Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 17

Memuat...

tidak apa-apa." Kepala Siau Po terasa sakit, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan peletekan api .

Dia melihat beberapa batang lilin di atas meja .

Diambilnya sebatang kemudian dinyala kannya lilin itu sehingga suasana kamar itu menjadi terang kembali .

Di dalam terdapat dua buah tempat tidur, yang satu ukurannya besar dan yang satunya lagi kecil .

Siau Po tahu itu merupakan tempat tidurnya si thay-kam tua dan Siau Kui cu .

Ada sebuah meja da .

sebuah lemari, juga beberapa peti, entah apa isinya .

Sebuah kamar yang perabotannya sederhana sekali, di sebelah kanan ada sebuah gentong besar dan airnya bercipratan ke mana-mana .

"Apakah sebaiknya aku kabur lewat jendel saja?" pikir Siau Po dalam hatinya .

Tiba-tiba dia mendengar suara Hay kongkon bertanya kembali .

"Eh, Siau Kui cu, kenapa kau masih belum buang air juga?" "Heran, Tidak henti-hentinya dia menanyaka aku, apakah dia sudah curiga kalau aku bukan Sia Kui cu?" Siau Po menjadi khawatir, dia segera mengambil pispot dari kolong tempat tidur, sementara itu, matanya mengawasi jendela yang tertutup rapat dengan kertas tempelan, mungkin khawatir Hay kongkong yang batuk-batuk terus bisa masuk angin kalau dibiarkan terbuka .

"Kalau aku membuka jendela dengan paksa, suaranya pasti berisik dan si tua bangka itu pasti akan mendengarnya, dia pun akan masuk ke dalam kamar untuk meringkus aku," pikirnya lagi .

Siau Po menguras otaknya habis-habisan, tapi dia tidak menemukan jalan lain, Di dekat kolong tempat tidur Siau Kui cu ada seperangkat pakaian baru .

Melihat itu, tibatiba Siau Po mendapat sebuah ingatan, cepat-cepat dia membuka bajunya sendiri, lalu menggantinya dengan pakaian itu .

"Siau Kui cu, sedang apa kau?" tanya Hay kongkong kembali .

"Tidak apa-apa." Siau Po bergegas mengancingkan bajunya dan berjalan ke luar .

Dia sempat meraih kopiah Siau Kui cu dan mengenakannya sekalian .

"Lilinnya mati lagi," katanya, "Aku mau ambil lagi satu batang." ia kembali ke kamar, diambilnya dua batang lilin sekalian merenggut bajunya sendiri .

Hay kongkong menarik nafas dalam-dalam agar dadanya lega .

"Benarkah kau sudah menyalakan lilin?" "Benar, Apakah kongkong tidak melihatnya?" tanya Siau Po .

Thay-kam tua itu tidak memberikan komentar apa-apa .

Beberapa kali dia terbatukbatuk akhirnya baru berkata .

"Sejak dulu aku sadar obat itu tidak boleh diminum terlalu banyak, Rasanya pahit sekali, Ya, memang makannya sedikit-sedikit, tetapi lama-lama akan menjadi bukit, setelah bertahun-tahun racunnya mulai memperlihatkan reaksi sehingga timbullah efek sampingannya di mata...." Mendengar ucapannya, perasaan Siau Po menjadi agak lega .

Hal ini membuktikan bahwa orang tua itu benar-benar sudah buta, "Untung dia tidak tahu bahwa aku yang menambah takaran obatnya, dalam anggapannya dia sudah minum obat itu terlalu lama dan banyak...." "Siau Kui cu!" Tiba-tiba orang tua itu memanggil pula, "Bagaimana aku memperlakukan dirimu selama ini?" "Baik sekali," sahut Siau Po .

Dia tidak tahu bagaimana sikap Hay kongkong terhadap Siau Ku cu sehari-harinya, tetapi dia merasa jawaban itu paling aman .

"Aih! sekarang mata Kong koag sudah buta, dalam dunia ini hanya kau seorang yang dapat kuandalkan untuk merawat aku .

maukah kau untuk tidak meninggalkan aku" Bagaimana kalau suatu hari nanti kau tidak memperdulikan aku lagi" suaranya terdengar pilu dan mengenaskan .

"Tidak akan, Kong kong.-." "Sungguh?" "Sungguh!" sahut Siau Po .

otaknya memang cerdas sekali, Dia dapat memberikan jawaban dengan cepat dan pandai berpura-pura pula, nada suaranya begitu tegas sehingga orang tidak akan mengetahui apakah dia serius atau memang berdusta, "Kong kong, kau toh tidak memiliki orang lain lagi untuk melayanimu, kalau bukan aku yang menemanimu, siapa lagi" Aku yakin lewat beberapa hari mata Kong kong pasti akan sembuh kembali Kong kong tidak usah khawatir." "Tidak, Siau Kui cu .

Mataku ini tidak mungkin bisa sembuh lagi!" Hay kongkong termenung sesaat, Kemudian baru berkata lagi, "Apakah orang she Mau itu sudah kabur?" "lya, Kongkong." "Bocah yang bersamanya itu telah kau bunuh bukan?" Siau Po heran bagaimana Hey kongkong bisa mengetahuinya, Mungkinkah suara jeritan tertahan dari Siau Kui cu dikira orang tua itu sebagai suaranya sendiri" Tapi dia menjawab juga .

"Ya, kongkong, Bagaimana dengan mayatnya ?" "Aih! Kalau ketahuan kita membunuh orang di dalam kamar, urusannya bisa jadi panjang, Siau Kui cu, ambil peti obatku!" "lya," sahut Siau Po sambil langsung masuk ke kamar, tetapi dia tidak tahu di mana letak peti obat .

Lemari dibukanya, dia menarik setiap laci yang ada .

Tidak disangka-sangka, karena perbuatannya Hay kongkong tiba-tiba saja menjadi marah .

"Siau Kui cu, apa yang kau lakukan?" bentak orang tua itu, "Mengapa kau membuka lemari dan laci" Siapa yang menyuruhmu?" Siau Po terkesiap, jantungnya berdebar-debar .

"Rupanya kotak-kotak ini tidak boleh sembarangan dibuka," pikirnya, Cepat-cepat dia menjawab "Aku lagi mencari peti obat, entah di mana letaknya?" "Ngaco! Masa peti obat saja kau lupa di mana letaknya?" bentak Hay kongkong .

"Kong kong, mungkin aku baru saja membunuh orang sehingga pikiranku menjadi kacau .

Apalagi mata kongkong sekarang sudah buta," sahut Siau Po .

Selesai berkata, terdengarlah suara tangisannya yang terisak-isak .

"Aih! Anak, apa artinya membunuh orang" Kau toh sudah biasa melihat orang dibunuh" Peti obatku ada di dalam kotak pertama yang besar!" "Ya.. .

ya!" sahut Siau Po .

"Aku.. .

hanya takut...." Selesai berkata, dia segera memperhatikan tumpukan kotak yang jumlahnya ada dua dan terkunci Entah di mana anak kuncinya, Siau Po menghampiri kotak itu dan iseng-iseng menggerakkan tangannya, ternyata kotak itu tidak terkunci .

"Bagus, Aku harus hati-hati agar setan tua itu tidak mencurigaiku!" Dia segera membuka peti itu .

isinya terdiri dari berbagai jenis barang, tetapi peti kecil yang berisi obat ada di sebelah kiri .

Siau Po segera mengeluarkannya .

"Ambil sedikit bubuk Hoa si-hun, lalu taburkan pada bocah itu agar tubuhnya lumer dan musnah!" "lya!" Siau Po segera membuka peti obat di mana di dalamnya terdapat botol-botol kecil dengan berbagai warna, tetapi tidak ada satu pun yang bertulisan Siau Po menjadi bingung, yang mana bubuk Hoa si-hun" "Botolnya yang mana?" tanyanya kemudian .

"Bagaimana sih kau hari ini" Apa benar pikiranmu begitu kacau?" Hay kongkong balik bertanya .

"Aku takut, kongkong," sahut Siau Po pura-pura bergetar "Apakah matamu benarbenar tidak dapat disembuhkan lagi?" kata-kata itu penuh perhatian Si thay-kam tua itu jadi terharu, dia meng-usap-usap kepala Siau Po .

"Botol itu bentuknya segi tiga, warnanya hijau berbintik-bintik putih, Obat itu sangat manjur, sedikit saja sudah cukup." "Ya, ya..." sahut Siau Po yang langsung mengambil botol yang disebutkan tadi, Dibukanya tutup botol itu, kemudian dari dalam laci diambilnya sehelai kertas, Obat itu dituangkannya sedikit ke atas kertas, kemudian dituangkannya ke tubuh Siau Kui cu .

Sampai beberapa saat kemudian tidak ada perubahan apa-apa .

Siau Po merasa heran, sedangkan Hay kongkong menunggu laporan darinya .

"Bagaimana?" Akhirnya Hay kongkong tidak sabaran .

"Tidak ada perubahan apa-apa," sahut Siau Po jujur .

"Di mana kau taburkan bubuk itu" Bukan di darahnya?" tanya orang tua itu .

"Oh, aku lupa!" kata Siau Po yang segera menuangkan lagi bubuk obat itu ke luka Siau Kui cu yang masih berdarah .

"Hari ini tingkahmu agak janggal," kata Hay kongkong sambil menggelengkan kepalanya, "Sampai-sampai suaramu ikut berubah!" Tepat pada saat itu terdengar suara peletekan dari tubuh Siau Kui cu, kemudian tampak asap mengepul, lalu keluar semacam nanah yang terus mengalir Setiap kali asap mengepul semakin tinggi, nanahnya pun keluar semakin banyak, sedangkan bagian yang terluka juga menguak semakin lebar .

Heran Siau Po menyaksikan perubahan itu .

Dia memperhatikan dengan seksama .

Dia dapat melihat bahwa daging di tubuh Siau Kui cu yang terkena rembesan nanah itu langsung musnah .

Bahkan baju dan celananya pun perlahan-lahan termakan habis .

Cepat-cepat Siau Po melemparkan baju luarnya sendiri ke cairan itu, ia juga membuka sepatunya sendiri untuk ditukar dengan sepatu Siau Kui cu .

Kurang lebih satu jam kemudian, habislah seluruh tubuh Siau Kui cu, yang tersisa hanya cairan berwarna kuning .

"Kalau si tua bangka ini pingsan, bagus sekali, Sekalian saja kububuhkan obat ini agar tubuhnya juga lumer seperti mayat Siau Kui cu tadi," pikir Siau Po dalam hati .

Hay kongkong masih terbatuk-batuk .

Berulang kali dia menarik nafasnya dalamdalam, tetapi tidak pernah jatuh pingsan .

Sementara itu, di jendela terlihat sinar matahari mulai menyorot, tandanya sang fajar telah menyingsing .

Ternyata waktu berlalu tanpa terasa .

"Sekarang aku telah mengganti pakaian, rasanya tidak perlu takut lagi untuk keluar berjalan-jalan, siapa yang akan mengenali aku?" pikir Siau Po kembali dalam hatinya .

"Siau Kui cu!" tiba-tiba Hay kongkong memanggilnya, "Hari sudah terang, bukan?" "Ya," sahut Siau Kui cu palsu ini dengan cepat .

"Kalau begitu, cepat kau ambil air dan bersihkan cairan kuning itu .

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment