Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 03

Memuat...

" "Rasanya memang tidak banyak" sahut si kakek tertegun.

"Kalau memang tidak banyak, aku yakin mereka lebih pentingkan meneruskan perjalanan daripada membuang waktu hanya untuk minum teh disini" "Loya, kenapa kau berkata begitu?

" kakek itu balik bertanya.

"Aku hanya merasa sedikit keheranan" jawab To Kiu-shia sambil menatap tajam wajah kakek itu.

Si kakek tetap tidak menjawab, dia hanya tertawa.

Tiba tiba To Kiu-shia merasa senyuman yang menghiasi wajah kakek itu sama sekali berbeda dengan senyumannya tadi.

Kalau tadi senyuman kakek itu tampak begitu ramah dan lembut, kini senyumannya justru tampak begitu licik dan menakutkan.

Kesan ramah dan lembut yang dimilikinya tadi tiba tiba hilang lenyap tak berbekas, bahkan semakin dipandang semakin tidak mengenakkan dihati.

Selama ini Thio Poan-oh hanya mengawasi dan mendengarkan dari samping, tiba tiba dalam hati kecilnya muncul perasaan yang sama seperti yang dirasakan To Kiu-shia, bahkan perasaan tersebut jauh lebih tajam dan jelas.

Tanpa sadar tangannya mulai bergeser ke pinggang, mulai meraba gagang golok Toa-huan-to miliknya.

Pada saat yang bersamaan itulah mendadak terdengar jeritan ngeri bergema dari tengah warung.

Dengan perasaan terkejut serentak To Kiu-shia dan Thio Poan-oh berpaling, mereka saksikan seorang Tong-cu-jiu (pembuka jalan rombongan kereta piaukiok) sedang memegangi tenggorokan sendiri dengan tangan kanan sambil melotot besar, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu, sampai lama dia berusaha, akhirnya meluncur juga sepatah kata.

"Dalam air teh ada racun!

" Begitu selesai berteriak, tubuhnya roboh terjungkal, terkapar ke atas tanah.

Belum lagi tubuhnya menempel tanah, selembar wajahnya telah berubah jadi hitam kebiru-biruan.

Jenis racun yang betul betul hebat!

Daya kerja yang sangat cepat dan mematikan!

Tak terlukiskan rasa kaget To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh, tanpa sadar serentak mereka berpaling, menatap kakek penjual teh itu dengan mata melotot.

Si kakek pun sedang menatap mereka berdua, senyuman yang semula ramah, kini berubah sangat menakutkan, bahkan sorot mata pun ikut berubah jadi begitu seram, begitu menakutkan!

Tiba tiba mereka merasa sepasang mata kakek itu seolah telah berubah jadi hijau membara, bagaikan dua gumpal api setan yang sedang menggeliat.

Mana mungkin sorot mata seorang manusia dapat berubah jadi begini" Tak kuasa rasa ngeri, bergidik, berkecamuk dalam hati To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh, bulu kuduk serasa bangun berdiri.

"Ciiiit,,,,,!

" lagi lagi kakek itu memperdengarkan suara tertawa yang mencicit, suara mencicit aneh yang muncul dari balik tenggorokannya.

Suara tertawa semacam ini belum pernah terdengar muncul dari mulut seorang manusia, paling tidak hingga saat ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh belum pernah mendengarnya.

To Kiu-shia mulai bergidik, segera hardiknya: "Teman-teman, kalian harus berhati hati!

" Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, sepasang senjata kaitan Jit-gwee-kou telah diloloskan dari pinggangnya.

"Criinngg,,,,!

" menyusul kemudian golok Toa Huan-to diloloskan pula dari pinggang Thio Poan-oh.

Mereka berdua bergerak cepat, masing masing memisahkan diri ke kiri dan kanan, mengepung kakek itu ditengah arena.

Dalam waktu yang relatip singkat, lagi lagi ada tiga orang roboh terkapar.

Wajah mereka telah berubah hebat, berubah menjadi hitam pekat, hitam kebiru biruan.

Ada lima orang yang meneguk air teh, dari ke lima orang tersebut, tak seorang pun berhasil lolos dalam keadaan hidup.

Menyaksikan kesemuanya itu, To Kiu-shia merasa terkejut bercampur gusar, ditatapnya kakek itu dengan pandangan tajam, lalu tegurnya gusar: "Sebetulnya siapa kau?

" "Hehehehe.

Pencabut nyawa" kakek itu menjawab sambil tertawa seram.

"Jadi kau mengincar barang kawalan kami?

" Kakek itu tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa menyeramkan.

"Tahukah kau barang apa yang sedang kami kawal?

" kembali To Kiu-shia menegur.

"Barang apa pun bukan masalah" "Cya?

" To Kiu-shia tertegun.

"Karena bukan barang kawalanmu yang kuinginkan, aku hanya menginginkan nyawa kalian semua!

" "Permusuhan apa yang terjalin antara kau dengan kami?

" teriak Thio Poan-oh setengah menjerit.

"Permusuhan apa pun tak ada" "Jangan jangan kau berbuat begini karena nona kami?

" tiba tiba satu ingatan melintas dalam benak To Kiu-shia.

"Hmm, rupanya kau pun termasuk seseorang yang cerdas" puji si kakek, setelah menghela napas, terusnya, "sayang orang cerdas biasanya berumur pendek" Habis berkata, lagi lagi dia perdengarkan suara mencicit, suara tertawa yang sangat aneh.

"Sebenarnya siapa kau?

" tak tahan lagi To Kiu-shia bertanya.

"Kalau bernyali, sebutkan namamu!

" Thio Poan-oh menambahkan.

Perlahan kakek itu menyapu sekejap wajah kedua orang jagoan itu, akhirnya dia menjawab: "Tentu saja akupun punya nama, sayang sekali biar kusebut pun tak ada gunanya, kalian tak bakal punya kesan apa pun, karena sudah kelewat lama namaku itu tak pernah kugunakan" Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan: "Semua yang tahu tentang diriku, selalu memanggilku sebagai Kelelawar!

" "Kelelawar?

" ulang Thio Poan-oh melengak.

"Betul, kelelawar" ulang si kakek.

Mendadak,,,,,

dalam waktu yang teramat singkat, To Kiu-shia seakan teringat akan suatu kejadian yang sangat menakutkan, tanpa sadar dia menjerit: "Jadi kau adalah si kelelawar itu?

" "Betul sekali, akulah orangnya" Paras muka To Kiu-shia berubah hebat, ~I -api,,,,,,,,,”

"Kelelawar adalah sejenis binatang yang sangat aneh, kadangkala dia tampak seolah sudah mampus, padahal sesungguhnya dia masih hidup" To Kiu-shia terbelalak, terkesima, berdiri melongo tanpa mampu berkata kata.

Saat itu, Thio Poan-oh seolah teringat pula akan sesuatu, dengan wajah berubah teriaknya pula, "Lo-To, kau maksudkan si kelelawar itu?

" "Dalam dunia persilatan memang hanya ada satu kelelawar!

" tegas rekannya.

Kembali paras muka Thio Poan-oh berubah, berubah sangat hebat.

"Lantas,,,,

nona Hong,,,,,,,,,”

"Manusia kelelawar berada disini!

" tukas To Kiu-shia dengan nada berat.

"Betull" Tanpa banyak bicara lagi, To Kiu-shia mengayunkan sepasang senjata kaitan jit-gwee-kou miliknya.

Serentak para piausu lain yang berada dalam warung teh meloloskan senjatanya, II Criiiing,,,,

Criiiing,,,,,,

suasana jadi teramat gaduh.

`"Jangan biarkan bangsat ini lolos dari dalam warung dalam keadaan hidup!

" perintah To Kiu-shia lagi.

Serentak semua orang mengiakan.

Kematian rekan seperjuangan membuat kawanan jago lainnya jadi sedih, melihat ke lima orang saudaranya tewas keracunan air teh, tak seorangpun diantara jago lainnya yang tak ingin menuntut balas terhadap si kakek yang mengaku bernama Pian-hok atau kelelawar itu.

Biar tahu musuhnya tangguh dan menakutkan, namun mereka tidak merasa jeri, bahkan rasa takutpun tak ada.

Karena sebagian besar diantara kawanan jago itu adalah anak muda, mereka belum tahu siapakah si "kelelawar", tidak tahu keberadaan si kelelawar sebelumnya.

Mereka sama sekali tak tahu sampai dimana menakutkannya si kelelawar, sampai dimana ngeri dan ganasnya manusia itu.

Bahkan To Kiu-shia dan Thio Poan-oh sendiripun hanya mendengar cerita orang.

Tak disangkal memang amat banyak cerita dongeng tentang si kelelawar, namun semuanya tak lebih hanya berita sensari, cerita dongeng, tak seorang manusiapun yang tahu asal usul serta sepak terjang yang sebenarnya dari manusia ganas itu.

Hal ini bisa dimaklumi, sebab belum pernah ada korban dari si kelelawar yang tetap hidup dan bercerita.

Dalam hal inipun tak lebih hanya cerita dongeng.

Terkadang cerita dongeng jauh dari kenyataan aslinya, seringkali jauh lebih besar dan hebat dari kejadian sesungguhnya, karena disana sini telah ditambahi bumbu.

Apalagi manusia ganas yang disebut Pian-hok atau kelelawar ini sudah lama lenyap dari dunia persilatan, malah konon sudah lama tewas.

Dalam hal ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh sangat yakin dan percaya.

Karena orang yang memberitahu kepada mereka tentang kematian si kelelawar bukan orang lain, mereka adalah kedua orang congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok, Lui Sin serta Han Seng!

Lui Sin bertemperamen tinggi bagai bahan peledak, Han Seng tenang banyak bicara.

Semua yang diucapkan kedua orang ini jujur dan sesuai kenyataan, dalam hal ini tak dapat diragukan lagi.

Tapi kenyataannya sekarang, si kelelawar yang konon sudah tewas, kini telah muncul dihadapan mereka, muncul dalam kondisi segar bugar.

Dalam waktu sekejap, muncul satu keraguan dalam hati mereka berdua, satu kecurigaan yang amat besar.

Kelelawar yang berada dihadapan mereka sekarang, apakah kelelawar yang sesungguhnya" Baru saja ingatan itu melintas, si kelelawar telah berkata: "Sebelum kalian semua mampus, aku tak bakal tinggalkan kedai teh ini!

" Nada suaranya parau, rendah dan berat, aneh sekali kedengarannya, sama sekali tak mirip suara manusia.

To Kiu-shia menatapnya tajam, tak tahan lagi-lagi dia bertanya: "Kau benar benar si kelelawar?

" "Hmm, dalam waktu secepatnya kalian akan tahu sendiri" sahut si kelelawar sambil tertawa dingin.

Begitu selesai bicara, tiba tiba dia bersuit nyaring, suitan yang tajam, melengking dan sangat menusuk pendengaran.

"Brukkk, bruuuk, bruuuk,,,,,,,,,”

serentetan suara aneh segera bermunculan dari balik ruang kedai.

Semua orang berpaling, menoleh kearah berasalnya suara aneh itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka terperangah, terkesima, begitu kaget sampai melongo dan ternganga.

Dari balik tiang kedai, dari balik tempat tempat yang gelap dalam ruangan muncul begitu banyak kelelawar, bergantungan diatas tiang, beterbangan silih berganti,,,,,,

Kelelawar itu segera berkata dengan suara berat: "Semua kelelawar itu adalah kelelawar sejati, kelelawar sesungguhnya, sedangkan aku si kelelawar, meski bukan sejenis dengan mereka, meski bukan rekan sebangsa dengan mereka, tapi aku tak lain adalah Mo-ik-pian-hok, kelelawar tanpa sayap.

Satu satunya Kelelawar tanpa sayap yang pernah ada!

" "Kelelawar tanpa sayap,,,,,,,”

Thio Poan-oh mendesis lirih, tanpa sadar tangan kanannya yang menggenggam golok Toa-huan-to mulai gemetar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment