Pada saat itulah Thio Poan-oh mengayunkan golok besarnya melancarkan sebuah tebasan, dengan bobot golok yang begitu berat, tebasan itu disertai deruan angin kuat "Bagus!
" puji kelelawar itu sambil bergeser ke samping menghindarkan diri dari datangnya sabetan itu, bersamaan waktu dia kebaskan ujung bajunya, dengan gerakan bagai menggunting dia ancam tenggorokan lawan Cepat Thio Poan-oh memutar goloknya dengan jurus Eun-hoa-hud-liu (memisah bunga mengebas liu), satu jurus dua gerakan, dia babat sepasang ujung baju lawan yang sedang menggunting ke arahnya "Praak, praaak,,,,,!
" dua kali benturan nyaring bergema di udara, ketika golok dan ujung baju saling membentur, bukan saja golok itu tidak tergulung lepas, ujung baju pun sama sekali tak robek, namun sepasang tangan Thio Poan-oh yang menggenggam senjata terasa linu dan kaku oleh bentrokan itu
Tak urung terkesiap juga perasaan hatinya Dengan satu gerak cepat kembali si kelelawar merangsek maju, sepasang lengannya digetarkan sambil menyambar, kali ini dia ancam dada Thio Poan-o h, bukan saja cepat dalam perubahan jurus, serangan pun ganas dan telengas
Mimpi pun Thio Poan-oh tidak menyangka kalau bacokan goloknya gagal untuk membendung serangan musuh, untung ia sigap, begitu merasa gelagat tidak mengutungkan, cepat dia ambil keputusan untuk melompat mundur. Bagai bayangan saja, kelelawar itu menempel terus disisi tubuhnya Melihat situasi amat kritis, diiringi suara bentakan yang menggelegar bagai suara guntur, To Kiu-shia dengan senjata Jit-gwee-kou nya menerjang masuk dari samping, dia kunci sepasang pergelangan tangan lawan Hampir pada saat bersamaan Ciu Kiok dengan pedang mustika nya menusuk tubuh lawan dari sisi lain. Tidak ketinggalan tiga orang piausu lainnya, dengan senjata sam-ciat-kun serta dua bilah golok besar, ke tiga jenis senjata itu serentak menyerang tubuh lawan dari tiga arah yang berbeda
Seolah tidak melihat datangnya semua ancaman itu, si Kelelawar mengebaskan sepasang tangannya berulang kali, ternyata ia lepaskan berapa kali sentilan maut untuk mementalkan datangnya ke lima jenis senjata itu Perawakan tubuhnya yang tinggi jangkung berputar bagai gangsingan, sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera meluncur keluar dari balik tubuhnya Jeritan ngeri pun berkumandang membelah keheningan.
Kilatan cahaya tajam itu tidak berhenti sampai disitu, dengan kecepatan tinggi kembali melesat ke semua arah "Criiit, criiit, criiit!
" jerit kesakitan bergema sahut menyahut, percikan darah bagai bunga api menyembur ke mana mana "Hati hati!
" hardik To Kiu-shia berulang kali, dengan senjata kaitan Jit-gwee-kou, dia lakukan tangkisan di kiri dan kanan secara berulang, bukan saja harus selamatkan diri, diapun harus melindungi keselamatan anak buahnya Sayangnya, selamatkan diri sendiri pun ia tak sanggup apalagi mengurus keselamatan orang lain, suatu ketika karena kurang berhati hati, cahaya tajam itu berhasil menerobos masuk melalui celah diantara sepasang senjata kaitan jit-gwee-kou miliknya Darah segar segera menyembur dari bahu kirinya, senjata jit-gwee-kou yang digenggam dalam tangan kirinya terlepas dari cekalan dan,,,,
"Traang!
" jatuh ke tanah Sementara itu Thio Poan-oh dengan golok besarnya hanya sanggup menyelamatkan diri Disisi lain, ciu Kiok dengan wajah pucat pias memaink an pedangnya sepenuh tenaga, dia putar senjatanya sedemikian rupa hingga angin dan hujan pun sulit tembus, setelah bersusah payah akhirnya ia berhasil juga membendung datangnya gempuran cahaya tajam itu "Triiing, triiing!
" dentingan keras bergema tiada hentinya, mendadak kilatan cahaya tajam itu meluncur naik ke atas.
Begitu melesat naik, seketika lenyap tak berbekas Menyusul kemudian bayangan pedang cahaya golok pun secara beruntun terhenti semua To Kiu-shia masih berdiri dengan senjata kaitan ditangan kanannya melindungi dada, darah segar yang memancar keluar dari mulut luka dibahu kirinya masih mengalir deras, namun dia seolah sama sekali tidak merasa
Thio Poan-oh dengan golok besarnya menempel didepan dada kanan berdiri pula dengan sikap tegang, peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuhnya, bahkan dengus napas pun berubah memburu dan tersengkal.]
Sebaliknya Ciu Kiok berdiri dengan ujung pedang menghadap ke bawah, wajahnya pucat pasi seperti kertas, mulutnya setengah ternganga, matanya terbelalak lebar penuh diliputi perasaan ngeri dan takut.
Bisa dimaklumi kalau dia ngeri bercampur takut, sebab didalam kedai itu, kecuali si kelelawar, kini hanya tersisa mereka bertiga saja yang masih hidup.
Para piausu dan tong-cu-jiu yang tadi bertarung bersama-sama melawan keganasan si kelelawar, kini hampir semuanya sudah tertumpas, berubah jadi orang mampus. Diantara mereka, ada yang kepalanya terpisah dengan badan, ada yang pinggangnya terbabat putus jadi dua, ada pula yang dadanya terbelah hingga merekah Darah segar telah membasahi seluruh permukaan lantai kedai, hampir semua meja kursi tumbang berantakan tak karuan, ceceran darah membuat tempat itu berbau anyir dan amis Ke tiga orang itu merasa amat sedih, dalam keadaan begini mereka tak sempat lagi mengurusi para korban, sebab walaupun pihaknya sudah jatuh begitu banyak korban, namun gagal merobohkan kelelawar ganas itu.
Bagi si kelelawar, tentu saja dia tak akan sudahi persoalan itu sampai disana, kini dia berada diatas belandar rumah.
Ke tiga orang itu tidak tahu mengapa si kelelawar melompat naik ke atas belanda: rumah, tapi satu hal mereka sangat yakin, musuhnya tak bakal melepaskan mereka dengan begitu saja.
Bau anyir darah semakin berat dan pekat menyelimuti ruangan, bersamaan itu pula dengus napas ke tiga orang itu semakin berat dan sesak Selapis daya tekanan tak berwujud seolah menindih seluruh kedai teh itu Apakah hal ini disebabkan si kelelawar sudah naik keatas belandar" Berdiri diatas tiang penglari" Belandar itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menahan pijakan badan si kelelawar.
Ia duduk tenang disitu, sepasang matanya yang hijau bersinar menatap tiga mangsanya tanpa berkedip, seakan mata kucing yang mengawasi tiga ekor tikus.
Diatas pangkuan lututnya tergeletak sebilah senjata, sebilah golok yang panjangnya satu meter. Gagang golok itu terbuat dari sepotong besi yang berbentuk seekor kelelawar dengan sepasang sayap terpentang lebar, sementara badan golok berbentuk melengkung bagai bulan sabit, cahaya yang terpancar keluar amat menyilaukan mata, tak disangkal kawanan piausu dan tong-cu-jiu telah tewas diujung golok itu
Meski sudah begitu banyak orang yang mati terbunuh, ternyata tak setetes darah pun yang menodai badan golok Membunuh tanpa ternoda darah, sudah jelas senjata itu merupakan sebilah golok mustika Dengan ke lima jari tangan kirinya, si kelelawar membesut badan golok lengkungnya, tiba tiba ia menyentil dengan ibu jari dan jari tengahnya [II "Nguuuungg suara dengungan bagai pekik naga menggema dari tubuh golok lengkung itu, bahkan senjata tersebut bergetar tiada hentinya Kilauan cahaya tajam memancar bagai sambaran halilintar, amat menusuk pandangan.
Mendengar suara dengungan, menyaksikan cahaya yang berkilauan, To Kiu-shia bertiga merasakan hatinya bergetar keras "Tahukah kalian, golok apakah ini?
" terdengar si kelelawar menegur sambil tertawa aneh "Tidak tahu" jawab Thio Poan-oh tanpa sadar "Golok Kelelawar!
" "Kalau toh golok kelelawar, lantas kenapa?
" dengus Thio Poan-oh sambil tertawa dingin "Golok ini hanya membunuh orang terkenal, jadi seharusnya merasa bangga dan terhormat bila dapat mampus diujung golok ini" "Kentutl" umpat To Kiu-shia Kembali si kelelawar menghela napas "Aaai, sebenarnya golok kelelawar terdiri dari tiga belas bilah, tapi sekarang tinggal sebilah ini saja" katanya "Lantas kemana perginya sisa golok yang lain?
" tanya Thio Poan-oh keheranan "Telah kuhadiahkan untuk ke dua belas orang gadis yang kusukai!
" sahut si kelelawar Sesudah tertawa lebar, kembali lanjutnya: "Golok yang terakhir inipun segera akan kuberikan kepada orang" "Apa,,,,
apakah hendak kau hadiahkan untuk,,,,
untuk nona kami?
" tanya Ciu Kiok gemetar "Betul" jawab si kelelawar sambil mengangguk, "biarpun mataku tak dapat melihat, tapi hingga kini aku tahu kalau dia adalah seorang gadis yang cantik dan menawan hati" "Kau,,,,
kau maksudkan dirimu,,,,
dirimu seorang buta?
" tanya Ciu Kiok lagi tercengang Si kelelawar tertawa pedih "Ehm!
Biarpun aku tak punya mata, namun memiliki sepasang telinga yang tajam dan sempurna" Setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Telinga kelelawar memang selalu tajam dan sempurna!
" Ciu Kiok yang mendengarkan kesemuanya itu hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo, sedangkan To Kiu-shia serta Thio Poan-oh merasa terkesiap, perasaan heran bercampur sangsi terpancar keluar dari balik sorot matanya.
Ternyata si kelelawar adalah seorang buta, bagaimana mungkin mereka dapat percaya" Meskipun tidak bersuara, tampaknya si kelelawar seperti memahami jalan pikiran mereka, kembali ujarnya: "Banyak orang tidak percaya kalau aku adalah seorang manusia buta, tapi kenyataan tetap merupakan kenyataan!
" Berbicara sampai disitu, perlahan dia angkat tangan kirinya, menekan kelopak mata kiri lalu mencongkel ke dalam, mencomot keluar biji matanya yang berada dalam kelopak mata itu Begitu biji mata tercongkel keluar, maka muncullah sebuah liang gelap dimata kirinya itu Dari balik liang hitam itu terpancar sinar fosfor berwarna hijau muda, pancaran sinar api setan yang meliuk liuk di udara.
Walaupun suasana diatas belanda: rumah merupakan bagian sudut ruang tergelap, namun cahaya fosfor itu tampak begitu jelas dan nyata Si kelelawar meletakkan biji matanya yang dikorek keluar itu diatas telapak tangannya. Biji mata yang diletakkan diatas tangan itu masih memancarkan sinar fosfor berwarna hijau, seakan akan mata itupun masih bernyawa, karena tetap memandang ke arah To Kiu-shia dan Thio Poan-oh sekalian dengan melotot.
Menghadapi kejadian seperti ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh merasakan hatinya berdebar keras, berdebar karena tegang bercampur ngeri, apalagi Ciu Kiok seorang gadis muda, nyaris dia jatuh tak sadarkan diri.