Tangan kanan Lui Hong yang meraba gagang golok semakin menggenggam kencang, baru sekarang ia merasa kalau gelagat tidak beres, ada sesuatu yang sangat aneh Darimana datangnya begitu banyak kelelawar" Mungkinkah ada masalah dalam kuil Thian-liong- ku-sat" Tapi, kenapa pula Siau Sit minta dia menunggunya disana" Atau jangan jangan semua ini hanya sebuah rekayasa, sebuah perangkap" Jangan jangan bukan Siau Jit yang mengundang kehadirannya" Namun,,,,
rasanya hal ini mustahil, aah!
Paling tidak aku harus hati hati!
Akhirnya ingatan tersebut melintas dalam benak Lui Hong Pada saat itulah mendadak berkumandang suara suitan tajam yang sangat aneh. Entah lantaran suara suitan aneh itu atau entah karena apa, kawanan kelelawar yang semula terbang menari dalam ruangan, tiba tiba meluncur keatas belandar, bergelantungan disana, atau terbang keluar, tinggalkan ruangan itu.
Dalam waktu singkat suara kebasan sayap yang ramai terhenti sama sekali, suasana berubah jadi hening Sesosok bayangan manusia muncul dari luar pintu ruangan!
Rambutnya yang putih berkibar terhembus angin, biji matanya tajam berkilat, setajam mata malaikat, namun dia bukan dewa atau siluman, orang itu tak lain adalah Kelelawar tanpa sayap.
Dalam pandangan Lui Hong, orang itu tak lebih hanya seorang tauke warung teh Begitu sadar siapa yang muncul, nona itu terperangah "Kamu" Empek tua?
" serunya tertahan "Betul, memang aku" jawab kelelawar tanpa sayap tertawa "Kenapa kau datang kemari?
" "Aku memang tinggal disini, kalau tidak kemari lantas harus pergi ke mana?
" Lui Hong mendongak melihat keluar jendela, kemudian katanya lagi: "Aah, benar!
Hari sudah mulai malam, memang saat seperti ini pasti sudah tak ada tamu lagi yang lewat, tak heran kau telah menutup warung.
Tapi, bukankah suasana diwarungmu jauh lebih nyaman daripada tempat ini" Kenapa kau tidak tinggal diwarungmu saja sebaliknya malah tinggal dalam kuil bobrok yang kotor ini?
" "Karena warung itu bukan milikku, aku hanya meminjamnya sementara, selama satu hari" "Hanya pinjam sehari?
" seru Lui Hong keheranan, "ooh, rupanya pemilik warung sedang ada urusan, jadi minta tolong kau untuk menjagakan sehari?
" "Aku meminjamnya sehari, bukan jaga warung itu sehari" tandas si kelelawar, kemudian setelah berhenti sejenak dia melanjutkan, "hanya saja pemilik warung itu memang tak bakal balik lagi kesana, selamanya tak akan balik lagi" "Kenapa?
" "Dia sudah mampus, aku yakin mayatnya sudah tak utuh, paling tinggal kerangka saja, karena daging dan darahnya pasti telah habis dihisap dan dilahap kawanan kelelawar" "Apa?
" jerit Lui Hong dengan bulu kuduk berdiri, "kawanan kelelawar itu doyan daging manusia?
" "Kalau tidak, dengan apa mereka hidup?
" "Apa penyebab kematian pemilik warung?
" desak Lui Hong Tiba tiba si kelelawar mementangkan tangannya lalu mencakar tiang penyangga yang berada disampingnya "Took, toook, toook!
" setiap jari tangannya yang mencakar menancap di tiang penyangga itu, menohok dalam dalam Melihat ketangguhan kakek itu Lui Hong bertambah ngeri, semakin terkesiap Siapa sebenarnya orang tua ini" Walaupun cakaran itu diarahkan pada tiang kayu yang mulai lapuk, sudah tak sekokoh dulu lagi, namun tanpa tenaga dalam yang sempurna, mustahil orang bisa melakukannya Dilihat dari semua yang terjadi, jelas apa yang sedang berlangsung selama ini merupakan sebuah perangkap, aku telah terjebak!
Baru saja ingatan tersebut melintas, tampak kayu penyangga ruangan itu mendadak terbelah jadi berapa bagian dan hancur, rupanya si kelelawar telah membetot kayu tersebut hingga hancur sepotong. Kemudian tampak orang itu merapatkan sepasang tangannya, potongan kayu yang berada dalam genggaman pun hancur jadi serbuk kayu dan berhamburan ke atas lantai. Kini Lui Hong yakin seratus persen bahwa si kelelawar memang seorang jago bertenaga dalam sempurna, dia pasti bukan seorang kakek biasa yang lemah, namun gadis itu masih menahan diri, tidak beranjak, tidak bertindak apalagi bicara.
Sambil bertepuk tangan membersihkan serbuk kayu, kembali kelelawar berkata: "Begitulah nasib pemilik warung itu, sama seperti kayu tadi, tulang belulangnya hancur berkeping, dia memang mampus ditanganku" "Siapa kau sebenarnya?
" "Kelelawarl".
"Omong kosong!Il hardik Lui Hong Tiba tiba si kelelawar menghela napas, ujarnya: "Kenapa ada begitu banyak orang percaya ketika aku sedang berbohong, sebaliknya tak satupun yang mau percaya sewaktu aku bicara jujur?
" "Masa kelelawar bisa digunakan sebagai nama?
" dengus Lui Hong tertawa dingin "Jangan lagi kelelawar, kucing, anjing pun pernah dipakai orang sebagai namanya, kenapa aku tak boleh menyebut diriku sebagai kelelawar?
" Lui Hong terperangah, tak sanggup menjawab Kembali si kelelawar melanjutkan: Apalagi dalam kenyataan aku memang tak jauh berbeda dengan seekor kelelawar" "Ngaco belo" tukas Lui Hong cepat, jangan bicara yang lain, cukup ambil badanmu sebagai contoh, bukankah tubuhmu berapa puluh kali lipat lebih gede daripada tubuh kelelawar?
" "Besar kecilnya tubuh, bukan merupakan ciri khas dari seekor kelelawar" "Memangnya kelelawar memiliki ciri khas apa?
" "Biarpun mereka bermata, namun dalam kenyataan tak jauh berbeda dengan si buta, mereka tetap bisa terbang kian kemari tanpa menumpuk sesuatu benda, hal ini dikarenakan mereka memiliki sepasang telinga yang tajam dan sensitif" "Coh, jadi kaupun memiliki telinga yang tajam dan sensitip?
" ejek Lui Hong tertawa dingin "Tentu saja aku memilikinya, kalau tidak, mana mungkin bisa sampai disini" "Memangnya kau buta?
" Si kelelawar mengangguk tanda membenarkan Lui Hong tertawa dingin "Aku rasa sepasang mata mu normal, tak ada yang aneh" ujarnya Si kelelawar tidak banyak bicara, dengan tangan kirinya dia korek keluar biji matanya dari kelopak mata sebelah kiri, biji mata itupun segera tercomot lepas.
Dengan cepat dia membalik tangannya, meletakkan biji mata yang baru saja dikorek keluar itu ditengah telapak tangan, katanya: "Coba kau lihat, apakah mataku termasuk normal?
" Bulu kuduk Lui Hong bangun berdiri, saking terperana dan ngerinya, gadis itu sampai tak mampu berkata-kata. Biji mata itu memancarkan sinar kehijauan yang aneh, sekalipun tergeletak ditelapak tangan, meski sudah terlepas dari kelopak matanya, namun seolah memiliki tenaga hidup yang sukar dilukiskan dengan kata, biji mata itu menatap Lui Hong dengan seramnya.
Gadis itu benar-benar ngeri, hatinya bergidik, badannya merinding, tiba tiba perutnya terasa mual, ingin muntah Sambil memegangi biji matanya, kelelawar itu menghela napas sedih, kembali ujarnya: "Walaupun tak dapat melihat, untung aku memiliki sepasang telinga yang tajam dan sensitip, lebih tajam dan sensitip ketimbang pendengaran kelelawar" "Kau,,,,,,,”
Lui Hong hanya bisa menyebut satu kata, karena dia tak mampu melanjutkan perkataan berikut "Suara angin, suara hujan, suara air mengalir, suara serangga bahkan suara saat bunga sedang mekar, pokoknya semua suara yang berasal dari alam semesta dapat kudengar sangat jelas, oleh sebab itu meski aku tak punya mata, namun mataku jauh lebih hidup dan bermakna daripada manusia bermata" Lui Hong melongo, mendengarkan uraian itu dengan tertegun. Kembali si kelelawar melanjutkan: "Manusia biasa punya mata, mereka dapat melihat, karena itu jarang sekali menggunakan telinga untuk mendengar.
Ada sementara orang bahkan menganggap telinga dan pendengaran mereka sebagai sampah, sebagai barang rongsok yang sama sekali tak berfaedah" Lui Hong membungkam, tidak menjawab.
Si kelelawar bicara lebih jauh: "Barang apa pun, semakin jarang kau gunakan, semakin surut kemampuannya, sama seperti pendengaran, makin jarang digunakan, makin tumpul pula kehebatannya" Tiba tiba Lui Hong menyela sambil tertawa dingin: "Sewaktu pejamkan mata, aku pun sama saja dapat mendengar banyak macam suara" "Apa yang sanggup kau dengar?
" "Aku dapat mendengar semua yang mampu kau dengar" Si kelelawar tertawa terbahak-bahak "Hahaha,,,
benarkah begitu?
" jengeknya, "kalau begitu coba kau pejamkan matamu, dengarkan, apa benar ada sepasang kelelawar sedang bersenggama diatas tiang penglari" Merah dadu sepasang pipi Lui Hong, merah karena jengah Kembali si kelelawar berkata: "Selain itu, dibalik dinding sebelah timur, ada seekor tikus sedang menggali lubang, dibalik semak belakang tubuhku, ada seekor ular betina sedang bertelur,,,,,”
Lui Hong terbelalak, melotot keheranan Namun gadis itu tidak pejamkan matanya, ia tak sudi mendengar semua suara itu, hardiknya: "Kau tak usah ngaco belo, bicara tak karuan, mana mungkin suara suara semacam itu dapat kau dengar?
" "Selama ada yang mengeluarkan suara, suara itu pasti dapat ditangkap, dapat didengar" Mau tak mau Lui Hong harus mengakui kebenaran akan perkataan itu, ucapannya memang betul dan masuk akal '-l -entu saja kau tak dapat mendengarnya II kata si kelelawar lagi, "karena kau tidak memiliki sepasang telinga seperti kelelawar" Lui Hong terbungkam, dia tak tahu harus berkata apa.
Si kelelawar menghela napas berulang kali, ucapnya: "Sayang, walaupun aku memiliki ketajaman pendengar an yang luar biasa, namun tak bisa kudengar betapa cantiknya wajahmu dan betapa montok serta langsingnya perawakan tubuhmu" Dalam waktu yang relatif singkat, Lui Hong seperti mendapat satu firasat, muncul satu dugaan aneh dalam hati kecilnya Jangan jangan orang ini sinting" Tidak waras otaknya" Si kelelawar menggosok perlahan sepasang telapak tangannya, membersihkan sisa serbuk kayu yang masih menempel, kemudian terusnya: "Untung aku masih memiliki sepasang tangan yang cekatan dan sangat sensitip, oleh karena itu meski aku tak dapat melihat dan tak dapat mendengar betapa cantik, betapa seksi nya tubuhmu, sepasang tanganku masih dapat menyentuh dan meraba sekujur badanmu" "Kau berani!