waspada" "Jadi sekarang kau mulai kuatir kalau mereka sedang mengincar pedangmu?

" " Ehmm!

" Kembali Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

"Sekalipun kau tak pandai ilmu pedang pemutus usus, sekalipun pedang pemutus usus tak ada ditanganmu, mereka toh tetap mengincar dirimu, karena lelaki setampan kau memang tak banyak jumlahnya di dunia ini" "Ahh, lagi-lagi toaci sedang menggoda aku" "Aku bicara sejujurnya" Siau Jit menghela napas.

II "Padahal kaupun tak perlu menghela napas kata Suma Tang-shia, "sebab kejadian seperti ini bukan termasuk kejadian buruk" Siau Jit segera mengalihkan pokok pembicaraan, katanya: "Toaci, menurut pandanganmu, benarkah kita bisa mulai penyelidikan dari hal tersebut?

" "Aku rasa tak ada keharusan untuk berbuat demikian" "Boleh saja kalian berdua ogah repot, aku orang she-Lui tak akan menyerah dengan begitu saja" sela Lui Sin tiba tiba.

"Masalahnya bukan ogah repot atau tidak" Suma Tang-shia menjelaskan.

"Bukankah nona sendiri yang bilang, bila penyelidikan dimulai dari bidang tersebut, siapa tahu bakal peroleh hasil" seru Lui Sin.

"Tapi sekarang aku telah berpikir lebih jernih, jagoan pengguna golok seharusnya sama sekali tak ada hubungannya dengan peristiwa ini" "Seharusnya?

" kembali Lui Sin tertegun, "atas dasar apa nona begitu yakin?

" "Sedikit banyak aku cukup mengetahui keadaan mereka sekarang, ada berapa orang jagoan yang dikabarkan sudah mati, ternyata masih tetap hidup didunia ini, bahkan tinggal tak jauh dari sini, mereka muncul kembali ke dalam dunia persilatan dengan nama pendekar" Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Dari sekian banyak jago golok, salah satu orang yang tinggal paling dekat dari sini pun berjarak ratusan li dari tempat ini" Dia berpaling kearah Siau Jit, lalu terusnya: "Daripada melacak dari bidang ini, kenapa tidak melacak dati tujuan yang mereka lakukan?

" "Tujuan?

" Siau Jit mulai berpikir.

"Walaupun peristiwa ini seolah hasil karya orang gila, namun mana ada orang gila yang bisa bertindak begini rahasia dan rapi" Kalau rencana yang begini sempurna bisa dia lakukan, ini berarti orang itu tidak edan dan pasti merupakan sebuah akal muslihat" "Menurut toaci, apa akal muslihatnya?

" "Semula kusangka tujuannya adalah mengkambing hitamkan dirimu, tapi sesudah dipikir lebih cermat, rasanya kemungkinan ini kecil sekali" "Atas dasar apa kau berkata begitu?

" "Bagi manusia macam kau, pergi ke mana saja kehadiranmu selalu mencolok mata dan menarik perhatian orang, jadi mustahil pembunuhan ini merupakan hasil karyamu, tidak terlalu susah bagimu untuk mencari alibi, tak sulit membuktikan kalau kau tak pernah hadir di tempat kejadian, dan seharusnya pihak lawan menyadari akan hal itu , , , , ,,

" Setelah berhenti sejenak, dia berpaling dan menatap Lui Sin dan Han Seng sekejap, lanjutnya: "Aku yakin Lui dan Han enghiong bukanlah manusia yang tak pakai aturan" Merah padam selembar wajah Lui Sin karena jengah, sementara Han Seng mendeham berulang kali kemudian baru berkata: "Yang lebih penting lagi, bila ingin mengandalkan kemampuan kami berdua, sudah jelas tak akan mampu menandingi saudara Siau, jadi dia tak ada alasan mencari gara gara dengan kami berdua" "Itulah sebabnya aku percaya peristiwa ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Siau kecil" "Tapi,,,,

bagaimana dengan surat dari Siau-heng yang ditujukan kepada putriku , , , , , ,,

" sela Lui Sin.

"Tentu saja surat itu palsu" jelas Suma Tang-shia, "tujuannya tak lain karena hendak memancing putrimu agar mau datang ke kuil kuno Thian-liong-ku-sat" "Tapi aku belum pernah dengar kalau putriku pernah berkenalan dengan saudara Siau" kembali Lui Sin berkata dengan kening berkerut.

"Aku pernah bertemu satu kali dengan putrimu" Siau Jit segera menjelaskan.

"Sekali sudah lebih dari cukup" seru Suma Tang-shia.

Siau Jit tertegun.

"Maksud toaci , , , , ,,

" "Aku yakin tak seorang wanitapun yang dapat melupakan dirimu setelah bertemu satu kali, jika gadis itu pernah bertemu muka lalu tiba tiba menerima surat undangan, mungkin tak ada gadis yang tak mau memenuhi undangan itu" Siau Jit segera terbungkam, tak sanggup bicara.

Sementara itu Suma Tang-shia telah berpaling kearah Lui Sin sambil berkata: "Aku percaya putrimu pun tidak terkecuali" Kali ini Lui Sin tidak membantah, dia hanya membungkam diri.

Kembali Suma Tang-shia menyapu sekejap tumpukan mayat yang berserakan ditanah, kemudian katanya: "Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki pembunuh itu, bisa saja dia bunuh kawanan jago itu terlebih dulu kemudian baru menghadapi putrimu, dan s eharusnya hal ini bisa dia lakukan dengan gamang sekali, tapi nyatanya dia lebih suka memancin g putrimu agar pergi lebih dulu meninggalk an tempat ini kemudian baru melakukan pembantaian, hal ini membuktikan kalau dia tak ingin pu trimu menderita celaka atau kerugian apapun" &n bsp; "Jadi maksudmu, tujuan sebenarnya dari si pembunuh adalah mendapatkan putriku" tanya Lui Sin.

"Semestinya begitu" "Kenapa?

" "Hahaha, kalau soal ini mah musti ditanyakan langsung pada yang bersangkutan" Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

Lui Sin mendelong, dia hanya bisa tertawa getir.

"Disekitar tempat inipun terdapat seorang jago golok" tiba tiba terdengar Han Seng menyela.

"Siapa?

" tanya Lui Sin tanpa sadar.

"Semestinya toako masih ingat akan hal ini" Lui Sin tertegun, berapa saat kemudian jeritnya: "Kelelawarl" setelah berhenti sejenak, tegasnya, "kau maksudkan si Kelelawar?

" Han Seng mengangguk.

"Kelelawar yang mana?

" tanya Siau Jit.

Tapi setelah berteriak, dia seakan teringat akan sesuatu, serunya agak tercengang: "Apakah kau maksudkan si Kelelawar tanpa sayap?

" "Rasanya dalam dunia persilatan hanya terdapat satu Kelelawar" "Aku dengar dia adalah seorang jago golok, senjata yang digunakan adalah golok Kelelawar, sebilah golok mustika yang tajamnya luar biasa" kata Siau Jit.

"Betul, golok Kelelawar tajam sekali, selain tipis, konon mampu membelah besi baja bagai membelah tahu!

" "Jangan jangan , , , , , , , , ,,

II Il "Persis seperti jenis manusia yang kalian berdua maksudkan Han Seng mengangguk, "hanya sayangnya , , , , , , ,,

" Belum selesai dia berkata, Suma Tang-shia telah menyambung: "Kelelawar tanpa sayap sudah tak ada lagi di dunia ini" "Sudah mati?

" tanya Siau Jit.

"Benar, sudah mati banyak tahun Il kembali Han Seng mengangguk.

Lui Sin segera menambahkan: "Dia tewas karena dikerubuti delapan orang jago lihay dari Kanglam, dalam pertempuran itu ada tujuh jago yang tewas ditempat, tinggal seorang yang hidup, dia adalah Suma Tiong-goan" "Dialah ayahku" kata Suma Tang-shia.

Lui Sin serta Han Seng tertegun, kemudian buru buru mereka berseru: "Maaf, maaf" Suma Tang-shia tertawa hambar.

"Dalam pertempuran ini, luka yang diderita ayahku pun sangat parah" katanya, "tak sampai setengah tahun kemudian, beliau menghembuskan napas terakhir" "Benarkah Kelelawar tanpa sayap begitu lihay?

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment