Tapi dia memang lihay sekali, kembali dia dapat meluputkan diri-sekali lagi dia menggunakan jurus silat Tiat-poan kio tadi .
Meledaklah suara sorak dan tepukan dari para hadirin, mereka merasa kagum sekali, sekalipun seorang ahli silat jarang menyaksikan pertunjukan langka semacam ini .
Sampai di sini, hilang sudah rasa penasaran di hati Sin Ciau siangjin .
Dia sadar ilmu silatnya masih kalah dengan pengawal itu .
Karena itu dia segera memberi hormat .
"Kepandaianmu hebat sekali! Aku sungguh kagum!" katanya .
Pengawal itu membalas hormat sikapnya teta tenang seperti semuIa .
Taysu hanya memuji saja!" sahutnya sabar Kongcin ong segera berkata: "Kedua pihak sama-sama lihay, Siau tianhe pengawalmu itu sabar sekali .
Dia tidak mau membalas serangan .
Karena itu, pertandingan kali ini tidak dapat disamakan dengan pertandingan biasa Mari! Kedua-duanya sama-sama memperoleh potong goanpo!" Pengawal itu menjura .
"Hamba yang rendah tidak berjasa apa-apa karenanya hamba tidak berani menerima hadiah dari Kongcin ong!" katanya .
Menyaksikan pengawal itu tidak mau menerima hadiah dari tuannya, Sin Ciau siangjin juga malu maju ke depan .
Kongcin ong segera berkata kepada seorang pelayannya .
"Kau antarkan dua potong goangpo kepada kedua orang itu!" Karena didesak sedemikian rupa, si pengawal terpaksa menerima juga hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih .
Karena itu, Sin Ciau siangjin juga menerima sepotong goanpo dan menghaturkan terima kasih puIa .
Kongcing ong mengerti pertandingan barusan berakhir dengan kekalahan dipihak Sin ciau siang-jin .
Dia berbuat demikian hanya demi menjaga pamornya saja, Dalam hati dia merasa penasaran Diam-diam dia berpikir: Pengawalnya Go Eng-bim itu lihay sekali, Entah bagaimana dengan yang lainIainnya, kemungkinan di antara mereka ada juga yang kepandaiannya rendah .
Orangorangku mempunyai kepandaian tersendiri Umpamanya Ci Goan-kay, tentunya dia tidak kalah dengan Sin Ciau siangjin, sebaiknya aku mencoba lagi." Raja muda itu penasaran Dengan cepat dia mengambil keputusan .
Kemudian dia berkata kepada orangnya .
"Barusan pibu gagal, itu artinya ada keretakan di dalam kesempurnaan Karena itu, Ci suhu, kau mengajak lima belas rekanmu dan siapkan senjata masing-masing lalu memohon pertandingan kepada keenam belas pengawal Peng-Si ong .
Nah, saudara Go, kau perintahkan seluruh pengawalmu untuk menyiapkan senjata masing-masing!" Go Eng-him mengawasi tuan rumah, "Kami adalah tamu-tamu Kongcin ong, mana berani kami membawa senjata tajam ke dalam istana ini!" sahutnya saban Kongcin ong tertawa .
"Siau tianhe selalu sungkan!" katanya, "Ayah Siau tianhe yang terhormat beserta aku adalah sama-sama panglima perang, Seumur hidup kita, sudah biasa bercampur dengan segala macam senjata tajam, Karena itu, tidak usahlah kita perdulikan pantangan orang... .
Mana orang" Bawa kemari delapan belas alat senjata supaya para pengawal Siau tianhe dapat memilihnya sendiri!" Memang Kongcin ong adalah seorang panglima perang, Sejak mulai berangkat dari Kwan gwa yakni Manchuria, sampai menyerang serta menduduki wilayah Tionggoan, Dia selalu menyiapkan delapan belas macam senjata di istananya, Oleh karena itu mendengar perintahnya, beberapa orang pelayannya segera mengiakan serta melaksanakan tugas .
Dalam waktu singkat, semua senjata telah tersedia kemudian dikumpulkan di hadapan orang-orangn Go Eng-him .
Ci Goan-kay sendiri sudah memilih empat belas orang busu, sebab dia, meminta Sin Ciau siangjin yang memimpin kelompok itu .
Sin Ciau siangjin sendiri sebetulnya masih penasaran, dia merasa inilah kesempatan yang baik untuk mengembalikan pamornya yang sempat jatuh tadi, tetapi agar tidak menyolok dia mencoba menolak Setelah didesak berkali kali barulah dia menerima dengan baik tugas itu, dengan demikian orang akan mengira dia menerimanya karena terpaksa .
"Biar bagaimana, aku harus sanggup melukai beberapa orang pengawal dari Inlam ini," katanya dalam hati, Sekarang dia tidak perduli lagi apakah perbuatannya menyalahi Peng Si ong .
Kelompok Ci Goan-kay sudah siap dengan senjatanya masing-masing, Sin Ciau siangjin sendiri memegang sepasang golok .
Sambil menggenggam senjatanya itu, dia memberi hormat kepada sang pangeran .
Kong Cin ong juga membalas penghormatannya, Senang hati Siau Po melihat keadaan itu, Diam-diam dia berkata dalam hatinya .
"Hebat orang-orang ini .
Mereka semua berkepandaian tinggi, nama mereka terkenal, namun mereka bersikap hormat kepada si pangeran, Dengan memberi hormat kepada Kong Cin ong, mereka juga seperti menghormati aku .
Bukankah mereka menghadap ke arahku?" Setelah Itu, Sin Ciau siangjin memutar tubuhnya menghadap para pengawal dari Inlam .
Dia berkata dengan suara lantang .
"Sahabat-sahabat dari Inlam, silahkan kalian memilih senjata masing-masing!" Pengawal yang tadi melayani si biku segera menjawab dengan sopan .
"Kami sudah menerima perintah dari Yang Mu-lia Peng Si ong, bahwa sesampainya di kotaraja, kami tidak boleh bertempur dengan siapa pun!" "Bagaimana seandainya ada orang yang bermaksud memenggal batok kepala kalian" Apakah kalian akan menjulurkan leher panjang-panjang dan membiarkannya saja?" tanya Sin Ciau siangjin yang hatinya mulai panas .
"Atau mungkin kalian akan menyembunyikan kepala kalian dalam-dalam sehingga tidak terlihat?" Kata-katanya yang terakhir merupakan penghinaan sebab di dunia ini hanya kura-kura yang suka menyembunyikan kepalanya .
Mendengar ucapan itu, para pengawal Go Eng-him segera memperlihatkan tampang marah .
Akan tetapi, pemimpin mereka yang bertubuh kurus menjawab dengan datar .
Titah Peng Si ong berat bagaikan gunung, jikalau kami sampai melanggarnya, begitu kemb ke Inlam, kami semua akan mendapat hukuman mati!" Sin Ciau siangjin tetap tidak mau mengerti .
"Baiklah kalau begitu .
Kita coba-coba saja!" katanya, Biku ini lalu mengumpulkan rekan-rekannya di sudut ruangan untuk mengajak mereka berunding .
Dia berbicara dengan nada berbisik: "Kita serang bagian tubuh yang berbahaya, Kita lihat, apakah mereka akan memberikan perIawanan...." "Kalau mereka sampai terluka, tidak jadi masalah," kata Ci Goan-kay ikut memberikan pendapatnya, "Lebih baik kita panas-panasi hati mereka agar memberikan perlawanan.." "Tapi, kita harus berhati-hati," kata seorang lainnya .
"Baiklah! Mari kita mulai!" kata Sin Ciau siangjin akhirnya, Kali ini si biku tidak berayal lagi, Selesai berseru, dia segera maju ke depan bersama kelima belas rekannya dan menyerang orang-orang Go Eng-kim .
Para pengawal Peng Si ong berdiri tegap tanpa bergerak sedikit pun .
Tangan mereka lurus ke bawah seperti tidak bermaksud menghindarkan diri sama sekali .
Hanya mata mereka yang menatap mereka sudah terkurung .
Para hadirin merasa heran dan juga tercekat hatinya, bahkan ada yang berseru: "Hati-hati!" Para jago yang diundang Kong Cin ong menggerak-gerakkan senjatanya " sehingga ada yang saling bentrok dan ada juga yang secara tidak langsung mengenai para pengawal dari Inlam itu .
Ada seorang yang terluka bagian bahunya dan seorang lagi gerluka wajah nya .
Darah mengalir dengan deras .
Tampaknya luka kedua orang itu tidak ringan, tapi mereka tetap berdiri tegak seperti posisi semula bahkan merintih pun tidak! Kong Cin ong menyaksikan semuanya dengan seksama, Dia sadar apabila pertandingan yang tidak seimbang ini dilanjutkan, pasti akan jatuh korban, sebab orangorang Peng Si ong terang-terangan tidak mau mengadakan perlawanan Karena itu, segera dia berseru: "Bagus! Berhentilah semuanya!" Perintah itu dilaksanakan Sin Ciau siangjin mengiakan kemudian bergerak mundur, tetapi sebelumnya dia mengibas jatuh topi salah seorang pengawal itu, perbuatannya diikuti oleh rekan rekannya yang lain .
Setelah itu, dia tertawa dengan gembira .
Siau Po melihat di antara para pengawal itu, ada tujuh orang yang kepalanya plontos sehingga tampak licin mengkilap, Dia langsung bertepuk tanga sambil berseru: "Tetok, matamu tajam sekali .
Lihat, kepala mereka benar-benar botak!" Belum habis kata-katanya, dia melihat wajah keenam belas pengawal itu berubah demikian kelam .
Mata mereka menyorotkan sinar kemaraha dia pun jadi urung melanjutkan ucapannya .
Di samping itu, dia sendiri merasa perbuatan Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang rada keterlaluan .
Dia sendiri, kalau sedang bermain judi, tidak pernah membuat lawannya kalah habis-habisan .
Karena itu ia segera bangun dari tempat duduknya dan menghampiri para pengawal yang kesabarannya luar biasa itu, Dipungutnya topi yang dikibaskan Sin Ciau siangjin tadi kemudian dipakaikannya kembali kepada pengawal yang tinggi kurus itu .
"Tuan, kau lihay sekali!" "Terima kasih!" sahut pengawal itu singkat Siau Po kembali memungut semua topitopi yang tergeletak di atas tanah dan menyerahkannya kembali kepada sisa lima belas pengawal itu .
"Perbuatan mereka agak keterlaluan ya?" katanya sambil tertawa ramah .
Para pengawal itu memilih topi masing-masing lalu mengenakannya kembali "Terima kasih!" kata mereka serentak "Tidak pantas kami menerima kehormatan ini." Mereka berkata demikian karena yakin bocah tanggung ini berkedudukan tinggi, Kalau tidak, mana mungkin bocah ini bisa duduk berdampingan dengan Kong Cin ong dan Go Eng-him tuan muda mereka .
Sekali lagi para pengawal itu mengucapkan terima kasih sembari menjura .
Sebetulnya Siau Po tidak mempunyai kesan baik terhadap para pengawal Peng Si ong, maupun puteranya, Go Eng-him .
Alasannya berbuat demikian, hanya karena merasa tindakan Sin Ciau siangjin dan yang lainnya memang rada keterlaluan .
"Ongya," katanya kepada Kong Cin ong .
"Bolehkah aku meminjam beberapa tail perak?" Kong Cin ong tertawa .
"Saudara Kui, ambillah sesukamu!" sahutnya ramah .
"Apakah sepuluh laksa tail cukup?" "Tidak perlu begitu banyak," kata Siau Po sambil tersenyum Dia lalu menoleh kepada pelayan pangeran itu dan memerintahkan "Cepat kau pergi membeli topi yang harganya paling mahal semakin cepat semakin baik!" Pelayan itu segera mengiakan dan kemudian mengundurkan diri .
Melihat gerak-gerik si thay-kam cilik, Go Eng-him segera memberi hormat .
"Terima kasih, kongkong!" katanya, "Kongkong baik sekali .
Kami merasa bersyukur," katanya .