seandainya Kongcin ong memaksakan kehendaknya, berarti dia tidak tahu aturan .
Karenanya dia jadi mendongkol sekali, akhirnya dia menoleh kepada Sin Ciau siangjin sembari berkata: "Sin Ciau siangjin, Ci suhu, sahabat-sahabat dari Inlam itu tidak sudi memberi muka kepada kita, Karenanya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa!" Mendengar kata-kata pangeran itu, Sin Ciau siangjin segera bangkit .
"Ongya," katanya, "Sahabat-sahabat dari Inlam itu justru ketakutan kalah, dengan demikian mereka akan kehilangan muka .
Toh, tidak mungkin mereka mendiamkan saja apabila ada orang yang menyerang pada bagian tubuh mereka yang menbahayakan!" Begitu suaranya berhenti, biku itu langsung mencelat ke samping pengawalnya Go Eng-him itu kemudian tertawa lebar .
"Tenaga tangan aku, si biku biasa-biasa saja, dibandingkan orang she Long tadi, mungkin aku hanya menang satu tingkat Ongya, pinceng ingin merusak sebuah batu di tempat ong-ya ini .
Apaka ong-ya akan berkecil hati karenanya?" Kongcin ong tahu, di antara orang-orang barunya, Sin Ciau siangjin terhitung yang paling lihay, sekarang mendengar kata-kata biku itu, dia tahu orang ingin menunjukkan kepandaiannya .
Karena itu, dia langsung menganggukkan kepalanya, Hati-nya senang sekali .
"Silahkan, siangjin! Rusak sepotong batu saja tidak menjadi masalah!" katanya .
Sin Ciau siangjin menganggukkan kepalanya, Tubuhnya membungkuk sedikit, tangannya terulur ke bawah menekan lantai, ketika dia mengangkat tangannya kembali Tangan itu sudah bertambah sepotong batu hijau berukuran satu kaki lebih .
Batu itu bukan dipegangnya, tetapi menempel pada telapak tangannya sebagai bukti tenaga dalamnya hebat sekali! "Bagus!" seru Siau Po yang disusul dengan tepukan tangan dan sorak memuji yang lainnya .
Sin Ciau siangjin tersenyum, batu itu diangkat ke atas .
Tenaga hisapannya pun buyar, namun sebelum batu itu sempat terjatuh ke lantai, Sin Ciau siangjin bergerak dengan cepat .
Sepasang tangannya kembali menjepit batu itu kemudian ditekannya keras-keras sehingga batu itu menjadi hancur dan abunya jatuh di atas lantai .
Kembali para hadirin bersorak, Sin Ciau siangjin segera menghampiri pengawalnya Go Eng-him yang berbicara tadi "Tuan, bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia?" "Tenaga dalam siangjin besar dan mengagumkan," kata pengawal itu .
"Dengan demikian mataku yang rendah jadi terbuka, Aku hanya orang kecil dari tanah perbatasan Hanya seorang tidak ternama...." Sin Ciau siangjin tertawa .
"Meskipun orang liar dari tanah perbatasan tidak mungkin tanpa she atau nama, bukan?" Sepasang alis pengawal itu menjungkit ke atas .
Hal ini membuktikan hatinya mulai marah, namun dalam sekejap mata wajahnya pulih kembali seperti tidak terjadi apapun dia menyahut: "Orang liar dari tanah perbatasan, seandainya punya nama pun tidak lebih dari Amau atau A-ku (kucing atau si anjing) Karena itu, tidak ada gunanya meskipun taysu mengetahuinya!" "Tuan, kau sungguh sabar sekali," kata Sin Ciau siangjin sambil tertawa, Hari ini Kong cing ong mengadakan pesta, tamu-tamunya banyak, 6 kota Peking, jarang ada pesta semeriah ini sekarang ongnya menyuruh kami mengadakan pertunjukan, maksudnya untuk menggembirakan para tamunya, Dengan demikian semuanya dapat merasa senang, Karena itu, kalau tuan tidak suka memberikan pelajaran, bukankah tuan mengangkat dirimu terlalu tinggi?" "Aku yang rendah hanya pernah mempelajari beberapa jurus petani pedesaan yang kasar, mana mungkin aku sanggup menandingi Sin Ciau siangjin dari kuil Tiat-hud Si di kota Congciu" Kalau taysu tetap ingin bertanding, biarlah di sini juga aku yang rendah mengaku kalah dan silahkan taysu mengambil goanpo yang besar itu...." Setelah berkata orang itu memutar tubuhnya untuk mengundurkan diri .
"Tunggu dulu!" seru Sin Ciau siangjin, "Pokok-nya pinceng harus mencoba kepandaian tuan! Ke-dua tanganku akan bergerak dalam waktu yang bersamaan seperti memukul tambur Aku akan mengincar kedua pelipismu, silahkan tuan membalasnya!" Orang itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang di gelengkan .
Sin Ciau siangjin membentak lantang, tiba-tiba tubuhnya seperti melar menjadi besar, Hal itu membuktikan bahwa dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian kedua tangannya bergerak menyambar ke arah kepala orang itu .
Benar saja! Dia mengincar bagian pelipis seperti yang dikatakannya barusan .
Para hadirin terkejut .
Kepala orang itu pasti remuk apabila terkena hantaman pukulan Sin Ciau siangjin, sedangkan sebuah batu hijau saja sampai hancur lebur karenanya .
Pengawalnya Go Eng-him sungguh luar biasa .
Dia tetap berdiri tanpa bergeming sedikit pun .
Apalagi menangkis atau menghindarkan diri .
sikapnya lebih mirip sebuah patung pajangan .
Sin Ciau siangjin sengaja menyerang agar orang itu terpaksa melayaninya, tetapi melihat orang hanya berdiam diri, terpaksa dia mengubah pikirannya .
Tidak mungkin dia menyerang orang yang tidak melakukan perlawanan, apalagi orang itu bawahannya Peng-Si ong .
Kalau orang itu sampai celaka, bagaimana dia harus bertanggung jawab" Bukankah perbuatannya bisa berarti mengajukan tantangan perang" Karena itu, dia menaikkan tangannya ke atas sehingga hanya ujung jubahnya saja yang mengenai kepala orang .
Si pengawal tersenyum .
"Sungguh hebat tenaga dalam taysu!" Mata semua orang membelalak saking kagumnya, orangnya Peng-Si ong itu benarbenar tabah dan sabar .
Karena itu, orang-orangnya mempunyai dugaan bahwa dia pasti bukan orang sembarangan .
Kalau tadi dia sampai terhajar, bukankah dia akan mati konyol" Mengapa dia memandang nyawanya sendiri sedemikian tidak berharga " Lagaknya ini orang edan .
Sin Ciau siangjin menarik kedua tangann kembali .
Dia memandangi orang di depannya lekat-lekat .
Dia juga merasa heran dan menduga-duga dalam hatinya, Orang itu memang tolol atau justru terlalu angkuh" Dia juga menjadi bingung, dia merasa tidak enak mengundurkan diri begitu saja, Akhirnya dia berkata: "Tuan, rupanya tuan tidak sudi memberi muka kepadaku .
Baiklah, sekarang pinceng akan menyerangmu dengan jurus Hek-hou tau sim (harimau hitam mencuri jantung)." Siapa saja yang pernah belajar ilmu silat, pasti mudah menghindari serangan itu, Sebab jurus itu sangat umum .
Apalagi sebelumnya telah diberitahu akan diserang dengan jurus yang satu ini Dengan serangan semacam itu bisa timbul anggapan bahwa lawan tidak memandang sebelah mata kepadanya .
Orang itu masih tidak memberikan jawaban, bibirnya hanya tersenyum .
Semakin tidak puas rasanya hati si biku .
"Seandainya aku menghajar kau, tentu kau hanya akan terluka, tidak mungkin begitu mudah untuk mati .
Dengan demikian aku juga tidak melakukan kesalahan besar terhadap Peng-Si ong, pikirnya dalam hati Karena itu dia segera memasang kuda-kudanya dan terus mengirimkan sebuah serangan .
Orang itu tetap tidak menangkis ataupun menghindarkan diri Blam! Terdengarlah suara yang keras karena dadanya terkena hantaman Sin Ciau siangjin .
Tubuhnya juga tersurut satu tindak, Namun dia segera tertawa dan berkata: "Nah, taysu sudah menang! Aku telah tergeser mundur satu langkah!" Sin Ciau siangjin jadi heran .
Walau pun serangannya tadi tidak merupakan pukulan yang mematikan, tetapi cukup keras juga .
Siapa sangka orang itu sanggup menerimanya seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan masih sempat tertawa dan berbicara .
Bagi pembesar negeri yang bukan golongan tentara, hal itu memang terasa aneh .
Tidak demikian halnya dengan para perwira atau jenderal, mereka ini melihat tegas bahwa pengawal si raja muda dari Inlam justru sengaja mengalah .
Demikian pun si biku, sehingga dia menjadi kurang senang .
Rasanya sudah habis kesabarannya wajahnya menjadi merah padam .
"Sebaiknya kau terima satu kati lagi tinjuku ini" katanya sengit Dan dia langsung menyerang kembali dada orang itu .
Dan kali ini dia menggunaka tenaga dalam sebanyak tujuh bagian, Dia tidak perduli lagi walaupun orang bisa muntah darah karena pukulannya .
Para hadirin yang mengerti ilmu silat dapat melihat bahwa si biku telah menggunakan tenaga dalam yang besar .
Mereka juga menduga orang yang terkena pukulan itu bisa celaka, mereka memperhatikan jalannya peristiwa itu sambil berdiam diri mengkhawatirkan keselamatan pengawal Pe Si ong itu .
Tapi, pengawal itu memang sungguh luar biasa, tatkala serangan itu tiba, dadanya diciutkan dalam dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh setengah tombak, sepertinya dia kena terhajar dalam waktu yang bersamaan dia bergerak mundur .
Siapa yang ilmunya tanggung-tanggung tentu tidak dapat melihat cara mengelakkan diri yang istimewa itu, caranya itu meminta ketajaman mata dan kelincahan tubuh .
Si biku benar-benar marah ketika mengetahui serangannya kembali gagal, dia segera membentak keras dan menyerang kembali Kali ini dia mengirimkan tendangan kaki kanannya yang secara tiba-tiba mengarah perut lawan .
"Aduh! Celaka!" seru si pengawal dari Inlam, Dalam waktu yang bersamaan, tubuhnya menghempas ke belakang sehingga posisinya lurus, sedangkan kedua lututnya ditekuk sehingga telapak kakinya masih memijak tanah seperti semula, sungguh suatu cara pengelakkan diri yang luar biasa .
Namanya Tiat-poan kio (Jembatan papan besi), Dengan demikian, perutnya terhindar dari tendangan Sin Ciau siangjin .
Ketegangan di hati para hadirin menjadi mengendur dan berganti dengan perasaan kagum, sungguh hebat pengawal itu, dia selalu mengalah dan menghindarkan diri dari ancaman maut .
Sin Ciau siangjin jadi penasaran, tanpa menunda waktu dia mengulangi serangannya, kali ini dengan tendangan berantai Tipu silat yang digunakannya adalah Wan-yo lian hong (tindakan berantai si burung Wan Yo) .
Begitu tendangan tadi meleset, si pengawal segera bangkit kembali Namun tepat pada saat itu datanglah serangan susuIan dari Sin Ciau siangjin, sebenarnya dia baru saja menegakkan tubuhnya, jadi tidak sempat lagi dia menghindarkan diri .