Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 22

Memuat...

"Saudara, kau sungguh baik, jadi maksudmu, sampai kapan pun hutang kami itu tidak perlu dipikirkan?" "Memang begitulah maksudku, Tidak apa-apa, meskipun sampai dua ratus tahun!" "Sampai dua ratus tahun" Mana ada manusia yang umurnya sepanjang itu?" tukas Yu Hong sambil menoleh kepada kakaknya dan Yu To pun menganggukkan kepalanya, "Saudara Kui, setahu kami, majikanmu itu hebat sekali!" "Maksudmu, Hay kongkong?" "Benar," sahut Yu Hong, itulah yang mengkhawatirkan kami .

Meskipun kau tidak menagih hutang itu, tapi bagaimana dengan majikanmu" Kami akan mencari akal untuk membayarnya." Otak Siau Po bergerak cepat, pikirnya dalam hati .

"Hay kongkong memang cerdik, Kura-kura tua itu bisa memandang jauh, Entah apa yang dipikirkannya sekarang?" Selama ini dia repot bertanding dengan Siau Hian cu, sehingga lupa urusannya mencari kitab .

"Baiklah, sekarang aku ingin mendengar apa yang akan dikatakan kedua bersaudara ini." Karena itu pun, dia memperhatikan kedu orang di hadapannya .

"Saudara Kui, setelah berpikir sekian lama kami rasa hanya ada satu jalan, yakni jangan kau beritahukan kepada Hay kongkong mengenai hutang kami, Kami berjanji, kalau nanti menang main kami akan melunasi hutang itu." "Kalian berdua memang kura-kura .

Boleh saja kalian berjanji, tapi mana mungkin kalian bisa melunasi hutang kalian itu" Kalian toh tidak mungkin mengalahkan aku!" makinya dalam hati .

Namun di luar dia berkata: "Sayang sekali..." Siau Po pura-pura menyesal "Hal itu justru sudah diketahui oleh kongkong, Majikanku itu pernah mengatakan, bahwa hutang harus dilunasi, tetapi waktunya boleh diperpanjang sedikit." Mendengar kata-katanya, kedua saudara itu terkejut setengah mati, Mereka saling melirik sekilas .

Tampaknya mereka memang takut terhadap Hay kongkong .

"Tapi, saudara muda, tidak dapatkah kau membantu kami" Begini, kalau kau menang lagi nanti, uang kemenangan itu kau serahkan kepada kongkong dan katakan sebagai cicilan hutang kami!" "Ah! Kalian memang Iicik!" maki Siau Po dalam hati, "Apakah kalian mengira aku ini bocah usia tiga tahun?" gerutunya lagi diam-diam .

"Caramu itu bisa juga dilakukan, tetapi apakah tidak akan menimbulkan kesulitan bagiku?" katanya kepada kedua saudara Un itu .

"Saudara Kui, kau memang baik sekali, Terima kasih untuk kebaikanmu itu," kata kedua saudara Un dengan perasaan lapang .

"Kami tidak akan melupakan budimu untuk selamanya!" kata Yu Hong .

"Kalau kalian sudah mengambil keputusan seperti itu, baiklah, cuma ada satu permintaanku .

Dapatkah kalian memberikan bantuan kepadaku?" "Mudah! Mudah!" sahut kedua orangku serentak "Bantuan apa yang dapat kami Iakukan?" "Begini, sudah banyak hari aku berdiam dalam istana .

tetapi selama ini aku belum pernah melihat wajah Sri Baginda, Berbeda dengan kalian, sebab di dalam Gi Si Pong, kalian senantiasa melayani junjungan kita itu .

Aku bermaksud meminta kalian mengajak aku melihat Sri Baginda." Yu To dan Yu Hong terkejut sekali .

"Ini.. .

ini" Sikap mereka gugup sekali, Untuk sesaat mereka sampai tidak dapat mengatakan apa-apa .

"Jangan salah paham, Aku hanya ingin melihat wajah Sri Baginda, Aku bukan hendak mengajukan sesuatu, Kalau aku berada dalam Gi Si Pong, tentu aku bisa melihat beliau! Betapa puas hatiku nanti! Andaikata gagal, aku juga tidak akan menyalahkan kalian!" Kedua saudara itu berdiam diri sejenak untuk berpikir Kemudian terdengar Yu To berkata .

"Kalau tujuan Saudara hanya untuk melihat wajah Sri Baginda, siang nanti aku akan menjemput saudara dan mengajak saudara ke Gi Si Pong, ItuIa saatnya Sri Baginda berada di kamar tulisnya untuk menulis sajak atau yang lainnya, Di saat itu lebih banyak kesempatan saudara untuk melihatnya." selesai berkata Yu To pun melirik ke arah saudaranya sekali lagi .

Siau Po melihat sikap kedua orang itu dan diam-diam ia berkata dalam hatinya .

"Kura-kura, kalian memang banyak lagak .

Mungkinkah di siang hari Sri Baginda justru tidak berada di kamar tulisnya" Tapi, apa perduliku" Tujuanku toh bukan untuk melihat Raja, tapi untuk mencuri kitab, Namun, bagaimana kalau aku bertemu dengan raja" Apa yang harus kukatakan" Kalau rahasiaku ketahuan, aku bisa dihukum mati sekeIuarga... .

Kalau aku berhasil mencuri kitab itu, mungkin kongkong akan mengajarkan aku ilmu silat yang sebenarnya, Selama ini aku masih sering dikalahkan oleh Siau Hian cu." Membawa pikiran demikian, Siau Po segera menjura kepada kedua saudara Un .

"Terima kasih, saudara sekalian, Pada dasarnya kita semua memang para budak, tetapi kalau seumur hidup kita tidak bisa melihat wajah Sri Baginda, tentu di akherat nanti kita akan dicaci maki Raja Akherat." Sampai di situ, mereka pun berpisah .

Kedua saudara Un memenuhi janji, Baru lewat jam Bi si, mereka sudah menjemput Siau Po .

padahal waktu perjanjian masih kurang satu kentungan .

Di luar kamar, Yu Hong bersiul perlahan sebagai tanda dan Siau Po pun segera menghampirinya, kedua saudara itu memberi isyarat dengan gerakan tangan, kemudian mereka bertiga menuju ke arah barat .

Kali ini Siau Po mengingat-ingat setiap jalan yang dilaluinya, dia terasa diajak cukup jauh berjalan Tiba-tiba Yu To menghentikan langkah kakinya dan berkata perlahan .

"Sudah sampai inilah Gi Si Pong! Kau harus berhati-hati!" "Aku mengerti," sahut Siau Po .

Dua saudara Un mengajak Siau Po ke belakang, jalannya memutar .

Di situ ada sebuah pintu kecil yang kemudian mereka masuki setelah melintasi dua buah taman kecil mereka sampai di sebuah ruangan yang besar .

Di dalamnya terdapat beberapa rak besar yang penuh dengan berbagai kitab, jumlahnya mungkin mencapai ribuan jilid .

Melihat buku-buku itu, Siau Po diam-diam menarik nafas panjang, Dia merasa kagum juga bingung .

"Kalau aku memiliki buku sebanyak ini dan diharuskan membacanya .

Mana ada waktu lagi untuk berjudi" Kongkong menyuruh aku mencuri sebuah kitab, tetapi kitab yang mana" Bagaimana aku mencarinya?" gerutunya dalam hati .

Siau Po hanya mengenal huruf angka seperti 123 dan seterusnya, sekarang dia harus mencari sebuah kitab di antara ribuan jilid, bagaimana kepalanya tidak menjadi pusing" Rasanya dia ingin membalikkan tubuh untuk kabur dari tempat itu! "Sebentar lagi Sri Baginda akan datang ke kamar tulisnya ini .

Dia biasa duduk di belakang meja itu," bisik Yu To sambil menunjuk Siau Po memperhatikan keadaan dalam ruangan .

Di tengah-tengah ada sebuah meja besar, terbuat dari kayu mahoni dan pinggirannya dilapisi emas .

Meja itu sangat indah, dan harganya pasti mahal sekali, kecuali beberapa jilid buku, di atas meja juga terdapat beberapa macam peralatan tulis .

Kursinya memakai alas dan sarung yang bersulamkan naga dari benang emas .

Meskipun nyalinya besar sekali, tetapi melihat perabotan dalam kamar itu, jantung Siau Po bertebaran juga, Di dalam hati kembali dia memaki "Raja kura-kura ini, bahagia sekali hidupnya!" "Kau bersembunyi di belakang rak buku itu," kata Yu To, "Nanti kau bisa melihat Sri Baginda raja, Selagi Sri Baginda menulis, kau jangan bersuara sedikit pun .

juga jangan batuk-batuk atau berdehem, Kalau kau sampai kepergok dan Sri Baginda gusar, mungkin beliau akan memanggil para siwi (pengawal) dan kau pun akan diringkus untuk dipenggal batang lehermu!" "Aku tahu!" sahut Siau Po .

"Tak nanti aku bersuara ataupun terbatuk-batuk." Kedua saudara Un segera bekerja, mereka membersihkan debu-debu dari meja dan kursi, juga menyapu lantai sehingga semuanya bertambah mengkilap, Cermin muka pun dilap sehingga menjadi terang .

"Saudara, kalau lohor ini Sri Baginda raja tidak datang, berarti hari ini beliau tidak akan datang lagi, sebentar lagi akan ada siwi yang meronda, kalau kita sampai kepergok, habislah semuanya!" kata Yu To .

"Aku tahu," sahut Siau Po .

" sekarang kalian boleh pergi dulu, aku akan menunggu sebentar lagi." "Tidak bisa, Kau tentu tahu peraturan di dalam istana, bukan" Baik para thay-kam dan dayang-dayang tidak dapat sembarangan saja menghadap raja." "Betul, saudara Kui," kata Yu Hong menambahkan .

"Bukannya kami tidak suka membantumu, tapi berdiamnya kami di sini ada batas waktunya .

Kami hanya boleh berada di sini selama setengah jam .

Selesai menjalankan tugas, kami harus keluar lagi, jikalau kami berayal, dan kena dipergoki para siwi, setidaknya kami bisa dirotani atau beratnya dihukum mati!" "ltu toh tidak berarti?" kata Siau Po seenaknya .

Yu Hong membanting kaki .

"Saudara Kui, di sini kita tidak bisa main-main .

Untuk melihat Sri Baginda, besok masih ada kesempatan kita datang lagi saja besok," "Baiklah," sahut Siau Po akhirnya, "Mari kita pergi!" Bukan kepalang leganya hati kedua saudar Un .

Mereka segera keluar dari ruangan itu sambi mendampingi Siau Po dari kanan kiri, justru pada saat itu, tiba-tiba Siau Po berkata .

"Kalian juga belum pernah melihat Raja, bukan?" Yu Hong tertegun .

"Kau.. .

kau.. .

bagaimana...." sikapnya gugup, Sudah tentu dia ingin bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu?" Tetapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Yu To sudah menukas .

"Mana mungkin kami belum pernah melihatnya ?" Yu To lebih pandai berpura-pura, "Sudah sering kami melihat beliau." Siau Po tidak mau memojokkan mereka .

Dia berjanji kepada kedua saudara Un bahwa dia akan menggunakan uang kemenangannya sebagai pembayar hutang kepada Hay kongkong .

Kedua saudara itu langsung mengucapkan terima kasih berulangkali, serta mengatakan kelak mereka akan membalas budi kebaikan Siau Po .

Sekejap saja mereka sudah sampai kembali di pintu samping, Siau Po berkata .

"Lain kali kalian ajak lagi aku kemari, lihatlah peruntunganku!" "Ya, ya!" sahut kedua saudara Un .

Mereka pun berpisah, Siau Po berjalan dengan cepat, setelah melintasi dua buah lorong, dia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepala untuk melihat kedua saudara Un itu .

Dia bersembunyi sebentar, begitu kedua orang itu pergi jauh, dia langsung kembali lagi, tujuannya sudah pasti kamar tulis raja .

Sempat dia merasa kecewa, karena ternyata pintunya dikunci .

Untuk sesaat Siau Po tertegun .

"Pintu kamar tulis ini sudah dikunci, ternyata kedua saudara Un itu tidak berbohong, pasti barusan ada siwi yang meronda kemari, tetapi, kemana perginya mereka sekarang?" pikirnya dalam hati .

Siau Po memasang telinganya di depan pintu, Dia tidak mendengar suara apa pun .

Hatinya penasaran dia mengintai dari lubang kunci, tidak terlihat seorang pun di dalam kamar tulis itu .

Akhirnya dia mengeluarkan pisau belati yang digunakannya untuk membunuh Siau Kui cu .

Kepalanya melongok ke kanan kiri .

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment