Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 21

Memuat...

bagi orang orang semacam kita berdua, salah menduga sama artinya mencari kematian buat diri sendiri, bukan begitu" "Ehmmm "Mungkin saja dugaanku kali ini salah, keliru besar, tapi untungnya usiaku sudah lanjut, jadi urusan mati atau hidup sudah bukan kuanggap sebagai satu masalah besar lagi "Setelah mendengar penuturanmu itu, aku semakin tak berani bersikap gegabah" kata Siau Jit "Bila seseorang sudah tidak pedulikan masalah mati hidupnya, dia pasti akan menyerang tanpa kuatir, membunuh tanpa ragu, bukankah begitu" "Benar!

Ong Bu-shia memperhatikan sekejap sepasang tangannya, kemudian berkata lagi: "Dengan mengandalkan sepasang tangan ini, aku telah menjelajahi utara selatan sungai besar dan selama ini belum pernah ketemu lawan tanding "Aku dengar memang begitu "Paling tidak belum pernah ada hingga saat sekarang, saat sebelum aku mengundurkan diri "Aku sendiripun tidak yakin kemampuanku sanggup menandingi dirimu "Meski kau tak yakin bisa menangkan aku, namun kau tak akan mundur dari gelanggang" "Tentu saja, kau pun tak akan membiarkan aku keluar dari gelanggang ini" "Memang tak mungkin" "Apalagi aku memang tak berniat mundur dari sini" kat a Siau Jit cepat Dengan tajam Ong Bu-shia menatap lawannya, tiba tiba ia tertawa "Aku sangat berharap kau adalah lawan tandingku" katanya "Kenapa" "Karena aku sudah banyak tahun hidup kesepian Setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Selama banyak tahun, belum pernah ada orang berhasil mengalahkan aku, bahkan mencari lawan tanding yang seimbang pun susahnya setengah mati "Karena itu kau merasa kesepian?

" "Betul Siau Jit menatapnya tajam "Terlepas manusia macam apakah dirimu, dalam pertarungan kali ini, aku tak akan memandang enteng dirimu "Aku memahami maksudmu , , , , ,,

kau memang seorang jago silat tulen, seorang pesilat sejati" "Sama sama, kita setali tiga uang "Tahukah kau apa hubunganku dengan Ong Sip-ciu?

" tiba tiba Ong Bu-shia bertanya "Putramu!

" "Betul, dia adalah satu-satunya putraku "Sayang putra mu tidak memiliki kegagahanmu walau hanya setengahnya saja" "Aku hanya memiliki seorang putra, tentu saja dia kelewat manja hingga terbentuk watak yang lemah "Kau seharusnya tahu bukan kenapa aku harus membunuhnya" "Dalam pandangan kalian orang orang hiap-gi yang mengutamakan kebajikan dan kebenaran, tentu saja semua perbuatan dan sepak terjangnya pantas diganjar dengan kematian, namun dalam pandangan kami orang orang kalangan hitam, ulahnya masih belum terhitung kelewat jahat dan busuk, khususnya dalam pandanganku sebagai ayahnya, apa pun yang telah dia lakukan pantas dimaafkan dan diampuni, dosanya tak perlu ditebus dengan kematian "Aku mengerti "Bagus sekali" seru Ong Bu-shia sambil perlahan-lahan menggeser kakinya Siau Jit segera ikut menggeser pula langkah kakinya Kedua orang itu sudah tidak berbicara lagi, seolah pembicaraan apa pun disaat ini sudah tak berguna lagi Pedang Siau Jit sudah terhunus, tubuh dan pedang seolah telah terwujud jadi satu Ong Bu-shia menggerakkan pula sepasang tangannya kian kemari, setiap saat dia siap melancarkan serangan Akhirnya serangan pun dilancarkan!

Pergeseran badan Ong Bu-shia dilakukan tidak terlampau cepat, sementara Siau Jit bergeser lebih lambat, ia berdiri diatas meja, berada diatas untuk menghadapi serangan dari bawah, bahkan posisi dimana ia berdiri merupakan sumbu dari perputaran mereka berdua, karena itu dia tak perlu banyak bergerak Si Hong berdiri persis disamping Siau Jit, pedang lemasnya sudah dipersiapkan untuk setiap saat melancarkan serangan Ia menatap Siau Jit, sorot matanya sama sekali tak berkedip, tubuhnya pun sama sekali tak bergerak Hingga Siau Jit berdiri membelakangi dia, tiba tiba saja ia bertindak, secepat kilat tubuhnya menerkam ke arah Siau Jit, "Nguungg!

" pedang lemasnya digetarkan hingga tegak lurus, bagai ular berbisa langsung menyergap bagian mematikan dipunggung lawan Serangan pedang yang amat beracun, hati dan pikirann ya jauh lebih beracun!

Dia menduga, begitu serangan dilancarkan, tak ayal Ong Bu-shia pasti akan manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan pula serangannya, dengan begitu mereka berdua akan menyergap bersamaan waktu Dengan ikut serta dalam melancarkan serangan maut itu, niscaya Ong Bu-shia dapat menghabisi nyawa Siau Jit Mungkin saja apa yang dia bayangkan merupakan kenyataan Sayang dugaannya meleset jauh, ternyata Ong Bu-shia sama sekali tak bergerak, dia hanya mengawasi gerak serangannya itu dengan pandangan dingin Seketika itu juga hatinya tercekat, bergidik Sayang pedangnya sudah terlanjur melancarkan tusukan, tusukan kilat ibarat anak panah yang terlepas dari busur, tak mungkin untuk ditarik balik Dalam waktu singkat cahaya pedang bagai bianglala telah menghampiri tubuh Siau Jit, dan pada saat yang bersamaan tiba tiba Siau Jit membalikkan badan Bersamaan itu pedangnya melepaskan sebuah tusukan!

Serangan yang dilancarkan Si Hong sesungguhnya tidak terhitung lambat, dalam sekali tusukan dia telah melepaskan tujuh belas ancaman, tapi sayang gerak pedang Siau Jit jauh lebih cepat, biar menyerang belakangan tapi serangan tiba disasaran lebih awal, tujuh belas tusukan kilat seketika membendung seluruh ancaman yang dilakukan Si Hong Menyaksikan kejadian itu Si Hong membentak nyaring, berapa kali dia merubah gerakan tubuhnya namun selalu gagal untuk melepaskan diri dari ancaman pedang lawan Sambil mendengus tangan kirinya berputar, tujuh batang paku bunga li yang sangat beracun siap dibidikkan ke tubuh lawan, siapa tahu baru saja tangan kirinya bergerak, telapak tangan kiri Siau Jit sudah membacok pergelangan tangannya Dengan ketajaman matanya ternyata ia tak bisa melihat dengan jelas darimana datangnya bacokan itu, dengan kegesitan gerak tubuhnya pun dia tak sanggup berkelit atau menghindarkan diri Rasa sakit yang luar biasa merasuk hingga ke tulang sumsum, pergelangan tangannya yang ditelikung ke belakang membuat genggaman ke lima jarinya mengendor, paku paku bunga li yang sudah siap ditimpuk pun seketika berjatuhan ke tanah Selama ini Ong Bu-shia hanya menyaksikan jalannya pertarungan sambil bergendong tangan, sama sekali tak punya niat untuk turun tangan membantu Menyaksikan hal ini, Si Hong merasa hatinya mencelos, perasaannya makin terperosok dalam Bersamaan dengan timbulnya rasa takut, tiba tiba perutnya terasa pedih, panas bagai terbakar dan sakitnya bukan kepalang Inilah perasaan terakhir yang bisa dia rasakan sepanjang hidupnya!

Pedang milik Siau Jit telah menusuk ke dalam perutnya, menghujam dalam dalam Begitu ujung pedang menembusi perutnya, darah segar pun menyembur keluar bagaikan mata air Si Hong terpuruk diatas lantai bagai manusia tanah liat yang tergenang air, "Traaangl pedang lemasnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke samping Sementara itu Siau Jit telah menarik kembali pedangnya, perlahan ia berpaling, menatap Ong Bu-shia dengan pandangan dingin Ternyata gerak serangan pedangnya selain cepat, ganas pun sangat telengas Ong Bu-shia balas menatap Siau Jit dengan pandangan dingin, tiba tiba ujarnya: "Sekali tusukan memutuskan usus, ternyata nama besarmu memang bukan nama kosong "Kau seharusnya turun tangan selamatkan jiwanya "Selama hidup, aku tak pernah mau melakukan pekerjaan yang sama sekali tak berguna uoya"n Ong Bu-shia memandang sekejap jenasah Si Hong yang terkapar ditanah, lalu ujarnya lagi: "Dia tidak seharusnya membokongmu dari sudut tersebut, sebab, walaupun kau berdiri membelakangi dia, namun sudut itu merupakan benteng pertahanan yang kuat bagimu, sudut yang tak mungkin bisa membuahkan hasil Mencorong sorot mata Siau Jit Terdengar Ong Bu-shia berkata lebih jauh: "Andaikata dia menyerangmu dari sudut kanan, paling tidak kau harus menyambut tiga buah serangan berantainya" Sinar mata Siau Jit makin mencorong dingin "Sekalipun dia menyerangku dari sudut kanan, aku yakin kau tetap tak akan turun tangan membantu "Betul!

"Walaupun dia datang bersamamu, padahal dalam kenyataan dia hanya kelinci percobaanmu, kau ingin gunakan dia untuk menjajal tipu muslihat ilmu pedangku "Tepat sekali "Dia seharusnya mengerti akan hal ini "Sayang tidak banyak orang cerdas dikolong langit saat ini, terlebih orang secerdas kau Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Sayangnya pula, orang yang kelewat cerdas biasanya bukan merupakan satu kejadian yang baik Siau Jit tertawa dingin "Entah sudah berapa kali kudengar perkataan semacam itu?

" dengusnya "Oya?

" "Bahkan hampir semuanya pasti mengatakan satu hal" uApa"n "Karena orang yang kelewat pintar, biasanya tidak berumur panjang!

"Hahaha!

" Ong Bu-shia tertawa tergelak, katanya samb il manggut manggut, "hal seperti ini jelas bukan satu kejadian yang menyenangkan" "Sayangnya manusia bukan hanya andalkan kecerdasan, seringkali selain pintar, diapun harus berbudi luhur sehingga selalu dilindungi Thian, bahkan berumur panjang "Sayang tidak banyak manusia seperti itu "Tapi bukan berarti tak ada orang semacam itu "Jadi maksudmu, kau adalah salah satu diantaranya" "Betul atau tidak, aku sendiri tidak tahu, bahkan aku sendiri pun tak tahu apakah aku termasuk orang pintar atau tidak" "Kau bisa berkata begitu, hal ini menandakan kalau kau memang seseorang yang sangat cerdas, moga moga saja kau berumur lebih panjang daripada orang cerdas lainnya "Kau serius berharap begitu?

" Siau Jit balik bertanya "Hahaha, tentu saja bohong!

Begitu selesai bicara, tiba tiba tubuhnya mulai bergerak, dia tidak melompat ataupun menerkam, tapi selangkah demi selangkah berjalan mendekat Siau Jit tidak bergerak, dia hanya mengawasi Ong Bu-shia yang semakin mendekat dengan pandangan dingin Ong Bu-shia sama sekali tidak berhenti, sampai mendekati meja tersebut, ia baru mulai berputar, bergerak menuju ke sisi kanan anak muda itu Siau Jit masih berdiri diatas meja dengan pedang terhunus, tubuhnya ikut berputar mengikuti gerakan musuhnya Ong Bu-shia mulai berputar, makin lama ia bergerak makin cepat, akhirnya dia mengelilingi meja itu dengan kecepatan luar biasa Siau Jit, tubuh berikut pedangnya ikut berputar Walaupun dia cepat, namun gerakannya tak sanggup menyusul gerakan tubuh Ong Bu-shia, dalam waktu singkat kakek jangkung itu telah merebut posisi sebelah kanan, bahkan sepasang tangannya langsung membacok, membabat pinggiran meja tersebut "Praaakkkl" meja yang lebar lagi kuat itu segera terbelah jadi dua bagian Berbareng dengan terbelahnya meja itu, Siau Jit ikut melambung ke tengah udara, coba dia baru melambung setelah meja itu terbelah, niscaya keseimbangan badannya akan sangat terpengaruh Berada ditengah udara, ia bersalto berapa kali, kemudian "Wussss!

" ia berbalik posisi, dengan kepala dibawah kaki diatas, pedangnya langsung menusuk kepala lawan Dalam posisi begitu, seharusnya Ong Bu-shia ikut melambung untuk melakukan pengejaran, namun dia sama sekali tidak berbuat begitu Mungkin hal ini dikarenakan ia telah menduga akan serangan kilat yang bakal dilancarkan Siau Jit, dia berdiri tegak sambil menyambut datangnya ancaman tersebut Bukan saja dia tidak melambung, sebaliknya justru merendahkan badan sambil menyusup ke bawah meja Babatan pedang Siau Jit segera menyambar dari atas kepalanya, hanya terpaut satu inci dari ujung rambutnya Dengan cepat orang tua itu merentangkan tangannya ke kiri kanan, ia sambar kaki meja lalu diiringi bentakan nyaring, belahan meja tersebut diangkat keatas dan dihantamkan ke tubuh Siau Jit Untuk kedua kalinya Siau Jit mencelat ke samping, kini dia telah berbalik posisi dengan kepala diatas kaki dibawah, tubuh berikut pedangnya kembali melambung Saat inilah Ong Bu-shia baru melompat bangun, tangannya sambil tetap memegang kaki meja yang terbelah merangsek maju ke depan, ternyata gerakan tubuhnya masih tetap cepat Kini kedua belah lembaran meja yang terbelah itu digunakan sebagai tameng untuk melindungi tubuhnya, dengan kondisi seperti ini dia melanjutkan terjangan Berulang kali Siau Jit mengubah gerakan tubuhnya, namun selalu gagal melepaskan diri dari jangkauan meja terbelah, akhirnya dia berpekik nyaring, tubuhnya mencelat ke atas, langsung menerjang permukaan genting ruangan "Braaak , , , , ,!

" ditengah suara keras dan hamburan debu serta hancuran genting, tubuh Siau Jit menerobos keluar dari ruangan dengan menembusi langit langit Pada saat itulah kedua lembar meja yang berada ditangan Ong Bu-shia telah menghantam langit langit, "Braaak, braaak , , , , , ,,

" suara gemuruh bergema makin nyaring, semakin banyak debu dan hancuran genting berhamburan diseluruh ruangan, meledak, meletup dan hancur berantakan Tidak berhenti sampai disitu, Ong Bu-shia menerobos keatas mengejar musuhnya, begitu berada disamping Siau Jit, lembaran meja ditangannya kembali menyapu ke depan dengan jurus Heng-sau-jian-pit-be (menyapu rata seribu ekor kuda) Kembali Siau Jit melompat ke tengah udara Gagal dengan sapuannya, Ong Bu-shia menarik tangannya sambil merapat, kedua belah lembar meja itu segera saling berbenturan, "Braaak!

Post a Comment