Bukan saja dia tidak bisa melek, namun juga merasa perih sekali, sedangkan mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara sedikit pun disebabkan tenggorokannya yang tersumbat .
Terpaksa Su Siong membatalkan niatnya untuk memungut golok, Dia mengucekucek matanya, semakin dikucek semakin perih, Saat itulah Su Siong sadar bahwa musuh sudah menyerangnya dengan bubuk semen .
Hanya dia tidak dapat menduga musuh mana yang membokongnya .
Hatinya juga terkejut setengah mati Sebab dia ingat bahwa semen tidak dapat dibersihkan dengan air, karena semakin melarut dan dapat mengakibatkan kebutaan, justru di saat pikirannya sedang bingung .
Dia merasa ada suatu benda dingin yang masuk ke dalam perutnya, lalu rasa perih yang tidak terkirakan menyerangnya .
Rupanya sebatang golok telah ditikam ke dalam perut orang itu! Mau Sip-pat yang mengetahui tubuhnya terlilit senjata lawan merasa terkesiap .
Bagian dadanya langsung terasa perih karena duri-duri joanpian yang menusuk bagian dadanya .
Di saat hatinya masih dilanda kebingungan tiba-tiba dia melihat ada semacam bubuk putih yang menyerang mata lawannya, sehingga lawan langsung mengucek-kucek matanya, Kemudian dia melihat Siau Po memungut golok di atas tanah dan lalu menancapkannya ke perut Su Siong .
Selesai menikam dengan golok, Siau Po kembali ke balik pohon untuk bersembunyi, sedangkan Su Siong sempat terhuyung-huyung sejenak sebelum akhirnya rubuh di atas tanah .
Rekan-rekan yang melihat keadaan itu jadi panik .
Beberapa orang di antaranya segera berteriak-teriak manggil .
"Su Siwi! Su Siwi!" Tepat pada waktu itu pula Go Tay Peng meluncurkan pukulan kirinya membuat seorang musuhnya terpental beberapa tombak, Mulut orang itu mengeluarkan seruan tertahan, kemudian tubuhnya jatuh berguling dan mulutnya memuntahkan darah segar .
Dari pihak musuh, masih tersisa lima orang, tetapi mereka sudah ciut nyalinya .
Tanpa menunda waktu lagi mereka lari terbirit-birit Tidak perduli rekannya masih hidup atau sudah mati, Bahkan kuda tunggangan mereka pun ditinggalkan begitu saja! Go Tay Peng tidak berniat bermusuhan dengan petugas kerajaan, Karena itu dia biarkan sisa lima orang itu lari pergi, Dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada Mau Sip-pat .
"Mau heng, hebat sekali! Kau telah berhasil merobohkan Hek Liong-pian!" Orang tua itu melihat Su Siong sudah terkapar mati, dia mengira Mau Sip-pat yang melakukannya, Tetapi tampak Sip-pat menggelengkan kepalanya, wajahnya merah karena jengah .
"Sungguh malu, Go loya cu, sebenarnya Su Siong dibunuh oleh Saudara Wi!" Go Tay Peng dan Ong Tan langsung termangu-mangu mendengar keterangan itu .
"Bocah itu yang membunuhnya?" tanya mereka serentak .
Tadi Ong Tan juga tidak sempat melihat siapa yang membunuh Su Siong, sebab dia sendiri sedang kelabakan menghadapi lawan-lawannya, Mayat-mayat musuh terkapar di antara genangan darah .
sedangkan yang terluka masih dalam keadaan sekarat .
Di atas tanah juga terdapat semen berserakan, tetapi tidak ada yang memperhatikannya .
Mau Sip-pat menggenggam joanpian milik Su Siong .
Dengan menahan rasa nyeri, dia menarik keluar duri-duri yang menancap di dadanya, otomatis sedikit ujung dagingnya ikut tertarik, dapat dibayangkan bagaimana rasa sakitnya .
Seluruh baju langsung dipenuhi noda darah .
Begitu senjata lawannya sudah berhasil dicabut, Mau Sip-pat langsung menghantamkan duri tajam itu ke arah Su Siong yang saat itu belum mati .
Orang itu sempat berkelojotan beberapa kali sebelum nyawanya melayang dengan kepala hancur .
"Saudara Wi .
Kau lihay sekali!" seru Mau Sip-pat .
Wi Siau Po muncul dari balik pohon .
MuIutnya membungkam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, Go Tay Peng dan Ong Tan memperhatikan Siau Po dengan heran .
"Saudara cilik," tanya Go Tay Peng, "Jurus apa yang kau gunakan untuk membunuh orang she Su itu?" "Aku cuma menancapkan golok ke dalam perutnya, Aku tidak tahu jurus apa." Mau Sip-pat tertawa lebar .
"Go loya cu, Ong heng, terima kasih atas bantuan kalian sehingga selembar nyawaku ini dapat dipertahankan .
Bagaimana selanjutnya setelah musuh-musuh sudah mati dan sebagian kecilnya kabur, Apakah kita akan melanjutkan pertarungan kita yang tertunda tadi?" Go Tay Peng ikut tertawa .
"Mau heng, jangan bicara soal menolong jiwa." Dia menolehkan kepalanya kepada rekannya sambil berkata, "Saudara Ong, bukankah lebih baik kita sudahi saja urusannya sampai di sini?" "Ya, memang, Lebih baik tidak usah berkelahi Iagi .
sebenarnya antara aku dengan Mau heng juga tidak ada permusuhan apa-apa .
Bukankah sebaiknya kita mengikat tali persahabatan saja?" "Baiklah kalau itu kemauan saudara Ong," kata Go Tay Peng kemudian menjura kepada Mau Sip-pat "Selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, pasti ada saatnya kita akan berjumpa pula!" Go Tay Peng adalah seorang hartawan di wilayah Utara .
Untuk membantu sahabatnya Ong Tan, dia ikut datang mencari Mau Sip-pat .
Tidak disangka akhirnya malah memberikan bantuan kepada Mau Sip-pat untuk mengusir prajurit kerajaan .
Dia merasa agak menyesal membiarkan sisa musuh melarikan diri, sebab buntutnya bisa berbahaya .
Begitu selesai memberi hormat kepada Mau Sip-pat, dia segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu .
Tetapi, sembari melangkahkan kakinya, sepasang telapak tangannya juga menghantam ke sana kemari .
Tanpa memperdulikan pihak musuh yang masih hidup atau sudah mati, pukulannya membuat tubuh mereka hancur tidak karuan, Dia menggunakan ilmu andalannya yakni Mo In-Jiu (tangan meraba awan) yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia kangouw .
"Hebat sekali!" puji Mau Sip-pat yang menyaksikan perbuatannya .
Setelah itu dia memerintahkan Siau Po menuntun seekor kuda ke hadapannya .
Siau Po menurut .
Dia menghampiri salah satu kuda yang ditinggalkan musuh .
"Tuntunnya dari depan, Kalau dari belakang, kau bisa disepaknya!" kata Sip-pat menasehati .
Siau Po menurut .
Segera dia membawa kuda itu ke hadapan Mau Sip-pat sementara itu, Sip-pat merobek ujung bajunya untuk membalut luka di lengannya .
Setelah itu dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan lalu melompat ke atas kuda .
"Pulanglah kau sekarang!" katanya kepada Siau Po .
"Kau akan kemana?" tanya si bocah .
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?" "Kita kan sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya aku menanyakan tujuanmu!" Wajah Mau Sip-pat tiba-tiba berubah menjadi garang .
"Sinting! Siapa yang menjadi sahabatmu?" Siau Po menyurut mundur satu tindak, Wajahnya langsung merah padam dan air matanya bercucuran .
Dia tidak dapat menahan keperihan hatinya .
Dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Sip-pat marah kepadanya .
"Mengapa tadi kau menyemburkan semen ke mata Su Siong?" bentak Mau Sip-pat ketus .
Siau Po menjadi tercekat .
Kakinya menyurut mundur satu langkah lagi .
"A.. .
ku.. .
aku...." suaranya gemetar dan tersendat-sendat saking gugupnya, "Aku,., lihat dia ingin membunuhmu!" "Dari mana kau mendapatkan semen itu?" "Dari pasar .
Aku membelinya sekalian ketika membeli bakpau dan arak .
Aku dengar kau akan berkelahi sedangkan kau sedang terluka...." "Anak haram! Dari mana kau mempelajari akal yang begitu rendah?" Siau Po memang anak seorang wanita penghibur, ia tidak pernah tahu siapa ayahnya, Karena itu pula dia paling benci bila ada orang yang menyebutnya sebagai anak haram, Kemarahannya jadi meluap seketika .
"Nenekmu yang haram!" Tanpa memperdulikan hal lainnya, dia langsung balas memaki .
"Perduli apa aku mempelajarinya dari mana" Manusia bau yang tidak tahu mampus!" Setelah memaki, hatinya tergetar juga, cepat-cepat dia bersembunyi ke balik pohon, Sip Pat menggerakkan kudanya maju ke depan, Sebelah tangannya terulur dan dalam sekejap mata si bocah sudah kena dicekalnya lalu diangkatnya ke atas .
"Setan cilik, coba apa kau masih berani memaki?" Siau Po meronta-ronta .
sepasang kakinya menendang kalang kabut .
Kedua tangannya juga dige rakkan kesana kemari .
"Kura-kura hitam! Babi mandul! Kampret! Mulutnya masih terus memaki .
Sejak kecil Siau Po tinggal di rumah pelesiran .
Sudah biasa dia mendengar cacian yang kotor dan bukan baru pertama kali ini dia mengucapkannya .
Sip-pat gusar sekali melihat keberanian bocah itu .
Dia menempeleng pipinya bolakbalik .
Tetapi Siau Po memang keras kepala, Meskipun air matanya mengalir dengan deras, mulutnya tidak berhenti mencaci .
Dia baru berhenti ketika menggigit tangan Mau Sip-pat .
Sip-pat terperanjat juga kesakitan Tanpa sadar cekalannya terlepas dan tubuh Siau Po pun terbanting ke atas tanah .
Siau Po langsung merangkak bangun kemudian berlari sambil mencaci maki .
Sip-pat mendongkol sekali Dia segera mengejar .
Dengan menunggang kuda tentu tidak sukar baginya mengejar .
Siau Po lari belum berapa jauh tahu-tahu sudah tersusul oleh Mau Sip-pat .
Nafasnya tersengal-sengal .
Tanpa menoleh dia tahu Mau Sip-pat sudah ada di belakangnya .
Tiba-tiba kaki terpeleset talu jatuh bergulingan, namun mulutnya masih berkaok-kaok .
"Bangun!" bentak Mau Sip-pat .
"Aku mau bicara!" "Aku tidak mau bangun, Biar aku mati di sini!" "Baik! Biar kau mampus terinjak kaki kuda!" Siau Po memang bandel, Semakin diancam, dia semakin sengaja, Sembari menangis, dia berteriak keras-keras .
"Ada orang mau membunuh! Ada orang mau membunuh! Tua bangka menghina anak kecil! Dasar kura-kura kolot! Orang dulu memperumpamakan germo sebagai kurakura! Dia naik kuda, dia mau menginjak orang sampai mati!" Kuda yang ditunggangi Mau Sip-pat dihentakkan sehingga sepasang kakinya berjingkrak ke atas, Siau Po segera menggulingkan tubuhnya menghindar .
"Hah! Setan cilik, ternyata kau takut mampus juga, bukan?" "Kalau aku takut padamu, biarlah aku menjadi anak kura-kura, turunan anjing buduk! Aku tidak pantas disebut orang gagah!" Kewalahan juga Mau Sip-pat menghadapi bocah yang mulutnya lancang itu, akhirnya dia malah tertawa geli .
"Kau seorang enghiong?" tanyanya tersenyum .
"Baik, Kau bangunlah .