Bicara sampai disitu, si kelelawar mulai berjalan maju, berjalan menghampiri Lui Hong. Apa yang hendak kau lakukan?
" Lui hong segera membentak "Aah, masa kau masih tidak tahu?
" Lui Hong tercekat, pipinya makin merah, kembali hardiknya: "3erhenti!
" Kelelawar segera menghentikan langkahnya, lalu berkata sambil menggeleng: "Sebetulnya kau memiliki suara yang merdu dan sedap didengar, tapi begitu berteriak, suaramu jadi tak sedap didengar".
"Apa urusanmu?".
" Kelelawar itu tidak menanggapi, hanya gumamnya: "Nada suara seharusnya diucapkan dengan lemah lembut, dengan begitu suara yang indah baru kedengaran membetot sukma, bikin orang terbuai, kalau suara disampaikan seperti melepaskan kentut, tidak terkontrol, jadinya jelek, menjijikkan, tak ubahnya seperti suara kentut" Setelah berhenti sejenak, terusnya: "Biarpun sekarang orang tak bisa merekam suara manusia, mungkin saja dikemudian hari bakal muncul manusia yang bisa menemukan cara tepat untu k menyimpan nada suara setiap orang, aaai, sayang itu kejadian dimasa mendatang, mungkin aku sudah tak sempat untuk menikmatinya" Lui Hong tertawa dingin "Manusia macam kau, memang paling pantas kalau cepat mampus" "Setiap manusia pasti bakal mati, tapi kalau belum tiba saatnya, biar kau sumpahi aku pun tak ada gunanya" Kembali dia melanjutkan langkahnya, maju mendekat "3erhenti!
" sekali lagi Lui Hong menghardik Si Kelelawar seolah tidak mendengar bentakan itu, dia masih melanjutkan langkahnya, maju mendekat "Kalau tidak segera berhenti, jangan salahkan kalau aku tidak sungkan sungkan" ancam gadis itu "Kalau tidak sungkan, lantas apa yang bisa kau lakukan?
" Kelelawar itu balik bertanya.
"Aku akan membunuhmu!
" "Cctt, ctt, cctt!
Nona ini galak amat" gumam si Kelelawar sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "dengan andalkan ilmu silatmu, mungkin saja kau benar benar mampu membunuhku, tapi sayang,,,,,”
Bicara sampai disitu mendadak ia berhenti "Sayang kenapa?
" bentak Lui Hong "Bukankah kau telah meneguk secawan arak yang berasal dari poci arak ditengah ruang kuil" Sekarang aku harus bicara sejujurnya, kau tidak seharusnya meneguk arak itu" "Jadi arak itu,,,,,”
Lui Hong merasakan jantungnya berdebar keras "l -ahukah kau arak apa yang berada dalam poci itu?
" "Arak apa?
" "Arak Kelelawar!
" Arak Kelelawar" Arak macam apa itu" Lui Hong ingin sekali mencari tahu Tapi sebelum dia ajukan pertanyaan itu, si Kelelawar telah menjelaskan: "Aku yakin selama hidup belum pernah kau dengar arak semacam itu" "Jadi arak beracun?
" "Bukan, kalau arak beracun, sekarang kau sudah mati keracunan" Tanpa terasa Lui Hong merasa sedikit lega Kalau memang arak itu tak beracun, apalagi si Kelelawar sering meneguknya, lalu apa salahnya bila dia pun menghabiskan secawan arak itu".
Tapi, benarkah perkataan si Kelelawar adalah ucapan sejujurnya" Tidak bohong" Hanya masalah ini yang paling dikuatirkan Lui Hong Tampaknya si Kelelawar dapat membaca suara hatinya, ujarnya lebih lanjut: "Kau tak usah kuatir, aku memiliki satu kelebihan yaitu paling tak suka bicara bohong" "Kalau tak suka bohong, mana mungkin bisa memancingku hingga masuk perangkap?
" dengus Lui Hong sambil tertawa dingin Si Kelelawar tertegun, cepat sahutnya: "Walaupun aku tak suka, namun terkadang dipaksa oleh keadaan, jadi akan kulakukan juga" Lui Hong hanya tertawa dingin, tidak menanggapi Kembali si Kelelawar bertanya: ~I -ahukah kau, bagaimana arak Kelelawar dibuat?
" "Tidak tahu" "Arak itu terbuat dari rendaman Kelelawar berwarna merah" setelah berhenti sebentar, tanyanya, "tahukah kau Kelelawar merah itu berasal dari jenis Kelelawar yang mana?
" "Darimana aku tahu segala tetek bengek macam begitu" Lui Hong tertawa dingin Si Kelelawar sama sekali tak gusar, terangnya: "Kelelawar merah merupakan salah satu jenis Kelelawar, sesuai dengan namanya, binatang berdarah dingin ini memiliki warna tubuh merah menyala, sedemikian merah sehingga menyerupai darah segar, mereka hidup di seputar wilayah Hun-lam (In-lam), berkat perawatan dan pemeliharaanku yang sabar, kini mereka sudah dapat hidup menyesuaikan diri dengan iklim ditempat ini" "Buat apa kau memelihara mereka?
" "Aku paling suka kelelawar, sama seperti aku paling suka meraba tubuh wanita" Kontan Lui Hong meludah sambil menyumpah.
Si Kelelawar tak ambil peduli, kembali ujarnya: "Mungkin lantaran kelewat suka, maka akupun berubah seperti Kelelawar, hanya sayang tak punya sayap, kalau tidak, mungkin aku tak jauh berbeda dengan Kelelawar" "Sekarang pun kau sudah mirip" "Betul" si Kelelawar mengaku dengan bangga, "ambil contoh soal mata, mereka punya mata tapi sama seperti tak bermata, tak jauh berbeda dengan buta, sedang aku" Pada dasarnya aku memang buta Lalu ambil contoh pendengaran, telinga ku tajam dan sensitip, sama sekali tak kalah dari mereka, hahaha,,,
bahkan mereka ketinggalan jauh,,,,,,”
Setelah berhenti, kembali terusnya: "Kembali berbicara soal kawanan Kelelawar merah itu, ada orang berkata, tubuh mereka berubah jadi merah menyala karena jenis ini amat suka menghisap darah" Tanpa terasa Lui Hong mengkirik, tanyanya cepat: "Apa benar begitu?
" "3etul!
Sesungguhnya setiap jenis Kelelawar sangat gemar menghisap darah, jadi bukan monopoli Kelelawar merah saja" Lui Hong mendengus "Heran, kau yang memelihara kawanan Kelelawar itu, kenapa dia tidak menghisap habis darah ditubuhmu?
" "Mungkin mereka tahu kalau aku pun sejenis dengan mereka" "Hmm, kau memang tak mirip manusia" sindir si nona sambil tertawa dingin "Manusia termasuk sejenis makhluk, begitu pula Kelelawar, jadi sesungguhnya apa pula bedanya?
" Kalah berdebat dengan orang tua itu, Lui Hong hanya bisa tertawa dingin tiada hentinya Si Kelelawar tidak menggubris, ujarnya: "Konon, kelelawar merah paling gemar menghisap darah, khususnya darah kaum wanita" "Omong kosong!
" teriak Lui Hong bergidik "Mungkin saja omong kosong, tapi ada sebuah cerita dongeng justru merupakan kejadian sebenarnya" "Apa pula cerita dongeng itu?
" "Darah mereka bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat sejenis obat perangsang!
" "Obat perangsang?
" berubah paras muka gadis itu Si Kelelawar tertawa aneh "Obat perangsang pun banyak jenisnya, tapi bicara soal obat yang paling ampuh, meski Kelelawar merah tidak termasuk nomor wahid, aku percaya tak bakal lebih bawah dari urutan ke lima" Kini paras muka Lui Hong telah berubah jadi amat tak sedap, ditatapnya si Kelelawar tanpa berkedip, untuk sesaat dia tak tahu harus berkata apa.
Sambil tertawa kembali si Kelelawar melanjutkan: "Ada orang berkata, bila obat perangsang yang terbuat dari Kelelawar merah diminum oleh seorang gadis suci yang masih perawan, maka ia segera akan berubah jadi wanita jalang, setelah kucoba dan kuselidiki berulang kali, kutemukan bahwa ucapan itu bukan perkataan yang tekebur, memang terbukti obat perangsang itu lihay sekali" Paras muka Lui Hong telah berubah jadi amat jelek, teramat sangat tak sedap dilihat, bagaimana pun juga, hingga detik ini dia masih perawan, dara yang suci "| -api kau tak usah kuatir" hibur si Kelelawar kemudian, "aku tak ingin mengubah kau menjadi seorang wanita jalang, karena, aaai,,,,,”
Si Kelelawar menghela napas panjang, tambahnya: "Aku sudah tua sekali, sedemikian tua hingga aku benar benar tak sanggup lagi untuk melakukan adegan ranjang" Lui Hong tidak menjadi tenang lantaran perkataan itu, sebaliknya dia justru merasa kalut, jantungnya dag dig dug tak karuan.
Lantas apa maksud dan tujuan si Kelelawar menawan aku" Dipandangnya wajah orang itu dengan penuh kebencian, kalau bisa, dia ingin membunuh Kelelawar itu dengan sekali bacokan. Tentu saja terhadap perubahan mimik wajah Lui Hong, si Kelelawar sama sekali tidak merasakan, namun dengan jelas dia tahu akan perasaan hati Lui Hong saat itu, maka setelah berhenti sejenak, kembali katanya: "Usia memang tak kenal manusia, betapa pun gagah dan perkasanya dirimu, begitu menjadi tua, ada banyak pekerjaan yang tak mungkin bisa kau lakukan meski besar keinginanmu untuk melakukannya, orang bilang besar pasak dari tiang, biar keinginan menggebu gebu, tenaganya sudah loyo, tidak mendukung" Paras muka Lui Hong semakin bertambah merah.
Tiba tiba si Kelelawar tertawa, ujarnya: "Padahal, sekalipun masih muda dan perkasa, dulu, aku pun kurang begitu tertarik untuk melakukan perbuatan itu" Sambil menarik wajah, katanya sedih: "Sudah semenjak banyak tahun dulu, aku tidak tertarik dengan permainan semacam itu, aku tidak pernah melakukan perbuatan yang sama sekali tak berguna dan sama sekali tak ada manfaatnya" Lui Hong tidak menjawab, namun dia seperti memahami sesuatu.