Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 18

Memuat...

Buat apa kau mencari tahu tentang mereka" Tiada orang yang menjawab Sambil tertawa sendiri si Kelelawar berkata lagi: "Botan maupun Huyong sama sama kecil dan mungil, namun dalam kenyataan mereka berbeda Setelah garuk garuk kepala, lanjutnya: "Mereka adalah dua orang yang berbeda, namun merekalah yang tercantik dari dua perbedaan itu.

Tangannya kembali meraba payudara Lui Hong, setelah meremasnya berulang kali, kini tangan itu mulai bergerak turun ke bawah, ganti meraba pinggang si nona yang ramping Setelah meraba dan menggerayanginya berulang kali, diapun berkata sambil menghela napas: "Serius, mendingan anak perempuan jangan berlatih silat, coba lihat, pinggang jadi kasar dan berotot, tampaknya orang yang bisa menjaga postur pinggangnya namun tetap bisa berlatih silat hanya Lau Ci-he seorang!

"Lau Ci-he dari Say-hoa-kiam-pay?

" suara sendu itu kembali bertanya "Betul, memang gadis dari Say-hoa-kiam-pay itu" sahut si Kelelawar sambil tertawa dungu, "ilmu pedang Say-hoa-kiam-sut terhitung bagus, hanya sayang kelewat banyak kembangan" "Ehmm!

"Ilmu pedang darimana pun" kembali si Kelelawar berkata sambil tertawa, "asal kembangannya kelewat banyak, sudah pasti kehebatannya berkurang, semakin banyak kembangan sama artinya semakin banyak titik kelemahannya Crang itu tidak bersuara, suasana jadi hening.

Dalam saat seperti itu, si Kelelawar seolah sudah melupakan segala sesuatunya, kembali sepasang tangannya mulai meraba dan menggerayangi seluruh bagian tubuh gadis itu Tiba tiba dia menghela napas panjang, gumamnya: "Tegasnya potongan badanmu masih belum bisa dianggap terlalu baik, tapi masih bisa diperhitungkan.

Selesai berkata dia pun mulai mengambil alat pemukul dan alat pahat, lalu mulai mengetuk diatas batang kayu yang berada disisinya.

Gerakan tangan orang ini cepat dan cekatan, tak lama kemudian potongan kayu itu telah dipahat hingga berbentuk kepala manusia Air mata yang mengembang di kelopak mata Lui Hong membuat pandangan matanya kabur, tapi gadis ini jadi keheranan ketika mendengar suara ketukan aneh, tak tahan ia membuka matanya sambil menengok.

Sepasang tangan si Kelelawar masih bekerja tiada hentinya, diantara suara dentingan, dalam waktu singkat balok kayu itu sudah terukir menjadi sesosok manusia dengan pancaindra, ke empat anggota badan bahkan termasuk payudara, semuanya tampak indah dan mirip sekali.

Saat itulah si Kelelawar baru meletakkan peralatannya, dengan kedua belah tangan dia mulai meraba wajah Lui Hong Sekali ini dia meraba dengan amat cermat, amat teliti dan seksama.

Setelah meraba dan meraba berulang kali, kembali dia mengambil alat pahatnya dan mulai bekerja pada batok kayu itu Kali ini setiap gerakan dilakukan sangat lambat dan hati hati.

Menyusul diletakkannya alat pemukul dan pemahat, kali ini dia mengukir dengan menggunakan sebilah pisau kecil.

Pisau itu betul betul sangat kecil, panjangnya hanya tujuh inci tapi tajamnya bukan kepalang, sayatan yang perlahan ternyata menghasilkan pahatan yang dalam.

Dengan tangan yang mantap dia jepit mata pisau dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengahnya, "Sreet, sreeet" diantara suara sayatan, lembar demi lembar kulit kayu tersayat rontok ke tanah.

Lambat laun muncullah bentuk pancaindera yang jelas pada balok kayu itu.

Dipandang sepintas, ternyata raut muka yang terpahat itu mirip sekali dengan wajah Lui Hong.

Kontan saja kejadian ini membuat si nona terbelalak dengan mulut melongo, dia betul-betul terperangah.

Kini sayatan pisau si Kelelawar tambah lambat, beberapa kali dia raba wajah Lui Hong dengan tangan kirinya, meraba dengan seksama, mengamati setiap lekukan yang ada Sementara pisau ditangan kanannya mengikuti gerak raba tadi, membuat sayatan dan pahatan yang akurat Kini pancaindera yang terbentuk pada balok kayu itu semakin nyata, bentuk muka pun semakin mirip.

Lui Hong Tak bisa disangkal lagi ilmu pahatan yang dikuasahi kakek ini benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan Dalam situasi seperti ini, sepasang mata Lui Hong terbelalak lebar, dia tak ingin pejamkan matanya, gadis itu ingin mengikuti terus gerakan tangan yang dilakukan orang tua itu.

Sayatan pisau si Kelelawar masih berlanjut terus, hanya sekarang dia memahat lebih hati hati, lebih teliti dan seksama.

Entah berapa lama sudah lewat. Berada dalam ruang rahasia semacam ini, pada hakekatnya mustahil untuk menduga jam berapa saat itu Kini tangan kiri si Kelelawar sudah tinggalkan wajah Lui Hong, sementara bongkahan kayu itu pun telah berubah menjadi bentuk kepala dan wajah gadis itu.

Bukan saja besar kecilnya sama, guratan pancaindera nya begitu jelas dan nyata, semuanya sangat mirip dan tak ada bedanya dengan bentuk aslinya.

Bentuk hidung yang sama, bentuk bibir yang sama, bentuk mata yang sama.

Yang berbeda hanya bentuk warna, bagaimana pun sepasang tangan si Kelelawar bukanlah sepasang tangan iblis, meskipun dia dapat mengukir bentuk wajah yang sama, namun tak mungkin bisa membentuk warna kulit yang sama.

Apapun kehebatannya, sampai dimana pun kepandaiannya, dia tetap manusia, bukan setan, bukan dewa Kalau tidak, dia tak perlu lagi bersusah payah memahat dan mengukir, kenapa bukan sekali tiup mengubah balok kayu itu jadi Lui Hong.

Tapi memang harus diakui, ilmu pahat yang dimiliki memang luar biasa, sudah mencapai tingkat sempurna.

Yang lebih penting lagi, dia bukan manusia normal, dia tak lebih hanya seorang buta.

Dia tak punya mata, namun dalam bidang memahat, kemampuannya justru beratus kali lipat lebih hebat daripada mereka yang punya mata.

Lui Hong tahu, si Kelelawar adalah orang buta, dia pun tahu orang itu hanya mengandalkan perasaan pada sentuhan tangannya untuk memahat bentuk wajahnya Kini air matanya nyaris sudah mengering, sepasang matanya terbelalak begitu lebar, hampir sama sekali tak berkedip Setiap gerakan, setiap perbuatan yang dilakukan si Kelelawar dapat ia saksikan dengan jelas sekali.

Tapi hingga kini, dia masih mempunyai satu perasaan, dia tak percaya kalau si Kelelawar adalah orang buta.

Pada hakekatnya apa yang telah dia lakukan mustahil bisa diperbuat seorang manusia buta.

Tapi dalam peristiwa ini, mau tak mau dia harus percaya.

Detik itu, dia seolah sudah lupa kalau dirinya berbaring dalam keadaan bugil, sama sekali lupa dengan rasa malu Tapi dalam waktu singkat rasa malu itu muncul kembali, menyelimuti perasaan hatinya, karena sepasang tangan si Kelelawar kembali meraba payudaranya, bukan hanya meraba bahkan mulai meremas remas.

Sepasang tangan yang kurus kering bagai ranting dahan, kurus kering bagai cakar burung.

Dalam keadaan begini Lui Hong hanya bisa melelehkan air mata.

Air matanya meleleh bagai butiran embun, meleleh membasahi pipinya Sepasang tangan si Kelelawar sudah mulai bergeser, meraba dengan lembut, meremas dengan perlahan, setiap gerakan yang dia lakukan, menimbulkan tekanan perasaan yang sangat kuat bagi gadis itu.

Kini sepasang tangannya telah berada dibagian tubuhnya yang paling sensitip, puting susunya segera mengencang keras.

Dia tak kuasa menahan diri, rangsangan secara otomatis membuat puting susunya mengeras.

Dari sepasang tangan, kini si Kelelawar meraba dengan tangan sebelah, lalu sekali lagi dia mengambil peralatannya dan mulai membuat pahatan pada balok kayu.

Suara ketukan palu, suara sayatan kulit bergema tiada hentinya didalam ruang rahasia yang sepi, setiap suara yang bergema menimbulkan gaung yang nyaring.

Kemudian si Kelelawar menggunakan lagi pisau kecilnya yang tajam.

Dibawah permainan tangannya yang mahir, pisau kecil itu menyayat dengan lincah dan hidupnya.

Lambat laun balok kayu itu berubah bentuk menjadi bentuk tubuh Lui Hong yang bugil.

Puting susu yang mengeras, pinggul yang bulat montok, semuanya tampak begitu mirip dengan aslinya.

Sesosok patung kayu wanita cantik pun terwujud ditangan si Kelelawar. Lui Hong menyaksikan kesemuanya itu dengan sangat jelas, sejujurnya dia tak ingin melihatnya, namun mau tak mau dia harus memandangnya.

Terlebih dalam keadaan seperti ini, hati kecil gadis ini betul betul sudah terkendali oleh perasaan ingin tahunya yang meluap. Sekalipun sepasang tangan si Kelelawar masih saja menggerayangi sekujur tubuhnya, namun gadis itu seakan sama sekali tidak merasakannya, mungkin saja dia merasa, mungkin juga dia sudah kaku, sudah mati rasa sehingga tidak merasakan semua gerayangan itu.

Atau mungkin juga dia sudah tertegun, kehilangan kesadaran lantaran terkejut bercampur heran Permainan pisau ditangan si Kelelawar memang sangat mahir dan luar biasa, kepandaiannya memahat sungguh diluar dugaan siapa pun, Lui Hong tidak menyangka kemahirannya sudah mencapai tingkatan sehebat itu. Ia betul-betul tak percaya kalau seorang manusia buta ternyata memiliki kemampuan sedemikian hebatnya, namun diapun mau tak mau harus mempercayainya.

Bukankah si Kelelawar pernah mengorek keluar biji matanya dan diperlihatkan kehadapannya" Jangan jangan si Kelelawar memang bukan manusia" Lui Hong mulai ragu, mulai curiga, tapi,,,,,,

Kalau bukan manusia lantas apa" Lui Hong tidak habis mengerti, betul betul kebingungan!

Akhirnya si Kelelawar menghentikan semua gerak tangannya.

Dia telah menyimpan kembali pisau kecilnya, tapi Lui Hong tidak tahu benda tersebut telah disimpannya dimana.

Menyusul kemudian dia tertawa aneh sembari menggosokkan telapak tangannya, menyaksikan semua tingkah laku kakek itu, Lui Hong merasa panik bercampur tegang, jantungnya berdetak semakin kencang.

Si Kelelawar telah menggosokkan sepasang tangannya, apa yang hendak dia lakukan" Kini air mata Lui Hong telah mengering, dia hanya bisa membelalakkan matanya sambil mengawasi sepasang tangan orang itu dengan penuh tanda tanya.

Akhirnya si Kelelawar menggerakkan tangannya, tapi bukan memegang tubuh Lui Hong, melainkan memegang patung kayu wanita cantik itu.

Post a Comment