"ltu tipu jurus To-ki Bwe (Merobohkan pohon Bwe)!" "Rupanya semua jurus itu ada namanya," pikir Siau Po dalam hati .
"Kau tentu dikalahkan dengan cara seperti ini," kata Hay kongkong sambil melakukan gerakan .
"Ya," sahut Siau Po mengakui .
Hay kongkong menarik nafas panjang, "ltulah jalan darah Ci Hiat-kong .
Kalau begitu, guru bocah itu pasti lihay sekali!" "Masa bodoh! pokoknya besok aku harus mengalahkannya!" kata Siau Po ngotot .
"Bocah itu menggunakan ilmu partai Bu Tong pai." Hay kongkong seperti menggumam seorang diri, "Siapa sangka di dalam istana ini, ada jago yang demikian lihay, Apa maksudnya" Sulit menebaknya.. .
Eh, berapa kira-kira usia Siau Hian cu itu?" "Mungkin lebih tua sekitar dua tahun dariku, kurang lebih lima enam belas tahun, tapi tubuhnya lebih tinggi...." "Berapa lama kau berkelahi dengannya?"
"Kira-kira satu jam...." "Jangan mengoceh sembarangan! Berapa lama sebenarnya ?" "Tidak ada satu jam, mungkin setengahnya,.,." "Kalau aku bertanya, jangan kau jawab asal-asalan saja .
Kau harus mengatakan yang sebenarnya .
Dia belajar silat, kau tidak, Kalah pun tidak perlu malu, Apalagi usianya dan tubuhnya lebih besar dari kau .
Tidak apa meskipun kau kalah seratus kali, yang penting akhirnya kau bisa menang! Dengan demikian lawan akan menyerah dan mengakui kau sebagai seorang enghiong!" "Benar! Dulu Han Kho cou telah melabrak Co Pa Ong sehingga Raja Cou itu menggantung diri di sungai Ouw Kang,.,." "Apa" Menggantung diri di sungai" Bukan membunuh diri!" "Menggantung diri atau membunuh diri di sungai Ouw Kang sama saja! pokoknya dia kalah da membunuh diri sendiri!" "Baiklah, sekarang aku tanya lagi, Sebenarnya berapa kali kau kalah?" "Paling-paling cuma dua atau tiga kali!" "Pasti empat kali." "Yang benar-benar kalah cuma dua kali, yang dua kali aku dikelabui olehnya, tidak masuk hitungan!" Hay kongkong tersenyum .
"Anak ini keras kepala tapi jujur," pikirnya dalam hati, "Otaknya juga cerdik sekali," kemudian dia berkata, "Kau tidak mengerti sekolah ilmu silat, Siau Hian cu pasti akan mengganggumu terus sampai kau benar-benar takluk! Tapi aku percaya dia juga baru belajar, Kau jangan takut, nanti aku ajarkan kau ilmu Tay kim na-hoat .
Asal kau mengingatnya baik-baik, besok kau pasti dapat melawannya!" Siau Po kegirangan .
"Ya, aku akan belajar sungguh-sungguh .
Akan kujatuhkan dia!" "Masih belum tentu, Nak .
Tergantung dari latihanmu ilmu itu terdiri dari delapan belas jurus, dan setiap jurusnya ada tujuh delapan gerak perubahan .
Tidak mungkin bisa kau pelajari dalam waktu satu hari, sekarang kau perhatikan baik-baik, begini caranya!" Hay kongkong berdiri .
Sebelah kakinya diangkat ke atas sedikit untuk memasang kuda-kuda .
Kemudian kedua tangannya mulai bergerak perIahan-lahan .
"Kau perhatikan ingat baik-baik kemudian kau ikuti, Setelah kau bisa menjalankannya dengan baik, nanti aku beberkan setiap perubahannya." Siau Po menurut, dia langsung bersilat otaknya memang cerdas sekali, ingatannya kuat Dia dapat menirukan gerakan orang tua itu .
Setelah menjalankan tujuh delapan kali, dia langsung berteriak .
"Sekarang aku bisa!" "Mari kita coba!" kata Hay kongkong yang langsung duduk di kursi, "Kau boleh mulai menyerang!" Siau Po menurut, baru tangannya bergerak, tahu-tahu bahunya telah terpegang .
"Kau belum bisa!" kata Hay kongkong, "Ayo latihan lagi!" Siau Po tertegun, tapi dia mengerti ia meneruskan latihannya, tapi ketika dia mencobanya untuk kedua kali, kembali dia gagal "Huh! Bocah tolol! Kau benar-benar kutu kecil yang bebal" "Dasar kura-kura tua!" maki Siau Po dalam hati, namun dia terus berlatih, pikirannya dilanda kebingungan .
Walaupun kau berlatih tiga tahun lagi, tetap saja kau tidak dapat menghindarkan diri dari seranganku seharusnya ketika aku menyambar, kau langsung menyambuti dengan menghajar tanganku .
Sebab seranganku ini tidak dapat ditangkis, itu namanya diserang namun menyerang!" Senang hati Siau Po memperoleh keterangan dari si orang tua .
"Begitu rupanya, nah sekarang aku akan memulai!" Dia lantas menyerang, Dia disambar, tetapi tahu-tahu telinganya kena ditampar! Dia menjadi terkejut dan panas hatinya dan bermaksud membalas menampar telinga si orang tua, tapi dia gagal .
Tangannya malah kena dicengkeram kemudian disentakkan sehingga tubuhnya terpelanting .
Hay kongkong tertawa terbahak-bahak .
"Dasar kutu kecil bebal, otak lembu, Nah, sekarang kau ingat baik-baik!" Siau Po terlempar ke sudut tembok dan jatuh terbanting .
Hampir saja dia semaput .
Hatinya semakin panas, Hampir saja dia mencaci Untung saja dia masih bisa mengendalikan mulutnya, malah diam-diam dia berpikir "Betul Tipu gerakan ini bagus sekali, Aku akan mencobanya besok!" Dia langsung merayap bangun dan terus latihan lagi .
Bocah ini memang keras kepala, Dia terus berlatih, berkali-kali dia gagal, namun dia terus mencoba, Hatinya merasa penasaran, bagaimana mungkin seorang yang sudah buta masih begitu lihay" "Kong kong, bagaimana sebenarnya ini" Mengapa aku tidak bisa menghindar dari seranganmu?" Hay kongkong tersenyum .
"Beberapa kali aku menyerangmu dengan perlahan Kalau aku mau, kapan saja aku bisa mencelakaimu .
Biar pun belajar sepuluh tahun lagi, tetap saja kau tidak bisa menghindarkan diri dari seranganku sekarang kita kembalikan saja pada urusanmu sendiri!" Siau Po menurut .
Dalam hatinya dia ingin sekali mengalahkan Siau Hian cu, karenanya dia lalu berlatih sungguh-sungguh .
Dia berlatih dari siang sampai sore, Hay kongkong juga melayaninya .
Malam itu Siau Po tidur dengan menahan rasa nyeri bekas pukulan dan jatuh, Tapi dia tidak menghiraukannya, sebab semua itu toh tidak membahayakan nyawanya .
Besok paginya, kembali dia pergi berjudi .
Siang harinya dia mencari Siau Hian cu, yang dia temukan dengan pakaian baru, Hatinya sengit sekali .
Lupa ia akan ajaran Hay kongkong, tanpa berpikir panjang dia menyerang bocah itu .
Sekali renggut dia berhasil mengoyak pakaian Siau Hian cu, tapi bocah itu tidak memperduIikannya, tinjunya menghajar ke pinggang Siau Po sehingga thay-kam gadungan itu menjerit-jerit kesakitan .
Tangan Siau Hian cu juga menotok paha kirinya sehingga di lain saat dia telah ditunggangi seperti seekor kuda .
"Ya, aku menyerah!" Siau Hian cu bangkit, memberi kesempatan kepada lawannya agar dapat berdiri Siau Po memperhatikannya lekat-lekat .
Dia sudah bersiap .
"Majulah!" tantangnya .
Siau Hian cu maju, tapi kali ini dia gagal Sebab satu jurus dari Toa Kim na-hoat membuatnya menjerit-jerit kemudian terpaksa mengaku kalah .
Bukan kepalang girangnya hati Siau Po, ini merupakan kemenangannya yang pertama, dia menjadi lupa daratan dan sombong, Dan ketika mereka bergebrak kembali .
Dia jadi kena dirobohkan .
"Celaka!" pikirnya dalam hati, dia pun meningkatkan kewaspadaan dan berkelahi dengan penuh perhatian .
Pada babak keempat, mereka seri .
Mereka sudah bergumul cukup lama sehingga keduanya sama-sama merasa letih, permainan pun dihentikan "Hari ini kau maju banyak sekali!" kata Siau Hian cu sambil tertawa .
Pertempuran ini sangat menarik hati .
siapakah yang mengajari kau?" "lnilah kepandaianku sendiri," sahut Siau Po berbohong .
"Selama dua hari ini aku memang sengaja menyembunyikannya, Besok-besok masih banyak kejutan yang akan kuperlihatkan kepadamu .
Kau mau coba atau tidak?" "Tentu aku suka mencobanya!" kata Siau Hian cu, "Awas, jangan sampai kau berkaok-kaok mengaku kalah dan takluk kepadaku!" "Hal itu tidak akan terjadi Besok kaulah yang akan mengaku kalah!" Sampai di situ keduanya berpisah, Siau Po kembali ke kamarnya, pekerjaannya sekarang rutin sekali, bermain judi dan melawan Siau Hian cu .
Tanpa terasa dua bulan sudah dia menetap di istana itu, Dia mendapat berbagai pengalaman baru dan pengetahuannya pun semakin bertambah sekarang dia tahu bahwa ilmu silat Hay kongkong berasal dari Siau lim pai .
sedangkan Siau Hian cu dari Bu Tong pai .
Sementara itu, hutang kedua saudara Un semakin bertumpuk Siau Po sengaja menawarkan jasanya kepada mereka .
Rasanya kesempatannya untuk masuk ke kamar tulis raja guna mencuri kitab yang dimaksudkan Hay kongkong tidak lama lagi akan datang .
Jumlah hutang keduanya sudah mencapai dua ratus tail lebih, Belakangan mereka kalah habis-habisan .
Keduanya saling lirik sekilas, kemudian Yu To berkata kepada Siau Po .
"Saudara Kui, kami ingin membicarakan sesuatu, sudikah saudara ikut dengan kami?" "Baik," sahut Siau Po santai, "Kalau kalian masih membutuhkan uang, katakan saja!" Terima kasih," kata Yu To .
Mereka terus berjalan mengikuti Siau Po, ketiganya menuju rumah sebelah .
"Saudara Kui, kau masih begitu muda, namun hatimu mulia sekali, Sukar mencari orang baik sepertimu di zaman ini," kata Yu To memuji Tentu Siau Po senang dipuji, tetapi dia tetap merendah .
"Ah, saudara hanya memuji, di antara orang sendiri tidak perlu sungkan-sungkan .
Soal pinjam meminjam tidak menjadi masalah!" kata Siau Po sambil mengeluarkan uang sebanyak tiga puluh tail dan diserahkannya kepada kedua saudara itu .
"Kalian butuh uang" Ambillah ini!" "Kau baik sekali, saudara, cuma hati kami jadi tidak enak," kata Yu To .
"Hutang kami sudah banyak..." "Saudara, semakin lama kau semakin maju saja, sedangkan modal kami pun sudah amblas, bahkan hutang kami menumpuk, entah sampai kapan baru kami bisa melunasinya" perasaan kami jadi bingung...." Siau Po tersenyum .
"Hutang tidak terbayar padahal hal yang biasa, sudahlah, tak usah saudara menyebut-nyebutnya lagi." Yu To menarik nafas panjang .