Tidak terkecuali To Kiu-shia.
Walaupun mereka masih belum tahu jelas sampai dimana kelihayan dari kelelawar tanpa sayap ini, namun satu perasaan ngeri, perasaan seram yang tak terlukis telah muncul dalam hati mereka, muncul dari dasar telapak kaki dan langsung merambat naik ke ujung kepala.
Kembali si kelelawar bersuit nyaring,,,,
Begitu suitan berbunyi, kawanan kelelawar itu mulai beterbangan, mulai menyambar kian kemari.
"Bruuk,,,,
brukkk,,,,,,”
suara kebasan sayap bersahutan, seluruh kedai jadi kacau,,,,
Suasana hutan murbei merah bagai darah, cahaya matahari senja merah bagai darah Kawanan kelelawar itu muncul dari balik daun murbei yang merah, menerobos keluar dari balik cahaya senja yang membara, tubuh mereka seolah ikut berubah jadi merah, semerah darah segar Jeritan kaget bergema silih berganti, untuk sesaat semua orang berdiri bengong, berdiri tertegun, tak tahu apa yang harus dilakukan Sepasang tangan Thio Poan-oh serta To Kiu-shia telah basah oleh keringat dingin, ingin sekali mereka perintahkan semua orang untuk tenang, untuk lebih mengendalikan diri, namun ucapan yang telah meluncur ke sisi tenggorokan, entah mengapa, ternyata jadi beku, tak mampu disampaikan keluar Terdengar si kelelawar berkata lagi: "Biarpun aku tak bersayap, namun aku tetap dapat terbang!
" Baru selesai berbicara, tubuhnya sudah melambung, sudah mulai terbang di udara Tentu saja dia bukan terbang sungguhan, dia hanya melambung ke udara secara tiba-tiba Ia mengenakan pakaian serba hitam, sewaktu sepasang ujung bajunya terkulai ke bawah, entah bagaimana, begitu dipentangkan ternyata lebarnya bukan kepalang, pada hakekatnya tak jauh berbeda seperti sepasang sayap dari seekor kelelawar!
Begitu sepasang bajunya dibentangkan, ia turut melambung ke tengah udara Mula mula Thio Poan-oh agak tertegun, menyusul kemudian jeritnya lengking: "Hati-hati!
" Cepat tubuhnya melejit ke samping, golok Toa-huan-to digetarkan kemudian langsung mengejar ke arah mana si kelelawar itu bergerak To Kiu-shia tak berani berayal, dengan gerakan tubuh It-hok-ciong-thian (bangau sakti menerobos langit), sepasang kait Jit-gwee-kou nya memainkan jurus Siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar dari samudra) mengejar ke arah si kelelawar.
Gerakan tubuh mereka tidak terhitung lambat, namun bila dibandingkan si kelelawar, ternyata terdapat selisih jarak yang cukup jauh, apalagi si kelelawar bergerak lebih duluan Melambung dua kaki ditengah udara, tiba tiba si kelelawar melakukan patahan, dengan satu gerakan cepat dia sambar seorang piausu bersenjatakan sebilah tombak Cukup cekatan piausu itu menghadapi datangnya ancaman, sambil membentak nyaring, tombaknya bagaikan seekor ular berbisa balas menusuk dada lawan Sang kelelawar tertawa dingin, tubuh yang tampaknya sudah tak mungkin melakukan perubahan itu tiba tiba berbelok ke samping, biarpun gerak menubruknya masih tak berubah, namun dadanya yang terancam tusukan lawan justru sudah menyingkir ke sisi lain.
Bagaimana pun dasar ilmu silat yang dimiliki piausu itu sangat terbatas, untuk sesaat sulit baginya untuk menangkap perubahan itu, menyangka tusukan tombaknya pasti mengenai sasaran, genggamannya makin diperkencang, tusukan yang dilancarkan pun meluncur semakin cepat ke depan "Criiiit!
" ujung tombak menyambar lewat, tahu tahu tusukan itu sudah melesat lewat dari bawah ketiak lawan, padahal terkaman si kelelawar saat itu sama sekali tak terhenti, dengan kecepatan kilat langsung mengancam tubuh piausu itu
Dalam keadaan begini piausu itu baru sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, sambil menjerit kaget buru-buru dia melompat mundur Belum lagi teriakannya selesai berkumandang, tangan kanan sang kelelawar yang tajam bagaikan cakar burung elang sudah mencekik leher piausu tersebut
Begitu digenggam lalu diayun, tubuh piausu itu bagaikan layang-layang yang putus benang langsung mencelat ke belakang, menumbuk diatas sebuah tiang kayu Lima buah lubang kecil kini muncul dari bekas cekikan pada tenggorokannya, darah segar bagai pancuran air menyembur keluar tiada hentinya
Dengan ke lima jari tangannya yang berpelepotan darah, kembali si kelelawar mengayun sambil menggapit, lagi lagi dia cengkeram wajah piausu ke dua Tergopoh gopoh piausu itu berkelit kesamping, sayang sasaran yang diarah kelelawar itu bukan wajahnya, melainkan tenggorokannya Kembali cengkeraman disertai ayunan tangan dia lakukan, disaat darah segar mulai menyembur keluar dari tenggorokan piausu itu, tubuh si kelelawar kembali telah melambung ke tengah udara Sepasang ujung bajunya dikebaskan berulang kali, ditengah deruan angin kencang, tubuhnya menukik ke bawah, kembali tangannya digerakkan ke sana kemari, bagaikan sabetan golok dia hajar tenggorokan dari dua orang siang-cu-jiu
Tak sempat menghindarkan diri, lagi lagi tenggorokan ke dua orang itu terbabat telak, "kreeekl" tubuh mereka mencelat ke tengah udara Rekannya yang menyaksikan kejadian itu seketika mengayunkan goloknya membacok ujung baju yang mengancam tiba, "Prakkkk!
" diiringi suara keras, golok itu mencelat dari genggamannya, meluncur ke tengah udara bagaikan pusingan roda kereta
Akibat dari getaran yang amat keras itu, telapak tangan kanannya jadi retak dan pecah, darah meleleh membasahi bajunya, sementara orang itu hanya bisa berdiri mematung tanpa bergerak, mematung karena tertegun, terkesima dan ngeri Dengan satu gerakan cepat kelelawar itu meluncur turun persis dihadapannya, telapak tangannya yang tajam bagai cakar burung lagi lagi dihantamkan ke muka Ternyata dia tidak tahu menghindar ataupun berkelit, dalam waktu yang relatip singkat dia hanya merasa munculnya rasa sakit yang luar biasa dari bagian wajahnya, lalu terdengar suara tulang yang gemerutuk hancur Itulah perasaan yang bisa ia rasakan untuk terakhir kalinya
Begitu telapak tangan si kelelawar meninggalkan kepalanya, seluruh wajah orang itu hancur lebur tak karuan dan roboh terkapar ke tanah bagai lumpur cair Tidak berhenti sampai disitu, si kelelawar menggerakkan tubuhnya berulang kali dengan gerakan cepat dan aneh, cepat tapi ganas, ditengah suara deruan angin pukulan yang memekak telinga, kembali dua orang anggota pengawal barang tersambar ujung bajunya, ujung baju setajam mata pisau yang menggorok tenggorokan mereka Menyusul kemudian seorang lagi mati dengan wajah hancur
Dalam waktu yang relatif singkat, sudah ada tujuh orang roboh terkapar ditangan si kelelawar, bila ditambah lima orang yang tewas duluan karena keracunan, berarti sudah ada dua belas orang yang menemui ajalnya secara percuma
To Kiu-shia serta Thio Poan-oh menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, sekuat tenaga mereka menyusul di belakang si kelelawar, sepasang kaitan jit-gwee-kou serta golok toa-huan-to milik mereka diayun berulang kali dengan sepenuh tenaga, dengan harapan bisa membacok mati musuhnya dalam waktu singkat
Tapi kedua orang itu merasa kecewa sekali Hingga akhirnya berhasil mengendalikan diri, mereka b aru menemukan kalau dari ke dua puluh enam orang kelompoknya, kini hanya tersisa empat belas orang yang masih hidup Dalam sedih dan gusarnya To Kiu-shia membentak nyaring: "Semua orang berkumpul ditengah warung, lawan musuh dengan sepenuh tenaga!
" Begitu selesai berteriak, ia segera memberi kode kepada Thio Poan-oh, sepasang senjata kaitan Sit-gwee-kou miliknya dengan jurus Cu-tiap-cuan-hoa (kupu kupu terbang diantara bunga) diayun ke kiri kanan melindungi Ciu Kiok serta empat orang Tong- cu-jiu lainnya yang berada disisinya
Thio Poan-oh tak berani berayal, golok Toa-huan-to nya dengan jurus Pat-hong-hong-uh (hujan angin dari delapan penjuru) melancarkan tiga belas bacokan secara beruntun, dia pun berusaha melindungi seorang piausu serta lima orang Tong-cu-jiu lainnya Dengan merapatkan diri dalam satu lingkaran, mereka mulai bergeser dari tempat itu Masih ada seorang tong-cu-jiu lagi yang berdiri sedikit agak jauh, sementara si kelelawar persis berada diantara mereka, begitu melihat rekan rekannya tewas secara mengerikan, orang itu jadi pecah nyali dan ketakutan setengah mati
Begitu melihat sang kelelawar menghadang persis dihadapannya, ia semakin tak berani bergabung dengan kelompoknya, diiringi jerit ketakutan, orang itu malah berbalik diri dan kabur ke arah luar "Jangan,,,,,”
teriak Thio Poan-oh, buru buru golok toa-huan-to nya dibabat ke depan, mengancam tubuh si kelelawar
Belum lagi sabetan golok itu tiba, si kelelawar sudah melesat keluar, sambil bersalto ditengah udara, dia menyusul ke arah mana tong-cu-jiu itu melarikan diri
Baru saja kabur empat lima langkah, tong-cu-jiu itu sudah merasakan datangnya desingan angin tajam yang menindih badannya, tanpa berpaling lagi, sambil berteriak ketakutan secara beruntun dia lepaskan tiga bacokan berantai
Dalam keadaan begini dia sudah tidak berharap untuk melukai musuhnya lagi, yang penting menyelamatkan diri sendiri
Sayang sekali ilmu silat yang dimilikinya kelewat cetek, apalagi dibawah ancaman maut si kelelawar, mana mungkin ia bisa selamatkan diri" Baru saja bacokan ke tiga sampai diseparuh jalan, suara retakan bergema di udara, tahu tahu tangan kanan si kelelawar telah merobek baju bagian punggungnya dan menggencet tulang belakangnya "Kekekekek,,,,,”
diiringi tertawa aneh, kelelawar itu menggetarkan tangan kanannya, tulang punggung berikut tulang iga tong-cu-jiu itu rontok satu demi satu "Kreeek, kreeek, kreeee!
" serentetan bunyi keras seperti ledakan rentengan mercon berkumandang sambung menyambung, bagaikan kehilangan tulang penyangga, tak ampun tubuh orang itupun terkapar lemas ke tanah Sambil mengendorkan tangannya, kelelawar itu membalikkan tubuh sambil merangsek maju