Kamar itu kosong, tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat persembunyian .
Tak lama muncullah orang yang suara langkahnya terdengar itu, Siau Po melihat seorang bocah sebaya dengannya masuk ke dalam kamar .
Dia mengambil sepotong kue lalu memakannya .
"Ah, rupanya dia juga pencuri" pikir Siau Po dalam hati, "Seandainya aku berteriak, tentu dia akan terkejut dan lari ketakutan Pada saat itu aku bisa makan kue sepuasnya," tapi Siau Po tidak melakukan hal itu, Sebaliknya, dia merasa menyesal mengapa tidak mengambil kue lebih banyak lalu membawanya ke taman dan di sana dia bisa makan dengan puas" Tidak lama kemudian terdengar suara sesuatu yang dipukul Dia merasa heran, cepat-cepat dia mengintai, rupanya bocah itu sedang memukuli sebuah boneka kulit .
Kelakuannya aneh sekali sebentar dia memeluk, kemudian mendorong lalu dibantingnya .
Tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas, sejenak saja dia sudah mengerti apa yang sedang dilakukan bocah itu, Ya, dia pasti sedang berlatih diri .
Siau Po menjadi tertarik, sembari tertawa dia keluar dari kolong meja .
"Boneka hanya barang mati, mana menarik diajak berlatih, Mari aku temani kau!" Berani sekali bocah ini .
Begitu keluar dia langsung menantang! Anak kecil itu terkejut sehingga dia terlonjak dan memperhatikan Siau Po dengan tertegun, dia melihat wajah orang di hadapannya tertutup sehelai sapu tangan putih .
Di saat lain, rasa terkejutnya sudah hilang, dia tersenyum sambil berkata: "Baik, mari maju!" Siau Po menyeruduk ke depan untuk mencekal tangan bocah itu, namun lawannya segera menggeser tubuhnya ke samping, kedua tangannya digerakkan kakinya mengait, tubuh Siau Po pun bergulingan jatuh, Terdengar bocah itu berkata: "Ah, kau tidak mengerti ilmu gulat!" "Siapa bilang aku tidak bisa?" teriak Siau Po yang langsung bangun kembali dan menerjang ke arah kaki lawan untuk dipeluknya .
Dengan demikian bocah itu gagal menyambar punggungnya, malah sebaliknya Siau Po yang meluncur terus ke depan dan lalu meninju dagu bocah itu .
Anak itu terkejut sekali, tetapi dalam sekejap dia sudah pulih kembali .
Dia menyerang lagi ke arah Siau Po, kali ini mereka bergumul Keduanya sama-sama jatuh di atas lantai, sayangnya Siau Po kena ditindih oleh bocah itu .
Dia terus memberontak dan berusaha mengadakan perlawanan Akhirnya dia berhasil pula membalikkan tubuhnya sehingga posisinya berada di atas, namun keduanya sudah lelah sekali .
"Ha.. .
ha.. .
ha.. .
ha...!" Keduanya tertawa terbahak-bahak, pergumulan pun dihentikan .
Namun rupanya bocah itu jail juga, mendadak dia menarik sapu tangan yang menutupi wajah Siau Po .
Siau Po terkejut, dia tidak sempat berkelit .
"Ah.,., Rupanya kau yang mencuri makanan!" kata si bocah sambil tertawa lebar .
Siau Po memperhatikan dengan seksama, sekarang dia dapat melihat bahwa bocah itu sangat tampan, wajahnya bersih serta menimbulkan kesan baik .
"Siapa namamu?" tanya bocah itu .
"Siau Kui cu .
Kau sendiri?" Anak itu bimbang sejenak, kemudian dia menjawab juga, "Aku Siau Hian cu .
Kau orangnya kongkong yang mana?" "Aku melayani Hay kongkong...." Siau Hian cu mengangguk-angguk, Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan kain penutup wajah Siau Po lalu diambilnya sepotong kue untuk dimakan, Siau Po juga ikut makan .
"Kau belum belajar ilmu gulat, tapi gerakanmu cukup gesit sehingga tidak dapat ditindih Iama-lama! Kalau kita bergumul lagi, akhirnya kau akan kalah!" "Ah, belum tentu!" kata Siau Po alias Siau Kui cu palsu .
"Kau tidak percaya" Baik, mari kita coba lagi!" Siau Po menerima tantangan itu dan mereka kembali bergumul Benar seperti apa yang dikatakan anak itu, baru beberapa gebrakan saja Siau Po telah dirobohkan kemudian ditindihnya .
"Nah, menyerah atau tidak?" tanya Siau Hian cu .
"Tidak!" sahut Siau Po yang keras kepala .
Siau Hian cu bangun, Siau Po ingin menyerang kembali, tetapi bocah itu mencegahnya .
"Cukup dulu! Kau bukan tandinganku!" "Tidak!" kata Siau Po penasaran "Besok kita lanjutkan lagi!" ia menunjukkan uangnya, "Besok kita bertaruh!" Siau Hian cu tertawa .
"Baik! Besok aku akan membawa uang! Nah, sampai jumpa besok siang!" "Baik, sampai besok! Ingat, seorang laki-laki sejati, bila sudah mengeluarkan ucapannya, kuda pun sukar mengejarnya!" "Ya," sahut bocah itu .
"Kuda pun sukar mengejarnya!" Dia mengikuti ucapan Siau Po kemudian meninggalkan kamar itu .
Siau Kui cu alias Siau Po juga ikut keluar sebelumnya dia meraup beberapa potong kue kemudian memasukkannya ke dalam saku, Di tengah jalan dia mengingat kembali saat Mau Sip-pat yan memenuhi perjanjian untuk mengadu ilmu .
Meskipun keadaannya sedang terluka saat itu, dia berpikir bahwa dia pun harus memenuhi janjinya, kali ini dia berhasil kembali ke kamar Hay kongkong sebelumnya dia mengingat baik-baik jalannya agar besok-besok tidak lupa lagi .
Baru sampai di depan pintu, dia sudah mendengar suara batuknya Hay kongkong .
"Apakah keadaanmu sudah agak baik?" tanyanya .
"Baik, kentut busukmu! Cepat masuk!" Siau Po masuk ke kamar, dia melihat thay-kam tua itu duduk di kursi samping meja .
"Apakah kau menang hari ini" "Menang tiga puluh tail, tapi...." "Tapi apa?" "Aku pinjamkan kepada Lao Go." "Apa gunanya kau meminjamkan uang kepada Lao Go" Dia bukan orang dari Gi Si Pong, Mengapa tidak kau pinjamkan saja kepada kedua saudara Un?" Siau Po kebingungan .
"Mereka tidak meminjam uang kepadaku." "Mereka tidak meminjam, tapi apakah kau tidak bisa mencari akal agar mereka meminjamnya?" bentak Hay kongkong, "Apakah kau sudah lupa dengan pesanku?" Siau Po tertegun .
"Kemarin aku baru membunuh orang, aku masih takut, aku jadi lupa pada pesan Kong kong." "Bunuh satu jiwa adalah hal yang lumrah, tetapi kau masih kecil sehingga dapat dimaklumi .
Apalagi kau belum pernah membunuh orang sebelumnya, sekarang ada satu hal yang akan kutanyakan apa kau sudah lupa mengenai buku itu?" "Aku.. .
aku...." "Ah! Kau pasti sudah lupa!" "Kong kong, kepa.. .
laku pu.. .
sing, a.. .
ku sampai me.. .
lupakannya." "Baik, nah, kau kemarilah!" Siau Po maju ke depan beberapa langkah .
"Aku akan menjelaskan sekali lagi, Kalau kau sampai lupa lagi, aku akan membunuhmu!" "Ya.. .
ya," sahut Siau Po .
Diam-diam dia berkata dalam hatinya, "Kau kira aku Siau Kui cu, kalau kau katakan sekali saja, sampai seratus tahun pun aku tidak akan lupa." "Begini, kau harus mengalahkan kedua saudara Un, kemudian kau tawarkan pinjaman uang kepada mereka .
Lebih banyak lebih bagus .
Lalu lewat beberapa hari, kau minta mereka mengantar kau ke Gi Si Pong .
Karena mereka ada hutang denganmu, tak mungkin mereka menolak, seumpamanya mereka menolak, kau ancam akan mengadukannya kepada Ouw kongkong, congkoan dari Gi Si Pong .
Kalau mereka tidak dapat membayar, otomatis mereka akan mengajak kau ke Gi Si Pong .
Asal kebetulan Sri Baginda sedang tidak ada di dalam kamar tulis nya itu...." "Sri Baginda Raja?" tanya Siau Po mengira telinganya salah dengar .
"Apa katamu?" "Oh, tidak," sahut Siau Po cepat .
"Mereka tentu akan menanyakan untuk apa kau ke Gi Si Pong .
Kau katakan saja bahwa Sri Baginda adalah manusia agung, kau ingin melihatnya, dan kau berharap dapat bekerja di sana .
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kedua saudara Un tidak akan mengijinkan kau melihat raja .
Apabila mereka mengajakmu, tentu dipilihnya waktu ketika Sri Baginda sedang tidak ada di kamarnya, kau harus menggunakan kesempatan baik itu untuk mencuri sebuah kitab." Mendengar disebutnya Sri Baginda, perasaan Siau Po menjadi heran, Dia tahu Sri Baginda itu raja, tapi dia tidak tahu apa artinya Gi Si Pong .
"Oh, kalau begitu ini pasti istana kerajaan, Kalau bukan istana, tentu tidak seindah dan semegah ini .
itulah sebabnya orang-orang di sini semuanya terdiri dari para thaykam yang biasa melayani di istana raja," pikirnya dalam hati .
Tampang dan suara para thay-kam biasanya berbeda dengan orang umum, sayangnya Siau Po kurang pengalaman sehingga tidak mengetahuinya .
Dia pernah mendengar tentang raja, putera mahkota, pangeran ataupun puteri .
Juga tentang thay-kam dan para dayang, tetapi semua belum pernah dilihatnya dengan mata kepala sendiri ia telah bergaul dengan Hay kongkong, Lao Go, serta kedua saudara Un, tetapi dia baru menyadari bahwa mereka adalah para thay-kam, Sekarang, mendengar kata-kata Hay kongkong, dia baru mengerti .
"Celaka, Kalau begini, bukankah aku juga menjadi thay-kam cilik?" pikirnya dalam hati .
"Eh, kau mengerti apa tidak?" Hay kongkong segera menegur melihat Siau Po tidak menyahut dari tadi .
"Ya, ya.. .
aku mengerti," sahut Siau Po .
"Aku harus ke kamar tulisnya raja!" "Untuk apa kau ke kamar tulisnya raja?" uji Hay kongkong, "Apakah untuk bermainmain?" "Untuk mencuri sebuah kitab...." "Kitab apa?" tanya Hay kongkong mendesak .
"Aku.. .
aku.. .
entah kitab apa" aku.. .
lupa...." "Akan ku ulangi sekali lagi, ingat baik-baik! Kitab itu kitab agama Budha yang judulnya Si Cap Ji cing-keng, jumlahnya beberapa jilid, Kitab itu sudah tua sekali, Mengerti" Nah, apa nama kitab itu?" "Aku ingat! Namanya kitab Si Cap Ji cing-keng!" seru Siau Po girang .
Hay kongkong merasa heran mengapa nada suara Siau Po begitu gembira .
"Kenapa kau begitu senang?" "Karena kongkong mengingatkan sekali lagi, sehingga aku tidak akan lupa lagi!" sahut Siau Po cepat .
Padahal bukan itu alasan mengapa hatinya merasa senang, Dia tidak pernah sekolah jadi dia tidak bisa membaca, yang dikenalnya hanya huruf angka san dan kitab itu kebetulan berjudul Si Cap Ji cing-keng (Empat puluh dua kitab Buddha) Dengan demikian tidak ada kesulitan baginya untuk menemukan kitab itu .
"Mencuri kitab dalam istana Gi Si Pong harus cekatan, kalau kau sampai kepergok, biarpun nyawamu ada seratus, kau pasti mati juga," kata Hay kongkong mengingatkan .
"Aku mengerti .
Asal kepergok, matilah aku!" "Kalau kau sudah berhasil, ajaklah kedua saudara Un kemari Aku akan menghadiahkan mereka semacam barang permainan yang berharga sekali." "Baik, kongkong, Tapi bolehkah aku tahu barang mainan apakah itu?" "Sampai waktunya kau akan tahu sendiri," sahut thay-kam tua itu .
"Apakah dadumu sudah ada?" "Ada!" "Kalau begitu, jangan bermalas-malasan .