Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 14

Memuat...

Sip-pat menyambut dengan gerakan Kim Na hoat, dengan mudah dia dapat merobohkan mereka .

Salah satu di antaranya langsung diangkat ke atas, diputar-putar dan baru kemudian dilemparkan ke depan, Kepalanya jatuh karena posisi jatuhnya memang di bagian kepala dulu .

Seorang lainnya maju menerjang tapi dia juga disambut dengan sebuah tendangan di dadanya, nafasnya jadi sesak kemudian memuntahkan darah segar .

Ketika ada lagi yang maju, Sip-pat menghajar lengan orang itu sampai patah! Tanpa menunda waktu lagi, Sip-pat segera menarik tangan Siau Po .

"Lagi-lagi kau menimbulkan keonaran, mari kita pergi!" Tentu saja Siau Po mengerti .

Dia pun mandah saja ditarik oleh Mau Sip-pat .

Di luar dugaan, tepat di depan pintu rumah makan itu mereka sudah dihadang oleh si thay-kam tua .

Sip-pat mengulurkan tangannya dengan maksud mendorong agar orang memberi jalan untuknya, tetapi saat tangannya menyentuh tubuh orang itu, hatinya langsung tercekat .

Tubuhnya tergetar kemudian terhuyung-huyung .

Kakinya sampai menyurut mundur dua tindak, pinggangnya membentur meja sehingga terbalik .

Bahkan Siau Po sampai ikut terpental dan jatuh ke dalam gentong air! Si thay-kam tua sendiri masih berdiri tegak di tempat semula, Hanya suara batuknya yang tidak berhenti-henti .

Saat itu juga, Mau Sip-pat menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi .

Bahkan mungkin mengerti ilmu gaib .

Kalau tidak, tak mungkin dia kena terhantam balik oleh tenaga pantulannya sedemikian rupa .

Mau Sip-pat dapat merasakan gelagat yang kurang baik, cepat-cepat dia mengangkat tubuh Siau Po dari dalam gentong air terus membawanya lari lewat bagian belakang rumah makan itu .

Baru saja melangkah tiga tindak dia sudah terkejut setengah mati .

Tahu-tahu thay kam tua itu sudah menghadang di hadapannya Suara batuknya masih belum berhenti, Mau Sip-pat penasaran sekali .

Dia menabrak thay-kam tua itu, namun kembali tubuhnya terpental ke belakang sehingga dia harus berjungkir balik di udara untuk menjaga keseimbangan agar tidak terguling jatuh, sementara itu, tangannya masih tetap membopong Siau Po .

Baru saja kaki Mau Sip-pat mendarat di atas tanah, dia merasa punggungnya seperti tersentuh sedikit, Di saat dia bermaksud menepis tangan itu, keadaan sudah kasip .

Tubuhnya langsung roboh, untung saja dia jatuh di atas tubuh kedua lawannya tadi sehingga tidak sampai menderita sakit .

Kedua orang Boan ciu itu patah kakinya, tepi tangannya masih kuat sebagaimana halnya para pegulat .

Mereka langsung mencekal Mau Sip-pat erat-erat Sip-pat mencoba mengadakan perlawanan tetapi tenaganya punah karena totokan si thay-kam tua .

Tubuhnya ditekan ke bawah dalam posisi tengkurap sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa, tetapi telinganya masih mendengar suara batuk si thay-kam tua yang tidak berhenti-henti .

"Kau terus menyuruhku minum obat, berarti kau memang menginginkan aku cepat mampus, bukan?" bentaknya pada si thay-kam cilik .

"Kalau kau menambah setengah bungkus lagi saja, aku bisa mati konyol .

Aih! Anak, kau benar-benar ceroboh!" "Anak.. .

anak benar-benar tidak tahu," sahut si thay-kam kecil gugup, "Lain kali tidak akan terulang lagi!" "Lain kali?" kata si thay-kam tua sambil tertawa getir, "Anak, kau toh tahu hidupku tidak akan lama lagi!" "Kongkong, siapa orang ini" Mungkinkah salah seorang pemberontak atau pembangkang Kerajaan?" Si thay-kam tidak menyahut, dia malah bertanya kepada rombongan pegulat .

"Kalian ini fuku dari mana?" "Kami dari istana The ongya, Terima kasih Kongkong, Apabila tidak ada bantuan dari Kong kong, kami pasti sudah kehilangan muka." "Hm! Hanya kebetulan saja!" Orang Boan ciu gemar bergulat, setiap Pwe le atau pangeran biasa memelihara pegulat yang di namakan fuku, Begitu pula The ongya .

"Jangan menimbulkan keributan lagi, Sekaran kalian bawa laki-laki serta bocah ini ke Tay lwe Siang Sian Kam .

Katakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Hay kongkong!" "Baik, Kongkong," sahut beberapa fuku itu .

Mereka segera membereskan mayatmayat teman mereka dan dibawanya sekalian bersama Mau Si pat dan Siau Po .

"Mengapa kau masih diam saja?" tanya thay-kam kepada bocah cilik itu .

"Bukannya cepat panggil joli, kau kan tahu aku tidak bisa berjalan!" "Ya, ya, Kongkong!" sahut si thay-kam cilik sambil berlari keluar .

Thay-kam tua itu kembali mendekam di atas meja sambil terbatuk-batuk, sementara itu, Siau Po dan Mau Stp-pat benar-benar tidak berdaya .

Malah Siau Po kena batunya, ketika dia berusaha meloloskan diri, tahu-tahu betisnya terserang sebatang sumpit sehingga dia terguling jatuh, Dalam hati dia mencaci maki .

"Bapaknya Jin! Setan tua itu pasti menggunakan ilmu siluman! Mungkin dia memang jelmaan siluman kura-kura yang hampir mampus!" sebetulnya Siau Po memang ingin kabur secara diam-diam, dia ingat tukang cerita di tempat tinggalnya sering mengatakan "Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar", Tidak lama kemudian, si thay-kam cilik sudah kembali dengan sebuah joli, Kemudian si thay-kam tua digotong pergi, batuknya masih belum reda juga .

Di lain pihak, Siau Po dan Mau Sip-pat juga diangkut ke atas joli Iainnya .

Tubuh mereka diikat erat-erat dan mulut mereka juga disumpal dengan kain .

Bahkan Siau Po sudah dihajar beberapa kali karena tadinya mulut bocah itu tidak hentinya memakimaki .

Joli itu ditutup dengan tirai hitam sehingga orang di dalamnya tidak dapat melihat apa-apa .

Beberapa kali joli dihentikan kemudian terdengar suara orang bertanya, namun akhirnya joli itu diberi jalan setelah salah seorang fuku menjawab .

"Kami mendapat perintah Hay kongkong dari Siang Sian Kam!" Siau Po bingung, Dia tidak tahu apa itu Siang Sian Kam .

Tapi dia dapat menduga bahwa thay-kam tua itu mempunyai pengaruh yang kuat di dalam istana kerajaan Boan .

Seumur hidupnya, baru dua kali Siau Po naik joIi, Yang pertama ketika dia ikut dengan ibunya bersembahyang di kelenteng, Saat itu dia hampi tertidur pulas, ia merasa joli dihentikan dan salah seorang fuku berkata .

"Orang yang dibutuhkan Hay kongkong suda tiba!" "Ya," sahut seorang bocah cilik, "Hay kongkong sedang beristirahat .

Biarkan saja orang itu menunggu di sini!" Dari suaranya, Siau Po segera mengetahui bahwa yang berbicara barusan adalah si thay-kam ciiik .

Lalu dia merasa jolinya diangkat dan digotong menuju suatu tempat kemudian berhenti lagi .

Terdengar seseorang berkata: "Kami akan pulang sekarang .

Akan kami laporkan urusan ini kepada The ongya, pasti ongya akan mengirimkan wakilnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Hay kongkong!" Terdengar lagi sahutan si thay-kam cilik .

"Kalian melakukan hal yang tepat .

Memang kalian harus melaporkan urusan ini kepada The ongya dan tolong sampaikan salam kongkong kepadanya." Sementara itu, hidung Siau Po juga mengendus bau obat .

Diam-diam dia berpikir dalam hati .

"Setan tua itu tampaknya sudah parah sekali penyakitnya, tapi mengapa dia tidak cepat-cepat mampus saja" Celakanya kami justru sudah terjatuh ke dalam genggamannya." Ruangan itu begitu hening .

Hanya sekali-sekali terdengar suara batuk Hay kongkong .

Siau Po kesal sekali, dia merasa urat tangan dan kakinya mulai kaku .

Dia juga tidak dapat bersuara karena mulutnya tersumpaj sedangkan Hay kongkong seperti sudah lupa kepada mereka berdua .

Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara panggilan si thay-kam tua .

"Siau Kuicu!" Segera terdengar sahutan si thay-kam cilik, Siau Po berpikir dalam hati .

"Ah.. .

dia juga memakai huruf Siau di depan namanya, sama dengan namaku!" "Lepaskan ikatan mereka, Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan!" perintah Hay kongkong .

Siau Kui cu segera melaksanakan perintah itu, tidak lama kemudian penutup mata Mau Sip-pat dan Siau Po telah dibuka, mereka melihat bahwa mereka berada dalam sebuah ruangan yang besar, tapi perabotannya sedikit sekali .

Yang ada hanya sebuah meja dan kursi, Di atas meja tersusun beberapa jilid buku, Hay kongkong duduk di atas kursi dengan posisi setengah menyandar, kedua pipinya cekung, matanya setengah dipejamkan .

Sumpalan kain di mulut Sip-pat dilepaskan ketika Siau Kui cu akan melepaskan sumpalan pada mulut Siau Po, Hay kongkong segera mencegahnya .

"Tunggu dulu, mulut bocah itu kotor sekali, Biar tersumbat agak lama!" Siau Po hanya dapat memaki kalang kabut dalam hati .

ikatan kedua tangannya telah dibebaskan tetapi dia tidak berani melepaskan sumpal mulutnya sendiri karena dia tahu thay-kam tua itu lihay sekali, usahanya pasti sia-sia .

Dia hanya dapat memperhatikan sembari memasang telinga mendengarkan .

"Ambil kursi dan suruh dia duduk!" perintah Hay kongkong .

Siau Kui cu segera menuruti perintah, Diambilnya sebuah kursi dari ruangan sebelah kemudian dipersilahkannya Sip-pat untuk duduk, Siau Po tidak disediakan kursi .

Tanpa sungkan lagi dia duduk di atas tanah .

"Kalau tidak salah tuan ini she Mau dan ahli ilmu Ngo-houw toan bun to, bukan?" tanya Hay kongkong .

Di dalam hatinya, Mau Sip-pat terkejut setengah mati, "Rupanya thay-kam tua ini sudah mengetahui siapa diriku!" Karena itu dia juga merasa tidak perlu berdusta lagi .

"Benar!" sahutnya tanpa ragu .

"Menurut selentingan yang kudengar, katanya tuan melakukan perampokan di kota Yang-ciu dan akhirnya setelah tertangkap, kau buron dari penjara setelah membunuh beberapa hamba kerajaan, Banyak juga perbuatan onar yang telah kau terbitkan, ya?" "Memang benar!" sahut Sip-pat .

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment